LOGIN"Where are you going to? Get back here," Zion shouts at her. She walks away from him in agitation. "I lost my everything. Everything that I have. My youth, my dreams and the man who could keep me warm and happy all my life. Why should I stop for you?" Nancy says. "How dare you say that?Get back here and serve your to be husband," he scowls. "But I am not your fiance," she squeaks and his eyes widens in shock. Instagram: Deborah962021
View More"Lahirkan anak untukku!" ucapnya dengan datar nan dingin. Pemuda dengan pahatan yang tampak sempurna itu menyodorkan uang merah pada perempuan di depannya.
"Apa Pak? Melahirkan?" Terdapat rona keheranan dari seorang wanita berjilbab tersebut."Maaf, Pak. Saya hanya ingin pinjam uang 200 juta untuk pengobatan ibu saya. Bukan berarti saya ingin mengorbankan keperawanan saya!" Perempuan bernama lengkap Kinara Ariana menggeleng pelan, dia menatap heran sang atasan.Kinara yang terjebak dalam masalah ekonomi membuat dia bertekad menemui sang atasan. Bukan karena apa-apa, tapi saat ini sang ibu tengah terbaring di atas kasur. Dengan rasa sakit yang dia derita membuatnya harus segera ditangani.Dokter menyarankan untuk melakukan operasi sang ibu, namun tentu ada administrasi untuk semuanya. Dan hal yang paling Kinara menyerah adalah masalah uang. Dia tidak mempunyai simpanan banyak untuk operasi Ibunya."Anggap saja ini sebuah tawaran. Saya akan memberimu uang lebih dari 200 juta kalau kau mau melahirkan anak untukku!" ucap pria tersebut tetap kukuh. Dia menatap dingin perempuan di depannya."Jika tidak, maka pintu di sana terbuka untuk kau---""Maaf, Pak. Bukannya saya enggak sopan, tapi, Bapak kan tajir, kaya raya, tampan bahkan terbilang sempurna. Tapi, apa untuk melahirkan seorang anak harus melakukan cara seperti ini? Maksud saya, Bapak kan bisa memilih wanita yang mungkin lebih cantik, seksi dan kaya dari saya. Dengan begitu, keturunan Bapak tidak akan jauh seperti itu.""Jadi, kamu menolaknya?" tanya Aarav dengan muka paling tidak mengerti Kinara. Dia menampilkan raut dingin tanpa ekspresi."Saya tidak suka basa-basi. Jadi, saya akan memberimu waktu 5 menit untuk kau berpikir," ucap Aarav. "Saya akan memberimu 500 juta jika kau bersedia melahirkan anak untuk saya. Tidak hanya itu, uang akan saya tambahkan bila mana anak itu benar-benar lahir dari rahimmu!"Kinara semakin dibuat melongo. Tidak percaya akan semua ini. 500 juta? Dilebihkan lagi?Kinara benar-benar bimbang. Antara menerima atau menolak. Jika dirinya menerima itu berarti keimanannya pula sedang diperjual belikan. Siapa yang mau melahirkan anak tanpa status pernikahan? Dan jika pun menolak, bagaimana dengan Ibu di sana yang tengah berjuang untuk tetap hidup?Bagaimana ini? Apa yang harus Kinara lakukan?'Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan?' tanya Kinara dalam hatinya. Dia meremas jari-jemarinya dengan resah.Tidak!Kinara memejamkan matanya. Keimanan seseorang tidak bisa digantikan dengan apapun. Seberat apapun hidup, seorang muslim tidak seharusnya mengorbankan keimanannya ber-hanyakan uang."Jadi, apa pilihan mu?" tanya Aarav setelah lama dia memberikan waktu Kinara untuk berpikir."Saya--saya---"Derrtt DerrtttSuara dering ponsel terdengar. Membuat ucapan Kinara terkatup. Dia merogoh saku gamisnya kala getaran itu semakin terasa bergetar.Lusi.Ah, adiknya."Maaf, Pak. Saya izin waktu sebentar," ucap Kinara."Apa saya memberimu izin? Di sini, kau seharusnya memiliki etika ketika berbicara dengan atasan!" Ucapan dingin nan datar itu membuat nyali Kinara semakin menciut. Membuat dirinya yang hendak beranjak terurung sudah."Angkat!" Satu kata Aarav membuat Kinara dengan gemetar menekan ikon hijau. Dia menatap terlebih dahulu Aarav yang juga menatapnya tanpa ekspresi."Assalamu'alaikum? Kak? Kakak di mana? Kondisi ibu semakin memburuk kak ...." Di sebrang sana suara tangisan terdengar. "Dia dari tadi nyebut nama Kakak terus."Hati Kinara terasa menciut, tidak terasa air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Dia menatap Aarav sang atasan. Berharap dia mau memberikan pinjaman uang tanpa harus mengorbankan hal lain. Namun sama saja, Aarav hanya menampilkan raut cueknya tanpa ekspresi."Kakak cepat ke mari.... ""Iya, Dek. Sekarang Kakak ke sana. Kamu temenin dulu Ibu ya, Lus? Jangan sampai tinggalin Ibu. Sekarang kakak ke sana!" Tanpa menunggu lagi Kinara dengan cepat mematikan sambungan telfonnya. Rasa khawatir akan kondisi ibunya benar-benar membuatnya takut.Dengan derai air mata yang sudah jatuh Kinara menatap Aarav dengan resah."Saya menerimanya, Pak! Tapi tolong, tolong beri saya pinjaman uang. Saya mohon Pak. Hanya untuk hari ini saja, saya mohon Pak ...."Pada akhirnya Kinara menyerah, dia memohon dengan menautkan kedua tangannya di dada."Saya akan melahirkan anak untuk Bapak. Tapi saya mohon untuk Bapak kasih pinjam saya uang sekarang juga," ucapnya kembali dengan menunduk. Kemudian pelan kepala Kinara terangkat, dia menatap Aarav yang tidak ada di depannya."Ikuti saya!" ucap Aarav yang sudah berada di ambang pintu. Tanpa menoleh dia pergi dengan wajah khasnya. Tanpa ekspresi!Kinara mengusap pipinya yang basah. Tidak ada waktu lain, dia harus segera menemui sang Ibu sebelum semuanya terlambat.Kinara berlari menyusul Aarav yang sudah naik ke dalam mobil. Dengan segera dia juga ikut masuk ke dalamnya. Namun sebelum benar-benar masuk ..."Saya bukan sopirmu! Jadi duduk di depan!" perintahnya dingin.Kinara menurut, dengan segera dia berpindah duduk menjadi di depan. Belum sempat memakai pengaman, mobil itu sudah melesat cepat membelah jalan.**"Di mana Ibu?" tanya Kinara selepas dia bertemu Lusi. Sedari tadi Kinara menangis akan kondisi ibunya. Rasa takut semakin menjadi-jadi."I--ibu ada di dalam," ucap Lusi terbata-bata. Hidung merah, mata bengkak, terbukti sudah bahwa Lusi pun sedari tadi menangis."Bu?!"Kinara langsung menyerobot masuk. Menatap sang Ibu yang kini dipenuhi dengan alat-alat rumah sakit."Ibu ...." Kinara menangis, mendekap Ibunya dengan linangan air mata. Tangisnya tidak bisa dicegah, dia menangis dengan terisak."Ibu, ibu bakal sehat kok. Ya, ibu bakal sehat. Ini Kinar Bu ... Kinar di sini ...." Bibir Kinara bergetar, dia semakin memeluk Ibunya dengan rasa takut. Setelah Ayahnya pergi, Kinara tidak ingin ibunya juga cepat pergi begitu saja."Kinar ...?" Suara parau nan lemah itu terdengar, membuat Kinara semakin tidak bisa menahan tangisnya."Sekarang Ibu bakal di operasi. Ibu bakal sehat lagi. Kinar yakin bahwa Allah pasti bakal bantu kita Ibu," ucap Kinara mencium seluruh wajah Ibunya."Kinar, lihat Ibu," ucap Runi—ibunya Kinara."Kinar enggak perlu melakukan hal ini demi Ibu. Ibu tau, biaya operasi ibu enggak cukup satu atau dua juta. Butuh biaya banyak untuk operasi ibu ini ... untuk itu, Ibu tidak apa-apa jika memang harus pergi. Ibu udah ikhlas---""Enggak Ibu! Enggak. Kinara enggak mau kehilangan Ibu. Udah cukup Ayah ninggalin Kinar, sekarang Kinar enggak mau kehilangan Ibu juga. Lagipula, Kinar ada biaya kok buat Ibu operasi. Kinar dapat uangnya Bu ... dengan begitu Ibu bakal sehat lagi." Kinara menghapus air matanya, dia juga menghapus air mata Runi dengan pelan."Kinar ... ada satu hal yang sangat Ibu inginkan. Apa kamu, bisa memenuhi keinginan Ibu?" tanya Runi dengan tatapan sayu.Dengan segera Kinara mengangguk. "Apapun Ibu. Apa yang Ibu mau, Kinar akan mengabulkannya," ucap Kinara dengan mengeratkan genggaman tangan pada sang Ibu.Tangisnya yang tidak bisa berhenti semakin menangis kala sang Ibu berucap ..."Ibu ingin, Kinar menikah .... "Bola mata Kinara melebar sudah."Ibu ingin lihat Kinar menikah dengan lelaki pilihan Allah ... Kinar, keinginan satu-satunya Ibu adalah ingin melihat kamu menikah. Setiap doa yang Ibu panjatkan, setiap ingin yang selalu Ibu harapkan. Hanya itu yang Ibu inginkan. Apa Kinar, mau mengabulkan keinginan Ibu untuk yang terakhir kalinya?"Kinara mengigit bibir bawahnya. Tidak tahan dengan semua ini.Bukan, bukan karena tidak mampu dirinya untuk menikah. Tapi, sejauh ini tidak ada yang mau menikah dengan dirinya. Tidak ada lelaki yang mau menerima dirinya dengan sepenuh hati. Hingga sejauh ini, Kinara bukannya tidak ingin menikah, hanya saja ... semua lelaki justru menolaknya sebelum dirinya yang datang meminta untuk dinikahi."Kinar ...," ucap Runi dengan pelan. Dia menghela nafas panjang. Merasakan rasa sesak di paru-parunya.Kinara menunduk,bingung juga apa yang harus ia katakan. Untuk membiayai ibunya sendiri pun Kinara harus merelakan kesuciannya? Jika begitu, bagaimana Kinara akan menemukan cinta sejatinya?"Bu, Kinar-- Kinar---""Kinara akan menikah dengan saya Tante! "Mata Kinara yang semula memejam langsung terbuka lebar. Dia terdiam bagaikan patung.Final chapterNancy's POV:(Before the surgery)"Nan! I'm here. You shouldn't worry about anything. You know I love you, don't you? " He holds my hands in his as he gently caresses them.Me, sleeping in the bed, smile brightly as I look up to his face. His face creases as he looks at me. There isn't a pity in his eyes. There is only the love, care and honest commitment in his eyes."Thank you! Thank you for everything but will you let me go now," I say and he smiles."Yes!" He says and the ward boys take me towards the surgery room.I look around as the bed moves inside the horrible and scary surgery room. I have never been in the surgery room in my whole life.I hated it. I completely hated the surgery room after I lost my mother with the same disease and look at the funniest and most hilarious part of l
**Nancy's POV**"I won't do it. I won't just do it," I shout as I stand on the entrance of the washroom.How can this happen? How can this ever happen?Why me? I have never even imagined that it could be me. It could be I that should go through all of this.I break down in front of the washroom as I fall on the cleanly wiped tiled floor with my both hands supporting me to sit.The tears stream down my cheeks like they are flooded with that salty liquid and are never ever going to stop in my whole life.Zion runs to me as he sees me falling down on the floor."Nan! Don't do this please. You should stay strong and everything is going to be alright after you do your surgery," he consoles but I don't have any intention to get consoled by his words.H doesn't know how can I live without my bre
**Zion's POV**My eyes feel like tearing our right now when she asks me that if she has any problem?How can I say that?How can I literally say that she is diseased?"Miss Nancy, would you please take a seat first. We need to talk with you first," the doctor advises with the gentle voice and she sits right opposite to him sharing me a confused look.I walk to her and pat her shoulder gently."Don't worry, dear I'm always right here by your side," I assure her and she sits quite calm but I know more than anyone that she is so much afraid right now.The doctor explains all of her situation in front of her. She seems to be more shocked and worried when she listened to them."So, what is the solution? What can I do to treat it on time?" she asks with low and hopeless voice. Doctor has assured her that her disease will be alright and she will be healthy again but being a diseased itself is such a huge shock to everyone and wh
**Zion's POV**I get a call from the doctor. He inform me that I should make her ready as soon as possible for the surgery and this could be never done until I tell her what she has as a disease.I cannot hide from her anymore."I think I am all better right now. I don't need to visit hospital," she says brightly.Actually it's about what she went last day, it's about what she has been going all these time and doesn't know about it.It is because breast cancer symptoms are seen at the later stage and she hasn't still seen the symptoms maybe."Still we need to visit the hospital. I want you to meet someone at the hospital," I say as I increase the speed of the car. I am freaking serious right now and there is no joke regarding her health."Don't tell me you are going to set me up with some of your doctor's friend?" she chuckles and I become a little mad.Why the hell would I set up my girlfriend with some other guy?
**Nancy's POV**It's already midnight and I am not getting a single sleep. How would I even get that?I call Mia but she doesn't receives my phone. She is more than just angry with me. How can I make her fine with me?My heart feels restless.It feels really heavy.I
**Nancy's POV**"Nancy!" My body feels a little hope when I hear Mia's voice. I quickly get up from my place and run to her to hug her firmly."What the hell happened Nancy?" she holds my face in her hands and engulfs me in her warm embrace."Zion...Kevin," I stutter with their
**Nancy's POV**My heart clenches as I hear the sounds of crashing of car. It isn't quite away from me. Just some metres away from where I am standing.Wait!The car with Zion was going through the same way.Thinking that it might be him, I quickly rush towards t
**Nancy's POV**"Yes, Kevin I am willing to marry you," I say to him and he jumps in joy. In his enjoyment he forgets to out on the ring on my finger."Kevin, ring. I think it should be put in my finger," I say."Oh! Yeah! I was just so much happy Nan," he says."Nan?






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews