홈 / Romansa / Budak Cinta Si Tante / 26 - Panggilan Ibu

공유

26 - Panggilan Ibu

last update 게시일: 2022-02-16 04:54:21
Di atas kasur, Anin masih terlelap nyenyak di balik selimut tebal. Deru napasnya teratur, tanpa lagi diwarnai rintihan panik atau mimpi buruk yang biasa mengusik.

Nabas sudah terbangun lebih dulu. Pria muda itu duduk di tepi ranjang, baru saja selesai mengenakan celana jinsnya. Matanya yang sedikit sembab menatap lurus ke arah jendela..

Ponsel di saku jaket kasualnya yang tergeletak di atas kursi kayu mendadak bergetar halus. Nabas meraih dengan cepat, jemarinya menekan tombol volume agar d
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Budak Cinta Si Tante   36 - Lamaran Resmi

    Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,

  • Budak Cinta Si Tante   35 - Batas Kontrak

    "Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,

  • Budak Cinta Si Tante   34 - Ketukan Palu Hakim

    Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge

  • Budak Cinta Si Tante   33 - Bayang-Bayang Kebohongan

    "Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me

  • Budak Cinta Si Tante   32 - Keyakinan Palsu

    Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas

  • Budak Cinta Si Tante   31 - Kalau Hamil?

    Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status