Budak Cinta Si Tante

Budak Cinta Si Tante

last updateLast Updated : 2026-09-26
By:  Aldrich CandraOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
18 ratings. 18 reviews
36Chapters
37.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dia dibayar untuk menjadi teman. Tapi tidak pernah dibayar untuk jatuh cinta. Nabas terbiasa menemani perempuan-perempuan kesepian. Bagi lelaki yang menjalani kehidupan sebagai penghibur bayaran, semuanya sederhana. Datang ketika dibutuhkan, mendengarkan keluh kesah, memberi perhatian, lalu pergi ketika kontrak berakhir. Tidak ada perasaan. Tidak ada keterikatan. Sampai dia bertemu Anin. Seorang wanita dewasa yang masih terikat pernikahan, hidup dalam rumah tangga yang perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya. Anin tidak mencari kekasih. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Maka sebuah kontrak pun dibuat. Aturannya sederhana. Jangan melibatkan perasaan. Masalahnya, Nabas mulai melanggar aturan itu lebih dulu. Semakin sering Anin mencarinya, semakin sulit Nabas menganggap hubungan mereka sekadar pekerjaan. Apalagi ketika perhatian yang awalnya bisa dibeli dengan uang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihargai dengan nominal berapa pun. Namun Anin tahu satu hal yang Nabas abaikan. Perasaan adalah alasan hubungan mereka harus berakhir. Di sisi lain, ada Kea—perempuan dari masa lalu Nabas yang kembali membawa harapan untuk kehidupan yang lebih normal. Kini Nabas harus memilih. Tetap menjadi lelaki yang bisa dimiliki siapa pun selama dibayar... atau mempertaruhkan semuanya demi satu wanita yang sejak awal tidak pernah boleh menjadi miliknya. Karena terkadang, orang yang kita kira hanya menjadi pelanggan justru menjadi orang yang paling sulit kita lepaskan. Dan ketika kontrak berakhir, siapa yang sebenarnya menjadi budak cinta?

View More

Chapter 1

1 - Amplop Cokelat

Suara gemericik pendingin udara yang membelah keheningan kamar nomor 708 hotel bintang lima itu tak mampu meredam debar dada Nabastala. Di atas peraduan yang meliuk berantakan, pria muda itu bertelanjang dada, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya yang sipit menatap lurus pada sosok wanita di hadapannya.

Anindya—sosok wanita dewasa yang tetap memikat menjelang usia empat puluh tahun—sedang berdiri di samping ranjang. Tubuh indahnya yang menyerupai jam pasir sempat tertutup selimut sebelum akhirnya jemari wanita itu mengambil helai demi helai pakaiannya yang berserakan di atas karpet tebal. Suara kain yang terangkat bergesekan dengan sunyi yang mencekam.

"Aku enggak peduli! Mau kamu masih nikah, mau kamu sudah janda, aku enggak peduli!"

Teriakan Nabastala menggelegar begitu saja ketika menyadari wanita itu hendak beranjak. Suaranya serak, sarat akan amarah yang berbaur dengan keputusasaan.

Langkah Anin terhenti sejenak. Tangannya yang memegang kemeja sutra berwarna gelap gemetar. Dengan napas yang memburu dan isakan yang tertahan di tenggorokan, Anin membalikkan badan tanpa berani menatap mata Nabastala.

"Aryo..., aku belum resmi bercerai," suara Anin terdengar parau, melemah seakan-akan ia telah menyerah pada pertarungan batinnya sendiri. "Harusnya kamu cari wanita yang seusia kamu. Anggap saja semua yang telah kita lewati selama ini... hanya sebatas kontrak hubungan kerja."

Nabastala mengerjap. Rasa tidak percaya menghantam dadanya seperti pukulan telak. Lagi. Anin menolaknya seperti biasa. Nama 'Aryo'—identitas palsu yang selalu ia gunakan di dunia gelap ini—terdengar begitu asing dan menyakitkan saat diucapkan oleh bibir wanita itu.

Padahal, baru beberapa jam yang lalu Anin memanggilnya, mengaku membutuhkannya di tengah kehampaan jiwa yang meremukkan. Bujukan dan bisikan lirih wanita itu telah meluluhkan pertahanan Nabastala, membawanya kembali tenggelam dalam pergumulan panas di atas ranjang hotel ini. Nabastala bahkan masih ingat betul bagaimana lenguhan Anin bergema setiap kali wanita itu mencapai puncak kenikmatan, bagaimana jemari lentiknya mencengkeram erat bahu kokoh Nabastala seolah tidak ada pria lain di dunia ini.

Tidak. Nabastala memang rela melakukannya. Ia rela memainkan setiap sentuhan yang membakar gairah terdalam sang pujaan hati. Ia menginginkan Anin, menyayangi wanita itu melebihi batas profesionalisme yang seharusnya dijaga. Lalu, setelah semua pergolakan emosi dan pemenuhan hasrat itu, Anin berniat pergi semudah ini?

"Brengsek!" batin Nabastala mengumpat.

"Ayolah! Ini konyol, Tan!"

Sadar bahwa Anin menyambar tas tangannya, Nabastala segera membuang selimut dan bangkit dari ranjang. Jemarinya sempat terulur berusaha menangkap pergelangan tangan Anin, namun gagal. Dengan gerakan kilat, ia menyambar celana jins dan kaus hitamnya dari lantai, mengenakannya secara terburu-buru demi mengejar wanita itu yang sudah melangkah keluar melewati pintu kamar yang terbuka separuh.

"Sial!"

Langkah kaki Nabastala mendadak terhenti tepat di samping nakas. Pandangannya jatuh pada sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak tepat di sebelah ponselnya yang mati. Amplop itu tebal, berisi lembaran rupiah dalam jumlah besar. Jauh lebih banyak dari bayaran biasa yang kerap diberikan Anin untuk jasa pendampingannya.

Namun, keberadaan amplop itu justru terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Nominal di dalamnya sama sekali tidak sebanding dengan perasaannya yang membuncah. Uang itu terasa melecehkan harga diri dan asa yang terlanjur meledak di dalam dadanya.

"Tante? Anin? Anin!"

Nabastala berlari keluar kamar, menyusuri koridor hotel yang dilapisi karpet merah tebal. Sepi. Lorong itu kosong melompong. Hanya ada pantulan bayangannya sendiri pada cermin-cermin besar yang menghiasi dinding. Anin telah menghilang, masuk ke dalam lift dan membiarkan kekecewaan menggerogoti hati pria muda itu.

Tubuh Nabastala merosot. Ia terduduk di permukaan lantai koridor, tepat di ambang pintu kamar yang telah ditinggalkan. Pengakuannya, keberadaannya, pasrahnya... apakah semua itu tidak berarti apa-apa bagi seorang Anindya?

"Perasaanku enggak semurah ini!" jeritnya pelan, mengutuki kebodohannya sendiri.

Genggamannya pada amplop cokelat yang sempat ia ambil dari nakas mengerat, membuat kertas tebal itu remuk dalam tinjunya.

"Kamu dengar, Anin? Aku enggak butuh ini!"

Teriakannya hanya menjadi suara tinggi yang memantul di dinding-dinding koridor tebal, tak akan pernah menembus pendengaran wanita yang sudah melaju jauh di jalanan kota. Dengan sisa emosi yang membakar, Nabastala melemparkan amplop tebal itu ke daun pintu kamar hingga perekatnya terlepas. Lembaran uang kertas rupiah berhamburan, melayang jatuh tak berdaya di atas karpet.

Nyatanya, Anin hanya datang ketika merasa terluka dan butuh penawar, memanfaatkan fakta bahwa Nabastala tidak pernah mampu menolaknya. Dan setelah dahaganya terpuaskan, Anin akan selalu pergi—meninggalkan Nabastala yang terus berharap bisa terbebas dari jerat pesona sang dosen, namun nyatanya makin tenggelam tanpa jalan keluar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Bumi Senja
Bumi Senja
lanjut sni juga dong kak
2023-01-29 17:27:17
0
0
At Taqwa
At Taqwa
keren..... !
2023-01-12 20:26:07
0
0
Na_Vya
Na_Vya
Nabas gak dilanjut ya, Thor?
2022-10-06 20:20:37
0
0
Miftah Husalim
Miftah Husalim
mantap karena
2022-04-25 05:29:15
0
0
GNa_Juli
GNa_Juli
selalu suka karyamu Bang ...️
2022-02-27 22:39:08
0
0
36 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status