LOGINDia dibayar untuk menjadi teman. Tapi tidak pernah dibayar untuk jatuh cinta. Nabas terbiasa menemani perempuan-perempuan kesepian. Bagi lelaki yang menjalani kehidupan sebagai penghibur bayaran, semuanya sederhana. Datang ketika dibutuhkan, mendengarkan keluh kesah, memberi perhatian, lalu pergi ketika kontrak berakhir. Tidak ada perasaan. Tidak ada keterikatan. Sampai dia bertemu Anin. Seorang wanita dewasa yang masih terikat pernikahan, hidup dalam rumah tangga yang perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya. Anin tidak mencari kekasih. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Maka sebuah kontrak pun dibuat. Aturannya sederhana. Jangan melibatkan perasaan. Masalahnya, Nabas mulai melanggar aturan itu lebih dulu. Semakin sering Anin mencarinya, semakin sulit Nabas menganggap hubungan mereka sekadar pekerjaan. Apalagi ketika perhatian yang awalnya bisa dibeli dengan uang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihargai dengan nominal berapa pun. Namun Anin tahu satu hal yang Nabas abaikan. Perasaan adalah alasan hubungan mereka harus berakhir. Di sisi lain, ada Kea—perempuan dari masa lalu Nabas yang kembali membawa harapan untuk kehidupan yang lebih normal. Kini Nabas harus memilih. Tetap menjadi lelaki yang bisa dimiliki siapa pun selama dibayar... atau mempertaruhkan semuanya demi satu wanita yang sejak awal tidak pernah boleh menjadi miliknya. Karena terkadang, orang yang kita kira hanya menjadi pelanggan justru menjadi orang yang paling sulit kita lepaskan. Dan ketika kontrak berakhir, siapa yang sebenarnya menjadi budak cinta?
View MoreSuara gemericik pendingin udara yang membelah keheningan kamar nomor 708 hotel bintang lima itu tak mampu meredam debar dada Nabastala. Di atas peraduan yang meliuk berantakan, pria muda itu bertelanjang dada, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya yang sipit menatap lurus pada sosok wanita di hadapannya.
Anindya—sosok wanita dewasa yang tetap memikat menjelang usia empat puluh tahun—sedang berdiri di samping ranjang. Tubuh indahnya yang menyerupai jam pasir sempat tertutup selimut sebelum akhirnya jemari wanita itu mengambil helai demi helai pakaiannya yang berserakan di atas karpet tebal. Suara kain yang terangkat bergesekan dengan sunyi yang mencekam. "Aku enggak peduli! Mau kamu masih nikah, mau kamu sudah janda, aku enggak peduli!" Teriakan Nabastala menggelegar begitu saja ketika menyadari wanita itu hendak beranjak. Suaranya serak, sarat akan amarah yang berbaur dengan keputusasaan. Langkah Anin terhenti sejenak. Tangannya yang memegang kemeja sutra berwarna gelap gemetar. Dengan napas yang memburu dan isakan yang tertahan di tenggorokan, Anin membalikkan badan tanpa berani menatap mata Nabastala. "Aryo..., aku belum resmi bercerai," suara Anin terdengar parau, melemah seakan-akan ia telah menyerah pada pertarungan batinnya sendiri. "Harusnya kamu cari wanita yang seusia kamu. Anggap saja semua yang telah kita lewati selama ini... hanya sebatas kontrak hubungan kerja." Nabastala mengerjap. Rasa tidak percaya menghantam dadanya seperti pukulan telak. Lagi. Anin menolaknya seperti biasa. Nama 'Aryo'—identitas palsu yang selalu ia gunakan di dunia gelap ini—terdengar begitu asing dan menyakitkan saat diucapkan oleh bibir wanita itu. Padahal, baru beberapa jam yang lalu Anin memanggilnya, mengaku membutuhkannya di tengah kehampaan jiwa yang meremukkan. Bujukan dan bisikan lirih wanita itu telah meluluhkan pertahanan Nabastala, membawanya kembali tenggelam dalam pergumulan panas di atas ranjang hotel ini. Nabastala bahkan masih ingat betul bagaimana lenguhan Anin bergema setiap kali wanita itu mencapai puncak kenikmatan, bagaimana jemari lentiknya mencengkeram erat bahu kokoh Nabastala seolah tidak ada pria lain di dunia ini. Tidak. Nabastala memang rela melakukannya. Ia rela memainkan setiap sentuhan yang membakar gairah terdalam sang pujaan hati. Ia menginginkan Anin, menyayangi wanita itu melebihi batas profesionalisme yang seharusnya dijaga. Lalu, setelah semua pergolakan emosi dan pemenuhan hasrat itu, Anin berniat pergi semudah ini? "Brengsek!" batin Nabastala mengumpat. "Ayolah! Ini konyol, Tan!" Sadar bahwa Anin menyambar tas tangannya, Nabastala segera membuang selimut dan bangkit dari ranjang. Jemarinya sempat terulur berusaha menangkap pergelangan tangan Anin, namun gagal. Dengan gerakan kilat, ia menyambar celana jins dan kaus hitamnya dari lantai, mengenakannya secara terburu-buru demi mengejar wanita itu yang sudah melangkah keluar melewati pintu kamar yang terbuka separuh. "Sial!" Langkah kaki Nabastala mendadak terhenti tepat di samping nakas. Pandangannya jatuh pada sebuah amplop cokelat tebal yang tergeletak tepat di sebelah ponselnya yang mati. Amplop itu tebal, berisi lembaran rupiah dalam jumlah besar. Jauh lebih banyak dari bayaran biasa yang kerap diberikan Anin untuk jasa pendampingannya. Namun, keberadaan amplop itu justru terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Nominal di dalamnya sama sekali tidak sebanding dengan perasaannya yang membuncah. Uang itu terasa melecehkan harga diri dan asa yang terlanjur meledak di dalam dadanya. "Tante? Anin? Anin!" Nabastala berlari keluar kamar, menyusuri koridor hotel yang dilapisi karpet merah tebal. Sepi. Lorong itu kosong melompong. Hanya ada pantulan bayangannya sendiri pada cermin-cermin besar yang menghiasi dinding. Anin telah menghilang, masuk ke dalam lift dan membiarkan kekecewaan menggerogoti hati pria muda itu. Tubuh Nabastala merosot. Ia terduduk di permukaan lantai koridor, tepat di ambang pintu kamar yang telah ditinggalkan. Pengakuannya, keberadaannya, pasrahnya... apakah semua itu tidak berarti apa-apa bagi seorang Anindya? "Perasaanku enggak semurah ini!" jeritnya pelan, mengutuki kebodohannya sendiri. Genggamannya pada amplop cokelat yang sempat ia ambil dari nakas mengerat, membuat kertas tebal itu remuk dalam tinjunya. "Kamu dengar, Anin? Aku enggak butuh ini!" Teriakannya hanya menjadi suara tinggi yang memantul di dinding-dinding koridor tebal, tak akan pernah menembus pendengaran wanita yang sudah melaju jauh di jalanan kota. Dengan sisa emosi yang membakar, Nabastala melemparkan amplop tebal itu ke daun pintu kamar hingga perekatnya terlepas. Lembaran uang kertas rupiah berhamburan, melayang jatuh tak berdaya di atas karpet. Nyatanya, Anin hanya datang ketika merasa terluka dan butuh penawar, memanfaatkan fakta bahwa Nabastala tidak pernah mampu menolaknya. Dan setelah dahaganya terpuaskan, Anin akan selalu pergi—meninggalkan Nabastala yang terus berharap bisa terbebas dari jerat pesona sang dosen, namun nyatanya makin tenggelam tanpa jalan keluar.Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,
"Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,
Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge
"Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore