author-banner
Aldrich Candra
Aldrich Candra
Author

Novels by Aldrich Candra

Dokter Tampan Pemikat Wanita

Dokter Tampan Pemikat Wanita

Nathanael Abraham dokter jaga berusia dua puluh delapan tahun yang sering gonta-ganti pasangan. Putra dari pengusaha besar dan terjebak dalam perjodohan. Masa lalu mengikatnya dengan Ariesta Kanaya dalam perjanjian saling menguntungkan untuk menggagalkan perjodohan. Antara gairah dan kekuasaan. Pemberontakan Abra terhadap perjodohan memperuncing masalahnya dengan sang ayah. Belum lagi orang ketiga yang hadir. Adakah masa depan untuk mereka saat cinta benar-benar hadir?
Read
Chapter: Dijemput Malaikat
"Kamu yang jemput?" Aku menjawab panggilan suara setelah memastikan barang-barang yang dibawa ke ruang rawat inap sudah lengkap masuk dalam tas besar."Enggak suka?" Suara Aya terdengar merajuk. "Aku balik aja lagi kalau gitu."Lucu aja, sih. Aya yang manja seperti ini biasanya cuma ketemu pas dia lagi hamil. Kalau lagi mode normal, banyakan cueknya.Atau jangan-jangan .... Ah, enggak. Belum ada ngapa-ngapain kok semenjak nifasnya selesai. Aku juga masih mikirin kondisi tubuh Aya yang mungkin kesulitan semenjak operasi.Ujungnya, aku cuma terkekeh ketika diantarkan pihak medis berpakaian APD lengkap melalui lorong keluar dari bangsal karantina. Kebanyakan ruangan memang kosong, tetapi bangsal yang terisi tampak miris.Kayaknya belakangan yang diterima karantina hanya untuk kasus khusus.Aku mendengar beberapa selentingan mengenai isolasi mandiri jika terlular tanpa gejala membahayakan. Lumayan, kalau memang benar, efeknya bisa mengurangi penuhnya IGD seperti yang belakangan terjadi."
Last Updated: 2023-01-03
Chapter: Sadar Diri
Beberapa orang yang masuk ruanganku menggunakan seragam APD datang berbaris. Dokter paling depan jelas kukenali, sementara orang-orang di belakangnya mungkin dokter baru yang bertugas mencatat dan membawa perlengkapan."Sudah enakan?" tanya Iren, sambil menggerakkan diaphgram stetoskop di dadaku sementara yang lain melakukan pemeriksaan terhadap laju cairan infus, bahkan mengambil urin yang sengaja diminta."Lumayan." Aku mengangguk, jauh lebih baik setelah menelepon Aya dan mendapat tontonan biru secara pribadi.Masih kebayang gimana panasnya Aya ketika memainkan puncak di depan tubuhnya sambil memejamkan mata. Caranya memanggil namaku dengan sangat sensual.Sulit menahan diri untuk tidak pergi ke kamar mandi meski harus membawa tiang infus dan penyangga tabung oksigen.Mengingat Aya saja sudah bisa membuatku tegang kembali. Sial!"Usahakan tidak stres, atur pola makan, dan perbanyak istirahat, ya." Pesan Iren, selaku dokter yang menanganiku kali ini.Dalam sehari ada dua kali kunjun
Last Updated: 2023-01-03
Chapter: Komunikasi Lagi
Lepas masker sesampai di rumah, aku melihat lagi citra luar dari jendela kaca yang terlindungi vitrase dan menyamarkan keberadaanku. Penguntit tadi memang tidak mengikuti lagi, tetapi mobil berkaca riben dengan plat nomor yang sama berkali-kali melintas."Baru pulang?" Suara lembut datang menyusul terbukanya pintu dari ruangan di belakangku, mamanya Abra. Tangis rendah menyertai dalam gendongannya."Udah dari tadi, Ma." Aku bergegas mencapai keran di bak cuci, mencuci tangan dan wajah sebelum mengambil bayi dari wanita yang juga aku panggil 'mama' itu."Maureen belum tidur?" tanyaku meski tahu jawabannya hanya sebatas senyum dan binar.Dia salah satu alasanku bertahan hidup meski tidak lagi memiliki keluarga. Dia salah satu alasanku mencoba menetapkan hati pada Abra. Entah bagaimana perasaan papanya yang jujur padaku.Setiap kata cinta atau rindu yang terucap dari bibirnya selalu meninggalkan perih, sangat dalam."Sudah telepon Abra?" Mama terlihat menutup tirai yang melapisi vitrase.
Last Updated: 2023-01-03
Chapter: Penguntit
"Masih belum mau bicara juga?" Andi keluar dari konter dapur membawa pisau daging. Dari gerakannya sih aku nebaknya si barista cuma membersihkan pisau, tapi efeknya ternyata menakutkan bagi si penguntit."Saya cuma disuruh. Ampun." Lelaki berpakaian lengkap dengan topi kupluknya itu bak wartawan pengejar berita di sekitar kehidupan Elzar.Tidak dimungkiri, pernah dalam hubungan saling menguntungkan dengan si artis yang cuma modal wajah dan tubuh itu cukup memberiku informasi tentang kehidupan entertain di luar sana. Segala keluhan pekerjaan hingga larangan memiliki hubungan pribadi membuat kami mencapai satu kesepakatan kontrak dulu.Dulu sekali, sebelum ketemu Abra kembali."Transaksinya gimana?" Abyan mengambil ponsel si penguntit dari rampasan Aris.Model lama ponsel yang digunakan hanya untuk panggilan suara dan pesan singkat itu tidak memberi petunjuk. Layar penampil pesan dan panggilan terakhir benar-benar kosong,"Saya dihubungi menggunakan nomor pribadi," aku pria tua itu samb
Last Updated: 2023-01-03
Chapter: Insiden Kafe
"Jangan terlalu naif deh, Ya." Lagi-lagi pemilik nama lengkap Natasha Wiratama itu menertawakanku. Matanya menghilang di balik lengkungan setiap tertawa.Kalau boleh sedikit percaya diri, pantas saja Abra memilih bersamaku dibanding anak orang kaya ini. Terlalu banyak hal aneh yang aku dapati ketika bicara dekat dengannya, tetapi hanya dia kan yang bisa aku ajak bicara untuk sementara ini?Menoleransi kekurangan orang lain sebenarnya bukanlah kebiasaanku. Aku lebih mudah menarik diri jika merasa tidak nyaman atau menjadi berbahaya ketika merasa terancam.Naif? Yang aku tahu pengertian dari kata naif itu hanya dua, lugu atau bodoh. Mungkin aku termasuk yang kedua. Sudah mengetahui tanda jika dibodohi, tetapi masih saja terus berada di sisi seseorang yang memanfaatkanku.Caca condong maju ke arahku. Ujung-ujung rambut pendeknya mengikuti arah gravitasi, menebar di sisi pipi.Dengan sorot serius, dia bilang, "Di keluarga ini terlalu banyak mata dan telinga. Semua emang punya niatan salin
Last Updated: 2023-01-03
Chapter: Perselingkuhan Abra
Bagianku dimulai dari sini, ketika harus menunggu kabar Abra bisa sadar semenjak dia masuk ruang intensif khusus. Komplikasi yang dijelaskan dokter juga di luar dugaanku.Seingatku Abra itu bukan perokok. Tidak pernah aku menemukan aroma tembakau di pakaiannya, hanya sesekali wangi parfum wanita atau bercak sisa lipstik.Anggaplah aku tidak terlalu peduli. Selama dia tidak mencari masalah denganku, aku mungkin bisa menghargai ruang yang diinginkannya meskipun semakin lama ternyata melubangi hatiku sendiri."Aku paling benci berharap pada manusia tau, Ca." Itu yang sebenarnya aku rasakan ketika Caca terus mengorek masalah yang belakangan mempengaruhi hubunganku dengan Abra.Berharap pada manusia itu seperti memberi kesempatan bagi kecewa untuk menghancurkan diri, seperti yang aku alami di masa lalu. Harapan untuk bisa lulus sekolah dengan damai dan bisa kuliah di luar negeri pun pupus seketika.Aku membenci dan ingin menghapus garis waktu di masa itu, tetapi berakhir menjadi jarak tak
Last Updated: 2023-01-03
Semalam Bersamamu

Semalam Bersamamu

​"Berapa bayaran lo buat satu malam?" ​Bagi Sara, uang bukan lagi masalah jika itu satu-satunya cara untuk menyentuh Aksa—pria yang membentengi dirinya rapat-rapat di balik kesombongan dan gengsi. Tapi bagi Aksa, tawaran Sara adalah bentuk penghinaan paling nyata terhadap harga dirinya. ​Saat garis batas terlewati dan satu malam mengubah segalanya, mereka terjebak antara benci yang membakar dan hasrat yang tak terelakkan. Apakah Sara benar-benar hanya menginginkan tubuhnya, atau ada rahasia yang sengaja Aksa sembunyikan?
Read
Chapter: > Sampai Jumpa <
Selamat tinggal ... masa lalu. Aku kan melangkah. Maafkanlah ... segala yang pernah kulakukan padamu. Hayok, siapa yang baca di atas malah nyanyi? Enggak ada? Ah, okelah kalau begitu. Al cuma mau nyampein kalau kisahnya Aksa dan Sara bakal berakhir di sini. Masih ada pertanyaan? For your information, beberapa tokoh dalam cerita ini memiliki kisah tersendiri di judul lainnya. Untuk Nabastala, tentu aja udah terbit duluan di tahun 2019. Kisahnya Aksa ini menjadi sekuel Nabastala dan menggantung dalam draf cukup lama dalam jumlah kata kurang dari 30 ribu. Nah, keren dong di Goodnovel bisa jadi 100 ribu. Kisah lain yang juga jadi kameo di "Semalam Bersamamu"? Al punya "Dokter Tampan Pemikat Wanita", masih di Goodnovel juga. Kali inget dokter yang meriksa Sara waktu jatuh di kapal pesiar. Bener banget. Si Abra dan Natasha bakal k
Last Updated: 2021-07-28
Chapter: * Selesai *
"Wah, adiknya Saski ternyata kembar." Celetukan Shaka Bentala yang sudah beranjak remaja mengundang tawa ketika aku menggendong salah satu bayi di samping Sara. Benar, nama yang kusebut tadi itu anaknya Nabas sama si janda. Mungkin efek usia atau tingkat stres tinggi, ibunya si Ben lebih dulu meninggalkan dunia. Sementara ini dia diasuh sebagai anak Kea. Uh, kita enggak pernah tahu gimana proses berjalannya takdir hingga Tuhan memberi keinginan kita, tentu dengan usaha yang menjadikan hasilnya sangat berharga. Saski, anak gadis yang kudapatkan setelah enam belas tahun pernikahan. Lama juga, ya? Beda usianya terpaut sepuluh tahun dari Ben, dan sekarang punya dua adik sekaligus. "Suka sama anak kecil, Ben?" tanyaku seraya menyodorkan bayi yang kugendong ke dekatnya. Dibanding Shaka, anaknya Nabas ini lebih suka dipanggil Ben, terutama semenjak ibunya meninggal. Dia mengelus pipi anak lelakiku s
Last Updated: 2021-07-28
Chapter: Sara's Side - 5
"Ya Tuhan, Sara! Cowok kayak gitu mana bisa dipercaya!" Kinar protes pas aku ceritain hasil alat tes kehamilan yang dia kasih. "Kalian emang baru tau apa bener-bener bego sih ampe enggak pake pengaman? Cepat atau lambat bakal makin banyak orang yang sadar kalau lo gemukan!"Benda kecil yang menunjukkan garis dua masih kupegang dengan bergetar. Kelebat angan berputar dalam kepala. Aku berpikir cepat mengeenai apa saja yang mungkin bisa kulakukan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan dan ... buntu."Terus gue harus apa?""Gugurkan." Kinar memegangi bahuku, tepatnya mencengkeram kuat, mengguncang berkali-kali hingga rasanya kepalaku turut bergerak."Kin!" teriakku, menghentikan perlakuannya dan langsung menyingkir ke depan wastafel dalam toilet sekolah. Untungnya enggak ada yang denger pas jam pelajaran gini.Hamil di usia enam belas? Aku juga enggak kebayang. Ngotot pengin tau gimana rasanya
Last Updated: 2021-07-28
Chapter: Sara's Side - 4
Aku sama Aksa? Sejauh ini masih akur, enggak kayak waktu awal-awal dulu pas dia rajin banget nolak aku. Emang uang bisa ngubah segalanya, ya?Mungkin, ya. Aksa begitu manis meski aku nolak buat nerima perlakuan dia yang berubah seratus delapan puluh derajat.Enggak cuma hubungan kami yang terpengaruh dengan uang. Kayak waktu aku ngelihat Papa jalan sama cewek yang bergelayut manja di salah satu pusat perbelanjaan. Entah selingkuhan mana lagi yang morotin Papa dengan banyak tas belanja. Kenyataan benar-benar menyentak."Kin? Lo?" Aku sulit mengutarakan saat berhadapan langsung dengan sosok sahabat yang pengin langsung kudamprat ketika dia telah masuk toilet umum. Aku pikir ... keberanianku lebih dari cukup untuk marah."Mau nyalahin gue?" Seolah tanpa rasa bersalah, Kinar melewatiku dan masuk dalam salah satu bilik.Kelopak mataku sudah begitu panas membendung aliran yang siap mem
Last Updated: 2021-07-27
Chapter: Sara's Side - 3
"Diliatin mulu." Teguran Kinar disertai telapak tangan terbuka yang hampir menerpa wajah membuatku refleks mundur lepaskan tumpuan tangan pada dagu di meja dan mengerjap beberapa kali. Ngeganggu aja, sih. Ngelihat Aksa dalam waktu lama itu jadi kenikmatan yang hakiki. Aku tuh jadi ngebayangin gaya dia tanpa seragam di beranda. "Salah ortunya bikin dia secakep itu." Mungkin efek olahraga juga kali, ya. Selain beberapa kali mergokin Aksa latihan di kos, kadang nemu juga dianya di tempat fitnes, meski yang ini ngelihat dia bareng wanita tua. "Cakep? Kalau gue enggak salah denger, kemarin lo bilang itu cowok brengsek banget." Tanggapan Kinar ngeganjelin aja, sih. "Abis diapain lo?" Dicipok. Perjanjian spontan di belakang sekolah kemarin tuh mengejutkan banget. Aksa nyium gue ..., demi makan siang? Brengsek! Cowok matre! Kirain cewek doang yang kayak gitu. Mana ciuman pertamaku lagi. Yah, rasa bib
Last Updated: 2021-07-26
Chapter: Sara's Side - 2
Masih belum kapok sama rasa penasaran. Cowok itu kok malah nyuekin aku, sih? Abisnya aku pingsan di kamar dia malah dianterin balik ke rumah. Dia ... emang bermoral apa enggak minat, sih? Kalau waktu awal-awal jadi selebgram atau model, biasa banget tuh ketemu om-om yang sok megangin tubuhku dengan dalih enggak sengaja. Padahal jalanan luas. Kalau mau diperkarain, ancamannya bukan cuma pembatalan kontrak, tapi banyak yang bisa dijadiin kasus. Kayak yang belakangan dibikin berita. Peduli amat! Aku ngambil kamera di pojokan meja belajar. Udah dibersihin sih lensanya, lumayan buat pengaturanshot jarak jauh kalau dari jendela kamarku. Ternyata pas banget dapet beranda jemurannya si cowok baru. "Uh ...,sexy boy beraksi." Boleh melenguh enggak sih lihatin cowok dengan perut kayak roti sobek gitu? Belum termasuk lengan padatnya pas lagi angkat ker
Last Updated: 2021-07-25
Budak Cinta Si Tante

Budak Cinta Si Tante

Dia dibayar untuk menjadi teman. Tapi tidak pernah dibayar untuk jatuh cinta. Nabas terbiasa menemani perempuan-perempuan kesepian. Bagi lelaki yang menjalani kehidupan sebagai penghibur bayaran, semuanya sederhana. Datang ketika dibutuhkan, mendengarkan keluh kesah, memberi perhatian, lalu pergi ketika kontrak berakhir. Tidak ada perasaan. Tidak ada keterikatan. Sampai dia bertemu Anin. Seorang wanita dewasa yang masih terikat pernikahan, hidup dalam rumah tangga yang perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya. Anin tidak mencari kekasih. Ia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Maka sebuah kontrak pun dibuat. Aturannya sederhana. Jangan melibatkan perasaan. Masalahnya, Nabas mulai melanggar aturan itu lebih dulu. Semakin sering Anin mencarinya, semakin sulit Nabas menganggap hubungan mereka sekadar pekerjaan. Apalagi ketika perhatian yang awalnya bisa dibeli dengan uang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihargai dengan nominal berapa pun. Namun Anin tahu satu hal yang Nabas abaikan. Perasaan adalah alasan hubungan mereka harus berakhir. Di sisi lain, ada Kea—perempuan dari masa lalu Nabas yang kembali membawa harapan untuk kehidupan yang lebih normal. Kini Nabas harus memilih. Tetap menjadi lelaki yang bisa dimiliki siapa pun selama dibayar... atau mempertaruhkan semuanya demi satu wanita yang sejak awal tidak pernah boleh menjadi miliknya. Karena terkadang, orang yang kita kira hanya menjadi pelanggan justru menjadi orang yang paling sulit kita lepaskan. Dan ketika kontrak berakhir, siapa yang sebenarnya menjadi budak cinta?
Read
Chapter: 36 - Lamaran Resmi
Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: 35 - Batas Kontrak
"Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: 34 - Ketukan Palu Hakim
Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: 33 - Bayang-Bayang Kebohongan
"Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 32 - Keyakinan Palsu
Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 31 - Kalau Hamil?
Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p
Last Updated: 2026-09-17
You May Also Like
PENYESALAN MANTAN SUAMI
PENYESALAN MANTAN SUAMI
Romansa · Evelyn
446.9K views
Gairah Terlarang Sang CEO
Gairah Terlarang Sang CEO
Romansa · agneslovely2014
446.4K views
Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan
Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan
Romansa · Creative Words
445.9K views
Bukan Mantan Biasa
Bukan Mantan Biasa
Romansa · Ayesha
445.8K views
Pemuas Hasrat Dosen Tampanku
Pemuas Hasrat Dosen Tampanku
Romansa · Rucaramia
445.1K views
BERBAGI HATI DENGAN BOSMU
BERBAGI HATI DENGAN BOSMU
Romansa · Jemyadam
444.4K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status