Kejadian di koridor sore itu membawa ingatan Nabastala melayang mundur ke beberapa bulan lalu—tepatnya di penghujung semester ganjil, saat pertama kali ia menyadari keberadaan seorang Anindya Betari di lingkungan kampus yang luas ini. Hari itu, suasana pelataran parkir Fakultas Bahasa terik dan riuh. Nabastala yang baru saja menyelesaikan sesi ujian pertamanya berdiri menyandar pada bodi mobil milik Kea. Sesuai kesepakatan, mereka berjanji bertemu di parkiran usai ujian. Untuk mengusir kebosanan, Nabastala merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya. Sambil menyesap asap tembakau, matanya sempat tertegun menatap gambar peringatan kanker tenggorokan di bungkus rokoknya—seseperti biasa, ironi tentang bahaya kesehatan tak pernah benar-benar menghentikan para perokok, termasuk dirinya. Namun, perhatian Nabastala seketika teralih ketika mendengar lengkingan suara wanita dari sudut terujung area parkir. "Aku enggak mau! Kamu membawa racun, bukan madu, Mas!"
Terakhir Diperbarui : 2021-09-01 Baca selengkapnya