MasukDavidson masih duduk di kursi belakang, satu tangan membuka kancing jasnya, satu lagi merapikan dasi.
Mobil sudah cukup jauh dari tempat Helena turun tidak. Tapi, tangan Davidson tidak sengaja menyentuh sesuatu. Dompet kecil berwarna hitam. Dompet itu Helena. Davidson menatapnya beberapa detik, rahangnya mengencang. “…Dia tidak pernah meninggalkan ini sebelumnya.” Suara Davidson turun, hampir seperti sebuah gumamaSetelah mobil Davidson dan Jonathan meninggalkan halaman rumah, suasana menjadi jauh lebih sunyi. Rumah besar itu terasa terlalu luas ketika hanya dihuni oleh beberapa orang pelayan… serta dua wanita yang memiliki posisi yang sangat berbeda di hati pria yang sama. Helena berdiri beberapa saat di ruang tengah. Ia merasa tidak nyaman berada di sana bersama Kirena. Bukan karena kebencian, melainkan karena ia merasa kehadirannya mungkin hanya akan membuat keadaan semakin canggung dan tidak nyaman.. ‘Lebih baik aku pergi sebentar…’ pikir Helena. Ia baru saja hendak berjalan menuju pintu samping ketika suara lirih memanggilnya. “Helena… tunggu sebentar.” Helena berhenti dan menoleh. Kirena berdiri di dekat sofa. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lemah, tetapi sorot matanya menunjukkan tekad yang begitu kuat. “Bolehkah kita bicara sebentar?” tanya Kirena. Helena ragu sejenak, lalu mengangguk dan berjalan mendekat. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Kirena, menjaga j
Kirena kembali terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi. Tubuhnya masih terasa lemah, namun pikirannya jauh lebih jernih dibanding malam sebelumnya. Ia memandang langit-langit kamar itu beberapa saat, mencoba mengingat apa yang terjadi. Pelan-pelan ia duduk. Saat melihat sekeliling, ia langsung mengenali kamar itu. Itu adalah kamar yang dulu pernah disiapkan Davidson untuknya. Dulu… ketika mereka hampir menikah. Seketika hatinya berdebar. Sebuah harapan kecil muncul di dalam dadanya. Mungkin… mungkin Davidson masih menyisakan tempat untuknya. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Davidson masuk dengan langkah tenang. Wajahnya tetap dingin seperti biasanya. “Sudah bangun?” tanyanya singkat. Kirena menatapnya dengan mata yang sedikit memerah. “David… aku merepotkanmu lagi.” Davidson tidak menjawab kalimat itu. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat tidur. “Dokter bilang kondisi tubuhmu masih lemah. Jangan terlalu banyak bergerak. Dokter juga tinggal di dekat sini,
Kirena menggenggam selimut di atas pangkuannya, matanya berkaca-kaca saat Davidson berdiri tegak di samping ranjang tanpa banyak ekspresi. Cahaya pagi menembus tirai, menciptakan suasana hening yang hampir menyakitkan untuknya. Davidson memang tidak banyak bicara, tapi kehadiran ria itu di sana sudah cukup menjelaskan bahwa kepedulian untuknya masih begitu besar. “David…” suara Kirena parau, nyaris bergetar. “Bolehkah aku… tinggal di sini untuk sementara waktu?” Davidson tidak menjawab langsung. Rahangnya mengeras, pandangannya tertuju ke arah jendela seolah ia sedang menahan diri agar tidak terbawa emosi. Keheningan itu membuat Kirena semakin gugup. “Aku akan mengatakan yang sebenarnya... aku pergi waktu itu bukan karena aku ingin meninggalkanmu,” lanjut Kirena. Air matanya jatuh dengan sendirinya. “Aku divonis menderita leukimia. Parah. Dokter bilang aku harus segera menjalani pengobatan intensif di luar negeri.” Davidson akhirnya menatapnya, tatapan gelap, menusuk, sulit dit
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar, menerangi ruangan yang masih sunyi. Davidson duduk di kursi di samping ranjang, tubuhnya tegak, kedua lengan terlipat. Matanya tidak benar-benar terpejam semalaman, lebih tepatnya waspada dalam diamnya. Dia tidak menyentuh Kirena, tidak menggenggam tangan, tidak menunjukkan kelembutan berlebihan seperti kalanya mantan kekasih. Tapi dia memilih untuk tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ketika Kirena membuka mata untuk pertama kalinya, tubuhnya terasa lemah. Pandangannya buram sebelum akhirnya fokus pada sosok yang duduk kaku di sampingnya. “…Davidson?” suaranya serak. Davidson membuka mata sepenuhnya. Ekspresinya tetap datar, dingin seperti biasa, tapi kilatan lega sekilas tampak, cukup cepat untuk mudah terlewat kalau tidak memperhatikannya. “Kau sudah sadar,” katanya singkat, suaranya rendah dan tegas. Kirena melihat sekeliling, tampak bingung. “Apa… yang terjadi?” “ Kau pingsan kemarin,” jawab Davidson, masih de
Helena mulai merasa gelisah melihat reaksi Davidson. Sejak dokter pergi, ruang tamu itu terasa terlalu hening. Kirena sudah dibaringkan di kamar tamu, napasnya teratur namun lemah. Sementara Davidson… tampak seperti seseorang yang baru saja ditampar kenyataan yang begitu pahit. Helena memperhatikan gelagatnya. Pria itu berdiri kaku di depan pintu kamar Kirena, kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, namun matanya… penuh kekhawatiran yang sulit untuk disembunyikan. Helena menghela napas dan mendekat pelan. “David…” panggilnya hati-hati. Davidson tak menjawab. Ia hanya menatap Kirena yang terbaring tak berdaya. Ada campuran marah, takut, dan bingung di wajahnya. Emosi yang bahkan Helena sendiri tak pernah lihat sebelumnya. “Kenapa dokter bilang dia sudah lama menjalani pengobatan? Apa kau tahu sesuatu?” tanya Helena pelan. Davidson menggeleng cepat, seperti menolak kenyataan. “Aku… aku tidak tahu apa pun. Dia tidak bilang apa-apa waktu datang. Dia cuma menangis dan bicara
“Aku tahu aku dulu pengecut,” ucap Kirena, suaranya retak. “Aku tahu aku melukai mu dengan cara paling buruk. Tapi… aku juga manusia, David. Aku takut.” Davidson menghela napas panjang. “Takut apa maksudnya?” “Takut menikah dengan pria yang aku cintai… tapi yang waktu itu terlalu posesif sampai aku bahkan tak bisa bernapas.” Dia menatap Davidson penuh penyesalan. “Aku takut rumah tangga kita akan hancur sebelum dimulai. Aku takut kau tidak bisa berubah… dan aku salah karena pergi dengan cara seperti itu.” Hening. Davidson menatapnya tajam, tapi di balik tatapan itu, ada luka lama yang masih terasa. Kirena melanjutkan, suaranya menurun. Sungguh, dia tidak peduli dengan Helena yang justru menonton di sana. “Kau tahu apa yang paling menyakitkan? Setiap tahun berlalu, aku tetap memikirkan mu. Kau mungkin berubah jadi lebih tenang, lebih dewasa. Tapi aku tetap dengan rasa bersalah yang sama.” Wajah Davidson sedikit melunak, meski dia belum mengatakan apa pun. Kirena membe







