LOGIN"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Hampir tiga tahun menikah dan tidak kunjung hamil membuat suaminya membayar seorang pria untuk menghamili Elisa. Mereka harus punya keturunan demi mendapat warisan sang Kakek. Pilihan pun jatuh kepada Leo, sang asisten berkacamata yang pendiam, penurut, dan mudah dikendalikan. Namun, siapa sangka, pria itu menyimpan rahasia tersembunyi di balik penampilannya. Bukan hanya itu, pria itu juga menyimpan gairah tidak terduga. Berawal dari kesepakatan untuk memberi keturunan, Elisa malah terjebak dalam pesona asisten suaminya yang perkasa.
View More"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa."
Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka.
Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu menganggap asisten suaminya itu sebagai pria culun.
"Apa maksudnya, Eddy?" protes Elisa.
"Kita sudah sepakat tentang ini kan, Sayang?"
"Tapi ...." Elisa melirik Leo yang masih berdiri di dekat pintu. "Bisakah kau keluar dulu, Leo? Aku mau bicara dengan suamiku."
"Aku akan keluar, Bu."
Dengan patuh, Leo pun langsung keluar begitu saja. Pria itu terlalu diam, hanya bicara saat diajak bicara, hanya menurut setiap diberi perintah, dan selalu datar tanpa ekspresi seolah tidak memiliki emosi.
Segera setelah pintu tertutup, Elisa pun kembali menatap suaminya.
"Eddy, aku masih belum setuju tentang ini."
"Sayang, kau harus hamil dalam tahun ini demi warisan Grandpa."
"Aku tahu, tapi masih ada waktu untuk punya anak. Aku tidak bisa disentuh pria lain seperti ini. Kita bisa ... mencoba cara lain ...."
"Seperti bayi tabung? Dan membuat semua orang tahu kalau suamimu mandul? Apa kau tidak bisa menjaga namaku juga, hah? Itu sudah cukup menyakitkan untukku divonis mandul, Elisa!"
Tatapan Elisa berkaca-kaca melihat bagaimana terpukulnya suaminya mendapati kenyataan dirinya mandul. Hampir tiga tahun menikah dan tidak kunjung hamil akhirnya membuat Eddy memeriksakan kesehatannya.
Dan baru dua bulan lalu, Eddy tahu kalau ia mandul, yang artinya ia tidak akan bisa membuahi Elisa dan membuatnya hamil.
"Eddy, kau tahu aku sudah menerimanya kan? Bahkan aku tidak apa kalau seumur hidup kita tidak punya anak. Kita bisa mengadopsi anak kan?"
"Kau tahu bukan itu masalahnya, tapi warisan Grandpa yang baru akan diberikan kalau kau hamil. Hanya garis keturunan langsung. Kau tidak dengar apa kata Grandpa? Untuk apa menikah kalau tidak bisa memberikan keturunan? Kalau kau tidak hamil juga, Grandpa pasti akan memaksa kita bercerai! Aku tidak mau bercerai darimu dan kehilangan segalanya, Elisa!"
Eddy akhirnya mulai merayu istrinya dan Elisa selalu luluh. Mereka memang sudah membicarakan tentang ini, walaupun Elisa tidak pernah memberikan persetujuannya secara gamblang. Namun, Eddy terus mengatakan inilah saatnya dan ia sudah menemukan pria yang tepat.
Jantung Elisa pun terus berdebar kencang saat akhirnya Eddy keluar dan Leo masuk. Melihat Leo ada di kamarnya saja membuat emosinya terlecut, bagaimana bisa ia membiarkan dirinya disentuh oleh asisten suaminya?
Pria itu menatap Elisa intens. "Aku diminta Pak Eddy untuk berhubungan dengan Anda. Tapi kalau Anda tidak mau ...."
"Aku tidak punya pilihan, tapi awas saja kalau kau sampai buka mulut, Leo! Kau dan suamiku sudah membuat perjanjian kan? Tidak boleh ada yang tahu tentang ini!"
Suara Elisa bergetar dan ia menelan salivanya. "Aku hanya harus hamil dan setelah itu, lupakan semuanya! Kau mengerti kan?"
Leo menatap Elisa sedikit lebih lama, sebelum ia mengangguk.
"Aku mengerti, Bu."
"Baiklah, kalau begitu, aku akan ... aku akan ke kamar mandi dulu!" seru Elisa yang bergegas ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Elisa terus memegangi dadanya sendiri yang bergemuruh. Ini masih gila. Ia tahu Eddy berusaha mencari kandidat pria yang tepat untuk menjadi pendonor sperma, tapi apa harus asistennya sendiri.
"Eddy benar-benar gila! Apa yang harus kulakukan?" lirihnya.
Elisa terus menenangkan dirinya, sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Elisa! Pejamkan matamu saja! Ini demi rumah tanggamu, demi warisan, demi memperjuangkan semuanya. Sedikit pengorbanan tidak apa-apa. Ya, tidak apa-apa!"
Sambil terus mengembuskan napas panjangnya, Elisa akhirnya keluar dari kamar mandi. Ia tidak merasa harus melakukan persiapan apa pun karena toh ini hanya kewajiban belaka.
"Aku mau lampunya dimatikan dan jangan menyentuh bagian mana pun di tubuhku! Hanya lakukan tugasmu di tempat yang tepat dan jangan terlalu lama!" pesan Elisa sambil melangkah ke ranjang.
Leo masih berdiri di tempatnya, menatap Elisa dengan tatapan yang terasa aneh baginya, tidak ada gairah di sana, tidak juga apa pun. Ekspresi itu datar, Elisa tidak pernah bisa membaca ekspresi pria itu.
Namun, Elisa tidak peduli. Ia tahu Eddy sudah mengatur semua yang terbaik dan ia hanya tinggal menurutinya.
Tanpa menunggu lama, Elisa pun berbaring di ranjangnya, masih berusaha menenangkan dirinya yang tidak kunjung tenang.
Sampai tidak lama kemudian, lampu dimatikan. Kamar menjadi gelap. Jantung Elisa makin bergemuruh mendengar langkah kaki itu mendekat. Rasanya seperti akan dilecehkan dan ia mulai takut.
Namun, Elisa menahannya sekuat tenaga. Baru saja ia ingin memejamkan matanya, cahaya lampu dari luar mulai masuk melalui celah jendela, membuat sedikit cahaya samar yang membentuk siluet di dalam kamar.
Elisa tidak bisa menahan dirinya menoleh dan apa yang ia lihat di sana membuat napasnya tertahan sejenak.
Asisten suaminya itu sudah membuka kemejanya. Terlihat tubuh kekar berotot di dalamnya yang membuat Elisa seketika bergidik membayangkan bagaimana tubuh kekar itu akan menindihnya.
**Dalam hidup, jalan yang kita lalui mungkin tidak selalu mulus, mungkin penuh batu kerikil, mungkin penuh badai, mungkin juga penuh luka. Tapi bukan berarti kita harus menghabiskan sisa hidup untuk meratapi luka itu. Karena terkadang, setelah babak belur dan kehilangan segalanya, kita justru menemukan sesuatu yang jauh lebih indah menanti kita di depan sana. Seperti Elisa yang menemukan kebahagiaan sejatinya setelah badai menghantamnya tanpa ampun. Ia menemukan seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan ada di hidupnya, seseorang yang mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamanya, dan memberikan kebahagiaan tiada akhir. Seperti juga rasa bahagia menyambut kelahiran anak kembar mereka hari itu. Elisa ingin melahirkan normal, tapi posisi bayinya tidak memungkinkan. Elisa pun pasrah dan kebahagiaan itu pun tidak berkurang sedikit pun walaupun kedua bayinya dilahirkan secara operasi. "Oek ... oek ...." Suara tangisan bayi itu mengalun indah di ruang operasi. "Bayi pertama laki-laki
"Selamat, akhirnya kau bebas, Susan!" Hari itu, hari yang dinantikan Susan pun tiba. Setelah dua tahun dikurung dalam penjara, akhirnya ia bebas juga. Susan sampai tidak bisa tidur semalam dan ia tidak berhenti merinding. Saat pertama kali dikurung rasanya ingin mati saja. Susan tidak biasa tidur di tempat keras, tidak biasa mandi dengan tempat jorok, tidak biasa makan seadanya, tidak bisa berkumpul bersama orang-orang yang rendahan menurutnya. Susan dan Hilda mengamuk seperti orang gila dan membenci semua orang. Hingga perlahan, ketenangan muncul di hatinya. Yang awalnya tidak bisa menjadi bisa, yang awalnya semua buruk, kini terlihat tidak buruk lagi. Dan yang awalnya Susan ingin meninggalkan semua orang di sana, kali ini, hatinya terasa berat, apalagi harus meninggalkan ibunya. "Jaga dirimu, Susan! Jangan berbuat jahat lagi!" pesan napi yang lain. "Pasti! Pasti! Terima kasih!" Susan pun menatap ibunya dan mendadak berlutut di kaki Hilda. "Ibu ..." "Apa yang kau lakukan, Sus
"Positif, Leo! Ini positif! Aku hamil lagi!" Elisa memekik penuh haru pagi itu. Setelah mengalami mual waktu di pesta ulang tahun Alden, Elisa tidak sempat mengecek apa pun karena ia sibuk di yayasan sampai malam. Begitu tiba di rumah, ia sudah kelelahan parah. Memang belakangan ia merasakan perubahan dalam dirinya. Kelelahan yang berlebihan, rasa ngantuk yang berlebihan, dan yang tidak ia sadari adalah haidnya sudah terlambat. Pagi itu, Elisa terbangun jam lima pagi dan ia langsung memeriksa dengan alat tespeknya. Hasilnya membuatnya menangis haru. Leo yang tahu Elisa akan mengecek kehamilan pun ikut bangun dan menunggu dengan antusias di luar kamar mandi. Dan begitu mendengar pekikan Elisa, Leo langsung menerobos masuk ke kamar mandi yang memang pintunya tidak dikunci. "Positif, Sayang? Kau hamil lagi?" Elisa mengangguk dengan air mata yang bercucuran. "Iya, Leo! Aku hamil lagi! Aku hamil lagi!" "Oh, Sayang! Akhirnya, Sayang! Akhirnya! Terima kasih, Tuhan!" Leo langsung meme
Dua bulan kembali berlalu dan hari itu, semua sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun Alden yang pertama.Acara itu diadakan di yayasan milik Hartono Group, sebuah yayasan yang juga akan diresmikan sekalian hari ini bernama Yayasan Lentera Kasih."Aku ingin anak-anak yang tidak punya siapa-siapa tetap memiliki tempat untuk berharap," ujar Elisa saat itu, mengungkapkan keinginannya. Leo yang memang sudah punya yayasan bernama Hartono Foundation di Singapore itu langsung mengangguk setuju. "Kalau begitu, kita bangun tempat itu untuk mereka, Sayang.""Yayasan Lentera Kasih," bisik Elisa. "Aku sudah berpikir keras untuk namanya, dan aku mau tempat kita memberikan cahaya bagi banyak orang. Semoga suatu hari nanti, tidak akan ada anak yang merasa sendirian lagi karena mereka tidak punya siapa-siapa."Leo mengangguk dan mengecup kening istrinya. Mereka berdua pernah kehilangan, mereka berdua tahu rasanya. Karena itu, mereka tidak akan membiarkan anak lain merasakannya. "Kalau itu keinginanm
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore