Mag-log inSuaminya bersujud memohon agar Helena mau membantunya membujuk sang paman guna membantu perusahaan yang akan bangkrut, ia pun terpaksa mengiyakan sebab Ibu mertuanya juga menekan. Namun, siapa sangka menemui sang paman adalah sebuah masalah besar dalam hidupnya. Helena diminta untuk menjadi partner ranjang pria yang ia panggil paman Davidson itu!
view more“Sayang, aku mohon padamu... tolong bantu aku memohon kepada Pamanku. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menyelamatkan perusahaan,” ucap pria bernama Alex, 32 tahun, suami dari Helena Greg Lauder.
Mendengar permohonan sang suami, Helena pun merasa bingung. “Tapi, Sayang, Paman Davidson itu Pamanmu. Bagaimana mungkin aku menemuinya? Dia juga bukan orang yang ramah. Bagaimana jika dia—” Tidak menyerah, Alex kembali memohon, kali ini ekspresinya lebih menyedihkan sampai-sampai suaranya seperti sedang menahan tangis yang ingin pecah dari tenggorokannya. “Sayang, Paman Davidson itu adalah orang yang baik. Hanya saja aku sudah meminta bantuannya beberapa kali. Kalau sekarang aku minta bantuannya lagi, yang ada dia akan memaki ku dan menganggapku tidak mampu mengelola keuangan kantor sampai-sampai keadaan kantor jadi kacau dan terancam bangkrut.” Helena pun terdiam. Selama empat tahun menikah dengan Alex, jangankan merasa bahagia seperti yang ia harapkan sebelumnya, cuma ada kekhawatiran dan juga keluhan yang harus dia dengar setiap hari dari mulut Alex. Ia juga merasa sangat lelah, tetapi dia mencintai pria itu. Walaupun dia tahu kadang kala keinginan Alex berada di luar keinginannya, bahkan menyakitkan sekalipun, Helena masih dengan senyum menerima setiap tindakan suaminya itu. Sadar kalau Helena masih belum merasa yakin, Alex pun dengan cepat meraih kedua tangan Helena erat-erat digenggamnya. Ia menatap semakin dalam sepasang mata Indah berwarna coklat muda milik Helena. Kejayaan perusahaannya berada di ujung tanduk, tidak peduli lagi di mana letak harga dirinya. “Sayang, kalau kau berhasil membujuk Paman... aku janji akan pergi liburan denganmu seperti yang sudah kita rencanakan beberapa waktu lalu. Aku bersumpah akan lebih sering menghabiskan waktu bersamamu. Kita juga bisa mulai bayi tabung tanpa harus mengirit biaya,” timpal Alex, berharap kali ini istrinya itu benar-benar mau membantunya. Helena pun membuang napasnya. Entah kenapa hatinya masih merasa berat, tetapi sulit baginya untuk menolak. Ia baru akan membuka mulut, tetapi Ibunya Alex, Karina datang dengan ekspresi yang sinis. “Dasar istri durhaka! Bisa-bisanya kau biarkan suamiku bersujud di hadapanmu sampai sebegitu lamanya hanya untuk memohon bantuanmu. Sebagai Seorang istri sudah kewajibanmu untuk membantu suami, Kenapa kau terlihat tidak rela begitu, hah?” ucap Karina, matanya yang tajam itu fokus terarahkan kepada Helena. Begitulah perlakuan Karina terhadap Helena selama ini. Bagi wanita paruh baya itu, Helena adalah wanita yang telah menghancurkan masa emas putranya, menganggap kalau kedatangan Helena menjadi bintang kesialan untuk putranya hingga harus gagal berkali-kali dalam bisnis. “Ibu mertua, aku tahu, aku juga akan—” “Akan apa?” potong Karina. “Selama ini kau hanya tahu menghabiskan uangnya Alex saja. Saat begini harusnya kau yang paling bertanggung jawab!” Helena memilih untuk membuang napas kasarnya. Seperti biasa, saat Karina mengomel pada Helena, yang dilakukan oleh Alex hanyalah diam. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, Helena kadang kalah jadi merasa bahwa Alex tidak lagi memiliki cinta yang sebesar dulu. Tidak ada ruang dan kesempatan untuk Helena bicara, ia benar-benar memilih diam hingga perdebatan itu berakhir sendiri karena sang Ibu mertua lelah mengoceh. Sore harinya, sesuai dengan yang diinginkan suami serta Ibu mertuanya, Helen datang ke rumah Paman dari Alex, Davidson. Rumah mewah nan megah itu berdiri di tanah luas, taman bunga dan pohon buah mengelilinginya. Suara pintu gerbang besi kokoh berderit halus, mengiringi kaki Helena. “Nona, tolong jangan membuat Tuan Davidson kesal. Maaf jika saya menyinggung anda. Tuan baru saja bertengkar dengan Nona Michelle, Saya takut Tuan akan tambah kesal,” pesan sang penjaga pintu gerbang. Mendengar itu, Helena pun menelan ludah. Tubuhnya merinding seperti ada hawa dingin yang menggerayangi hanya karena mendengar nama Davidson. Namun dia tidak bisa mundur lagi. Helena pun mengangguk. “Iya,” jawabnya singkat. Kembali ia melangkahkan kakinya, sampailah di depan pintu utama yang dibuka oleh pelayan rumah itu. “Silahkan masuk, Nona,” ucap sang Pelayan. Helena menganggukkan kepalanya. Kedatangannya kali ini juga sudah dikabarkan lebih dulu pada asisten pribadinya Davidson. Paham kalau selama ini pria itu memang jarang sekali mau menemui tamu atau orang yang dianggapnya tidak penting. Meski sempat ragu, Helena terpaksa nekad. Soal keberaniannya, anggap saja dia pinjam dari Tuhan. Sampainya dia di ruang tengah, Helena mengedarkan pandangannya. Menangkap sosok gagah itu berdiri di teras samping. Batang rokok terselip di jemarinya. Matanya menatap lurus, tetapi terlihat jelas kelelahan dan kekesalan yang sepertinya cukup menghabiskan energi. Helena takut. Keberaniannya terkikis hanya karena melihat pria itu dari kejauhan. Entah alasan yang mana... Padahal pria itu memiliki postur yang begitu gagah, tinggi, dan kekar. Wajahnya yang begitu tampan, auranya, semuanya... keindahan itu membuat Helena merinding. “Tidak. Aku tidak boleh membuang waktu lebih banyak lagi. Kalau tidak segera bertindak, Ibu mertua pasti akan mengomel lagi,” gumamnya pelan, penuh tekad. Helena kembali melangkah. Meski ia merasa gugup, entah kenapa dia cukup yakin kalau menghadapi Davidson tidak menyakitkan menghadapi ocehan Ibu mertuanya. “P—Paman...” panggil Helena pelan. “Maaf kalau aku datang di waktu yang kurang tepat.” Davidson tidak menoleh. Ia membuang asap rokok yang tertinggal di mulutnya, lalu mematikan nyalanya. “Kau datang sendiri?” tangan Davidson, masih belum ingin menatap Helena. “I—iya, Paman,” jawab Helena cepat. Davidson membuang napas. “Cepat katakan.” Helena merapatkan bibirnya. Sungguh tidak menyangka kalau Davidson bahkan sudah tahu apa tujuannya datang. Karena Helena tidak langsung menjawab, Davidson pun membalikkan badannya, menatap Helena dengan tatapan matanya yang tegas. “Katakan. Kalau kau datang cuma mau diam, aku tidak ada waktu untuk itu. Aku orang yang sibuk.” Helena menjadi gelagapan. “Aku akan bicara.” “Cepat.” Helena menelan ludah. Terdorong oleh keadaan ia pun bicara dengan cukup lancar. “Paman, Alex bilang, saat ini perusahaan mengalami masalah karena proyek besar yang sedang dijalani mengalami kendala serius. Perusahan menanggung kerugian yang sangat besar, jadi...” Davidson langsung tersenyum kesal. “Jadi butuh dana yang juga sangat besar?” “I—iya, Paman.” “Tidak mau. Ini sudah berkali-kali, mau sampai kapan bocah bodoh itu terus melakukan kesalahan? Apa dia pikir mudah bagiku menghasilkan uang? Jika tidak punya otak maka lebih baik masuk rok Ibunya saja.” Helena menunduk malu. Dia paham benar hal itu, tapi dia juga tidak bisa pulang tanpa hasil. “Paman, aku mohon bantulah Alex. Hanya Paman yang bisa membantunya...” Helena menatap dengan sorot memelas. “Pulanglah. Bilang saja aku tidak membantu. Jangan buang energimu.” Helena menggelengkan kepalanya. “Paman, aku mohon...” Davidson mendesah kesal. “Tidak. Aku tidak mau menghambur uang.” Helena membayangkan bagaimana sinisnya sang Ibu mertua. Dia juga tidak sanggup kalau Alex harus jatuh bangkrut. “Paman, aku mohon...” Davidson menatap wajah Helena dengan tatapan yang aneh. “Keuntungan apa yang aku dapatkan nantinya?” Helena nampak bingung. “Itu... apa yang Paman inginkan? Aku akan membicarakan dengan Ibu mertua dan Alex.” Seketika itu Davidson tersenyum miring. “Jadilah teman tidurku.”Pintu gudang tua itu tiba-tiba bergetar keras. Brak! Brak! Brak!Seolah ditendang dari luar oleh lebih dari satu orang. Debu beterbangan dari kusen kayu yang rapuh. Ketiga penculik itu langsung panik, saling pandang, sadar bahwa satu-satunya pintu keluar kini akan menjadi pintu masuk kematian mereka jika tidak bertindak dengan cepat. “Siap! Jangan biarkan mereka dekat dan mencelakakan kita!” Salah satu penculik berseru sambil mencabut pisau panjang berkarat tapi tajam. “Sial! Kalau saja lubangnya sudah selesai, kita tidak perlu menunggu cukup lama di sini,” kesal salah satu penculik itu. Dalam sekejap, mereka bergerak membentuk barikade hidup, ketiganya berdiri tepat di belakang Helena dan Diana, lalu menghunuskan senjata ke leher keduanya, siap memotong urat lehernya . Diana pun menjerit histeris. Helena hanya memejamkan mata sesaat, bukan lagi karena takut mati, tapi karena ia tahu sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi. Brak!!! Pintu gudang tua itu akhirnya je
Helena membuka matanya perlahan, kelopak matanya berat dan penglihatannya buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Begitu ia mulai menyadari posisinya, jantungnya langsung berdegup cukup keras. Tangan dan kakinya terikat kuat ke kursi, tubuhnya sedikit condong ke depan, dan mulutnya disumpal kain sehingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Napas terasa berat, keringat bercucuran. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh satu lampu kuning kusam yang menggantung di tengah, membuat bayangan kejam di wajah tiga penculik yang berdiri tidak jauh darinya. Bau lembap dan karat besi begitu menyengat memenuhi udara. Di sebelahnya, sekitar dua meter saja darinya, Diana menangis tersedu-sedu, kedua tangannya juga terikat tapi mulutnya tidak dalam kondisi disumpal. “Tolong lepaskan aku! Aku benar-benar tidak ada hubungannya!” teriak Diana dengan suara bergetar. Salah satu pen
Davidson masih duduk di kursi belakang, satu tangan membuka kancing jasnya, satu lagi merapikan dasi. Mobil sudah cukup jauh dari tempat Helena turun tidak. Tapi, tangan Davidson tidak sengaja menyentuh sesuatu. Dompet kecil berwarna hitam. Dompet itu Helena. Davidson menatapnya beberapa detik, rahangnya mengencang. “…Dia tidak pernah meninggalkan ini sebelumnya.” Suara Davidson turun, hampir seperti sebuah gumaman. “Jonathan,” panggilnya. Jonathan yang sedang menyetir langsung menoleh lewat kaca spion. “Ya, Tuan David?” “Kembali ke rumah Alex. Helena meninggalkan dompetnya. Dia pasti sangat butuh ini.” “Oke. Aku putar balik sekarang.” Saat mereka tiba di depan rumah Alex, suasana terlihat sepi tidak seperti biasa. Lampu teras menyala tetapi tidak ada satu pun orang terlihat di sekitar. Davidson turun dari mobil sambil membawa dompet itu.
Joseph duduk merenung di kursi kamarnya. Kembali memikirkan soal apa yang terjadi dengan Alex, ia pun merasa tertekan. Memang benar dia memilih diam, tapi dia tidak pernah menjadi orang yang mudah ditipu.Kehancuran perusahaan sudah dimulai sejak lama. Semula hanya koreng kecil, tapi karena terus diberikan bakteri, pada akhirnya luka itu parah, infeksi sudah sampai ke pusat dan sulit untuk disembuhkan. Ia mungkin tidak terlibat langsung dalam setiap urusan Alex, tetapi ia selalu punya mata dan telinga di mana-mana. Dan belakangan… suara-suara yang ia dengar semakin jelas dan konsisten. Helena. Nama itu terus muncul dalam dugaan meskipun berakhir buram. Helena lah yang tiba-tiba saja dekat dengan Davidson. Helena lah yang tiba-tiba memiliki akses ke saham meskipun infonya juga masih belum jelas. Helena lah satu-satunya pihak yang tidak pernah disentuh kecurigaan Alex, kecurigaan yang terbilang ser












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.