LOGIN"Aku ingin kamu mencintaiku seperti kamu mencintai mantan kekasihmu.." "Dengan cara meniru orang lain? Dari mana kamu tahu soal itu?" "Dari pesan mesra yang dikirimkan oleh mantan kekasihmu." Lirih Aluna menjawab pertanyaan suaminya. Dua tahun menjalani bahtera rumah tangga, Aluna masih saja tak bisa menggapai cinta suaminya, Arkan. Harga dirinya bahkan terus terinjak karena selalu dihina oleh keluarga suaminya yang menjelekkannya sebagai wanita yang tak cantik juga berpendidikan. Sampai suatu hari, Aluna menemukan pesan mesra di ponsel suaminya. Bukan marah dan menghindar, Aluna berusaha melunakkan hatinya demi memberi makan ego suaminya. Terus memperbaiki diri yang dianggap tidak sempurna. Hari demi hari hingga cobaan demi cobaan dilewati, Aluna sudah tak tahan dan memilih mundur. Namun ketika perpisahan di ujung mata, Arkan mulai menyadari kehadiran Aluna, istri yang selalu dipandangnya sebelah mata. Bisakah Aluna membuka hatinya kembali untuk Arkan? Atau malah sebaliknya.. Aluna mundur dan memilih kebahagiaannya sendiri.
View MoreAluna kembali memoles bedak di wajahnya. Di poles lagi hingga Aluna menatap getir bayangan yang ada di wajahnya.
Begitu aneh! Aluna kembali menghapus bedak yang tadi mampir ke wajahnya. Sekali lagi, Aluna melihat merk skincare dan juga make up yang kemarin dibelinya. Sebuah merk tersohor dari negeri ini. Namun sayang sekali, mau berapa kalipun Aluna memakai ini, tak akan pernah membuat Arkan menoleh untuk sekedar menatap wajahnya. Aluna mengambil buku yang ada di laci meja rias. Buku kedua tahun ini yang menjadi teman ceritanya. Sekedar menulis isi hatinya karena ia yang tak memiliki teman cerita selama ini. Handle pintu terbuka, Aluna menatap pria yang baru saja masuk dengan sebingkai senyuman dan menaruh buku diarynya di dalam laci. "Baru pulang, sayang?" Arkan berdeham dan membiarkan Aluna membantunya melepaskan jas yang ia pakai. "Aku akan siapkan air mandi. Kamu pasti lelah bekerja." Ucap Aluna lembut kepada pria tanpa ekspresi. Kegiatan Aluna berlanjut ke kamar mandi. Menghidupkan kran dan mengatur suhu air untuk mandi suaminya. Tak lupa juga handuk serta pakaian ganti juga ia siapkan. "Silahkan mandi, sayang.." Arkan mengambil handuk dan melewatinya begitu saja. Sudah biasa bagi Aluna di silent treatment seperti ini. Setelah mandi, Aluna juga menyeka tubuh suaminya. Ia juga menawarkan makan malam dimana Arkan hanya mengangguk kecil. Aluna keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Memanaskan makanan dan menata di meja makan. Suara pintu kembali terbuka, ternyata ada Fiona yang baru saja keluar. "Arkan sudah pulang?" "Sudah, ma." Jawab Aluna tersenyum pada wajah yang bengis itu. Ketiganya lalu makan malam bersama. Disanalah, Aluna bisa mendengar suara suaminya. Arkan menceritakan masalahnya yang ada di perusahaan. Dimana ia tengah kalut karena pekerjaannya yang tak selesai dengan rapi. "Kamu butuh liburan sepertinya, nak." "Mungkin saja.." "Pergi berlibur sana. Jangan sibuk bekerja dan berman di rumah." Fiona lalu menjetikkan jarinya. "Mama ingat jika ada undangan dari tantemu yang di Bali. Sekalian saja kamu ambil cuti dan liburan." Arkan mengangguk setuju. Sepanjang di meja makan, hanya keduanya yang berbicara sementara kehadiran Aluna tak di perhatikan. Dia hanya bertugas sebagai pelayan dimana ia yang sibuk menuangkan makanan dan juga minuman. Satu minggu berselang.. Ketiganya menuju Bali karena ada undangan dari saudara Fiona, Farah yang akan menikahkan putranya. Sebuah rumah tradisional dengan nuansa asri menjadi tempat perlindungan ketiganya ketika sampai. Kedatangan Fiona dan Arkan disambut dengan hangat. Maklum, sudah 2 tahun mereka tidak bertemu. Tak hanya keluarga Fiona, keluarga yang lain juga sudah berdatangan. Berbeda dengan keluarga inti, para menantu dibawa ke dapur dan diminta menyelesaikan pekerjaan disana. Termasuk Aluna yang kehadirannya sedari awal tak terlihat. "Istrimu belum hamil juga, Kan?" Tanya Farah pada Arkan. "Belum tante." "Sudah dua tahun tapi belum hamil juga? Harusnya kalian periksa. Bisa jadi Aluna mandul dan tidak bisa memberikan anak." Aluna yang mendengar itu hanya bisa menahan perasaannya mati-matian. Dia sedang menghidangkan cemilan dan minuman kepada keluarga yang tengah berkumpul. "Mungkin Tuhan juga punya maksud lain kenapa Aluna belum bisa hamil." Ucapan Fiona lalu memancing gelak tawa. Kalimat sederhana yang bisa memporak porandakan hati Aluna. Bukan hanya sekali mertuanya mengatakan seperti itu. Tapi berulang kali. "Lebih baik tidak usah hamil jika nanti anak itu akan mirip dengan Aluna!" Terngiang-ngiang ucapan Fiona di benak Aluna. Seolah diri ini sungguh tak sempurna jika nantinya mengandung anak Farhan. Hari semakin malam, tamu semakin banyak berdatangan. Termasuk ketika keluarga yang lain sudah berdatangan. Begitu cantik dan tampan. Ya, gen keluarga Fiona memang nyaris sempurna. Mereka seperti dikaruniai kegagahan dan keanggunan dari dewa dewi Yunani. Membentuk pahatan sempurna yang terukir di wajah itu. Mereka yang asyik mengobrol, sedangkan Aluna lebih banyak menghabiskan waktu di dapur. "Mana istrimu, Arkan?" Tanya Adelina ketika mereka tengah bercengkrama. "Ada di belakang." Adelina ikut memperhatikan Aluna yang sibuk di dapur sejak awal kedatangannya. Si wanita sederhana yang tidak berkelas. Aluna bertumbuh tinggi tapi tidak menarik dilihat. Dress rumahan yang dipakai juga tak bisa menyelamatkan wajahnya. Sepertinya benar, wajah memang menentukan penampilan seseorang. Walau, Aluna memakai pakaian mahal sekalipun. Itu tidak akan pernah bisa menonjolkan dirinya. Kasihan sekali. Hari pernikahan tiba, semua orang ikut dalam prosesi sakral ini. "Aluna.. nanti kamu bantu saja pelayan di belakang. Awasi kerja mereka." Pinta Farah. Aluna yang sudah memakai kebaya tampak kebingungan. Padahal, dia sudah menghabiskan waktu dua jam untuk menghias dirinya hari ini. "Lakukan saja, Aluna. Harus ada satu orang yang mengawasi kelangsungan acara." Sambung Fiona. Aluna menatap Arkan yang sejak tadi tidak mau menatapnya. "Baik, ma." Sepertinya kehadiran Aluna memang tidak diharapkan. Adanya tembok tinggi yang dibangun oleh keluarga Arkan membuat Aluna mengerti. Dia hanya dianggap pelayan di keluarga ini. Selama pernikahan anak Farah, Aluna sibuk di dapur. Ikut membantu pelayan mengambil makanan dan membawanya ke meja makan. Kebaya cantik yang dipakai Aluna jadi ternoda karena terciprat oleh kuah sup. "Mana istrimu, Arkan? Kita mau foto keluarga." Tanya keluarga lain ketika sadar jika Arkan hanya melenggang sendirian. Arkan lalu mencari Aluna yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Aluna, kita foto bersama." Ajak Arkan dan terkesiap melihat kebaya Aluna yang basah. "Kenapa bajumu?" "Basah. Tadi terkena tumpahan sup." "Lupankanlah. Ayo, kita ke pelaminan." Aluna mengikuti suaminya yang berjalan ke pelaminan. Namun, ia langsung merasa dikuliti ketika melihat tatapan tajam keluarga yang lain. "Kenapa bajumu, Aluna?" Tanya Farah. "Basah kena tumpahan sup, tante." "Aduh.. buat jelek barisan saja. Sana turun kamu. Nggak usah ikut foto bersama." Bentak Fiona kesal tanpa perduli jika dia menghina menantunya di depan semua orang. Dengan wajah tertunduk, Aluna turun dari pelaminan. Arkan sendiri seperti enggan menahan Aluna. Dibiarkan saja istrinya tidak mengikuti prosesi foto bersama. "Nah.. kalau begini kan sempurna.." Fiona tersenyum bangga ketika melihat barisan keluarga besar yang berbahagia atas pernikahan ini. Semenara, Aluna hanya bisa menatap keluarga suaminya dengan sedih. Ibarat bunga yang cantik, Aluna seperti ulat yang mengganggu keindahan bunga tersebut. Sejak awal, Aluna memang harusnya sadar diri. "Selamat atas pernikahan Adelina, Farah.. aku sudah nggak sabar mendapatkan cucu dari anakmu." Ucap Fiona tertawa. "Aku juga tidak sabar menimang cucu." Balas Farah sama bahagianya. "Ya.. Adelina dan suaminya adalah kombinasi sempurna. Mereka pasti akan dikaruniai anak yang cantik dan tampan. Tidak seperti.." Fiona lalu memperhatikan menantunya. "Malang sekali nasib Arkan." Aluna menekuk wajahnya semakin dalam. Sakit hati ini berusaha ditahannya. "Kasihan sekali Arkan kalau begitu." Sambung Farah menanggapi hinaan Fiona kepada menantunya sendiri. Acara pernikahan selesai, kini semua orang kembali ke kediaman masing-masing. Termasuk Aluna dan Arkan yang kembali ke rumah Farah. "Besok kamu pulanglah terlebih dahulu. Aku masih mau disini." Ucap Arkan tanpa menoleh. "Kamu belum mau pulang?" Tanya Aluna. "Belum. Aku ingin jalan-jalan sebentar melepas penat." Deg! Itu sama saja artinya Arkan tak mau diganggu. Dia sudah diusir oleh suaminya sendiri. "Baik, sayang.." Aluna yang tak diharapkan segera mengemasi pakaiannya. Ia juga lelah karena harus dijadikan pelayan di keluarga suaminya sendiri. Toh, Aluna hanya pemain figuran. Tak terlihat, tapi dibutuhkan untuk sekedar meramaikan. "Aku nggak bisa mengantarmu ke bandara. Kamu pergi sendiri saja!" Ucap Arkan. "Iya, nggak masalah." Aluna berusaha meringankan ucapannya walau dada ini terasa sesak. Terlebih hanya dia yang disuruh pulang ke rumah, sementara keluarga lain masih mengikuti rangkaian acara selanjutnya di beberapa hari ke depan. Arkan lalu keluar setelah mengatakan itu. Ia memang dari awal tak berniat menemani istrinya. Tujuannya selain mengikuti pernikahan, yaitu ingin melepas penat karena kelelahan pekerjaan. Ting! Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Arkan yang ditaruh di atas nakas samping tempat tidur. "Dia lupa bawa ponsel kayaknya.." gumam Aluna sembari melihat notifikasi dari jendela ponsel suaminya. Oh, mata Aluna sampai membulat sempurna. Sebuah pesan mesra tertera disana. "Nindi?" Dahi Aluna sampai mengernyit. Aluna ingat betul jika Nindi adalah nama dari mantan kekasih suaminya. Dengan pelan, Aluna membuka isi pesan tersebut. Perlahan-lahan, air mata Aluna mulai berjatuhan."Mas.."Pintu diketuk dengan pelan dan penuh kehati-hatian. Suara itu terdengar samar hingga Arkan harus melesatkan pendengarannya. Setelah yakin jika memang ada istrinya yang berdiri di depan pintu, barulah ia menegur."Masuklah." Ucap Arkan. Pria ini sibuk di ruang kerja sambil bermain di depan laptopnya.Aluna masuk dengan perlahan sembari membawa satu nampan yang berisi kue coklat dan teh hangat. Ia lalu menghidangkannya di depan Arkan."Cemilan lembur, mas." Ujar Aluna mempersilahkan."Hmm.. terima kasih." Sahut Arkan tanpa menoleh.Aluna masih memandangi suaminya yang terduduk di kursi kerja. Dahi suaminya tampak bergaris. Mata itu terlihat memerah. Belum lagi rambut yang acak-acakan.Seketika Aluna menjadi iba. Beberapa hari ini, Arkan sibuk di kantor untuk mengejar laporan akhir tahun. Dia pergi pagi dan pulang pada malam hari. Namun bukannya beristirahat, Arkan malah menghabiskan waktunya di ruang kerja."Kenapa masih disini?" Tanya Arkan pada istrinya yang tegak mematung."A
"Bulan depan mama mau uang bulanan untuk mama dinaikkan." Serunya."Kenapa??" "Jangan perhitungan dengan ibu sendiri. Kalau bisa seluruh gaji kamu biar mama yang pegang!" Sambungnya sambil melirik Aluna.Aluna yang mendengar itu hanya bisa tertunduk seperti yang sudah-sudah. Tak mau membantah ataupun mengelak. Dia terima saja jika Arkan mengikuti keinginan ibunya.Padahal selama ini, Arkan membagi dua pengeluaran rumah ini dengan ibunya. Untuk biaya listrik dan air ada Arkan yang membayar. Sementara operasional sehari-hari Fiona yang akan menanggung.Itu karena mendiang papa Arkan masih memiliki gaji pensiun yang diwariskan pada Fiona. Begitu juga mamanya ini yang masih memiliki gaji pensiun sendiri.Aluna yang merasa akan ada perdebatan memilih menyingkir. Ia pergi ke dapur untuk mencuci piring, sedangkan anak dan ibu itu mengobrol di ruang keluarga."Kenapa, ma? Ada masalah dengan gaji papa?""Nggak ada.""Lalu kenapa?"Fiona mendengkus. "Memang salah ya mama minta seluruh gajimu?
"Assalamu'alaikum," Aluna mengucap salam.Alih-alih membalas salam menantunya, Fiona malah menatap tajam paper bag yang ada di tangan Aluna.Aluna yang merasa tengah dikuliti lalu menunduk dengan segan, ia mencoba berlalu dari wanita yang tengah memandang sinis padanya.Plak!Aluna terkesiap ketika majalah yang dibaca Fiona terlempar di atas meja begitu saja.Wanita ini lalu memberi kode dengan tangannya agar Aluna mendekat."Ada apa, ma?" Tanya Aluna tersendat."Dari mana kamu?""Dari salon sama..." Aluna memperlihatkan paper bagnya. "Mampir ke butik.""Kemarikan!"Terpaksa Aluna membiarkan mertuanya melihat isi paper bag tersebut dan mengobrak ngabriknya. Tapi yang dilihat Fiona bukan hanya pakaian yang Aluna beli, melainkan harganya."Ya, Tuhan!" Fiona berdecak saat melihat kertas harganya. "Ini mahal banget! Kamu ini! Enak banget ngabisin uang suamimu!""Maaf, ma.. tapi aku membelinya dengan sisa uang belanja yang ku tabung.." kilah Aluna."Sama aja, Luna! Lihat ini!" Fiona memper
"Ini, mas.."Aluna dengan telatennya membawakan tas kerja Arkan dan mengantarnya sampai ke teras. Tangan pria itu diambilnya dan disalimi dengan takzim."Aku pergi dulu." Sahut Arkan. Seperti biasa. Suara itu terdengar dingin, datar seakan tak bernyawa."Mas.." panggil Aluna tersendat. "Apa boleh aku minta izin keluar hari ini?"Arkan langsung menoleh. "Mau kemana?""Aku mau ke salon." Jawab Aluna sedikit malu-malu.Arkan ikut terkejut. Tumben sekali. Dalam dua tahun pernikahan mereka, baru kali ini Arkan melihat Aluna ingin ke salon."Boleh. Nanti hati-hati di jalan.""Iya, mas. Makasih banyak!" Seru Aluna bersorak. Ia pun melambaikan tangan saat suaminya masuk ke dalam mobil.Sedangkan di dalam ada dua wanita penggosip yang mengintip dari kaca jendela. Terutama Fiona yang berdecak tak suka melihat kemesraan menantu dan putranya."Adel mana sempat mengantar suaminya sampai ke teras, mbak. Suaminya dibiarin aja pergi kerja." Ucap Farah. Eh, kenapa tiba-tiba dia jadi tersentuh melihat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.