A Mother's Justice

A Mother's Justice

last updateLast Updated : 2026-05-27
By:  Dea AnggieCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
107Chapters
616views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Darah dibayar Darah!" Angelica Montgomery, Sang Ratu Dunia bawah yang telah mengasingkan diri selama 18 Tahun, akhirnya kembali untuk membalas dendam atas nama anaknya yang terbaring koma di rumah sakit. Kembali memegang penuh kendali dunia bawah dan oraganisasi gelap miliknya, satu per satu orang yang menyakiti putranya dia hancurkan. Kekuatan dan kekejamannya begitu nyata. Siapa menduga jika Angelica adalah seorang pembunuh bayaran nomor satu saat dia masih muda.

View More

Chapter 1

1. Dirundung

Angelica Mont, wanita cantik berusia 38 Tahun. Dia adalah seorang Ibu tunggal yang bekerja sebagai penjual buah di pasar.

Sehari-hari dia hanya sibuk berjualan dilapak. Meski tak mudah, hari-hari dilewatinya dengan baik.

*

Pagi itu, Angelica sedang menimbang buah semangka yang dipilih oleh pembeli, dia menentukan harga dari semangka itu, lalu menerima pembayaran.

"Terima kasih. Datang lagi ya," ucap Angelica sambil tersenyum, dia menatap kepergian pelanggannya.

Tak lama setelah kepergian pembeli, muncul sekolompok preman. Melihat wajah preman yang tak asing, membuat Angelica muak. Dia tak menghiraukan datangnya para preman itu dan lanjut bekerja. Menata buah di lapaknya.

Seorang preman mendekati Angelica, lalu menggodanya.

"Hai, cantik. Sibuk kerja ya," godanya.

Angelica masih diam, tak menghiraukan kedatangan mereka sama sekali.

Kesal karena diabaikan, seseorang itupun bertindak kasar. Dia mencengkram pergelangan tangan Angelica dan menariknya. Sehingga wajah Angelica menghadap ke wajahnya.

"Wah, sungguh cantik. Kamu apa nggak rugi cuma jualan buah. Dengan kecantikanmu bak Dewi kayangan, mending jual tubuh. Hahaha..."

Angelica langsung mengerutkan dahi. Segera dia menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman preman.

"Tutup mulutmu. Kalau nggak mau aku sumpal pakai kulit durian," kata Angelica dengan tatapan tajam menusuk.

Si preman tersenyum miring, "dari pada kulit durian. Mending kamu sumpal mulutku pakai mulutmu aja. Sini," katanya kurang ajar.

"Jangan buat keributan di lapakku. Kalau nggak ada keperluan, mending kalian pergi. Pelangganku jadi nggak mau datang karena kalian," kata Angelica protes.

"Oh, begitu ya? Aduh, gimana dong? Kami maunya emang gangguin kamu tuh. Hahaha ..."

"Hei, penjual buah. Jangan mengira kamu bisa seenaknya dengan kami. Cuma penjual buah miskin aja sok sekali. Kalau bukan karena wajah cantikmu. Sudah aku buat kamu jadi makan ikan di sungai."

"Hahaha... Betul sekali."

"Ckck... Kasian sekali wanita ini. Cantik-cantik harus susah payah jualan buah. Mana harus ngerawat anak sendirian lagi."

Mendengar ocehan para preman dihadapannya, membuat Angelica kesal. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa karena tak mau membuat kegaduhan yang tak berarti.

"Sudah-sudah. Kalian jangan banyak omong lagi. Minggir sana," kata seseorang yang adalah bos para preman.

Beberapa orang yang tadi mengatai Angelica mulai menepi. Memberi jalan untuk bosnya lewat.

Bos premen itu menatap wanita cantik dengan lekat, lalu mengeluarkan secarik kertas dan dibantingnya ke meja.

"Biaya kemananan, lima juta."

Amgelica kaget, "hah? Lima juta? Kamu gila ya?" sahutnya.

"Apa? Kamu ngatain aku gila? Dasar jalang!" sentak bos preman. Tak terima dengan perkataan Angelica.

"Kalau nggak gila, terus apa? Bulan lalu cuma satu juta? Kenapa sekarang jadi lima juta? Kalian mau memerasku?" kata Angelica yang semakin emosi.

"Duh, kenapa marah-marah gitu sih. Kamu nggak punya uang? Mau aku bayarin? Gampang kok, kalau kamu temani aku malam ini, aku akan bayar biaya keamanan selama tiga bulan. Gimana?"

Bos preman beraksi. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan Angelica.

Dia menatap Angelica dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu memfokuskan pandangan ke bagian dada dari Angelica.

"Sialan! wanita ini semakin hari semakin cantik saja. Sungguh membuatku  terpesona. Sayangnya dia selalu lolos. Jadi nggak bisa main-main deh," kata Bos preman dalam hati.

Angelica mengepalkan tangan marah. Ingin rasanya dia menghajar para preman yang mengganggunya. Sayangnya dia masih harus menahan diri.

"Aku harus bertahan. Anakku sudah kelas 2 SMA, setelah dia lulus nanti, aku akan pindah dari kota ini. Untuk saat ini, aku nggak bisa membuat masalah. Sabar Angelica, sabar," kata Angelica dalam hati. Memperingatkan diri sendiri.

"Bagaimana? Sudah kamu pikirkan dengan baik? Kamu dari tadi cuma diam, pasti lagi mikirin gimana caranya bayar 'kan?" kata bos preman.

"Sudahlah. Jangan sok jual mahal. Mendapatkan perhatian dari Bos kami adalah keberuntunganmu. Penjual receh sepertimu seharusnya bersyukur."

"Jangan jadi orang yang nggak tahu diri."

Angelica menatap tajam, lalu tersenyum cantik pada bos preman.

"Nomor rekening," kata Angelica.

Bos preman terkejut, "apa? No-nomor rekening?" tanyanya.

Angelica menganggukkan kepala, "iya, nomor rekening. Uang segitu aku nggak ada tunai. Kalau mau aku bayar, ya harus transfer. Kenapa? Nggak mau dibayar?" tanyanya.

Angelica menyodorkan ponselnya kepada Bos preman, "isi nomor rekeningnya," katanya. Memerintah Bos preman untuk mengisi nomor rekening.

Setelah nomor rekening terisi, ponsel dikembalikan ke Angelica. Segera Angelica mentransfer sejumlah uang yang diminta preman.

"Sudah aku bayar lunas, lima juta. Silakan pergi," kata Angelica mengusir para preman dari kiosnya.

Karena tak ada lagi keperluan, mau tak mau para preman pergi meninggalkan lapak.

Bos preman tampak sangat kecewa bercampur kesal karena tak bisa mendapat apa yang dia inginkan.

*

Di sekolah...

Sekelompok anak sedang melakukan perundungan terhadap seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki yang dirundung adalah anak dari Angelica, dia bernama Nathanael Mont.

"Anak haram sialan. Berani kamu melawanku. Hah? Akan aku buat kamu merasakan akibat dari perbuatanmu," kata seorang anak laki-laki bernama Theo.

Theo memerintahkan lima temannya untuk menghajar Nathan. Sementara Nathan yang tak pandai berkelahi, hanya bisa pasrah saat dirundung.

Nathan memejamkan mata, dia merasa sangat sakit disekujur tubuh karena dipukuli Theo dan teman-temannya.

"Hentikan!" kata Theo.

Semua orang berhanti memukuli Nathan dan memberi jalan untuk Theo lewat.

Nathan menadahkan kepala, menatap Theo yang berdiri dihadapannya.

"Ke-kenapa?" tanya Nathan.

"Kenapa? Apanya yang kenapa? Kamu mau tanya, kenapa aku melakukan ini?" tanya Theo.

Nathan diam. Hanya lekat menatap Theo yang dirasanya sudah gila.

Tatapan mata Nathan  membuat Theo semakin kesal. Tiba-tiba Theo menginjak tangan kiri Nathan.

"Ouch..."

Nathan tampak begitu kesakitan. Dia merangkul kaki Theo erat, lalu memohon untuk tangannya dilepaskan.

"Lepaskan. Aku mohon lepaskan," kata Nathan memohon.

Mendengar permohonan Nathan, Theo bukannya melepaskan malah semakin kuat menginjak tangan Nathan.

"Lepaskan katamu? Aku akan lepas setelah tanganmu ini hancur, berengsek. Bajingan sialan! Mati saja kamu," maki Theo pada Nathan.

"Theo hentikan."

Seseorang berlari menghampiri Theo. Dia memberitahu jika wali kelas sedang mencari Nathan untuk urusan penting.

Mendengar itu Theo langsung melepaskan pijakan dan meminta Nathan pergi.

"Pergi sana. Jangan sampai aku dengar kamu mengadu soal tanganmu. Jika ditanya Pak Guru, bilang saja kamu jatuh sendiri. Apa kamu mengerti?" sentak Theo.

Nathan menganggukkan kepala, segera dia bangun dari posisinya yang meringkuk. Dengan susah payah, akhirnya Nathan bisa bangkit berdiri, lalu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan Theo.

"Apa nggak masalah dia menemui wali kelas dengan keadaan seperti itu?" tanya seseorang.

"Apa masalahnya?" tanya Theo.

"Ya, takutnya dia ngadu habis dipukuli. Kita bisa kena hukuman," kata seseorang khawatir.

"Apa kalian melihat sesuatu terjadi, di sini?" tanya Theo lagi. Menatap semua orang yang ada di atap gedung.

Semua yang ada di sana diam sesaat, lalu sedetik kemudian langsung menggelengkan kepala. Mereka tahu maksud ucapan Theo tanpa dijelaskan.

Theo menatap punggung Nathan yang sedang berjalan menuju tangga dengan senyuman sinis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Dea Anggie
Dea Anggie
hai semua, makasih buat pembaca yang sudah mampir baca. silakan berikan kritik dan saran yang membangun agar saya bisa menulis dengan lebih baik lagi. jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya..
2026-04-23 12:48:28
1
0
Erumanstory
Erumanstory
Bukunya sangat menarik, alurnya keren. Semangat updatenya kakak .........
2026-04-15 06:38:52
1
0
moo
moo
ceritanya bagus
2026-04-13 13:08:22
2
0
Moonlight
Moonlight
bagus sekali, kak. ayo semangat up ya.
2026-04-13 12:54:39
4
0
107 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status