Share

Bab 5

Author: ZZ
Shania benar-benar terpaku, dia menatap Velen tidak percaya, lalu bergegas membela diri dengan suara panik, "Bukan aku! Pak, aku nggak nyontek! Kertas itu punya dia!"

Namun, tidak ada satu orang pun yang memercayainya.

Teman-teman di sekitarnya melayangkan tatapan merendahkan, guru pengawas pun mengernyitkan dahi dalam-dalam.

Parahnya lagi, kamera pengawas di ruang ujian kebetulan sedang rusak hari ini, sehingga tidak bisa mengambil rekaman video untuk membuktikan kejujurannya.

Demi menemukan pelaku kecurangan yang sebenarnya, guru pengawas mengalihkan pandangan kepada Yuga yang duduk di belakang Velen dan Shania.

"Yuga, kamu duduk di belakang mereka, seharusnya bisa melihat dengan jelas. Jadi, siapa yang sebenarnya menyontek?"

Dalam sekejap, pandangan semua orang langsung tertuju pada Yuga.

Shania pun ikut menatap pria itu, jantungnya serasa sudah berada di tenggorokan.

Sebesar apa pun kebencian Yuga kepadanya, untuk masalah prinsip seperti ini ... pria itu pasti akan ....

Yuga bergeming dalam keheningan, tatapan matanya menyapu silih berganti antara Shania dan Velen.

Velen menatapnya tanpa suara dengan mata yang berkaca-kaca, pancaran matanya dipenuhi dengan permohonan yang teramat sangat.

Keheningan yang berlangsung selama beberapa detik itu terasa begitu lama layaknya satu abad.

Hingga akhirnya, Yuga mengangkat tangan, lalu jari telunjuknya yang ramping terarah dengan jelas ke arah Shania.

"Dia." Suaranya terdengar begitu dingin tanpa ada riak emosi sedikit pun, "Dia yang nyontek."

Duar!

Shania hanya merasa otaknya mendadak kosong, seluruh suara di dunia seakan lenyap seketika.

Dia menatap Yuga lekat-lekat. Jantungnya rasanya seperti direnggut paksa oleh tangan pria itu sendiri, diempaskan ke tanah, lalu diinjak-injak sampai hancur tak berbentuk.

Dia tahu Yuga muak dan membencinya.

Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa pria itu akan melindungi Velen secara terang-terangan tanpa ragu sedikit pun di saat seperti ini, lalu melimpahkan tuduhan palsu ke dirinya.

Saat rasa sakit di hati sudah mencapai titik nadir, yang tersisa hanyalah rasa mati rasa.

Dia bahkan tidak mampu lagi melontarkan kata-kata pembelaan diri, hanya bisa menatap wajah dingin nan tampan itu seiring dengan air matanya yang mengalir turun tanpa suara.

Pada akhirnya, seluruh nilai mata pelajaran Shania dibatalkan, dia juga mendapat sanksi berupa teguran tertulis yang diumumkan ke seluruh sekolah.

"Shania dari kelas tiga-tujuh terbukti menyontek dalam ujian simulasi bersama tingkat provinsi. Pelanggaran ini tergolong berat dan menunjukkan kemerosotan moral ...."

Suara yang menggema dari pelantang suara itu terdengar sangat dingin dan tidak bernyawa.

Selain itu, dia juga dijatuhi hukuman untuk membersihkan seluruh area sekolah selama satu minggu.

Pada hari pertama pelaksanaan hukuman, saat dia menyeret kakinya yang digips untuk membersihkan sudut lapangan dengan susah payah, beberapa siswa yang biasanya suka merundungnya berjalan menghampiri sambil melempar senyum mengejek.

"Tukang nyontek! Masih punya muka ya tinggal di sekolah?"

"Benar-benar bikin malu sekolah kita aja!"

"Harus dikasih pelajaran nih, biar dia tahu rasa!"

Mereka merebut paksa sapu di tangannya tanpa memedulikan rontaan serta perlawanan Shania, lalu menyeret tubuh gadis itu dengan paksa menuju ruang penyimpanan alat olahraga tua yang sudah lama terbengkalai, mendorongnya masuk dengan kasar, kemudian mengunci mati pintunya dari luar dengan suara "klik" yang nyaring!

"Lepasin aku! Buka pintunya! Tolong buka pintunya!" Shania menggedor pintu besi yang tebal itu dengan panik.

Namun, di luar hanya terdengar suara tawa kemenangan serta langkah kaki yang perlahan-lahan menjauh.

Kegelapan, kelembapan, dan udara yang pengap seketika mengungkung tubuhnya.

Shania mengidap claustrophobia atau fobia ruangan tertutup yang sangat parah!

Dia merasa napasnya kian sesak, jantungnya berdegup begitu kencang seolah-olah hendak melompat keluar dari rongga dada.

Rasa takut menenggelamkannya layaknya gulungan ombak. Dia meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh yang bergetar hebat, sementara kesadarannya mulai kabur.

Tepat di saat dia merasa akan mati lemas karena kehabisan napas ....

"Braak!"

Sebuah dentuman keras terdengar, pintu ruang olahraga itu ditendang jebol dengan sangat kasar dari luar!

Sinar matahari yang menyengat seketika menusuk masuk, bersamaan dengan sebuah siluet tubuh tinggi yang menerobos masuk melawan arah cahaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status