Mag-log inAku setuju untuk menemani teman masa kecilku, yang mengaku menjadi korban perundungan, untuk pindah sekolah bersama. Namun, tepat sehari sebelum berkas kepindahan disahkan, dia menarik kembali ucapannya. Sahabatnya mencemooh. "Hebat juga kamu. Berpura-pura dirundung sekian lama hanya demi menyingkirkan Deandra." "Tapi dia itu teman masa kecilmu, apa kamu benar-benar tega membiarkannya pergi sendirian ke sekolah asing?" Samanta menjawab dengan nada datar, "Ini cuma sekolah lain di kota yang sama, memangnya sejauh apa sih?" "Lagi pula, aku sudah bosan ditempel terus olehnya setiap hari. Begini lebih baik." Hari itu, aku berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk berbalik dan pergi. Hanya saja, pada formulir permohonan pindah sekolah itu, aku mengubah tujuannya. Dari SMA 3 Kota Hakan menjadi sekolah menengah atas di luar negeri, sesuai keinginan orang tuaku. Semua orang lupa bahwa antara aku dan dia, sedari awal memang ibarat awan dan tanah, terpaut jarak yang tak tergapai.
view moreZephyrine Vesper POV
The water didn't rush here. It whispered over moss-slicked stones, carrying the cold bite of the Yukon thaw. Midnight in the borderlands was never truly silent, but tonight the forest held its breath the air thick with crushed pine and wet earth. I pulled my cloak tighter around my shoulders, though the chill under my skin had nothing to do with the mountain air. It was my own pulse, hammering too fast, and the scar along my collarbone, throbbing in time with it. A brand for a destiny I hadn't asked for.
A twig snapped across the creek.
My muscles locked. Every instinct told me to drop low, to bare my teeth at the dark. But the shape stepping out from under the spruce wasn't an enforcer, wasn't a rival wolf testing our border.
It was Kaelen.
He stopped on the far bank, breath pluming white. Soot smudged one cheekbone, and a fresh scratch cut along his jaw something from the timber yard, probably. He didn't look like danger. He never had. My pack saw humans as something smaller, slower, barely worth noticing. But Kaelen was the one thing in my life that didn't feel like it belonged to someone else.
"You're late," he said, low enough that it settled the static in my chest.
"My mother kept me in the study." I crossed the stones until I was close enough to touch him. "Border treaties. Bloodline ledgers I'm supposed to sign next week. Every name on that parchment feels like it's mine before I've agreed to anything."
He reached up and cupped my cheek, and I let myself lean into it, though the tenderness of it scared me more than it should have. He was so breakable. One wrong shift and I could snap his wrist without meaning to and yet it was me who felt unsteady, standing here shaking under his hand.
"Then don't sign them," he said. "Come with me. Past the timber line, past your elders and their ceremonies. There's a valley south of here where nobody's heard of moon-sworn crowns. Just us."
I laughed, and it came out bitter. "You say it like it's a walk through the woods. You know what happens to a wolf who leaves the pack, Kai. They don't hunt you for sport. They hunt to erase you. And the bond God, it's already waking up. Like my body's decided it belongs to someone else before I've had a say in it."
His thumb stilled against my cheekbone. He'd asked about the bond before, and I'd lied every time, calling it superstition, an old formality nobody really believed in anymore. I never told him what rejecting it actually meant: a fire under the skin that doesn't go out, until your lungs give up and your mind goes with them.
"I don't care about your fated mate," he said, though something moved behind his eyes when he said it. "I care about you. The girl who sneaks out here to eat stale bread by a creek because it's the only hour she gets to herself."
"I am myself," I whispered. "Right now. With you."
We stood like that a long time, wrapped up in the one hour a day that didn't belong to pack law. He pulled me against his chest, and I listened to his heartbeat fast, human, nothing like the pack's collective pulse. When he kissed me, it tasted like defiance. Slow, and a little desperate, like we both knew the clock was already running.
Then it broke.
Pain tore through my chest, sharp enough that I gasped into his mouth and my knees gave out. Not an injury. Worse a pull behind my sternum, the bond punishing me for staying away from a man I'd never met. My wolf clawed at the inside of my skull, and for a second the rejection sickness had real teeth.
Kaelen caught me before I hit the moss. "Zeph. Talk to me. Did someone follow you?"
"No." I pressed a hand to my chest, sweat cooling fast on my skin. The pain ebbed, leaving me hollowed out. "I'm fine."
"You're not fine, you're freezing." He pulled me in, trying to block the wind with his own body. "Let me walk you back to the ridge."
"We can't." I looked up at him, eyes burning. "The Mate Ceremony is in three days, Kai. After that I can't come here anymore. After that I belong to someone else on paper, in blood, all of it."
He went very still. Whatever softness had been in his face a moment ago hardened into something quieter and far more dangerous. He dug into his coat and pressed a small carved wolf into my palm the one he'd been whittling by candlelight for weeks, folding my fingers shut around it.
"Then don't go back," he said. "Meet me here tomorrow at midnight. Bring nothing. We go south before the moon finishes turning."
I stared at the rough wood in my hand, then at him somehow the only fixed point left in my life. Say yes, and I'd be declaring war on my own species. Say no, and I'd lose him to a wedding I never chose.
I never got the chance to answer.
A sound cut through the trees not a twig this time, but a howl. Low, deliberate, and close.
Kaelen went rigid, eyes cutting toward the ridge.
Two pairs of amber eyes were already watching us from the dark.
Kerja sama antara Perusahaan Tantio dan Perusahaan Krisna berjalan stabil. Tiga tahun kemudian, aku dan Leila menikah. Pernikahan kami diadakan di sebuah kota kecil klasik di luar negeri, di mana setiap rumah menggantungkan lonceng angin berwarna-warni. Saat angin berembus, dentingan jernih terdengar seperti untaian doa yang tulus.Menjelang acara berakhir, aku menerima sebuah kado. Tidak ada nama pengirimnya, tetapi semua orang mengenali stempel Perusahaan Ondri.Sebenarnya, setelah Leila resmi memegang kendali Perusahaan Krisna, dia melakukan penekanan besar-besaran terhadap Perusahaan Ondri. Jika dulu Perusahaan Ondri tanpa Nyonya Disya ibarat gedung yang hampir runtuh, maka Perusahaan Ondri yang sekarang hanya menyisakan puing-puing bangunan. Leila tidak akan membiarkan keluarga yang mengkhianati ibunya lepas begitu saja.Aku memilih untuk bekerja sama dengannya, bahkan bertindak lebih keras. Perusahaan Ondri sudah tidak punya nama lagi di lingkaran bisnis. Karena aku pun ti
Sudah sangat larut saat kami selesai membuat laporan di kantor polisi, jadi aku membawa Leila langsung ke rumahku. Keesokan paginya saat membuka mata, sarapan sudah tersaji di atas meja.Aku bersandar di pintu, menatap orang yang sedang serius mencuci alat makan. "Rajin sekali?""Kan belum punya status resmi, jadi harus rajin supaya calon suamiku terkesan.""Kalau dia marah lalu nggak mau menikah denganku lagi, bagaimana?"Leila mencubit hidungku sambil mengeluh manja. Aku hanya bisa pasrah, teringat bagaimana teman-temanku menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu semalam.Sambil bersantai melihat ponsel, perhatianku tertuju pada sebuah berita. Aku tersenyum. "Kalau kamu butuh status, ini dia kesempatannya."Berita yang sedang memuncaki trending topik memiliki judul besar dan tebal. [Pewaris Perusahaan Tantio Berperilaku Buruk, Menggoda Wanita Bersuami!][Kehidupan Pribadi Pewaris Perusahaan Tantio Berantakan, Mengajak Wanita Asing Menginap Di Rumahnya!]Dua judul itu muncul beruru
Aku bertemu kembali dengan Samanta di acara jamuan makan yang diadakan teman-temanku. Kami semua sudah dewasa. Pembicaraan di lingkaran sosial kami mulai beralih ke urusan bisnis dan pengelolaan keluarga. Cahaya lampu yang temaram, minuman yang manis, suasananya cukup nyaman.Aku memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama, tetapi tiba-tiba tamu tak diundang masuk. Suasana di ruangan privat itu seketika hening.Seorang teman menarik ujung bajuku dan berbisik, "Deandre, nggak ada yang mengundangnya."Aku mengangguk paham. Temanku mendengus jijik. "Pasangan ini sudah dianggap seperti hama di lingkaran pertemanan kita. Keluarga mereka sudah bangkrut, perangai mereka pun buruk.""Terutama Mario. Dia memperlakukan Samanta seolah gadis itu adalah barang paling berharga di dunia. Dia waspada pada setiap pria yang mendekat."Aku menoleh. Benar saja, di belakang Samanta, ada Mario. Saat melihatku menatap ke arah mereka, Mario refleks menciutkan bahunya ketakutan. Namun sedetik kemudian, dia
Kantor pusat perusahaan berada di kota ini, jadi aku langsung berkendara pulang untuk mengambil dokumen. Demi kenyamananku, ibuku membelikan sebuah vila kecil dengan taman yang asri.Aku mendorong gerbang utama, tetapi saat hendak menekan kode kunci pintu, aku tersentak. Seseorang ternyata sedang duduk di koridor samping pintu.Dia menoleh, memperlihatkan sepasang mata yang merah padam. Aku mengernyit. "Samanta? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"Tiba-tiba aku melihat lututnya yang memar kebiruan. Kerut di keningku makin dalam. "Kamu memanjat pagar rumahku? Ada urusan apa?"Orang yang sedari tadi diam itu menatapku tajam, lalu berucap tiba-tiba, "Deandre, kamu jadi kurusan sekarang."Aku tidak mengerti apa maksud basa-basi anehnya itu. Saat aku berbalik hendak pergi, dia mendadak menghambur dan memelukku. Kekuatannya begitu besar, seolah ingin meremukkan tubuhku.Untungnya, pelatihan fisik yang kujalani bukan sekadar pajangan. Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mengusa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.