LOGINShania Nando dulu merupakan gadis yang paling membuat iri seantero SMA Nogara. Tidak hanya karena wajahnya yang cantik dan prestasinya yang gemilang, tetapi juga karena di belakangnya selalu ada Yuga Adrian. Pria populer sekolah yang bersinar sekaligus pemberontak itu hanya sudi sepenuh hati memanjakan Shania. Mereka sudah berteman dekat sejak kecil, berjanji untuk kuliah di universitas yang sama, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak mereka kelak. Sampai hari itu tiba, saat ayah Yuga dan ibu Shania kepergok tidur bersama dengan pakaian berantakan. Ibu Yuga langsung terguncang hebat saat itu juga, lalu melompat dari balkon hingga darahnya menciprat ke seragam sekolah Yuga yang putih bersih. Hanya dalam semalam, keluarga mereka hancur berantakan. Yuga yang tadinya kesayangan semua orang langsung jatuh ke dalam neraka, tatapan matanya kepada Shania hanya menyisakan kebencian yang menusuk tulang. Yuga membenci Shania, membalas dendam kepadanya, merobek semua foto berdua dan membatalkan janji mereka, lalu menyuruh Shania pergi dari hidupnya. Shania pun pergi sesuai kemauan Yuga, dengan cara yang paling telak, yaitu menghilang selamanya dari dunia Yuga! 10 tahun kemudian, Yuga sudah sukses besar. Kini, di sampingnya ada seorang tunangan yang memiliki latar belakang keluarga sepadan serta berwajah menawan. Sampai suatu hari tanpa sengaja, Yuga kembali ke sekolah lamanya. Di bagian dalam laci meja kelas yang sudah lama terbengkalai, dia menemukan sepucuk surat kematian yang terlambat datang selama bertahun-tahun. Kalimat terakhir di surat itu berbunyi, [Yuga, aku udah nebus dosa pakai nyawaku, sekarang, kamu udah bisa maafin aku, belum?]
View MoreTEASER
"Prince… Percival… Pierre… Cario…” I read the long string of names out loud, squinting at the elegant calligraphy on the front of the massive photo album. I let out a laugh, shaking my head in disbelief. “Come on, Dad. How am I supposed to handle four guys at once?”
Dad chuckled. “Kitty... "That’s just one guy. That’s the full name of Boss Valerion’s son.”
I stared at the album again.
Oh. Well, I’d just read it off the cover without thinking. The name sounded like it belonged to a royal bloodline, not some random guy being lined up to be my future husband.
Dad nudged the album closer. “Go ahead, sweetheart. Open it.... Let’s take a look at Boss Pierre’s face.”
I sighed then I slowly opened the album’s cover, flipping past the initial page until I was staring at several printed photographs. They were clearly taken by a professional because of the clean backgrounds, expensive clothes, and lighting meant to make him look appealing.
And there he was.
They called my... future husband.
I studied his face in silence.
“What do you think, sweetheart?” Dad asked eagerly, watching my face like I was supposed to fall in love at first sight.
I turned to him with the most unimpressed expression I could manage, letting my silence say it all before flashing him a sarcastic little grin.
Then I shook my head slowly.
“That face…” I said flatly, pointing to the picture. "Is an absolute disaster. He’s horribly ugly.”
"Kitty..." my father muttered, his breath coming out in a heavy sigh, a grunt of frustration. "You're only saying that because you just don’t want to get married... Haven’t we already talked about this? I’ve been telling you the same thing for over a month now... trying to make you understand."
I dropped my weight against the back of the chair, letting out a groan as I crossed my arms and scowled.
"From the moment Boss Valerion saw you... He chose you. He picked you to marry his eldest son. Their heir, Kitty. Can you believe that?"
I rolled my eyes.
Honestly, I was starting to regret ever tagging along to my dad’s workplace.
It belonged to a famous, ridiculously wealthy family, people so used to getting their way that even real-life decisions felt like business deals to them.
Ever since that day, my life had started to spiral out of control. Things got messy. And apparently, Boss Valerion decided that I was good enough to become the wife of their heir.
"And that’s why I’m asking you... Kitty, my daughter…" His voice softened as he looked at me, pleading. "Please, stop making yourself look unpresentable... Fix your clothes and your face..."
“I said no."
“My goodness, child! You look like someone living on the streets! Stop stealing my clothes… and for heaven’s sake, would you please comb your hair?!”
Yes, I was doing it on purpose. I wanted to look as horrible as I possibly could. I wore my dad’s oversized t-shirts and his old pants, the kind that sag and hang off my frame like rags. I didn’t care how ridiculous I looked, actually, the worse, the better.
My hair, which used to be sleek, straight, and silky, was now a complete disaster. I had messed it up so much that it started forming thick, tangled clumps. I hadn’t bothered to brush it in days. It puffed out awkwardly and the strands were so knotted, I wasn’t even sure a comb could get through anymore.
It was a deliberate rebellion.
“Kitty, you’re the reason why I was forced to marry you off to a man you barely even know..."
I clamped my mouth shut and turned my gaze away.
“Because of your carelessness, everything we owned turned to ashes..."
Our house, the one my dad had worked decades to build, was gone. Burned to the ground in a fire that took with it not only the walls that held our memories but also all the valuable things we’d worked so hard for.
If it hadn’t been for Boss Velerion, I don’t even know where we would’ve ended up.
My father, was too embarrassed to refuse his boss. We owed him so much. When our home was reduced to nothing but soot and cinders, Boss Valerion didn’t hesitate, he bought us a new house and even gave us a huge amount of cash to get back on our feet.
Dad was too ashamed to say no to someone who had done so much for us even up to before. So now, here I am, left with no choice but to pay the price.
“My daughter…” Dad inhaled deeply, gathering the courage to say what he needed to say. Then he slowly let the air out, releasing it through his lips. “Please… wear the nice clothes I bought for your meeting tomorrow,” he pleaded. "Promise me you will. Please… I’m begging you.”
"I will." I scratched my head awkwardly, pretending I wasn’t feeling all the tension boiling around me. He raised his eyebrows at me suspiciously, like he still couldn’t believe what he was hearing.
"Promise?"
"Yes, I promise."
He reached up to the back of his neck, obviously stressed, and made a face like he was about to regret this decision for the rest of his life. "Just stop getting high blood pressure because of me, Dad. I already said yes to the wedding, didn’t I?"
"But you’re still looking for a way out of it! You’re clearly trying to find some excuse so the wedding won’t happen!"
I couldn’t help but feel completely annoyed. Boss Valerion was so smitten. He was obviously obsessed with my looks. As if I’d believe that nonsense.
"Katrina," my father interrupted. "Let me just remind you again… please, don’t curse. Don’t talk back to Boss Pierre, no matter what. And above all—" he clasped his hands together, almost begging. "Return to your old appearance. You’re pretty, but you turned yourself into a mess..."
My dad looked like he was about to cry out of pure frustration. I wanted to laugh. He was too close to losing it.
Still, I had other ideas brewing in my head.
I could always make myself look even worse, just to kill Boss Valerion’s interest in me.
Who knows?
Maybe he’d change his mind and call the whole thing off.
"So… what time exactly is our meeting tomorrow?" I asked, deliberately changing the subject.
"Make sure you’re already at Boss Pierre’s mansion before ten in the morning..."
Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena
Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun
Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te
Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca





Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.