Mag-log inThat very night, she had lost everything, her parents and her sight, her life was no longer normal. It was a blur, a lonely blur. Autumn always thought her life was on repeat after her sight was taken away from her. She had no one but her best friend and the man that came and changed her life. Never in her life, she would've thought that someone would want to share their life with a blind woman like her. But there he was, Michael Adams, a rich well-known CEO. A man that has women worshipping the floor that he walks on. "He could've chosen any woman," she thought, but on that particular day, when his car almost ran her over. He chose her. He chose a blind woman. He chose Autumn Alexis
view moreZoya Lovania Aldara, wanita yang mengikat satu rambut panjangnya itu memasuki kantor pusat Kalan's Company, melihat senyum ramah di wajah resepsionis dan membalas dengan riang.
"Apa Arvin ada di ruangannya?" tanya Zoya tanpa basa-basi."Selamat siang, Nona Aldara--maksudku Nyonya Kalandra!" sapa resepsionis yang sudah cukup dikenal Zoya. "Saya belum melihat beliau turun, sepertinya Pak Arvin masih di ruangannya."Zoya mengangguk. "Baiklah, aku ke sana dulu!" ujarnya sebelum memutar langkah dan tersenyum pada penjaga yang menekan tombol lift untuknya.Wanita itu meraih kartu berwarna hitam di dalam tas tangannya, sebuah kartu yang bisa digunakan untuk membuka pintu ke lantai teratas."Arvin sedang apa, ya? Awas saja kalau dia bekerja tanpa ingat makan!" sungut Zoya seraya memeluk tas bekal yang dibawanya.Hari ini Zoya sengaja datang untuk membawakan makan siang untuk Elvio Arvin Kalandra, pria yang resmi menjadi suaminya sejak empat bulan lalu.Zoya melangkah keluar dari lift setelah bunyi 'Tring!' yang khas terdengar, keningnya mengernyit saat tidak menemukan siapa pun di balik meja Sekretaris."Apa Aileen di dalam?"Suara bisikan yang terdengar dari dalam ruangan Presdir membuat Zoya melangkah mendekat. Belum sempat Zoya sampai, pintu ruangan itu sudah terbuka dengan keras.Zoya membeku di tempatnya, tangannya berkeringat dan sedikit gemetar melihat penampilan Aileen yang biasanya anggun, kini tampak berantakan dengan rambut tergerai, lipstrik memudar dan dua kancing kemejanya terbuka. Zoya juga bisa melihat ruam merah di leher jenjang wanita di hadapannya."Zoya?!" Aileen memanggil pelan, suaranya terdengar gemetar. Tatapan terkejut dan rasa bersalah terpancar di wajah Aileen."Aku bisa menjelaskan semuanya, Zo!" Ailen mendekat setelah buru-buru mengancingkan kemejanya.Zoya menggertakkan gigi, tatapannya masih lurus dan tajam meski seluruh persendian di tubuhnya terasa lemah. Matanya melirik pada ruangan Presdir yang pintunya tertutup otomatis, tapi tidak melihat tanda-tanda suaminya akan keluar dari sana."Ka-kami sudah selesai, Zoya, aku bersumpah! Aku langsung mengakhiri hubungan kami saat aku tahu tentang perjodohan kalian. Kumohon, percaya padaku, Zoya!"Kata-kata yang diucap Aileen dengan wajah pucat dan air mata berderai membuat perasaan Zoya semakin kacau. Bagaimana Zoya bisa meneriaki Aileen atau menjambak rambutnya saat wanita itu sendiri terlihat ketakutan?!"Katakan pada Arvin untuk pulang dan menjelaskan padaku malam ini!"Zoya tersenyum kecut, berbalik kembali ke dalam lift, mengabaikan panggilan Aileen di belakang. Dia tidak mau merasa patah hati, tapi air matanya jatuh begitu saja.Rasa sesak yang memenuhi dadanya membuat Zoya segera menekan tombol lift dan terduduk. Kakinya lemas. Jelas dia tidak pernah berpikir jika Arvin dan Aileen terlibat dalam hubungan seperti itu. Hatinya patah, Zoya tidak tahu akan sehancur ini saat perasaannya pada Arvin sudah berkembang.Zoya tidak ingin menangis, tapi air matanya jatuh tanpa bisa dicegah.Kembali ke rumah besar bak istana yang sudah menaunginya selama beberapa bulan terakhir, Zoya langsung memasuki kamar dan mengabaikan keterkejutan di wajah para pelayan yang menyambutnya."ARGGHH!!!" Zoya berteriak, melempar foto pernikahan yang terpajang di dinding kamar dengan vas.Tidak peduli sebanyak apa ia berteriak dan menangis, tidak peduli seberapa banyak barang yang ia lempar dan hancurkan, perasaan Zoya masih tidak tenang. Semudah itu hatinya terbuai, semudah itu juga dihancurkan tanpa sisa.Zoya menghabiskan sisa harinya dengan mendekam di kamar, menangis dan berteriak.Wanita itu keluar dari kamar saat seorang pelayan memanggil dan mengingatkannya tentang makan malam. Tepat saat Zoya menuruni tangga, matanya bertemu pandang dengan sosok yang telah memporakporandakan hatinya."Tidak ada yang mau kamu bicarakan padaku?" Zoya menahan lengan Arvin saat pemuda itu terus berjalan tanpa menghiraukannya."Mau membicarakan apa? Aku lelah, jadi kalau tidak terlalu mendesak lebih baik dibicarakan besok.""Tidak mendesak?!" Zoya menjerit tanpa sadar. "Bagiku ini masalah yang sangat penting!"Arvin menghela napas, manik arangnya menatap lurus pada Zoya."Kubilang aku lelah, Lovania!"Arvin berlalu begitu saja, jawaban tegasnya sudah sangat cukup untuk menghentikan Zoya untuk mengajukan pertanyaan lain.Selalu seperti itu. Cara bicara yang acuh tak acuh, suasana dingin dan tatapan yang seolah tanpa emosi, Arvin tidak pernah berubah meski empat bulan berlalu sejak pernikahan."Aku juga lelah, Arvin." Zoya bergumam sembari menatap nanar punggung tegak yang terasa sangat jauh dari jangkauan.Arvin memasuki kamarnya sendiri tanpa menoleh sekali pun. Zoya terkekeh pelan, satu demi satu kenangannya bersama Arvin melintas. Tidak pernah sekali pun pemuda itu tersenyum dan menatapnya dengan benar. Jangankan sapaan hangat di pagi hari, mereka bahkan nyaris tidak pernah bertemu jika Zoya tidak membuat kesempatan itu."Memang aku yang bodoh ...." Zoya mengusap wajah, air matanya kembali menggenang. Kenapa ia tidak pernah curiga pada keputusan Arvin yang tidak ingin tidur di kamar yang sama?"Karena kau mencintai wanita lain? Itu jugakah alasanmu tidak pernah memanggil namaku, bahkan saat kita bercinta?" Zoya terduduk, mengingat lagi kejadian dua bulan sebelumnya, saat Arvin pulang larut dalam keadaan mabuk. Itu juga pengalaman pertama mereka.Zoya pikir akan ada perubahan setelah mereka 'resmi' menjadi suami-istri, nyatanya Arvin semakin jauh dan tidak peduli. Dan semuanya terjadi karena Aileen, karena hanya wanita itu yang mencuri seluruh atensi Arvin."Mama ...." Zoya memanggil tanpa sadar, padahal harusnya nama itu tidak lagi ada di hatinya sejak menghilang tanpa kabar bertahun-tahun lalu.Zoya menghela napas panjang, menghentikan air matanya sebelum berdiri dan memanggil sopir."Aku ingin pulang!" ujarnya setelah memasuki mobil.Pulang yang dimaksud Zoya adalah kembali ke rumah kakek dan neneknya. Ia tidak sanggup lagi jika harus melanjutkan pernikahannya dan Arvin. Hidup bersama lelaki yang jelas hatinya tidak pernah berada di rumah tidak pernah ada dalam rencana masa depan Zoya.Sampai di rumah tempatnya tumbuh dewasa, Zoya yang telah menyuruh sopir untuk langsung kembali ke kediaman Kalandra langsung menuju ruang kerja sang kakek. Tapi, belum sempat kakinya memasuki pintu utama, Zoya sudah dihadang oleh sang nenek."Oma!""Kenapa kamu di sini?! Bukannya menunggu suamimu di rumah dengan patuh, tapi malah berkeliaran tidak jelas?!"Zoya menelan ludah, sedikit takut pada wanita keras seperti neneknya, tapi ia tidak punya pilihan lain."Ada yang ingin kubicarakan dengan Opa dan Oma," ucap Zoya pelan, berharap sosok di hadapannya melembutkan hati dan mau mendengarkannya."Katakan saja terus terang, ada apa? Kamu tidak membuat suamimu marah, kan?!"Zoya menembuskan napas pelan. "A-aku ingin bercerai," ucapnya gugup. "Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami! Arvin bahkan tidak pernah menyentuh--"Plakk!"Anak tidak tahu diri! Bukannya membawa kabar kalau kamu sedang hamil, tapi apa? Bercerai?! Siapa yang mengajarimu bersikap kurang ajar seperti ini?! Ibumu?!"Sakit. Zoya merasakan pipinya berdenyut nyeri, tapi tidak lebih menyakitkan dari luka di hatinya yang semakin menganga. Air matanya berderai lagi, tidak peduli sebanyak apa Zoya menangis sejak siang tadi, nyatanya cairan bening itu kembali berlinang deras."Arvin tidak pernah mencintaiku, Oma! Aku tidak bisa hidup bersamanya lagi--""Aku tidak peduli hal-hal seperti itu! Aku hanya ingin kau hamil dan menjadikan anakmu sebagai pewaris Kalan's Company! Jangan pernah kembali ke sini kecuali kau membawa kabar yang kuinginkan!"Pintu ditutup dengan keras. Zoya membeku di tempatnya, menatap pintu rumah yang tidak akan pernah terbuka lagi untuknya."Apakah rumah ini pernah benar-benar menjadi rumahku?" Zoya terduduk di lantai, memeluk lutut dan menangis. Jika bukan rumah ini tempatnya pulang, ke mana ia harus pergi?The past few years of Autumn's life have been like a life out of a storybook, it was too good to be true.Once upon a time, she was this lonely blind woman trying to push her way up to the surface, until she was reduced by a man who too was surrounded by his own problems.With her savior at her side, Autumn was able to achieve everything that she truly wanted in life including her sight, which was given back to her. Marrying the man of her dreams, Autumn accomplished all her childhood dreams and goals. At the age of 32, Autumn was married to the love of her life and was a mother to two beautiful children.Life couldn't get any better, Ashley taught, but her beloved husband had something else up his sleeve. ...Currently, in the comfort of her home, Autumn was suddenly greeted by her husband, who entered the room with their daughter in his arms, while their son trailed behind him. "Hey guys, why are you all dressed up?" Autumn asked as she admired her daughter's pretty dress, "You lo
Everything seemed so perfect in Autumn and Micheal's life. Finally being able to call one another husband and wife, the married couple were now hours away from completing their family.That's right, Autumn was finally ready to give birth and it all started at 3:05 in the morning when the couple was peacefully asleep in each other's arms.________________________________________________________________________________It was 3:05 in the morning as the couple lay peaceful in silence after a long tiring day, especially for Autumn, who have been receiving sharp and unbearable cramps that had Micheal extremely worried until he was reassured by his sister and sister-in-law that Autumn was getting close to giving birth, which only made him even more worried and terrified. As the couple peacefully slept, Autumn was suddenly awakened by a sharp pain that shot through her abdomen, "Oh my god!" Autumn groaned as she tried to sit up while holding her stomach. Tears welled up in Autumn's eyes as
PREVIOUSLY ON CEO IN PUBLIC/ MY DADDY IN PRIVATE "I'm happy for you, Mike, you're going to be a great father and husband," Eric said as Micheal furrowed her eyebrows, "That sounds like a goodbye little brother," Micheal said as Eric raised an eyebrow, "You're really going to miss your big brother's wedding?" He asked as Eric grinned before shaking his head. "I wouldn't miss it for the world." ______________________________________________________ "And all done," Rose said as she finally zipped up Autumn's wedding dress before Autumn turned around to face them, "Well, how do I look?" Autumn nervously asked as both April and Rose smiled with tears in their eyes, "Oh, Autumn, you look so beautiful, I- Rose choked as she looked up at the ceiling while fanning her tears that threatened to escape from her eyes causing Autumn to chuckle emotionally, "What? I look that bad?" Autumn asked playfully as Rose playfully glared at her, "Shut up, why don't you turn around and see for yourself,"
"This sucks," Autumn said as she sat leaned up against her hotel door, "Just a few more hours, my love," Micheal said on the other side of the door as Autumn shook her head while tears welled up in her eyes, "That's too long and I want to see you now, we miss you," she said while rubbing her swollen stomach as Micheal leaned his head on the door."I know, I miss you too, sweetheart, and our baby girl," he said as Autumn sighed, "I'm scared Micheal," Autumn as Micheal furrowed his eyebrows, "Of what?" He asked as Autumn signed, "What if everything doesn't go according to plan, what if I trip over my dress on my way down the aisle, what if I mess up my vows, and-"Autumn, baby, you're going to be alright, everything is going to be perfect," Micheal tried to reassure her as tears flowed from Autumn's eyes, "But-"There's no ifs, buts, or maybe, my love, everything is going to be perfect, just like you planned it to be," he said as Autumn sniffled before
The night was still young and one of the greatest nights of Autumn and Micheal's life. Like Micheal had promised, Autumn's dreams were coming through right after one another, and she couldn't be happier. Seeing the enchanting lights were the most beautiful thing that she has ever see
It was probably the longest hour of Micheal's life as he waited for Autumn to return from her surgery. He waited in the waiting room with his head in his hands as his leg couldn't help but bounce while he waitedThose who passed and observed Micheal as he waited, felt sorry for him, b
That night...The bathroom door
Dear readers,•The story 'CEO in Public/ My Daddy in Private' isn't released yet and will be released on the 1st of March, 2021. I'm sorry, for keeping y'all waiting, I've been working on my other stories that were due to finish before I even came up with this story. Although the stor






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
RebyuMore