CHASING HIS EX-WIFE: My ex-husband wants me-too late

CHASING HIS EX-WIFE: My ex-husband wants me-too late

last update最終更新日 : 2026-06-29
作家:  LisaWrites完了
言語: English
goodnovel16goodnovel
10
8 評価. 8 レビュー
202チャプター
9.8Kビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Winning Back the Wife

Contemporary

CEO

Dominant

Intelligent

Divorce

Weak to Strong

Sports

Third-Person POV

Jayda Marlowe gave up the only thing she ever loved—racing—for a man she believed would choose her forever. But he didn’t. When Antonio Moretti asked for a divorce, she didn’t beg. She didn’t fight. She just walked away… and never told him she was already running out of time. Now, with only months left, Jayda returns to the track and the boardroom, determined to build something that will outlive her. Strong. Untouchable. Unreachable. Or so she makes the world believe. Antonio thought losing her would be easy. But it wasn’t. Because the woman he let go is no longer the one who loved him quietly—she’s colder, sharper, and completely out of his reach. Now he wants her back. But how do you win back a woman who is already preparing to disappear?

もっと見る

第1話

1: IS THERE... A CURE?

Aku sama sekali tak menyangka kalau liburanku kali ini, akan mempertemukan aku dengan seorang yang paling aku benci dan ingin aku hindari. Dia adalah mantan suamiku.

Aku melihat Mas Haikal tengah berada di lobi hotel yang sama tempat aku menginap, di Denpasar. Aku yang sedang menggendong anakku seketika menjadi panik. Tentu saja aku panik, karena aku takut dia akan melakukan apa saja, apabila tahu kalau Pasya adalah putranya. 

"Del, kamu gendong dulu deh si Pasya. Kamu lihat sendiri itu di lobi hotel ada Mas Haikal. Jadi untuk menghindari hal-hal yang nggak diinginkan, lebih baik kamu gendong dulu anakku. Nanti misalnya dia tanya tentang Pasya, kamu jawab saja kalau Pasya adalah anak kamu," kataku yang membuat Adelia-adik sepupuku, membelalakkan matanya.

"Wah, nggak bener ini. Mbak Amanda bisa menjatuhkan reputasi aku ini. Masak aku yang masih gadis disuruh mengaku sudah punya anak sih, ck." Adelia menggerutu panjang lebar meskipun dia akhirnya menerima Pasya dari tanganku, dan menggendongnya.

"Nggak apa-apa lah, Del. Mengakunya kan hanya sama Mas Haikal. Cuma sebentar saja kok. Setelah melewati dia atau setelah kita masuk ke dalam lift, Pasya akan aku gendong lagi. Soalnya kita nggak bisa menghindar lagi. Dia sudah melihat ke arah kita. Kalau kita pergi, dia akan curiga. Apalagi dia sudah lihat aku gendong Pasya tadi. Jadi akting dikit deh, ya," ucapku dengan nada memelas pada adik sepupuku itu.

Akhirnya Adel menganggukkan kepalanya dan tersenyum seraya berkata, "Iya, tenang saja. Aku jago akting kok. Semoga saja Pasya juga bisa diajak akting sama aku, Mbak."

"Insya Allah, bisa. Anakku biar masih sebelas bulan sudah bisa diajak akting lho," sahutku jumawa 

"Aamiin. Ayo, kita jalan ke lift! Pura-pura nggak lihat saja kita. Semoga Mas Haikal nggak sadar dan masih sibuk ngobrol sama temannya." Adelia lalu melangkah dengan percaya diri menuju ke arah lift, yang ada persis di samping posisi Mas Haikal berdiri saat ini. 

Aku berjalan beriringan dengan Adelia yang berjalan terlebih dulu. Aku berdoa dalam hati agar Pasya bisa diajak kerja sama, karena dari tadi dia selalu menatapku dan sepertinya ingin segera aku gendong kembali.

Jantungku semakin berdegup kencang ketika kami sesaat lagi akan tiba di dekat Mas Haikal. Benar saja dugaanku kalau Mas Haikal sudah memperhatikan kami dari tadi. Tepat ketika kami sudah melewati dirinya dan berdiri di depan lift, dia mendekatiku dan menyapa. 

"Halo, Manda. Apa kabar?"

Aku sontak menoleh padanya dan memaksa untuk tersenyum. Rupanya dia sudah selesai ngobrol dengan temannya

"Eh, kamu. Liburan ke sini juga rupanya," jawabku basa-basi.

"Liburan plus kerja, karena aku akan mendirikan cottage di sini," jawabnya dengan menampilkan senyuman manis.

Aku seketika memalingkan wajahku agar tak berlama-lama menatapnya. Bagaimanapun sekarang dia adalah suami orang. Mengingat itu membuat hatiku sakit. Luka yang sudah mulai mengering perlahan terasa nyeri kembali.

Tepat ketika pintu lift terbuka, Pasya menangis. Rupanya dia sudah tak sabar ingin aku gendong kembali. Aku refleks meraih tubuh anakku dari gendongan Adel, lalu aku dekap dia dengan erat dan mengusap punggungnya dengan perlahan. 

"Mbak Manda, ayo kita masuk lift sekarang!" ajak Adel seraya merangkul bahuku.

Aku mengangguk dan melangkah ke dalam lift. Namun, tanpa diduga kedua tangan Mas Haikal menahan pintu lift agar tetap terbuka. Dia menatap lekat wajah Pasya, yang kebetulan anakku kini sedang menatap Mas Haikal juga.

"Manda, siapa anak ini?" tanya Mas Haikal tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Pasya.

"Anakku, Mas!" sahut Adel mewakili aku menjawab pertanyaan mantan suamiku itu.

Mata Mas Haikal menyipit seolah tak percaya dengan jawaban Adel.

"Memangnya kamu sudah nikah?" tanya Mas Haikal dengan tatapan menyelidik pada Adelia.

"Ya sudah dong. Buktinya itu aku sudah punya anak. Masak kalau belum menikah sudah punya anak sih. Aku ini perempuan baik-baik lho, Mas," sahut Adel yang membuatku tertawa dalam hati, karena aktingnya lumayan juga.

"Mas, tolong tangannya dilepas dari pintu lift itu. Supaya pintunya bisa tertutup dan liftnya bergerak naik. Kami ingin segera sampai di kamar, dan beristirahat," sahutku datar.

Mas Haikal tetap tak melepas kedua tangannya dari pintu lift. Dia terus menatap Pasya dan aku secara bergantian.

"Aku akan cari tahu tentang anak ini."

"Silakan!"

Aku menjawab dengan cukup tenang walaupun dalam hati sudah ketar-ketir. Hingga setelah puas memandangi Pasya, Mas Haikal melepaskan kedua tangannya dari pintu lift. Dalam hitungan detik, pintu lift tertutup dan segera naik ke lantai tempat kamar kami berada.

***

"Mbak, bagaimana kalau Mas Haikal beneran cari tahu tentang Pasya? Terus kalau dia marah karena selama ini nggak diberitahu tentang keberadaan Pasya, bagaimana?" tanya Adel ketika kabin lift sudah bergerak naik. 

Aku pandangi wajahnya yang tampak cemas. Aku mengulum senyum karena ekspresi wajah adik sepupuku itu, sangat berbeda dengan yang tadi dia perlihatkan saat di depan Mas Haikal. Tadi Adel sangat percaya diri ketika mengatakan kalau Pasya adalah anaknya. Tapi, kini dia takut kalau Mas Haikal tahu identitas Pasya.

"Biar saja dia cari tahu. Memangnya aku akan diam saja kalau dia berusaha untuk merebut Pasya dariku."

Tepat ketika bibirku terkatup, pintu lift terbuka. Aku serta Adel segera keluar dari kabin lift dan melangkah menuju ke kamar kami.

"Ma…Ma…Ma."

Pasya menjulurkan lidahnya ke arah dadaku, memberi kode kalau dia sedang ingin menyusu.

"Pintar banget sih anak Mama ini. Sudah sampai kamar baru minta ASI," ucapku dengan senyuman ketika tatapanku dan tatapan anakku bertemu.

Aku tanpa menunggu lama langsung duduk di sofa, dan melepas tiga kancing teratas blus katun yang aku kenakan. Aku lalu mulai menyusui anakku. Sementara aku melihat Adel sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan mata.

"Mbak, andaikan Mas Haikal masih cinta dan mengajak rujuk, apa Mbak Manda mau?" tanya Adel yang sontak membuat aku terkesiap.

"Kenapa kamu punya pikiran kayak gitu? Nggak mungkin lah dia mau rujuk sama aku. Dia kan sudah punya istri dan anak, Del. Apa kamu lupa kalau aku diceraikan olehnya karena aku dikira mandul?"

"Apa Mbak lupa kalau yang menggugat cerai itu adalah Mbak Manda, bukan Mas Haikal?" ucap Adel balas bertanya padaku.

Aku mengalihkan tatapanku ke arah Adel yang sedang berbaring di kasur.

"Aku menggugat cerai karena aku tak sudi dimadu. Apalagi Mas Haikal sudah berkhianat sebelum minta ijin untuk menikah lagi. Pelakor itu sudah hamil enam minggu! Jadi buat apa aku mempertahankan rumah tangga yang sudah bobrok karena pengkhianatan," sahutku agak ketus yang membuat Adel menoleh ke arahku.

"Tapi, aku lihat sorot mata Mas Haikal masih penuh cinta saat menatap kamu tadi, Mbak," ucap Adel yang membuat aku tersenyum kecut.

Aku baru saja akan menanggapi ucapan adik sepupuku itu, tapi aku urungkan karena bunyi ketukan di pintu yang menginterupsi pembicaraan kami.

Adel segera bangkit dari kasur dan melangkah ke pintu, lalu membukanya.

"Mas Haikal!"

"Amanda mana, Del?"

Aku yang mendengar suara Mas Haikal langsung panik. Aku ingin menyudahi memberi ASI pada Pasya. Tapi, anakku ini masih lahap menyusu. Hingga akhirnya aku pasrah ketika Mas Haikal menerobos masuk ke dalam kamar, dan melihat aku sedang menyusui Pasya.

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

レビューもっと

Tori
Tori
A very good Story. currently in chapter 110 and I'm loving it so far
2026-06-26 18:26:37
2
0
jesh
jesh
good business and legal drama with a hint of romance on the side, good writing with very decorative language, a smart and strong FMC, interestinged to see how her diagnosis is going to be handled
2026-05-13 04:58:57
2
1
Royal Hadison
Royal Hadison
I feel so sad for Jayda and what does Antonio even sees in Lisa??
2026-05-10 21:44:42
2
1
MyAitiya
MyAitiya
loving the story so far but my problem is Enzo. I don't know how I feel about him but I like him so far.
2026-05-10 21:37:28
2
1
LisaWrites
LisaWrites
Hello my lovely readers, I hope you're all enjoying the book? please don't be shy to drop a comment telling me what you think about the story so far because it will really motivate me to continue writing it...️
2026-05-10 07:18:13
3
0
202 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status