Masuk“Thalita, Ayah tahu kamu masih marah dan benci padaku. Tapi bolehkah Ayah bertanya padamu tentang suatu hal? Ayah berjanji, setelah kamu menjawab pertanyaan ini, Ayah tidak akan mengganggu atau ikut campur hidupmu lagi,” ucap Latief memohon. Wajahnya begitu sendu dan ekspresi bersalah di sana terpampang nyata. Thalita menghela napas sebelum memberikan respon pada Latief. “Baiklah, setelah itu anda harus benar-benar menjauh dan tidak diijinkan mengganggu hidupku lagi,” kata Thalita kemudian setelah menimang sesuatu di benaknya. Vivian yang ada di tengah-tengah mereka terlihat begitu bingung dan terus menerka. Mengapa Latief yang notabene adalah ayah kandung Kenzo mengatakan dirinya adalah ‘ayah’ dari Thalita? Bukankah kakak kandung Kenzo adalah Karina? Sebenarnya ada apa ini?Stefani yang ada di dekat mobil mendapatkan kode dari Thalita. Sang atasan tak perlu memanggil namanya untuk membawa pergi Vivian agar menjauh, karena ia sudah memiliki ketajaman pemikiran dan penglihatan yang
Latief seperti seorang tersangka yang siap divonis mati. Wajah pria itu memucat dan kesulitan hendak menatap siapapun di sekelilingnya. “Papa kenal sama calon kakak iparnya Vivian?” Kenzo mengulang pertanyaannya. Sungguh, ia benar-benar merasa penasaran dengan hubungan apa antara sang ayah dengan wanita cantik di sebelah Vivian.Sungguh, wanita itu benar-benar cantik. Pantas saja kakak kandung Vivian rela menceraikan istri pertamanya demi wanita di hadapannya. Pemuda itu mendengar rumor yang beredar di antara para pengusaha yang sempat ia simak beberapa saat lalu waktu dirinya menemani ayahnya membahas kerja sama bisnis.Di saat pikirannya bercabang antara kagum dan penasaran, Kenzo dikejutkan dengan seruan dari seseorang. Ia melihat Vivian menatap sinis ke arahnya. “Bisa kita bicara sebentar?” Vivian bertanya dengan ekspresi tegas. Kenzo mengangguk. Ia meminta ijin pada sang ayah melalui tatapan matanya. Begitu mengambil tempat yang agak berjauhan dari Latief dan Thalita, Vivian
“Apa nggak ngerepotin Mbak Thalita?” Thalita lantas menggeleng cepat. “Kalau Mbak sudah menawarkan hal itu, tandanya Mbak nggak merasa direpotkan sedikitpun.”“Tapi Mbak—”“Tapi kenapa lagi, Vivian?” Thalita menatap heran.“Kenapa Mbak memintaku untuk menemuinya? Aku kan bisa memutuskan hubungan kami lewat chat atau telepon, kenapa aku harus repot-repot menemui dia, Mbak?”Thalita paham sekarang apa yang membuat Vivian mempertanyakan hal itu padanya. “Kalian memulai hubungan percintaan kalian dengan baik-baik, kan? Kenapa pas putus cuma lewat pesan atau telepon?” balas Thalita dengan pertanyaan. “Oh jadi karena itu, Mbak?”Thalita mengangguk mantap. ‘Sebenarnya Mbak ingin tahu seperti apa muka si bajingan kecil itu! Dan setelah itu Mbak akan memukul atau menendang senjatanya supaya dia nggak berulah lagi. Siapa suruh dia mengganggu kamu, Vivian? Mbak nggak akan diam saja saat orang-orang yang kusayangi disakiti oleh laki-laki kurang ajar seperti mantan kamu itu.’ Thalita hanya bis
“Kalau kamu beneran sayang sama aku, kamu rela kan melakukan ‘itu’ sama aku?” Bisikan pemuda itu membuat sepasang mata Vivian terbuka lebar. Ia tak menyangka bahwa pemuda yang akhirnya ia terima cintanya meminta hal gila semacam itu padanya. “Kita sudah tiga bulan berpacaran, Vivian. Kalaupun kamu hamil, aku pasti bakalan tanggung jawab dan menikahi kamu,” lanjut pemuda itu di telinga Vivian.PlakkTamparan mendarat mulus di wajah pemuda itu. Vivian tak bisa bersabar ataupun menolerir apa yang telah diucapkan olehnya.“Kamu pikir aku perempuan macam apa? Aku menerima kamu jadi pacar aku karena aku berpikir kamu beneran tulus sayang sama aku dan beda dari semua laki-laki yang ada di sekitarku. Kuanggap kamu bisa menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Tapi ternyata aku salah. Aku nggak mau lihat muka kamu lagi! Aku benci sama kamu!” amuk Vivian dengan jari telunjuk mengarah ke arah wajah pemuda itu.“Vivian! Vivian! Aku minta maaf, Vivian. Tolong jangan marah sama aku,” teriak pem
“Kenapa jangan, Tante?” Thalita heran pada sikap dan ucapan Jani yang membuatnya saat ini merasa curiga. Tak pernah Jani menunjukkan ekspresi panik seperti ini saat ada bersamanya.Sebenarnya siapa orang yang ada di luar?Thalita beranjak dari posisinya dan menunduk menatap sang ibu sebelum mempertanyakan hal yang membuatnya penasaran pada Jani. “Sebenarnya siapa yang ada di luar, Tante? Kenapa ekspresi Tante aneh seperti itu?” Melihat Jani belum memberikan respon atas pertanyaan yang ia lontarkan, Thalita memilih berjalan hendak membuka pintu.Jani melirik Stefani dan menunjukkan gelagat ketakutan. Stefani yang tanggap segera mengambil alih tindakan. “Biar saya yang membukakan pintu, Nona Thalita.” Demi kenyamanan dan keamanan bersama, Stefani mengambil resiko apapun itu. Kalau yang ada di luar adalah orang yang berbahaya, ia masih bisa diandalkan dengan ilmu bela diri yang cukup terlatih. Ia mampu melindungi sang nona dan keluarganya yang semuanya adalah perempuan.Thalita mengh
Jani mengalihkan pandangan. Ia harus mencari alasan yang tepat. ‘Bagaimana ini, Tuhan? Aku nggak akan membiarkan kakakku tahu tentang apa yang saat ini terjadi pada Thalita. Setidaknya untuk saat ini saja. Tuhan, tolong bantu aku. Aku tidak bisa berbohong pada Mbak Namira. Tapi untuk jujur mengenai apa yang dialami Thalita tentu tak mungkin ku ungkap sekarang.’“Bu Jani, maaf mengganggu. Bisa kita bicara sebentar?” Stefani yang sebelumnya berada di teras rumah untuk mencari udara segar mendadak masuk ke dalam rumah. Ia mendekati dua wanita paruh baya di ruang tamu dengan ekspresi tak terbaca. Jani segera bangkit dari tempat duduknya. Mungkinkah ini adalah jawaban dari Tuhan agar ia bisa menghindari pertanyaan pelik dari sang kakak?Sebelum mengikuti Stefani, Jani menundukkan kepalanya lalu menatap wajah Namira yang sendu. Sungguh, ia tak ingin membuat kakak kandungnya itu bersedih dengan kabar yang cukup mendadak ini. Ia butuh waktu untuk mengungkap segala hal mengenai kehamilan Tha







