เข้าสู่ระบบ“Penasaran? Ya buka dong! Kenapa pakai tanya segala?” tanggap Baskara sinis.“Tapi Bas, bagaimanapun juga saat ini aku masih berstatus sebagai istri kamu. Kamu nggak bisa memperlakukan aku sekasar dan sedingin ini,” serang Yola dengan keberanian yang diupayakan.Tak ada balasan mendengar ucapan Yola. Baskara hanya melirik sekilas lalu beralih pada ponselnya di atas meja. Ditekannya layar ponselnya lalu terdengar bunyi dering menuju ke kontak lawan bicaranya. Yola menatap tak suka. Ia yang masih memegangi dokumen pemberian Baskara masih belum juga membukanya. Wanita itu malah penasaran dengan siapakah Baskara akan bertukar pesan suara. Ia merasa diacuhkan. Rasanya sakit. Terluka. Tapi ia tak boleh menunjukkan kelemahan di depan pria itu. Setidaknya untuk saat ini. Tanpa ia sadari cengkeraman tangannya ketika memegangi dokumen begitu erat dan mungkin saja setelah ini meninggalkan jejak. “Sayang, aku haus,” kata Baskara ketika panggilan telah tersambung. Suaranya terdengar manja. Yola
“Saya? Saya yang menghuni rumah ini. Lalu, kalian ini siapa, ya? Kenapa malah bertengkar di depan rumah saya?” tanya pria muda di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Ia menunjukkan ekspresi penasaran dengan kentara.Pasangan lansia yang awalnya beradu tatap kini mendekatkan diri pada penghuni rumah.“Bisa kita bicara sebentar?” Nenek Seruni merubah mimik wajahnya dengan cepat. Tak ada rajukan seperti sebelumnya yang ia tunjukkan pada sang suami. Wanita tua itu memasang ekspresi tegas luar biasa. “Bisa. Silakan masuk,” kata pria muda itu yang sepertinya tersihir oleh dominasi wanita tua di hadapannya. Nenek Seruni melirik sang suami sebelum masuk ke dalam rumah sederhana yang ia sambangi.~~~~“Apa-apaan ini?” Yola berteriak keras melihat apa yang baru saja terpampang nyata di hadapannya. Baskara dan Thalita yang berpelukan usai berciuman panas menunjukkan sikap berbeda begitu melihat kedatangan Yola. Jujur saja, ini adalah kali pertama seorang Thalita tertangkap basah melakukan
“Sebulan lalu waktu Baskara mabuk, kami melakukan hubungan suami istri. Wajar saja kan kalau aku hamil, Nek? Toh, dia memang suamiku. Lalu kalau bukan dia yang membuatku hamil, lantas siapa lagi?” Yola mengelus perutnya yang masih rata. Ia menitikkan air mata di hadapan Nenek Seruni. Yola berjalan mendekat. Ia berusaha meraih tangan Nenek Seruni. Wanita itu lah yang selama ini selalu ada di garda depan untuknya dan membela dirinya di rumah mewah tersebut. Ketika tangannya hendak menggapai tangan yang mulai dipenuhi keriput itu, usahanya menggantung. Tak ada hasil sesuai yang ada di dalam kepalanya. Bahkan sebelum ia berhasil menggapai tangan wanita tua itu, Nenek Seruni memilih memundurkan tubuhnya dengan gerakan cepat tanpa ia sadari. “Nenek—”“Sudah kubilang, jangan panggil aku Nenek! Kesalahanmu dan keluargamu sudah begitu banyak pada keluarga kami. Usahamu yang selama ini kamu lakukan sudah berhasil membuat hubungan antara nenek dan cucu merenggang. Memangnya kamu belum puas jug
“Kenapa? Ekspresi kagetnya bisa nggak sih yang natural aja? Toh kamu sudah mulai mencurigai hubunganku dengan sekretarisku, kan?” cecar Baskara sembari melangkah mendekat ke arah sang kakak. Ditatapnya netra gelap David yang mendadak mematung. “Dia pacarku, dan nggak lama lagi aku akan membuatnya menjadi istriku. Dan mengenai Yola, sekarang kuserahkan kembali sama kamu. Terserah apa yang mau kamu lakukan sama dia. Toh selama ini aku nggak pernah menyentuhnya. Aku paling nggak suka menyentuh barang kotor yang sudah dicicipi pria lain yang naasnya mengaku-ngaku sebagai saudara kandungku sendiri,” tegas Baskara lalu mengeratkan rangkulannya di tubuh sang kekasih. Pria itu seolah menunjukkan pengukuhan pada semua orang bahwa Thalita adalah wanitanya. “Baskara, aku mau bicara sama kamu. Aku tahu masalah di antara kita sudah terlalu banyak dan aku pun nggak tahu dari mana harus memulainya. Tapi mulai hari ini aku janji akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah aku lakukan,”
“Setelah apa yang sudah aku ceritakan ke kamu tentang hidupku sampai peristiwa gila yang telah kita lakukan malam itu, apa yang kamu rasakan sekarang?” Baskara membelai lembut pipi Thalita menunggu sang kekasih hati menjawab pertanyaannya. “Kamu berniat meninggalkan aku?” tanyanya kemudian dengan wajah memelas. Tak pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa Baskara akan menunjukkan sisi lemah yang tak pernah ia perlihatkan di hadapan orang-orang. Dikecupnya kening Baskara dengan lembut lalu menggeleng pelan. Entah mengapa walau ia tahu cara yang digunakan Baskara padanya termasuk cara seorang pecundang yang rela menghalalkan segala hal demi mendapatkan dirinya, Thalita bisa memaafkan Baskara begitu saja. Baskara seperti sudah kehabisan akal demi mendapatkannya dan mungkin hanya tersisa cara itu yang bisa dia lakukan sebagai upaya pengukuhan dan kepemilikan. “Aku nggak tahu harus bilang apa, Mas. Seharusnya aku marah dan kecewa tapi entah mengapa setelah mendengar pengakuanmu tadi,
Lembutnya bibir itu akhirnya ia rasakan juga. Baskara tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Jika wanita itu menolak dan mendorongnya, ia akan gunakan teriakan darinyalah yang membuatnya mengambil tindakan nyata semacam ini. Andai wanita itu berani melakukannya. Namun yang terjadi, Thalita terbuai oleh sentuhan lembut yang kini menguasai bibirnya. Terasa dalam dan lembut. Pria itu benar-benar menguasainya luar dalam. Keinginan untuk memberontak hanya tinggal kenangan.Sial!Bukan Thalita yang melepas pertukaran saliva di antara mereka lebih dulu, melainkan Baskara. Ya, pria itu benar-benar melakukannya. Melakukan hal yang sebenarnya tak pernah ingin ia lakukan. Diambilnya handuk yang terhempas di lantai lalu diperbaikinya. Dipakainya dengan terburu-buru. Baskara segera mengambil satu set pakaian rumahan miliknya yang ada di apartemen tersebut. Hanya kaos lengan pendek berwarna hitam dipadukan dengan celana pendek yang biasa digunakan jika pria itu keluar untuk joggi







