Mag-log in“Sebulan lalu waktu Baskara mabuk, kami melakukan hubungan suami istri. Wajar saja kan kalau aku hamil, Nek? Toh, dia memang suamiku. Lalu kalau bukan dia yang membuatku hamil, lantas siapa lagi?” Yola mengelus perutnya yang masih rata. Ia menitikkan air mata di hadapan Nenek Seruni. Yola berjalan mendekat. Ia berusaha meraih tangan Nenek Seruni. Wanita itu lah yang selama ini selalu ada di garda depan untuknya dan membela dirinya di rumah mewah tersebut. Ketika tangannya hendak menggapai tangan yang mulai dipenuhi keriput itu, usahanya menggantung. Tak ada hasil sesuai yang ada di dalam kepalanya. Bahkan sebelum ia berhasil menggapai tangan wanita tua itu, Nenek Seruni memilih memundurkan tubuhnya dengan gerakan cepat tanpa ia sadari. “Nenek—”“Sudah kubilang, jangan panggil aku Nenek! Kesalahanmu dan keluargamu sudah begitu banyak pada keluarga kami. Usahamu yang selama ini kamu lakukan sudah berhasil membuat hubungan antara nenek dan cucu merenggang. Memangnya kamu belum puas jug
“Kenapa? Ekspresi kagetnya bisa nggak sih yang natural aja? Toh kamu sudah mulai mencurigai hubunganku dengan sekretarisku, kan?” cecar Baskara sembari melangkah mendekat ke arah sang kakak. Ditatapnya netra gelap David yang mendadak mematung. “Dia pacarku, dan nggak lama lagi aku akan membuatnya menjadi istriku. Dan mengenai Yola, sekarang kuserahkan kembali sama kamu. Terserah apa yang mau kamu lakukan sama dia. Toh selama ini aku nggak pernah menyentuhnya. Aku paling nggak suka menyentuh barang kotor yang sudah dicicipi pria lain yang naasnya mengaku-ngaku sebagai saudara kandungku sendiri,” tegas Baskara lalu mengeratkan rangkulannya di tubuh sang kekasih. Pria itu seolah menunjukkan pengukuhan pada semua orang bahwa Thalita adalah wanitanya. “Baskara, aku mau bicara sama kamu. Aku tahu masalah di antara kita sudah terlalu banyak dan aku pun nggak tahu dari mana harus memulainya. Tapi mulai hari ini aku janji akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang sudah aku lakukan,”
“Setelah apa yang sudah aku ceritakan ke kamu tentang hidupku sampai peristiwa gila yang telah kita lakukan malam itu, apa yang kamu rasakan sekarang?” Baskara membelai lembut pipi Thalita menunggu sang kekasih hati menjawab pertanyaannya. “Kamu berniat meninggalkan aku?” tanyanya kemudian dengan wajah memelas. Tak pernah terlintas di dalam pikirannya bahwa Baskara akan menunjukkan sisi lemah yang tak pernah ia perlihatkan di hadapan orang-orang. Dikecupnya kening Baskara dengan lembut lalu menggeleng pelan. Entah mengapa walau ia tahu cara yang digunakan Baskara padanya termasuk cara seorang pecundang yang rela menghalalkan segala hal demi mendapatkan dirinya, Thalita bisa memaafkan Baskara begitu saja. Baskara seperti sudah kehabisan akal demi mendapatkannya dan mungkin hanya tersisa cara itu yang bisa dia lakukan sebagai upaya pengukuhan dan kepemilikan. “Aku nggak tahu harus bilang apa, Mas. Seharusnya aku marah dan kecewa tapi entah mengapa setelah mendengar pengakuanmu tadi,
Lembutnya bibir itu akhirnya ia rasakan juga. Baskara tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Jika wanita itu menolak dan mendorongnya, ia akan gunakan teriakan darinyalah yang membuatnya mengambil tindakan nyata semacam ini. Andai wanita itu berani melakukannya. Namun yang terjadi, Thalita terbuai oleh sentuhan lembut yang kini menguasai bibirnya. Terasa dalam dan lembut. Pria itu benar-benar menguasainya luar dalam. Keinginan untuk memberontak hanya tinggal kenangan.Sial!Bukan Thalita yang melepas pertukaran saliva di antara mereka lebih dulu, melainkan Baskara. Ya, pria itu benar-benar melakukannya. Melakukan hal yang sebenarnya tak pernah ingin ia lakukan. Diambilnya handuk yang terhempas di lantai lalu diperbaikinya. Dipakainya dengan terburu-buru. Baskara segera mengambil satu set pakaian rumahan miliknya yang ada di apartemen tersebut. Hanya kaos lengan pendek berwarna hitam dipadukan dengan celana pendek yang biasa digunakan jika pria itu keluar untuk joggi
Menyadari situasi yang tidak kondusif untuk dirinya, Rico berdehem dan berbalik badan secepat kilat sebelum meninggalkan pasangan kekasih tersebut di dalam sana.Melihat hal tersebut, Baskara tersenyum tipis mengetahui anak buahnya paham situasi. Akhirnya, ia bisa melakukan apa yang ada di dalam kepalanya. Terutama di dalam inti dirinya yang sudah lama tak merasakan kehangatan seorang wanita. Wanita di pangkuannya tentu saja. “Nggak bisa, Mas,” tolak Thalita dengan dua tangan bergerak di tempat yang kedua tujuannya berbeda. Satu tangan menarik jari-jari ramping Baskara dari kancing kemejanya, dan satu tangan yang lain menutup mulut Baskara yang hendak meraup bibirnya. “Kenapa? Apa karena itu?” tanya Baskara menyelidik sembari memicingkan mata ke arah puntung rokok yang berserakan di asbak. Thalita menggeleng. Mendapati jawaban Thalita yang seolah menutupi kenyataan membuat Baskara bangkit dari posisinya. Ia meninggalkan Thalita menuju ke kamar mandi mewah yang menjadi fasilitas i
“Baskara, sudah, sudah! Jangan buat Nenekmu marah-marah! Nenekmu belum pulih benar, dia harus banyak istirahat, nggak boleh banyak pikiran dulu,” ucap Teddy menengahi. Pria paruh baya itu jelas-jelas membela sang istri, walau sebenarnya ia tahu Seruni selalu berada di pihak Yola. Entah apa yang membuat istrinya begitu peduli dan sayang pada Yola sehingga selalu mengesampingkan perasaan Baskara yang notabene adalah cucu kandungnya sendiri. “Kek, aku nggak tahu apa yang membuat Nenek selalu menutup mata atas segala hal yang diperbuat Yola. Asal Kakek dan Nenek tahu, dia nggak sesuci dan selembut yang kalian lihat. Terlalu banyak kebohongan yang dia buat selama ini, tapi kenapa seolah-olah kalian nggak pernah melihatnya? Jujur aku curiga, sudah sampai sejauh dan separah ini, kalian masih saja berpihak pada wanita jahat itu. Sebenarnya aku ini cucu Nenek dan Kakek apa bukan? Kenapa kalian nggak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Dan setelah Nenek siuman, apa Nenek tahu siapa yang m







