INICIAR SESIÓNLa medianoche guarda secretos que la luz del día jamás se atrevería a revelar. En estas páginas encontrarás hombres que aman demasiado, desean demasiado y arriesgan demasiado. Extraños que se convierten en tentaciones. Rivales que terminan compartiendo más de lo que deberían. Corazones rotos que buscan consuelo en los brazos equivocados. Sensual, intensa y profundamente adictiva, Vignetas de Medianoche es una colección de relatos MM donde el romance, la pasión y los sentimientos más peligrosos se entrelazan bajo el amparo de la noche. Porque hay deseos que nunca duermen.
Ver más"Sayang, kapan kau ceraikan wanita tua itu?"
Suara manja yang keluar dari bibir wanita ber-bathrobe putih itu langsung menyengat telinga Isyana. Melalui celah pintu kamar 4020 yang sedikit terbuka, sepasang mata indahnya menyaksikan pemandangan yang memuakkan. Di atas sofa beludru, Rehan suaminya justru terkekeh. Tangan pria itu bergerak mengusap pinggang wanita yang kini duduk dengan nyaman di pangkuannya. Tatapan penuh kehangatan yang tak pernah Isyana dapatkan di rumah, kini diobral murah untuk perempuan lain. "Sabar, Sayang. Menyingkirkan Isyana tidak semudah membalik telapak tangan. Harta dan aset perusahaan masih atas namanya," jawab Rehan, santai tanpa beban. Di balik masker kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, sudut bibir Isyana justru terangkat. Senyuman dingin yang mengerikan terbentuk di sana. Wanita tua? Menyingkirkannya? Jemari lentik Isyana bergerak pelan menuju dada, menyentuh liontin perak berbentuk bulat yang menggantung di leher. Sebuah ketukan halus menggunakan kuku jarinya mengaktifkan lensa mikroskopis yang tertanam di tengah liontin tersebut. Alat pengintai mutakhir itu kini merekam setiap jengkal kemesraan menjijikkan mereka, lengkap dengan suara pengakuan dosa yang keluar dari mulut suaminya sendiri. "Tapi aku bosan bersembunyi terus, Mas. Aku mau status kita resmi," rengek wanita itu lagi, memajukan bibirnya manja. "Sebentar lagi. Begitu semua sahamnya berpindah tangan, aku sendiri yang akan melemparkan surat cerai itu ke mukanya. Dia tidak akan punya apa-apa lagi untuk disombongkan." Rehan mengecup kilat pipi wanita itu. Isyana menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin koridor hotel menekan letupan amarah yang sempat menyengat dada. Air mata? Tidak, mereka tidak layak mendapatkan setetes pun air matanya. Rasa sakit itu langsung menguap, berganti menjadi kalkulasi pembalasan dendam yang rapi di dalam kepala. Mereka ingin bermain api dengannya? Isyana akan memastikan seberapa cepat mereka akan hangus terbakar. Dengan gerakan yang sangat tenang, Isyana mendorong troli hotel yang dipinjamnya paksa dari pelayan asli di lantai bawah. Dia melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati sofa, lalu meletakkan dua botol air mineral di atas meja tepat di bawah hidung mereka. "Silakan dinikmati, Bapak, Ibu," ucap Isyana dengan suara yang sengaja dibuat agak serak dan dalam. Mendengar suara asing yang terlalu dekat, Rehan seketika menoleh tajam. Matanya menyipit penuh selidik, menatap seragam pelayan hotel yang dikenakan Isyana dan masker hitam yang menutupi wajah istrinya itu. "Kamu pelayan baru? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?!" bentak Rehan, suaranya terdengar berwibawa namun penuh kepalsuan. Isyana tidak gentar. Dari balik masker, matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria yang sudah bersamanya selama 11 tahun ini. Dia sengaja membungkukkan badan sedikit lebih dalam, menyembunyikan sorot matanya yang tajam di balik topi pet hotel. "Maaf, Pak. Saya hanya mengantarkan pesanan tambahan dari dapur hotel," sahut Isyana dengan suara serak yang dibuat-buat, begitu tenang tanpa ada getaran panik sedikit pun. Sinta, wanita ber-bathrobe putih yang merupakan rekan bisnis Rehan, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. Dia kembali bergelayut di pundak Rehan, mengabaikan keberadaan pelayan di depan mereka. "Sudahlah, Mas, jangan marahi pelayan itu. Mending kamu fokus ke aku saja. Oh ya, besok saat rapat tender proyek dengan investor baru, kamu pastikan Isyana tidak ikut campur, ya? Aku mau kita yang pegang kendali penuh," ucap Sinta dengan nada manja yang dibuat sehalus mungkin, penuh ambisi terselubung. Rehan terkekeh, mengusap pipi Sinta dengan gemas. "Tenang saja, Sayang. Isyana itu cuma tahu beres-beres rumah. Dia tidak akan paham urusan tender besar seperti ini. Semua dokumen kuasa sudah aku siapkan untuk kutandatangani atas namanya." Isyana tetap bergerak santai, menata piring-piring kecil berisi camilan di atas meja dengan gerakan tangan yang begitu presisi. Setiap kalimat yang keluar dari mulut dua orang di depannya justru menjadi peluru gratis yang tersimpan rapi dalam rekaman kalungnya. Tidak ada air mata atau jeritan histeris. Otak jenius Isyana justru sedang sibuk mengalkulasi bagaimana cara membalikkan dokumen kuasa itu untuk menjerat Rehan ke dalam lubang pailit. Setelah memastikan semua hidangan tertata, Isyana melangkah mundur. Dia memutar tubuhnya, bersiap mendorong troli untuk keluar dari kamar terkutuk itu. "Hei, pelayan! Tunggu!" panggil Rehan tiba-tiba. Langkah kaki Isyana seketika terhenti. Tubuhnya mematung di dekat pintu. Jantungnya sempat berdesir tajam. Apakah penyamarannya terbongkar? Apakah Rehan mengenali postur tubuhnya atau tatapan matanya? Isyana mengatur napasnya agar tetap teratur, lalu perlahan membalikkan badan, kembali menundukkan kepalanya dengan patuh. Rehan merogoh dompet dari saku celananya yang tergeletak di sandaran sofa. Pria itu menarik selembar uang ratusan ribu, lalu dengan angkuh melempar lembaran merah itu ke arah Isyana. Uang itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh di atas lantai, tepat di dekat ujung sepatu Isyana. "Uang tutup mulut. Jangan sampai ada yang tahu apa yang kamu lihat di kamar ini, atau kamu kehilangan pekerjaanmu besok pagi," ucap Rehan dengan nada merendahkan yang sangat kental. Sinta di pangkuannya tertawa cekikikan, menganggap tindakan Rehan sangat keren dan berkuasa. Isyana menatap lembaran uang di lantai itu sejenak. Sudut bibirnya di balik masker tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis yang tersembunyi. Dengan gerakan anggun, dia membungkuk, memungut uang ratusan ribu itu dan menggenggamnya erat. "Terima kasih atas kemurahan hatinya, Bapak," jawab Isyana pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu kamar 4020 tertutup rapat di belakangnya. Isyana berjalan cepat menuju lift kosong di ujung koridor. Begitu pintu lift tertutup dan membawanya turun, Isyana melepaskan masker hitam dan topi pet yang dipakainya. Dia mengangkat selembar uang ratusan ribu di tangan kanannya, menatap benda itu dengan sorot mata sedingin es yang mematikan. "Seperti ini ternyata sifat aslimu, Mas," bisik Isyana, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Kuanggap uang ini adalah tawaran perang. Baiklah, akan kuladeni sampai akhir."EL SEXO ES MÁS DULCE CUANDO ES PROHIBIDO 2—¿Tanto querías esto que mentiste? —gruñó, embistiendo más al fondo—. En ese caso, tómatela como la puta desesperada que eres.Usó mi garganta de manera brutal durante unos minutos antes de sacársela, dejando hilos de saliva colgando de mis labios hinchados.—Levántate.Hice lo que me ordenó de inmediato. Solté un respingo de placer cuando el pepino se acomodó aún más profundo en mi agujero y mi polla, dura como una roca, colgaba balanceándose sin control mientras goteaba líquido preseminal al suelo.Ethan me arrancó el pepino del culo con un chasquido húmedo y lo tiró a un lado. Luego me dio la vuelta, me dobló sobre el respaldo del sofá y me soltó una fuerte bofetada en el trasero.—Suplica.—Por favor, Ethan —gemí sin una pizca de vergüenza ante el hermano menor de mi mejor amigo, arqueando la espalda y abriendo las piernas—. Fóllame. Destrózame el agujero. He deseado tu polla durante tanto tiempo... Por favor, destrúyeme.Ethan se escupi
EL SEXO ES MÁS DULCE CUANDO ES PROHIBIDO 1Es una locura todo el tiempo que luché contra esto.Ethan es el hermano menor de mi mejor amigo, tiene solo 19 años, pero joder, parece un hombre hecho y derecho. Alto, de hombros anchos, con una voz profunda, una mandíbula afilada y esa confianza silenciosa que siempre hacía que mi polla diera un vuelco cada vez que él estaba cerca. Sabía que estaba mal. Que era tabú. Completamente prohibido. Era prácticamente de la familia. Pero eso no me impidió pajeámonos pensando en él casi todas las noches durante el último año.Esta noche, finalmente perdí el control.Estaba solo en casa, completamente desnudo en mi sofá, con las piernas abiertas de par en par como una puta. En la televisión, un tipo musculoso le daba una paliza brutal al culo de otro hombre en una escena tosca de estilo perrito, mientras el pasivo gemía «destrózame el agujero» una y otra vez. Yo tenía un pepino grueso y con relieves medio enterrado dentro de mi culo, metiéndolo y sac
INTERCAMBIO DE PAREJAS: VERDAD O RETO 4Al principio se movió despacio, girando las caderas en círculos sensuales, hundiéndose para que mi polla se agitara en lo más profundo de su ser.No dejamos de besarnos en ningún momento; besos sucios, con la boca abierta, las lenguas peleando y la saliva chorreando entre los dos. Le agarré el trasero firme con ambas manos, abriéndole más los cachetes mientras él rebotaba.Pronto se volvió más salvaje.Javier apoyó las manos en mi pecho y empezó a rebotar como Dios manda. Duro, rápido, estrellando su trasero contra mi polla con bofetadas húmedas y ruidosas. Cada vez que tocaba fondo, soltaba un fuerte gemido que me iba directo a las pelotas. Su propia polla rebotaba entre nosotros, goteando continuamente sobre mis abdominales.De repente, me incorporé y me enganché a su pezón izquierdo con la boca. Chupé con fuerza y luego mordí; no lo suficiente como para romperle la piel, pero sí con la fuerza necesaria para hacerlo gritar de puro placer-dolo
INTERCAMBIO DE PAREJAS: VERDAD O RETO 3—Siguiente reto —anunció Javier, con la voz ronca de lujuria. Sus labios todavía brillaban, chorreando su saliva y mi semen—. Marcus... te reto a restregarte contra Diego. Primero con ropa, luego piel con piel. Sin penetración.Se me abrieron los ojos de par en par. Marcus no dudó. Se sentó en el amplio sofá y se dio palmaditas en el regazo. Me subí la bragueta de inmediato y me senté a horcajadas sobre él, todavía medio erecto. Empezamos completamente vestidos, frotándonos lentamente, su bulto duro rozando el mío a través de los pantalones. Nuestras manos recorrieron el cuerpo del otro, apretando traseros, pellizcando pezones a través de las camisas y besándonos profundamente.El calor aumentó rápido.Pronto ambos respirábamos agitadamente, deslizando las lenguas juntas. Marcus me agarró el trasero y me jaló con más fuerza contra él. La fricción me estaba volviendo loco. Sin decir palabra, los dos bajamos las manos y nos sacamos las pollas.La
![Reclamado por el alfa, arruinado por tu amor [Boys Love]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.