แชร์

BAB 115

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-03 07:28:03

Gugurin? Kata itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

Radja terdiam. Sekilas wajahnya tak berekspresi, namun sorot matanya berubah gelap, berbahaya.

“Mas Kai bilang, anak ini gak pantes lahir di keluarga ini,” lanjut Djiwa dengan suara pecah. “Katanya, karena bukan darah daging dia. Karena dia pikir, anak ini bukan keturunan Reinard.”

Djiwa terisak lagi, bahunya bergetar.

“Mas … Djiwa gak minta apa-apa,” suara Djiwa nyaris putus. “Djiwa cuma pengen anak ini lahir. Itu aja.”

Ia menarik napa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (23)
goodnovel comment avatar
Hiban Askar
setuju say,jadi aga gmn gitu kesan nya ya.pdhl raja juga menginginkan anak itu huhu .....
goodnovel comment avatar
Endang Kusdaryanti
Thor segera buka kebusukan Inggrit biar Raja segera menikahi Djiwa
goodnovel comment avatar
Endang Widiastuti
bisa gak sih mas radja bilang anak kita..pada djiwa...bukan anak itu...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 556

    Tatapan Sultan berubah tajam. “Apa maksudmu?” suaranya merendah, penuh tekanan. Kaisar tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. “Aku yang hapus rekaman itu,” ulangnya tenang. “Karena aku tidak mau Mami terus terngiang dengan kejadian malam kecelakaan Mas Radja. Seperti yang Mas ketahui, sesayang apa Mami sama dia.” Rahang Sultan mengeras. “Kamu sadar apa yang kamu lakukan, Kai?” suaranya mulai meninggi. “Kamu menghilangkan barang bukti.” “Aku melindungi mental Mami, Mas,” balas Kaisar dingin. “Itu yang kita semua inginkan.” “Kamu bisa menggunakan dengan cara lain, Kai,” ucap Sultan dingin. “Kamu bisa pindah semua datanya ke iPad milikmu.” Kaisar tersenyum tipis. Tipis sekali. “Dan itu akan lebih memudahkan kamu untuk menuduh istriku. Karena daripada mengakses milik Mami, Karin lebih mudah mengakses barang elektronikku.” Sultan bangkit dari duduknya. “Apapun itu, yang kamu lakukan sangat salah. Buktinya, Mami juga terkejut rekaman CCTV itu hilang. Dan saya yakin, Mami tidak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 555

    “Mas, gimana sama Karin?” tanya Fairish pagi itu, saat Sultan tengah merapikan jam tangannya sebelum berangkat. Sultan menoleh sekilas, alisnya berkerut tipis. “Memangnya kenapa dengan dia? Kandungannya bermasalah?” Fairish sempat terdiam sepersekian detik, lalu menelan ludahnya. “Iya … katanya kemarin badannya gak enak. Makanya Kai sama istrinya gak dateng semalem ke rumah sakit. Padahal Mami lagi sakit,” jawabnya, berusaha terdengar biasa. Sultan mengangguk pelan. “Hm … begitu, ya.” “Aku ikut kamu ke rumah sakit ya, Mas,” lanjut Fairish cepat, sudah berbalik menuju wardrobe tanpa menunggu persetujuan. Sultan tidak menahan. Ia hanya mengira istrinya ingin menjenguk ibunya. _____ Tak lama kemudian, mereka bertiga, Sultan, Fairish, dan Binar tiba di rumah sakit. Di lorong menuju ruang rawat inap, mereka berpapasan dengan Kaisar. “Kamu datang sendiri?” tanya Sultan datar. “Di mana istrimu?” “Karin lagi gak enak badan,” jawab Kaisar tenang. “Aku putusin dateng sendiri.” Tanpa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 554

    “Jadi … bukan kamu yang bales?” gumam Djiwa pelan. Ia menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. Jarinya kembali menekan tombol rekam. “Mas … kalau memang kamu yang bales, kamu gak akan manggil aku ‘Bu’,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kamu lagi sibuk, aku ngerti. Tapi jangan sampai chat aja kamu serahin ke orang lain.” Ada jeda. Nada suaranya melembut. “Jangan lupa istirahat, kalau sakit jangan dipaksain kerja. Aku marah kalau sampe ada apa-apa sama kamu.” Pesan itu terkirim. Djiwa menatap layar lagi. Kali ini lebih lama, namun tak ada balasan. Layar tetap sunyi. “Mommy ….” Djiwa tersentak pelan saat mendengar suara itu. Ia menoleh, mendapati Regan berdiri tak jauh darinya—masih dengan wajah tenangnya, tapi sorot matanya penuh perhatian. “Mommy belum tidur?” tanya bocah itu sambil melangkah mendekat. Djiwa tersenyum tipis, cepat-cepat merapikan posisi duduknya. “Belum ngantuk, Nak,” jawabnya lembut. “Kamu sendiri? Kenapa belum tidur? Malah nyamperin Mommy ke sini?” Regan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 553

    “Saya sudah melihat rekaman yang Mas Sultan dapatkan,” ucap Kaisar pelan, setelah suasana di kamar kembali tenang. Karin tak langsung menoleh. Tatapannya tetap lurus ke langit-langit, namun tangannya bergerak pelan mengusap perutnya—seolah mengingatkan, atau mungkin menegaskan sesuatu. Kaisar menarik napas panjang. “Di rekaman itu memang ada kamu,” lanjutnya, suaranya rendah namun tegas. “Masuk ke mobil Mas Radja sambil membawa paper bag. Tapi saat keluar barang itu sudah tidak ada.” Karin akhirnya mengedip pelan, lalu menoleh sedikit ke arah suaminya. “Itu makanan,” jawabnya tenang. “Aku yang buat.” Kaisar menyipitkan mata tipis. “Untuk siapa?” “Untuk Djiwa,” jawab Karin tanpa ragu. “Malam sebelumnya aku dengar mereka lagi berantem. Tentang kematian Sankara yang selama ini Mas Radja tutupi.” Nada suaranya tetap stabil. Kaisar memperhatikannya lekat. “Makanan apa?” tanyanya lagi, singkat. Karin menarik napas pelan sebelum menjawab. “Makanan yang dulu paling dia suka,” ucapny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 552

    “Mommy, kenapa semuanya sakit? Nenek sakit, Daddy juga sakit. Meskipun Daddy udah sembuh, tapi kenapa gantian jadi Nenek sekarang?” Suara polos Naren memecah suasana makan malam di kantin rumah sakit. Djiwa tersenyum tipis. Ia meraih tisu, lalu mengusap lembut sudut bibir anaknya. “Namanya juga manusia, sayang,” ucapnya pelan. “Kadang sehat, kadang sakit. Itu hal yang gak bisa kita hindari.” Naren mengangguk kecil, meski jelas belum sepenuhnya paham. “Kapan Nenek bangun, Mom? Udah malam belum bangun juga. Besok pagi bangun, ya?” tanyanya lagi, penuh harap. Djiwa menahan napas sejenak. “Naren … nanti kalau Nenek sudah sadar, Mommy kabarin, ya. Sekarang kamu makan dulu.” Nada suaranya terdengar datar. Fairish yang duduk di seberangnya melirik sekilas. Ia tahu Djiwa sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya bercabang. Radja yang tak ada kabar, dan Karin dengan segala masalahnya. “Mommy … nanti Ratu mau telepon Daddy, ya,” ucap Ratu pelan dari samping. Gerakan tangan Djiwa terhenti

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 551

    “Kamu yang laporin istri aku, Mas?” suara Kaisar rendah, namun sarat tekanan. Ada jeda. Sultan melirik Karin sekilas, tatapan yang dingin, tajam—sebelum kembali menatap adiknya. “Ini bukan keputusan ringan, Kai,” ucapnya pelan, berusaha menahan emosi yang jelas bergejolak di balik ketenangannya. “Karin itu istri kamu. Adik ipar saya. Menantu di keluarga ini.” Ia menarik napas dalam. “Dan dia sedang mengandung anak kamu. Tapi saya tidak bisa tutup mata setelah saya tahu semuanya. Setelah saya pegang bukti yang kuat kalau dia pelakunya.” Napas Kaisar tercekat di tenggorokan. Rahangnya mengeras. “Kamu tahu saya,” lanjut Sultan, suaranya tetap stabil. “Saya tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak yakin.” Kaisar menelan ludahnya berat. “Asal kamu tahu dampak dari perbuatannya—” “Usia Mas Radja divonis beberapa bulan lagi?” potong Kaisar tiba-tiba, suaranya bergetar tipis. Sultan mengernyit. Informasi itu belum pernah ia dengar secara langsung, tapi ia tahu bahwa kondisi kakakn

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 67

    “Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal. Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.” “Ta

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 63

    Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 61

    “Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 64

    “Mas, harus banget ke Belanda berdua sama Djiwa?” tanya Inggrit begitu mereka berdua kembali ke kamar. Radja tak menjawab. Pria itu melangkah dengan penuh wibawa menuju meja, kemudian menyandarkan punggungnya di sana, sementara kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya yang dingin namun berbah

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status