MasukSore mulai merambat menuju malam. Di kediaman Mahatma, suasana rumah tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan hilir mudik menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah keluarga Reinard malam ini. Di ruang keluarga, Mahatma yang telah rapi mengenakan setelan jas hitam klasik sesekali melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. Alisnya berkerut tipis. “Sankara,” suara pria paruh baya itu menggema hingga ke lantai atas. “Berapa lama lagi?” Tak ada jawaban. Beberapa detik berlalu, keadaan tetap hening. Mahatma mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya memutuskan menaiki tangga menuju kamar putra tunggalnya. Tok. Tok. Tok. Tak menunggu jawaban, ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pemandangan di dalam kamar membuat sudut bibirnya langsung terangkat. Sankara berdiri di depan ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya berpindah-pindah dari satu setelan jas ke setelan jas lain yang berjajar rapi di atas kasur. Ada jas hitam, abu-abu, navy,
“Kalian lahir sebelum Daddy dan Mommy menikah.” Narendra membeku di tempat, tatapannya kosong menatap ayahnya. Sementara Regan masih mempertahankan ketenangannya, meski jemarinya perlahan mengepal di bawah meja. Radja menarik napas panjang. “Artinya secara hukum dan agama saat itu, kalian memang lahir sebelum pernikahan Daddy dan Mommy berlangsung.” Ia menundukkan kepala. “Daddy minta maaf. Maaf karena kalian harus menerima kenyataan ini. Maaf karena sejak lahir, Daddy sudah mewariskan beban yang seharusnya tidak pernah kalian tanggung.” Djiwa yang sejak tadi menahan tangis akhirnya tak mampu lagi. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Maafkan Mommy …,” suara wanita itu bergetar hebat. “Mommy juga bersalah. Mommy yang egois. Mommy yang memilih tetap bersama Daddy. Dan karena keputusan Mommy, kalian bertiga harus menanggung akibatnya sampai sekarang.” Tangisnya pecah, kedua tangannya menutupi wajah. “Maaf … maafkan Mommy.” Ratu ikut menangis di kursinya. Melihat ibunya kemba
Ratu terdiam beberapa saat, tatapannya perlahan menunduk. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya setiap kali mengingat hari itu. Namun kali ini, ia tidak ingin lagi lari. Perlahan ia mengangkat wajahnya. “Aku bakal cerita, Mas. Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Bukan sekarang.” Narendra mengernyit tipis. “Kenapa?” “Karena ini bukan cuma tentang aku.” Tatapan Ratu berubah sendu. “Ada Daddy sama Mommy juga di dalam cerita itu. Aku gak berhak menjelaskan semuanya sendirian.” Narendra memandang adiknya lekat-lekat. Sementara Ratu melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, “Nanti kalau Mas Regan udah pulang, kita berkumpul berempat sama Daddy dan Mommy.” “Di situ, Daddy dan Mommy akan ceritain semuanya langsung ke Mas sama Mas Regan.” Ratu tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca. “Tapi aku cuma minta satu hal.” Narendra menunggu. “Tolong … dengerin semuanya sampe selesai. Jangan langsung marah. Jangan langsung menyalahkan Daddy sama Mommy.” Kalimat itu membuat Narend
Mobil yang ditumpangi Narendra akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Reinard. Mesin telah dimatikan, tetapi pria itu tak juga bergegas turun. Ia memilih tetap duduk di balik kemudi, membiarkan keheningan memenuhi kabin mobil. Kedua tangannya menggenggam setir dengan longgar. Tatapannya kosong menembus kaca depan. Bayangan percakapannya bersama Aluna di bandara terus berputar di kepalanya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuh pada jok. Matanya terpejam perlahan. Hubungan yang ia jaga selama ini akhirnya berakhir. Aluna adalah perempuan pertama yang berhasil membuka pintu hatinya. Perempuan pertama yang ia kenalkan kepada keluarganya. Perempuan pertama yang ia bayangkan akan mendampinginya sampai akhir hidup. Narendra bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta. Sekali mencintai, ia ingin bertahan seumur hidup. Ia tak pernah membayangkan kisah pertamanya justru harus berakhir dengan perpisahan. Rasanya pahit. Namun mempertahankan hubungan yang telah kehil
Bandara mulai lengang setelah para penumpang meninggalkan area kedatangan. Narendra melangkah keluar dengan koper yang ditarik di belakangnya. Wajahnya tampak lelah usai penerbangan panjang, tapi sorot matanya masih menyimpan banyak hal yang belum selesai. Baru beberapa langkah berjalan, langkahnya terhenti. Di depan pintu keluar, seorang perempuan telah berdiri menunggunya. Aluna. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut yang tergerai rapi. Namun, raut wajahnya sama sekali tidak selembut biasanya. Tatapannya dingin. Begitu Narendra semakin dekat, Aluna langsung melangkah menghampiri. “Kamu benar-benar mengabaikan aku, Ren?” Narendra mengembuskan napas pelan. “Aluna ….” “Dulu, sesibuk apa pun kamu, kamu tetep bales pesan aku. Kamu selalu angkat telepon aku.” Suaranya mulai bergetar. “Sekarang? Aku kayak orang asing buat kamu.” Narendra mengusap tengkuknya sebentar. “Aku sedang banyak urusan.” “Urusan?” Aluna tertawa hambar. “Dari dulu kamu juga sibuk. Tapi gak
Mobil melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Tak banyak percakapan yang terdengar sejak mereka meninggalkan apartemen Sankara. Radja fokus pada kemudi di tangannya. Sesekali ia melirik kaca spion tengah. Di sana, Ratu duduk di jok belakang sambil memeluk tas di pangkuannya. Wajahnya masih sembab, tetapi jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Djiwa yang duduk di kursi penumpang tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah putri bungsunya. Rasanya ia masih ingin memastikan bahwa Ratu benar-benar telah kembali. Beberapa menit kemudian, Ratu memecah keheningan. “Dad, Mom ….” Kedua orang tuanya spontan menoleh, meski Radja hanya sekilas karena tetap memperhatikan jalan di depan. “Ada apa, Sayang?” tanya Djiwa lembut. Ratu menarik napas pelan. “Aku mau minta satu hal.” “Apa itu?” sahut Radja. Ratu menundukkan pandangannya lebih dulu sebelum akhirnya berkata lirih, “Aku minta ... jangan kasih tahu Mas Regan sama Mas Naren.” Kalimat itu membuat Radja da







