LOGIN"Kalau kamu mau selamat, buka bajunya sekarang!" Malam itu, Selina terpaksa masuk ke dalam dekapan Kaivan demi selamat dari hipotermia. Siapa sangka, tindakan darurat itu justru membuat Selina ketagihan dan terus terbayang tubuh atletis kakak tirinya. Semakin Selina mencoba menjauh, sentuhan dan sikap Kaivan semakin membuat Selina tergoda. Akankah Selina sanggup bertahan menjaga batas sebagai adik tiri, atau justru menyerah dan nekat menjalin hubungan terlarang dengan Kaivan?
View MoreDengan bibir yang masih saling memagut, Kaivan berdiri sambil tetap menahan tubuh Selina agar tidak lepas dari rengkuhannya.Selina hanya menurutinya dengan pasrah, melingkarkan kedua tangannya di leher Kaivan, membiarkan Kaivan membawanya berpindah dari sofa menuju ranjang besar yang ada di tengah kamarnya.Begitu punggung Selina menabrak kasur, Kaivan tidak langsung melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu mengurung tubuh Selina di bawahnya, menopang tubuhnya sendiri dengan sebelah tangan sementara tangan yang menangkup rahang gadis itu.“Mmph… Kai…”Selina mengerang pelan saat ciuman itu terasa lebih dalam dan menuntut.Kaivan memberikan isapan kencang di bibir Selina, sebelum akhirnya dia memberi jarak untuk melihat jelas Selina yang terengah di bawahnya.“Kenapa? Kamu mau aku berhenti?”Selina menggeleng pelan.Jawaban itu membuat Kaivan menarik sudut bibirnya membentuk senyum.“Kamu mau kita sejauh apa?” tanya Kaivan dengan nada rendah yang cukup berbahaya di tengah deru napas
“Pacaran sama kamu?” tanya Selina memastikan pendengarannya.Kaivan tersenyum miring. “Kenapa? Belum apa-apa kamu udah merasa kalau itu opsi yang akan terjadi karena kejujuran kamu?”Selina tidak menjawab.Dia akan bertahan sekuat mungkin, meski sudah tidak yakin.“Pastiin hp kamu merekam semuanya dengan baik,” pinta Selina.Kaivan mengangguk dan berkata singkat, “Sure.”Mereka pindah ke sofa lounge beludru di sudut kamar yang menghadap langsung ke jendela kaca besar.Selina duduk dengan punggung bersandar kaku, sementara Kaivan mengambil tempat di seberangnya, memastikan ponsel yang merekam suara mereka tetap tergeletak tak jauh dari jangkauan.Efek dari red wine itu mulai bekerja, Selina merasa kepalanya semakin berat. Namun, Kaivan kembali menyodoran gelas kedua ke hadapannya.“Minum lagi,” bisik Kaivan dengan nada rendah. “Kalau kamu yakin sama pendirian kamu, minum lagi. Kita harus lihat... seberapa jauh mulut kamu bisa berbohong saat akal sehat kamu benar-benar hilang.”Selina
Kaivan mengintimidasi Selina dengan mengikis jarak.Jantung Selina semakin berdebar kuat seiring dengan ujung hidung mereka yang nyaris bersentuhan.Kaivan sudah memiringkan kepalanya, matanya terkunci menatap bibir Selina yang sedikit terbuka karena terkejut.Namun, tepat sebelum bibir itu benar-benar menempel, sebuah suara derit pintu kecil dan langkah kaki memecah keheningan dapur.Ckrelek.Seorang pelayan wanita paruh baya yang baru saja keluar dari ruang utilitas di sisi dalam dapur terkesiap pelan saat melihat posisi majikannya yang sangat intim.“Eu—euh, maaf, Tuan, Nona. Saya… saya tadi ke sini untuk memastikan apa pemanas air di pantry lantai bawah sudah dimatikan atau belum,” cicit pelayan paruh baya itu dengan suara bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam tanpa berani menatap ke arah meja kitchen island.Selina tersentak. Ia langsung mendorong dada Kaivan kuat-kuat hingga pria itu sedikit melangkah mundur.Sementara itu, Kaivan mendengkus keras. Tanpa menoleh sepenuhnya, K
Selina yang pulang diantar Aldeo sampai di rumah hampir bersamaan dengan Kaivan yang juga baru pulang.Gadis itu menahan menahan napas seketika saat mobil Aldeo berhenti tepat di belakang mobil Kaivan.“Al, kamu langsung pulang aja, jangan turun,” kata Selina yang was-was Aldeo akan diinterogasi atau sekedar ditatap dengan sinis.“Tenang aja,” kata Aldeo sambil keluar dari mobil dan berjalan memutari bodi kendaraan untuk membukakan pintu untuk Selina.Selina menggigit bibirnya. Sama sekali tidak bisa tenang.Detak jantungnya yang semula stabil kini menggila saat melihat pintu pengemudi mobil di depan mereka terbuka dan Kaivan turun dari mobilnya.Pria itu berdiri di samping mobilnya dan menutup pintu dengan cukup keras. Sorot matanya langsung terkunci ke arah Selina yang baru keluar dari mobil Aldeo.“Makasih Al, udah anter aku pulang,” kata Selina dengan kaku berharap Aldeo cepat pergi sebelum ketegangan ini meledak jadi sesuatu yang di luar kendali.“Sama-sama,” balas Aldeo hangat.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore