Mag-log in"Kalau kamu mau selamat, buka bajunya sekarang!" Malam itu, Selina terpaksa masuk ke dalam dekapan Kaivan demi selamat dari hipotermia. Siapa sangka, tindakan darurat itu justru membuat Selina ketagihan dan terus terbayang tubuh atletis kakak tirinya. Semakin Selina mencoba menjauh, sentuhan dan sikap Kaivan semakin membuat Selina tergoda. Akankah Selina sanggup bertahan menjaga batas sebagai adik tiri, atau justru menyerah dan nekat menjalin hubungan terlarang dengan Kaivan?
view more“Selina, ibu harap kamu akan bersikap baik pada keluarga barumu nanti.”
Selina hanya memutar bola matanya malas saat sedan yang mereka tumpangi baru saja berhenti di depan sebuah mansion modern bergaya kontemporer. Ia akan tinggal di tempat itu bersama suami baru ibunya.
Sebenarnya Selina menentang pernikahan sang ibu dengan Tuan Adrian Valerius, sosok Taipan terkenal di kota Megakarta yang kini menjadi ayah tirinya. Karena itu artinya ia harus ikut meninggalkan pulau tropis yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.
Selina mendengus dan menatap ibunya dengan malas.
“Apa sekarang aku bersikap buruk?”
“Maksudnya manis, tolong nanti bersikap manis, terutama ke kakak laki-lakimu.”
Lagi-lagi, kakak laki-laki itu disebut. Selama ini ia hidup sebagai anak tunggal, dan sekarang ia harus menerima kehadiran seorang kakak…?
Selina berdecak, keluar dari mobil dan membanting pintunya.
Monica buru-buru keluar, hendak menegur Selina tapi suara langkah kaki tegas yang mendekat dari ambang pintu utama mengurungkan niatnya.
Pintu berukuran besar itu terbuka lebar, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan dan jam tangan mewah melangkah keluar menyambut mereka. Senyum ramah terukir di wajah tampan pria itu.
“Monica, selamat datang di rumah,” sambut Adrian hangat, lalu mengalihkan pandangannya pada Selina. “Dan… Selina. Senang akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi, Nak.”
Monica langsung memasang senyum terbaiknya, lalu menyenggol pelan lengan Selina.
“Selina, salam sama Ayah,” ucapnya dengan nada cerah yang di telinga Selina tetap terdengar penuh penekanan. Selina pun menurutinya.
Karena Selina tidak mau berlama-lama memaksakan akting manisnya, jadi Selina mencari alasan untuk segera pergi dari hadapan keduanya.
“Kamar saya di mana, Pak–maksudnya, Ayah? Saya mau bawa barang-barang saya ke kamar.”
Ayah tirinya malah tertawa, begitu juga dengan Ibunya.
“Selina, kalau kamu terlalu mandiri, beberapa orang akan kehilangan pekerjaan.”
Selina mengernyit, di saat yang sama beberapa pelayan melewatinya sambil menunduk dan membawa koper miliknya.
“Biarkan mereka yang urus barang-barang kamu, dan kamu bisa jalan-jalan atau apa pun. Oh ya, Kakakmu ada di rumah, kamu bisa kenalan sama dia.”
Selina mencengkeram roknya kuat-kuat, menahan agar tidak mendengkus lagi saat mendengar kakak tirinya disebut.
Setelah ibunya dan Adrian masuk ke rumah, Selina ditinggalkan sendirian di teras luas berlantai marmer yang mengilap.
Dengan helaan napas panjang, ia akhirnya memilih menuruti perintah ayah tirinya untuk jalan-jalan di sekitar sana.
“Cuma ada rumput, gak ada pasir pantai di sini,” ledek Selina pada dirinya sendiri sambil menendang kerikil kecil di tepi jalur setapak taman.
Setengah malas, Selina menyusuri halaman samping mansion yang dipenuhi tanaman hias mahal yang ditata sedemikian rupa tapi tidak berhasil membuat Selina merasa takjub.
Sebagai gadis yang tumbuh di kepulauan tropis, Selina lebih familiar dengan deburan ombak dan angin laut yang menyejukkan. Keheningan kaku yang mencekik, berpadu dengan udara kota yang panas dan berdebu membuat Selina merasa terasing.
Karena Selina bosan berjalan-jalan dan tidak menyukai panasnya kota yang terasa pengap. Akhirnya, gadis itu memutuskan untuk masuk kembali lewat pintu samping yang terhubung langsung dengan bagian dalam bangunan.
Selina menghentikan langkahnya saat tidak sengaja lewat ke area dapur.
Ia menatap ragu ke kulkas yang ada di sana dan menimbang.
“Apa gak apa-apa kalau aku ambil minuman dingin dari sana?”
Lalu, akhirnya dia bergerak mendekat.
“Ah, bodo amat. Aku ‘kan tinggal di sini juga sekarang. Masa gak boleh minum?”
Selina mengambil sebuah gelas kaca dari rak penyimpanan di dekatnya, lalu membuka pintu kulkas besar dua pintu itu. Matanya langsung melebar saat melihat sebotol jus jeruk yang terlihat segar.
Tanpa berpikir panjang, ia menuangkan cairan dingin tersebut ke dalam gelasnya hingga hampir penuh, lalu menutup pintu kulkas dengan sikunya.
Selina berniat membawa minuman dinginnya untuk dinikmati di kamar barunya, namun tiba-tiba tubuhnya malah menabrak sesuatu yang keras hingga gelas di tangannya terlepas dari genggamannya.
Gelas berisi es jeruk itu membentur lantai hingga pecahannya berpencar ke mana-mana.
“Ya ampun!”
Selina terpekik, tubuhnya yang terpental hampir jatuh kalau saja tidak ada tangan kokoh yang sigap mencengkeram pergelangan tangannya.
Napas Selina memburu. Dan saat ia mendongak, sosok yang ditabraknya itu berada sangat dekat. Seketika ia merasa darahnya berdesir di sekujur tubuhnya saat menyadari bahwa pemuda itu… hanya bertelanjang dada?!
Selina meneguk liurnya, lalu menyeret pandangannya ke wajah pemuda itu. Seketika wajahnya terasa sangat panas.
Tampan sekali… Ia yakin tak pernah bertemu pemuda setampan ini di asal tempatnya dulu. Dan begitu menyadari paras pemuda ini sangat mirip dengan Tuan Adrian, Selina langsung tahu bahwa ini adalah kakak tirinya.
Matanya yang bergetar bertemu dengan sepasang tatapan tajam kakak tirinya. Dan sebelum Selina sempat membuka mulutnya, pemuda itu sudah terlebih dulu bersuara.
“Anak desa ini, baru sampai kota sudah buat masalah, ya?”
Pagi hari Selina terbangun dengan kepala yang pening. Sambil mengurut pelipisnya yang berdenyut kencang, Selina mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mendapati dirinya di kamar asing yang luas dan dingin. Lalu…, jantungnya seketika mencelos saat matanya menangkap Kaivan ada di sofa seberang. Pria itu memejamkan matanya dalam posisi duduk, masih mengenakan kemeja putih yang dia pakai semalam. Selina beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekat. “Kamu ngapain aku semalem?!” sentaknya sambil menendang Kaivan pelan. “Ini di mana? Kenapa aku dibawa ke sini?!” Kelopak mata Kaivan terbuka perlahan. Dia mendongak ke arah Selina, berdecak dan memejamkan matanya lagi. “Bisa diem?” bisik Kaivan rendah. “Gak bisa. Hei! Jangan tidur lagi, kenapa kita di sini? Kamu ngapain semalem?” Selina terus menendang-nendang kaki Kaivan sampai akhirnya Kaivan jengah. Pria itu membuka matanya, berdiri, dan menahan kedua bahu Selina. “Lihat baik-baik,” pinta Kaivan sambil menyorot Selina taj
Nempel-nempel ke temannya Kaivan? Selina menolak dengan langsung keluar dari mobil itu lalu membanting pintunya keras. Tanpa menghiraukan Gathan yang memanggil-manggil namanya, Selina berlari masuk.Dentuman musik serta lampu neon berwarna biru dan ungu yang terus berkedip langsung menyambutnya. Melihat Kaivan pergi ke tempat seperti ini, Selina semakin yakin kalau dia akan menemukan sisi bobrok Kaivan di sini. Selina berjalan cepat, menembus kerumunan orang, menyelip di antara orang-orang yang meloncat di lantai dansa. Saat Selina sedang fokus mencari Kaivan yang pasti ada di antara orang-orang gila ini, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawa Selina ke pinggir kerumunan. “Cari siapa?” “Kaivan,” jawab Selina refleks. Gadis itu meringis diam-diam setelahnya. Sementara, laki-laki bertubuh tinggi di depannya itu tersenyum. Penampilannya berbeda dengan Gathan. Laki-laki ini justru lebih rapi dengan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung di sikunya.Senyum tipis te
Dalam perjalanan pulang, di mobil yang sedang melaju, Selina mengungkapkan kekesalannya. “Bisa gak usah kurang ajar?!” teriak Selina pada Kaivan yang sedang menyetir di sebelahnya. Kaivan mendengus geli, melirik Selina dari samping lalu sudut bibirnya terangkat. “Kurang ajar apa? Karena bilang adik manis?” “Bukan itu!” Selina menatapnya tajam. Tapi, Kaivan hanya menoleh sekilas dan mengejeknya dengan tawa hambar. “Tadi di bawah meja, apa maksudnya?!” Kaivan mengernyit, entah bingung atau hanya pura-pura bodoh. “Aku bantu kamu ambil garpu yang jatuh, apanya yang kurang ajar?” Selina muak dengan akting polos kakak tirinya ini. “Kamu sengaja ‘kan pake garpu itu untuk ngelus kaki aku?!” sentak Selina dengan napas memburu. Kaivan tidak langsung menjawab, tetapi jemarinya mengetuk-ketuk kemudi sambil tersenyum miring. “Enggak.” “Enggak, apanya? Kamu sengaja! Dasar cowok mesum!” teriak Selina. Kaivan tetap tenang, tapi senyum miring yang menyebalkannya masih ada. “Waktu kecil I
Acara makan malam itu berlangsung dengan tenang, meski terasa sedikit canggung bagi Selina. Padahal itu adalah pertama kalinya ia pergi ke restoran mewah berbintang lima.Namun Selina tak tertarik, memilih sibuk dengan makanannya sambil sesekali mengangguk dan memaksakan senyum saat ayah tirinya mencoba mencairkan suasana di antara dirinya dan Kaivan.Tentu saja Selina enggan bersikap akrab dengan pemuda itu, mengingat apa yang terjadi di pertemuan pertama mereka. Selina lagi-lagi merasa kesal saat mengingat sikap pemuda itu padanya.Saat Selina sedang sibuk merutuki Kaivan di benaknya, ia tak sengaja menjatuhkan garpu. Suara dentingan itu cukup nyaring hingga beberapa tatapan mata mengarah padanya.“Maaf…” gumamnya pelan, wajahnya memerah karena lagi-lagi ceroboh. Ia seketika kembali mengingat ucapan Kaivan saat memperingatinya untuk tidak berulah lagi.Selina yakin saat ini Kaivan pasti sedang merutukinya di dalam hati.Namun saat Selina belum sempat bergerak, Kaivan sudah lebih dul






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu