LOGINPernyataan cinta dari seorang pemuda bernama Dareen Kenan menjadi jalan keluar untuk Rania, dimana wanita berumur 32 tahun itu nekat menerima cinta pria berumur 24 tahun. Bukan karena cinta, melainkan untuk mengulur waktu dan agar sang mama peka bahwa dirinya memang belum siap untuk menikah. Lagipula, menurut Rania, siapa saja tidak akan ada yang menganggap hubungan dengan seorang berondong sebagai hubungan yang serius, apalagi dibawa ke pelaminan. Sayangnya, Rania salah besar. Keputusan yang ia anggap jalan keluar justru membawanya ke kehidupan babak baru yang tak bisa lagi ia kendalikan.
View More"Ya ampun Rania ... lama tidak berjumpa kerjaanmu masih begini saja?!"
Rania yang sedang mengelap meja seketika membeku. Suara itu ... suara yang tak lagi asing baginya. Ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang sebelum menoleh. Restoran miliknya hari itu sedang ramai, tetapi ia malah menghadapi dua sosok manusia yang sudah ia hindari selama tujuh tahun. Mereka adalah sosok yang membuat Rania tak ingin lagi mengenal cinta. Mia dan Ardi. Mia adalah sahabat yang berhasil merebut Ardi darinya. Mengapa mereka datang lagi? Tanya itu menyeruak dalam benak Rania. Hati Rania bergetar saat tak sengaja bertatap mata dengan Ardi. Getaran sakit yang kembali menyeruak di dalam dada. Dulu, Ardi sudah berjanji akan menikahinya, tetapi malah menikahi Mia. Ya, mereka berselingkuh sampai Mia dinyatakan hamil. Rania segera berpaling, kembali menatap Mia sambil tersenyum miring. "Memangnya kenapa?Masalah buat Anda, Nyonya?" Mia terkekeh-kekeh mengejek. "Jelas saja tidak! Aku hanya kasihan padamu." Rania mengembuskan napas kasar sambil bersilang dada. "Aku tidak butuh belas kasihanmu! Lagipula hidupku sangat bahagia." Lagi, Rania tersenyum miring. "Oh, ya? Bahagia? Lalu, mana suamimu?" Mia celingukkan mencari. Rania memilih melanjutkan pekerjaannya. "Bahagia tidak diukur dengan adanya suami atau tidak." "Cih! Jangan naif, Rania," sambar Mia cepat, "bilang saja kamu iri kepadaku. Apa jangan, jangan ... kamu masih jomblo? Kasian deh jadi perawan tua, hahaha ...." Rania meremas kuat kain lap yang dipegang. Ingin rasanya ia lempar ke wajah Mia saat itu juga. Rania menghampiri mereka. "Aku sama sekali tidak iri padamu. Aku tidak iri menikah dengan laki-laki bajingan seperti suamimu." Rania menatap Ardi sinis. Rania melihat rahang Ardi mengeras. Ia tahu betul jika pria itu sedang marah. "Kau--" Mia merasa kesal sampai-sampai tangannya mengepal dan hendak menampar Rania. Namun, seseorang dengan cepat menangkis tangan Mia. Rania menoleh, mendapati sosok jangkung dengan seragam karyawan restorannya mencengkeram tangan Mia erat hingga wanita itu meringis ringan. Rania langsung melotot dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan itu. "Kenan, lepasin!" bisik Rania pelan. Pemuda berparas tampan bernama lengkap Dareen Kenan itu baru bekerja selama tiga bulan. Peringainya yang tenang membuat Rania tidak menyangka jika Dareen akan bersikap demikian. Dareen menoleh. "Maaf Mbak, saya hanya ingin melindungi bos saya." Mia tersenyum mengejek. "Wah, siapa, nih? Pahlawan kesiangan rupanya." "Saya pacarnya Mbak Rania!" Mia tertawa terbahak-bahak, sedangkan Ardi menatap tak percaya. "Astaga, Rania ... apa tidak ada pria lain, hem? Sampai-sampai bocah ingusan saja kamu jadikan pacar," ujar Ardi, sambil mengamati pria yang ia sebut bocah itu. "Jadi, seleramu sekarang ini berondong? Pelayan pula," timpal Mia, lalu tertawa lagi. "Lebih baik kalian pergi dari sini!" usir Rania dingin dengan penuh penekanan. Mia membersihkan tangannya yang tadi ditepis dengan tisu sambil berkata, "Ya, ya, ya ... kami memang akan pergi dari sini. Aku ke sini hanya ingin tau bagaimana nasibmu sekarang. Eh, ternyata ... hahaha ...." Mia dan Ardi melenggang pergi dengan tawa yang masih renyah terdengar dari mulut Mia. Rania tersenyum samar, lalu terdiam. "Mbak, baik-baik saja, kan?" Rania terhenyak. "Tentu!" "Lanjut kerja!" sambungnya. Rania kembali membersihkan meja, diikuti Dareen yang menyusun buku menu. Kehadiran Mia dan Ardi membuat mood Rania benar-benar anjlok. Bahkan ia mengelap meja sekuat tenaga seakan-akan melampiaskan kekesalan. Dareen yang sedari tadi memerhatikan hanya bisa menggeleng pelan. "Mbak ...," Dareen memanggil Rania sedikit ragu. "Tolong nanti kamu cek air di depan nyala apa belum!" titah Rania cepat, tanpa memedulikan. "Iya, Mbak," Dareen mengangguk. Lagi, Dareen memanggil. "Mbak ...," "Dan itu tolong tata dengan rapi," potong Rania, sambil menunjuk beberapa pot bunga. "Mbak, tunggu!" cegah Dareen saat Rania hendak pergi, "soal tadi ...,"Rania menoleh, tak membiarkan pemuda itu mengatakan sesuatu. Ia justru melotot ke arah Dareen.
"Oh iya, Ken, jangan ngaku-ngaku jadi pacar!"Sesampainya di penthouse, Rania tidak langsung beristirahat. Begitu barang-barang yang dibeli tadi sampai, perempuan itu justru membawa semuanya ke balkon. Beberapa barang seperti meja kecil dan kursi lantai sedang dalam perjalanan. Wanita itu sibuk sendiri tanpa meminta bantuan Kenan.Karpet rumput sintetis dibentangkan memenuhi sebagian lantai, menyisakan ruang di dekat pagar agar pemandangan kota tetap terlihat jelas. Warna hijaunya membuat balkon yang semula didominasi lantai dingin dan dinding berwarna netral terasa jauh lebih hidup. Kursi gantung kemudian ditempatkan di beberapa sudut. Sebuah bantal lembut diletakkan di dalamnya, lengkap dengan selimut tipis yang sengaja ia ambil dari ruang keluarga. Setelah selesai, ia mulai menata pot bunga. Dua pot mawar diletakkan berdekatan. Pot lavender diletakkan lebih jauh diikuti beberapa tanaman berbunga kecil yang memberikan semburat warna di antara dedaunan hijau. Rania bahkan menambahkan beberapa pot kecil di sepanjang sudut ba
Setelah berkutat dengan restoran, akhirnya Rania benar-benar bisa menikmati waktu santai bersama Kenan. Hari itu hari minggu. Rania bersama Kenan mengawali hari dengan jalan pagi bersama di kawasan Gelora Bung Karno. Rania berjalan di samping Kenan dengan langkah santai. Rania mengenakan kaus putih polos berbahan lembut yang dimasukkan sebagian ke dalam celana jogger berwarna hitam. Rambut panjangnya diikat rendah dan sneakers warna putih menjadi pelengkap penampilannya. Tidak ada riasan berlebihan. Wajah segar dan penampilan sederhana membuatnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya. Sementara Kenan, ia mengenakan kaus hitam polos dengan celana jogger berwana putih dimana sneakers hitam membungkus kakinya. Rambutnya ditata sederhana bahkan dibuat sedikit berantakan, dengan sebuah jam tangan sebagai pelengkap penampilannya. Rania menarik napas panjang. Udara pagi bercampur aroma pepohonan menguar menusuk hidung. "Nyaman juga," katanya pelan. "Sering jalan pagi di sini?"Rania
Hari berganti. Rania merasa lega karena ternyata Kenan menolak Putri sebagai calon sekretarisnya. Kenan berdalih jika dirinya sudah ada kandidat, yakni Rania. Walaupun Rania belum memberikan jawaban pasti untuk jadi sekretaris. Pagi itu, Rania dan Kenan sudah tiba direstoran. Hari itu adalah hari dimana Rania akan memulai merombak sistem restorannya. Rania duduk di sisi meja dengan beberapa berkas terbuka di hadapannya. Wajahnya tampak serius. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat restoran sebagai tempat yang selama ini ia bangun dan rawat, tetapi sebagai sebuah sistem yang ternyata memiliki begitu banyak celah.Di seberangnya, Kenan membaca laporan pembelian lama dengan teliti. Luky berada di samping laptop, membuka data persediaan yang tersimpan dalam sistem.Hari itu mereka sepakat tidak mengambil keputusan apa pun sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh.Mereka memulainya dari internal audit.Selama berjam-jam, seluruh dokumen pembelian diperiksa. Invoice dibandingkan
Mereka sudah sampai di penthouse. Hal yang pertama kali Rania lakukan adalah membersihkan diri dan berganti pakaian. Pun dengan Kenan.Rania mengenakan kaus berbahan katun lembut berwarna putih gading dengan potongan longgar, dipadukan dengan celana panjang rumahan berbahan ringan berwarna abu-abu muda. Rambutnya yang tadi tergerai kini hanya diikat rendah dan longgar di belakang kepala, menyisakan beberapa helai rambut di sekitar wajahnya. Tidak ada riasan di wajahnya. Wajah bersih dan alami membuatnya terlihat jauh lebih sederhana. Kakinya dibungkus kaus kaki tipis dan sandal rumahan berbahan empuk. Tangannya terangkat memegang handuk dingin yang ia kompreskan pada matanya. Kenan datang. Ia mengenakan kaus hitam polos dengan potongan pas di tubuh, dipadukan dengan celana jogger hitam berbahan lembut. Rambutnya sedikit berantakan dan justru terlihat santai. Pria itu bertelanjang kaki. "Di sini rupanya."Rania menoleh. "He'em. Nyaman juga di sini."Kenan duduk di sampingnya."Sini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.