LOGINPernyataan cinta dari seorang pemuda bernama Dareen Kenan menjadi jalan keluar untuk Rania, dimana wanita berumur 32 tahun itu nekat menerima cinta pria berumur 24 tahun. Bukan karena cinta, melainkan untuk mengulur waktu dan agar sang mama peka bahwa dirinya memang belum siap untuk menikah. Lagipula, menurut Rania, siapa saja tidak akan ada yang menganggap hubungan dengan seorang berondong sebagai hubungan yang serius, apalagi dibawa ke pelaminan. Sayangnya, Rania salah besar. Keputusan yang ia anggap jalan keluar justru membawanya ke kehidupan babak baru yang tak bisa lagi ia kendalikan.
View MoreSaat Rania hendak duduk, seseorang menarik lengannya. Tanpa kata, orang itu langsung duduk dan melahap menu yang tersedia. "Kurang ajar! Siapa yang menyuruhmu makan?!" Ardi melotot. Kenan. Pemuda itu tersenyum sinis sambil tetap melahap. "Ken!" Rania menepuk pelan pundak Kenan. Saat Kenan menoleh, Rania memberi isyarat agar Kenan pergi. Akan tetapi, Kenan tak memedulikannya. "Aku meminta Rania yang menemaniku makan! Bukan kamu!" tegas Ardi.Kesal karena merasa tidak dihargai, Ardi berdiri. "Mohon perhatiannya!" serunya.Suara Ardi yang cukup melengking tentu saja berhasil mencuri perhatian semua pengunjung. Suasana yang tadinya ramai menjadi sunyi dan semua mata tertuju kepada mereka. "Kita sebagai pelanggan restoran ini, tentu saja ingin mendapatkan pelayanan yang bagus, bukan?""Ya, tentu saja!" kata salah seorang pengunjung. "Lihatlah, masa aku minta ditemani makan oleh pacar sekaligus pemilik restoran ini tidak bisa?!"Rania tersentak kaget sambil mengepalkan tangan. Kenan
Rania diam terpaku dengan perhatian Kenan. Bagaimana tidak? Pria itu memintanya turun hanya untuk mengikat rambutnya saja. Entah, sedari tadi sesungguhnya hati menolak semua perlakuan manis darinya. Akan tetapi, entah mengapa bibirnya terasa kelu sekadar untuk berkata 'jangan'. Motor sport Kenan sudah terparkir di area restoran. Rania turun, lalu membuka helm, bergegas masuk kemudian. Tiba di ruangannya, Rania disambut oleh Reza. "Pagi, Mbak," sindir Reza. Rania tersenyum malu. "Maaf, terlambat. Ada keperluan.""Terus karyawan barumu mana?""Ekhem!"Kenan datang sambil berdeham memberi isyarat kepada Reza bahwa dirinya datang. Reza menatap Rania curiga. "Keperluan sama karyawan barumu?"Rania terlihat bingung. "Ah, itu ...,"Apa pun dan dengan siapapun, bukan urusan Anda," sambar Kenan. Reza tersenyum miring. "Rania dan aku sudah dekat bahkan akrab, jadi sudah menjadi urusanku untuk tau kemanapun dia pergi."Kenan tersenyum sarkas. "Oh, ya? Kalo begitu tanya saja Rania, dia suka
Eh, Bu-Bunda .... A-ada apa, Bun?" Rania tergagap-gagap."Kamu ini kenapa, Ran? Kok, kaya tegang gitu." Husna menelisik. Rania mencoba tersenyum. "Itu, anu, Bun ... tadi aku telepon pacarku. Aku takut Bunda dengar. Kan, malu.""Bunda enggak dengar emangnya?" lanjut Rania hati-hati. Husna menggeleng. "Enggak. Justru Bunda susul kamu ke depan mau tanya, apa kamu gak bawa mobil? Karena Bunda tadi gak lihat kamu pegang kunci mobil."Rania pun menjelaskan tentang mobilnya itu. Husna pun menganggapinya dengan senyum dan tak sabar ingin bertemu dengan Reza lagi. "Tapi, sepertinya gak hari ini, Bun. Soalnya kasian, rumahnya jauh.""Tidak apa-apa. Kamu kabarain Bunda saja nanti. Biar Bunda siapin masakan yang enak."Rania mengangguk. "Iya, Bun."Husna kembali ke dalam untuk membujuk Vino yang sedang merajuk. Rania mengembuskan napas lega sambil mengusap dada. 'Untung Bunda gak denger. Kalo sampe denger, mati'lah aku,' batinnya. Rania segera menghubungi Reza agar langsung datang ke restora
Tepat jam sembilan malam, Restoran tutup. Rasa lelah yang meraja membuat Rania terduduk pasrah bersandar di kursi pelanggan. Matanya menyisir ke setiap sudut restoran. Ia tidak menyangka, Restoran peninggalan ayahnya yang sudah ada sejak lebih dari tiga puluh tahun masih berdiri kokoh. Semula, ada rasa khawatir dalam diri Rania jika restorannya ditinggal pelanggan, karena Restoran yang berada di kawasan Menteng Jakarta Pusat itu sempat tutup beberapa tahun. Nyatanya, restorannya kembali ramai. Ada pelanggan lama, banyak pula pelanggan baru."Mau menginap di sini?" tanya Dareen yang berhasil mengagetkan Rania. "Eh, Ken, kenapa belum pulang?""Baru selesai input data. Dan untuk surat mutasi, saya sudah simpan di atas meja, ya, Mbak.""Iya, Ken." Rania berdiri, "dan untuk besok, tolong pastikan lagi sama supplier barang yang tadi belum sempat kirim."Dareen mengangguk. "Iya.""Kalo misalnya tidak bisa kirim, terpaksa besok pagi saya ke supermarket dulu. Sana duluan pulang, sana nunggu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.