Share

BAB 14

Author: Langit Parama
last update publish date: 2025-12-03 00:09:24

Pagi itu, meja makan di mansion keluarga Reinard masih sama seperti semalam. Ketidakhadiran Djiwa kembali menarik perhatian Sekar.

“Djiwa tidak pulang semalam?” Sekar menatap putra bungsunya, menuntut jawaban.

Kaisar menelan ludahnya berat. “Belum, Mi. Katanya, masih banyak kerjaan yang belum selesai. Dan Djiwa izin buat gak pulang, dia mau nginep di kantor.”

“Dan kamu izinkan?” tatapan Sekar berubah dingin.

Kaisar mengangguk. “Gak baik pulang malem-malem sendirian, meskipun naik taksi. Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Deska Yoga
repot byk iklan ny...
goodnovel comment avatar
Siti Aisah
iah sama kenapa yah ko susah buka kunci nyah
goodnovel comment avatar
Siti Aisah
pasti lebih seru cerita nyah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 507

    Djiwa menatap tas tenteng di sampingnya, berisi pakaian ganti untuk ketiga anaknya yang semula ia siapkan untuk di rumah sakit. Rencana itu kini terasa sia-sia, buyar begitu saja sejak Radja memutuskan pulang dan bahkan langsung kembali bekerja. Kini ia duduk diam di dalam mobil, terparkir di halaman Sekolah Dasar Lumina, menunggu anak-anaknya pulang dengan perasaan yang tak menentu. Tak lama, tiga sosok kecil yang selalu menjadi penguatnya muncul dari gerbang sekolah. Regan, Naren, dan Ratu berjalan berdampingan bersama Binar, tangan mereka saling bertaut. “Itu Mommy udah jemput!” seru Ratu riang, langsung melepaskan genggaman tangannya dari Binar. “Kak, Ratu duluan, ya!” “Iya,” balas Binar sambil tersenyum. Ketiga anak itu berlari kecil menuju mobil dan segera masuk ke dalam. “Kita langsung ke rumah sakit, kan, Mom?” tanya Ratu begitu duduk di samping Djiwa. Wajahnya penuh harap. “Gimana keadaan Daddy sekarang?” Djiwa tersenyum tipis, meski ada yang terasa pahit di dadanya.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 506

    Ucapan itu menghantam Djiwa tanpa ampun. Ia terdiam. Benar-benar terdiam. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin membalas, namun tak satu kata pun mampu keluar. Tatapannya terpaku pada Radja. Seseorang yang biasanya selalu bisa ia ajak bicara, kini terasa begitu jauh. Tak ada kelembutan seperti biasa. Hanya sikap dingin yang terasa asing. Radja tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Djiwa sekilas, lalu berbalik. Langkahnya tegas. Seakan tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Arga yang sejak tadi berdiri kaku, segera mengikuti di belakangnya tanpa berani menoleh. Pintu terbuka lalu tertutup kembali. Meninggalkan Djiwa sendirian. Begitu sunyi hingga suara detak jantungnya sendiri terasa menyakitkan. Djiwa masih berdiri di tempatnya. Tak bergerak. Namun perlahan dadanya mulai terasa sesak. Napasnya memburu. Kata-kata Radja kembali terngiang. ‘Ini tubuh saya … dan ini keputusan saya.’ Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Salah … ya, aku?” bisiknya lirih. Tangannya terangkat, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 505

    “Kalian mulai hari ini masuk sekolah lagi, ya,” ucap Djiwa lembut pada ketiga anaknya. “Udah hampir satu minggu kalian libur. Jadi setelah sarapan, langsung siap-siap. Mommy yang anter.” Ketiganya saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. “Oke, Mom.” “Tapi nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit lagi, ya, Mom. Mau ketemu Daddy,” sahut Ratu sebelum bangkit dari kursinya. Djiwa tersenyum kecil. “Iya, sayang.” “Langsung dari sekolah aja, ya. Nggak usah pulang dulu,” tambah Ratu antusias. “Bawa baju ganti dari sekarang biar praktis.” “Iya, Nak,” jawab Djiwa sabar. Naren ikut menimpali, “Terus Mommy, habis anter kita langsung ke rumah sakit, ya. Temenin Daddy. Kasihan Daddy sendirian.” Djiwa mengangguk pelan, hatinya menghangat sekaligus sesak. “Iya, sayang.” “Kalau gitu, yang sudah selesai makan langsung siap-siap, ya.” “Oke!” _____ Setelah mengantar ketiga anaknya ke sekolah, Djiwa langsung meminta Aslan membawa mobil ke rumah sakit. Namun alih-alih saat tiba di sana langsu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 504

    “Gimana keadaan Mas sekarang?” tanya Kaisar hati-hati, menatap kakak tertuanya. Radja yang setengah bersandar di brankar, dengan Ratu yang masih meringkuk di dadanya, hanya menghela napas panjang. “Sudah ... lebih baik,” jawabnya pelan, meski jelas masih menahan lemah. “Syukurlah,” ujar Sekar, melangkah mendekat dan menggenggam tangan putranya erat. “Kamu kecelakaan itu setelah pulang dari rumah Mami, atau sempat ke tempat lain dulu?” Radja menggeleng singkat. Tatapannya kosong sejenak, seperti mencoba mengingat sesuatu yang masih kabur. “Mas tahu, kan … kecelakaan itu karena rem mobil Mas blong?” lanjut Kaisar, suaranya lebih pelan, berhati-hati. Ruangan mendadak sunyi. Radja terdiam. Alisnya sedikit berkerut. Ia mencoba menelusuri ingatannya—jalanan malam itu, lampu-lampu kendaraan. “Aku sama Mas Sultan curiga ada yang nyabotase mobil Mas,” sambung Kaisar lagi. Belum sempat kalimat itu benar-benar selesai, tiba-tiba ekspresi Radja berubah. Napasnya tercekat. Tangannya reflek

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 503

    Sudah lebih dari satu jam Djiwa duduk menunggu. Namun pintu itu masih tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda akan terbuka. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Pukul enam sore. Langit di luar sana pasti sudah menggelap, menyisakan sisa-sisa cahaya yang perlahan ditelan malam. “Sebentar lagi makan malam,” gumamnya pelan, tatapannya kembali jatuh pada pintu di hadapannya. Hening. Lalu sebuah pikiran kembali menyelinap, menikam tanpa aba-aba. ‘Apa mungkin … Mas Radja bener-bener gak mau ketemu aku?’ Djiwa menelan ludahnya susah payah. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang terasa pahit. Belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara langkah kaki dari lorong membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat. Sekar datang. Diikuti Kaisar dan Karin di belakangnya. Djiwa segera berdiri. “Karin ….” sapanya lirih. Karin membalas dengan senyum kecil, lalu menghampiri. “Kamu udah lebih baik, Wa?” tanyanya lembut. Djiwa mengangguk pelan. “Udah, Rin.” “Anak-anak kamu di m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 502

    “Mas Radja sudah sadar, Kai. Tapi sebaiknya kamu dan Mami kalau mau datang nanti malam saja. Biar Djiwa dan anak-anaknya yang menemui dulu,” ucap Sultan melalui sambungan telepon. Ia baru saja mendapat kabar dari Djiwa—Radja telah siuman, meski masih dalam pemeriksaan dokter. Di sisi lain, Djiwa dan ketiga anaknya duduk di depan ruang rawat inap. Menunggu. Cemas. Harap dan takut bercampur jadi satu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Djiwa langsung berdiri, diikuti ketiga anaknya. “Bagaimana kondisi suami saya, Dok?” tanyanya, suaranya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Dokter itu tampak terburu-buru. “Tuan Radja ingin bertemu dengan ketiga anaknya,” ucapnya singkat. Djiwa tertegun. “Sama anak-anak?” ulangnya, memastikan. Dokter itu mengangguk cepat. “Iya. Untuk saat ini beliau hanya ingin bertemu dengan ketiga anaknya.” Jantung Djiwa seakan berhenti sesaat. Tangannya bergetar. Matanya langsung berkaca. Ia menoleh pada ketiga anaknya. “Kalian masuk dulu, ya,” ucapnya pelan, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 99

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Djiwa tak lepas dari sikap Radja terhadap Anggita. Ia bisa memahami alasan Radja menjaga jarak dari Inggrit, karena sikap wanita itu memang kerap tak pantas dijadikan teladan. Namun Anggita? Anak kecil itu sama sekali tak bersalah. Tak ada satu pun ala

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 84

    “Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status