เข้าสู่ระบบKehidupan kedua Shen Zhaoning dimulai di tubuh seorang mahasiswi miskin. Setelah mati diracun oleh para pengkhianat, Permaisuri Agung itu terbangun sebagai Vanya Adhiran, gadis yang terjerat utang, dipaksa bekerja di klub elit, dan terikat pernikahan rahasia dengan dosen pembimbingnya sendiri. Kini, Zhaoning harus beradaptasi dengan dunia modern sambil membalas dendam kepada mereka yang menghancurkan hidup Vanya. Namun, semakin dekat dengan suaminya, semakin sulit baginya membedakan mana yang sekadar sandiwara dan mana yang benar-benar cinta.
ดูเพิ่มเติม"Yang Mulia! Jangan diminum!"
Pelayan berhanfu hijau pucat menerjang kerumunan bangsawan. Dengan satu tangan mengangkat keliman roknya, ia mengulurkan lengan satunya sejauh mungkin. Jemarinya nyaris menyentuh cangkir perak yang telah menempel di bibir Shen Zhaoning—Permaisuri Agung. Terlambat. Tenggorokan Zhaoning bergerak pelan menelan seteguk cairan kecokelatan itu. Prang! Cangkir perak terlepas dari genggamannya dan menghantam lantai marmer. "Yang Mulia!" "Tabib! Cepat panggil tabib!" "Racun... teh itu beracun!" Gemuruh panik bersahutan dari penjuru aula. Perlahan suara itu semakin menjauh, memudar menjadi dengung samar, sebelum akhirnya lenyap. Kelap-kelip cahaya asing menyambutnya, diikuti sensasi panas yang menjalar di pahanya membuat seluruh tubuhnya menegang. "Hey! Bangun gadis kecil!" Pipi Zhaoning ditepuk-tepuk beberapa kali, hingga seberkas cahaya menyelinap masuk, menusuk retinanya, memaksanya menyipit. Lampu warna-warni berputar di langit-langit ruangan. Aroma alkohol yang menyengat bercampur asap rokok dan parfum saling bertabrakan. Sebuah tangan berurat mengusap kulitnya dengan gerakan yang membuat nalurinya menolak. 'Istana? Selirku? Tidak... tempat apakah ini?' "Vanya, jangan bercanda... biasanya bos kewalahan ngadepin kamu." "Iya tumben, bos lagi gak mood tuh. Minta di nina boboin aja." Telapak tangan itu merayap naik, lalu mencengkram rahangnya hingga kepalanya terdongak. Di hadapannya tampak sepasang mata yang memerah, pupilnya kehilangan fokus, diselimuti mabuk dan nafsu. 'Vanya? Siapa Vanya? Mengapa mereka memanggilku seperti itu?' batin Zhaoning. Tangan kekar itu memaksa bibirnya terbuka. Sensasi dingin dari bibir gelas kaca menekan mulutnya, sementara cairan di dalamnya dipaksa mengalir melewati tenggorokannya. "Uhuk! Uhuk!" Jemari lentik Vanya meraih sebotol kaca. Dengan satu hentakan, botol kaca itu menghantam keras kepala pria di depannya. Darah hangat menyembur dari kepala pria itu, yang sontak meraung kesakitan. "Van, jangan gila ya!" bentak pria dengan balutan syal bulu di lehernya. Pria di ujung sofa yang sedari tadi memutar-mutar sekeping koin perak sontak berdiri. Sorot tajamnya terpancar ke gadis yang duduk di atas temannya. "Kamu pikir aku membiayai kampus itu buat amal?" Gara menyeringai tipis. "Kalau kamu terus melawan, adikmu yang baru masuk kuliah akan menjadi penggantimu.” "Sekali lagi kamu melawan, besok adikmu yang duduk di tempatmu,” sahut Akyas sambil menodong botol kaca ke arah gadis itu. Gara melempar koin peraknya ke dalam gelas kaca. “Benar, lagipula wajah kalian mirip. Tidak akan ada yang keberatan jika kuganti orangnya.” Ingatan asing membanjiri benaknya. Wajah seorang gadis muda yang tersenyum bangga mengenakan jas almamater. Tumpukan surat utang yang dengan bunga tinggi tak kunjung habis. Tatapan-tatapan menjijikkan yang menguliti harga dirinya sedikit demi sedikit. Malam-malam yang selalu diakhiri dengan ketakutan—takut pintu itu kembali terbuka, takut namanya kembali dipanggil, takut esok hari adiknya yang akan menggantikannya. Dan seorang kakak yang rela menelan seluruh penderitaan itu seorang diri, demi adiknya tetap bisa mengejar masa depan tanpa pernah tahu bahwa setiap langkahnya menuju kampus dibayar dengan kehancuran hidup sang kakak. Dentuman musik memekakkan telinga, membuat kepalanya berdenyut. Tubuhnya yang sempat bangkit kembali kehilangan tenaga, lalu ambruk di atas paha pria tadi. "Wow! Bro, gimana rasanya? Gitu dong Vanya, kan enak," seru Akyas sambil menepuk tepi sofa. "Jadi, aku nggak perlu repot-repot putusin adikmu itu.” 'Ancaman itu... jadi, aku telah memasuki gadis ini.' Mata Vanya yang semula kabur, terbuka perlahan. Tatapannya bergeser ke arah Gara dan Akyas. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Menjadikan adiknya sebagai sandera? Sungguh cara yang picik!" Gara mengernyit. "Ngomong apa coba?" Vanya tidak menjawab. Jemarinya mengepal pelan. ‘Karena aku telah mengambil tubuhmu... maka pengorbananmu adalah tanggung jawabku. Dendammu kini menjadi dendamku. Mereka yang menghancurkan hidupmu... akan kubalas, satu per satu.’ Sensasi asing merayapi setiap inci tubuhnya. Kulitnya terasa panas, napasnya semakin pendek. Ia menggigit bibirnya hingga mengeluarkan anyir darah, memaksa dirinya tetap sadar. 'Obat macam apa ini? Efeknya kuat sekali,' gerutunya dalam hati. Harga diri seorang permaisuri tak mengizinkannya kehilangan kendali. Dengan sisa tenaga, ia mendorong tubuh pria yang menghalanginya. Dia berjalan sempoyongan, menepis tangan yang hendak mencengkalnya. Tubuhnya menabrak dada seseorang, lengan yang kokoh refleks menopang sebelum ia jatuh. "Hm ...." suara itu terdengar tidak asing. "Gak pernah berubah." Vanya mendongakkan wajahnya, seorang pria tampan berjas hitam berdiri di hadapannya. "Ayo pulang." "Pulang?" Jari Vanya merayap pelan menelusuri jas pria tersebut dengan dahinya yang berkerut. "Siapa kau? Bandit? Beraninya kau menyentuhku." "Bandit?" Bibir Gio melengkung pahit. "Ternyata... sekarang aku bahkan tidak dikenali oleh istriku sendiri." Tanpa menunggu jawaban, Gio mengangkat tubuh Vanya ke dalam gendongan. Ia hendak meronta, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Kepalanya bersandar tanpa sengaja di bahu pria itu. Ia menatap lekat pergerakan naik turun jakun Gio ketika pria itu menelan salivanya. Pintu mobil terbuka. Gio menurunkannya dengan hati-hati ke kursi penumpang. "Siapa kau?" tanya Permaisuri sekali lagi. Rahang Gio mengeras, jemarinya yang menggenggam tepi pintu mobil memerah. Ia memejamkan mata sesaat sebelum mengembuskan napas panjang. "Sudah cukup, Vanya!" Pandangan Vanya teralihkan pada kaca spion. Seorang gadis cantik menatap balik ke arahnya. Gaun hitam yang terlalu pendek, memperlihatkan kedua kakinya. Bahunya terbuka, rambut hitam panjangnya berantakan, dan lipstik merah yang mulai luntur. ‘Pakaian macam apa ini? Di istana, wanita yang menghadap kaisar dengan pakaian seperti ini akan dicap tak tahu malu. Bagaimana mungkin tubuh ini membiarkan martabat seorang permaisuri diinjak sedemikian rupa?’ Gio masih berdiri di luar mobil, tatapannya tertahan lama pada wajah istrinya. Sudut bibirnya bergerak membentuk senyum tipis, tetapi jemarinya yang mencengkeram tepi pintu mobil semakin erat. Urat di punggung tangannya menegang, sementara napas yang keluar terdengar berat, seolah setiap kata yang hendak diucapkannya harus dipaksa melewati dada yang sesak. "Aku capek, Van. Aku cuma pengen sekali aja... kamu pulang karena emang pengen pulang. Bukan karena aku yang selalu cariin kamu. Apa… sesulit itu buat kamu, hidup sama aku?”"Dari mana saja?" suara Gio terdengar datar. "Kenapa bolos kuliah?"Ia bersandar di sofa ruang tamu dengan kedua tangan bertaut di depan dada. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Vanya yang baru saja melangkah masuk.Vanya hanya melirik sekilas, lalu meneruskan langkahnya melewati ruang tamu.Punggungnya tegak, dagunya sedikit terangkat, sementara setiap ayunan langkahnya tenang dan anggun.Gio mengernyit. "Van, kali ini selingkuh sama siapa lagi?"Langkah Vanya terhenti tepat di anak tangga pertama, perlahan ia memutar tubuh. Sorot matanya berubah tajam, menatap lurus ke arah Gio."Sudah selesai? Kalau udah, aku mau istirahat.""Jawab dulu pertanyaan saya."Vanya mendengus pelan. "Terus siapa yang jawab pertanyaanku?"Alis Gio berkerut, ia beranjak dari sofa hendak melangkah mendekat ke arah Vanya."Kemarin malam kamu pergi nemuin Clara."Langkah Gio terhenti ketika Vanya menatapny
"Kok kamu nggak bangunin aku si?"Kelopak mata Gio terbuka saat semburat cahaya pagi menembus celah gorden. Telapak tangannya bergerak menyusuri sisi ranjang.Jemarinya terus meraba pelan hingga menyentuh tumpukan bantal yang empuk.Tatapannya bergeser ke sisi ranjang yang telah tertata rapi. Tak ada rambut cokelat yang terurai di atas bantal, tak ada sosok yang semalam sibuk mengobati lukanya.Sudut bibirnya terangkat tipis. "Mungkin udah bangun."Dengan satu tangan menopang tubuhnya, Gio duduk perlahan di tepi ranjang.Ia mengembuskan napas pelan, lalu melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu."Van, kamu di dalam?"Gio membuka pintu perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mandi. Handuk tergantung rapi. Lantai sudah kering."Hm...." Ia mengembuskan napas pelan. 'Mungkin udah turun duluan.'Tanpa berpikir lebih jauh, Gio menutup kembali pintu kamar
"Gio, kamu terluka?" Vanya mengangkat kedua tangannya, memegang wajah Gio pelan. Jemarinya membalikkan wajah pria itu ke kanan dan ke kiri, menelusuri lebam di sudut bibir hingga pelipisnya. Gio hanya menatap manik mata Vanya dengan senyum tipis. "Syukurlah... kamu selamat." Tubuhnya tiba-tiba limbung ke arah Vanya. Ia membeku saat napas hangat pria itu menyapu lehernya, sementara bobot tubuh yang terus bertumpu di bahunya terasa semakin berat. "Gio? Ja-jangan peluk aku di sini, kamu berat." "Kak." Suara seorang kurir membuat Vanya menoleh. "Kayaknya... cowoknya pingsan." "Eh?" Vanya membelalak. Pipi putihnya seketika memerah. "Gimana? Dia pingsan?" Kurir itu segera meletakkan paket di teras, lalu meraih salah satu lengan Gio dan merangkulkan ke bahunya. Bobot tubuh pria itu membuat langkah mereka sedikit goyah, sementara Vanya refleks menopang sisi tubuh Gio yang lain. Dengan napas tertahan, k
“Berani juga bikin onar di sini.” Salah satu penjaga membawa pipa besi di tangannya dengan langkah angkuh sambil membusungkan dada mendekat ke arah Gio. “Maju kalian semua!” teriak Dimas meski kedua kakinya gemetar. Belasan pria bertubuh besar langsung bergerak serempak. Wajah-wajah mereka dipenuhi tato, sementara tangan masing-masing telah menggenggam beragam benda tajam Mereka melangkah perlahan, membentuk setengah lingkaran yang semakin menyempit, mengurung Gio tanpa menyisakan celah. Gio dan Dimas mundur selangkah hingga punggung mereka saling bersentuhan. Keduanya berdiri membelakangi satu sama lain, mengawasi setiap sudut yang mulai dipenuhi gerombolan pria bertubuh besar. Dimas menoleh sedikit, melirik Gio dari balik bahunya. "Pak Gio bisa bela diri, kan?” Gio merendahkan pusat gravitasinya. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, sementara kedua tangannya terangkat perlahan membentuk kuda-kuda.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น