MasukKenanga tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan Damar, yang merupakan sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang pergi tanpa pernah berpamitan. Satu pertemuan yang membawa kembali sosok yang begitu dekat, namun kini terasa jauh dan asing. Diantara rindu yang tak sempat disampaikan dan juga luka yang tak pernah benar-benar sembuh, tersimpan sebuah kesalahpahaman yang mengubah segalanya. Akankah mereka tetap asing, kembali menjalin persahabatan, atau, apakah mereka akan menemukan sesuatu yang lebih dari itu?
Lihat lebih banyakPagi itu, langkah seorang gadis memasuki gedung tinggi. Kenanga namanya, gadis manis berdarah Sunda yang tengah mengepakkan sayapnya di ibu kota Jakarta. Senyuman lembut, kala ia menyapa rekan-rekan kerjanya.
Rutinitas kantor yang sibuk selalu menjadi teman akrabnya dalam mengisi hari-harinya. Kenanga meletakkan tas di atas meja kerjanya dan mulai merapikan beberapa dokumen. Sesekali ia membuat catatan kecil di sticky note dan menempelkannya di antara lembar dokumen. “Pagi, Kenanga.” Sania menyeruput kopinya dan duduk di samping Kenanga. “Hai, Sania. Pagi,” ucap Kenanga. “Udah denger belom? Katanya hari ini kita kedatangan ketua tim baru,” tutur Sania. “Pagi-pagi udah gosip aja nih.” Seorang pria berkacamata menghampiri mereka, senyumannya yang manis menampakkan lesung pipinya. “Kita gak lagi ngegosip ya. Eh, iya, Ar. Emang bener ya ketua tim yang baru datang hari ini?” tanya Kenanga. “Yap! Dan kita harus ke ruang rapat sekarang. Udah ada pemberitahuan di grup W******p, kalian pasti belom liat,” ucap Arga sembari berlalu. Kenanga dan Sania memeriksa ponsel mereka, lalu menyusul Arga dengan terburu-buru. Di ruang rapat, beberapa karyawan mulai berbisik, mempertanyakan siapakah yang akan menjadi ketua tim baru mereka. Hingga akhirnya, suasana berubah menjadi sunyi, saat pintu terbuka. Seorang lelaki tinggi dengan sorot mata yang tajam masuk ke dalam ruangan. Di sampingnya, seorang wanita cantik berjalan dengan langkah pasti, senyumnya penuh dengan keanggunan. Hingga beberapa karyawan memusatkan perhatian kepadanya. DEG! Jantung Kenanga berdegup, matanya membelalak, seakan tak percaya pada apa yang dia lihat. Lelaki yang telah lama pergi dari pandangannya, sosok yang senantiasa dirindukannya, kini hadir tepat di depan matanya. Perlahan, hatinya menghangat, ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. “Damdam ….” Nama itu terlepas begitu saja dari bibir Kenanga, lirih, bahkan nyaris tak terdengar. Tapi entah bagaimana, panggilan khas itu tetap sampai pada pemiliknya. Rahang Damar menegang samar mendengar panggilan itu. Hanya sepersekian detik sudut matanya tertuju pada Kenanga, namun Damar memilih mengabaikannya begitu saja, seolah nama itu tak ditujukan padanya. “Pagi semuanya. Perkenalkan, nama saya Damar Tama Atmaja, mulai hari ini, tim ini saya yang pimpin,” ucap Damar tegas. Kenanga tersenyum kecil, ternyata yang ada di depannya memanglah Damar. Sudah berapa lama? Sejak terakhir kali ia melihat Damar, perasaannya mendorongnya untuk bangkit menghampiri lelaki tersebut, namun pada akhirnya ia hanya mampu terdiam. Seolah takut pertahanannya akan runtuh begitu saja. Kenanga meremas jemarinya pelan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia bertemu dengan Damar? Kenangan terakhirnya akan Damar, hanyalah tentang kepergian tanpa pamit yang menyisakan rasa sakit di relung hatinya. Di sisi lain, Arga tersenyum getir kala menyaksikan Kenanga yang tak berkedip saat melihat Damar, ada rasa perih yang muncul di hatinya. Di satu sisi, Arga merasa bahagia dapat kembali melihat Damar. Namun di sisi lain, ia sadar, bahwa perasaan Kenanga pada Damar masih tetap sama. “Perkenalkan juga semuanya, saya Rosalia Rengganis Dhinakara. Saya di sini sebagai wakil dari Pak Damar,” ucap Rosa. Kenanga mengalihkan pandangannya pada Rosa. Perlahan, senyumannya memudar, terutama saat ia memperhatikan Damar dan Rosa. Hatinya menciut dan ia hanya dapat mematung di tempatnya. “Rosa? Ternyata dia juga ada di perusahaan ini,” batin Kenanga. “Kenanga, are you okay?” Sania menyentuh pundak Kenanga. “Aku gak apa-apa kok,” jawab Kenanga. “Kamu yakin?” Tatapan Sania menelisik. Tak ada jawaban dari mulut Kenanga, ia hanya tersenyum getir pada Sania. Sania melemparkan pandangannya pada Arga, namun Arga hanya mengangkat bahunya. Sania menghela napasnya dan memilih tak bertanya lebih dalam. “Perkenalan singkatnya sudah cukup, kita lanjut meeting terkait proyek pengembangan,” tegas Damar, “sebelumnya, saya ingin tau struktur keanggotaan tim inti dulu.” Lanjutnya tenang. Damar membuka Map di atas meja dan membaca isinya sekilas dengan serius. “Oke, untuk struktur keanggotaan di ketuai oleh saya dan Rosa. Tim survey & teknik di pimpin oleh Arga Nabastala Baskara, tim keuangan Krisania Cahaya Nayanika dan Kenanga Arunika Maheswari sebagai penanggung jawab dari tim perencanaan,” papar Damar. Ucapannya datar, tenang namun terasa begitu tegas. Damar mulai menjelaskan proyek sambil membuka beberapa lembar berkas. Sesekali ia menunjuk layar infokus dengan penjelasan yang tenang dan sistematis. Ia berjalan mengelilingi meja rapat dengan penjelasan yang terampil. Hingga tanpa sengaja, langkahnya terhenti tepat, di samping kursi Kenanga. Jarak yang dekat, membuat napas Kenanga tercekat, terlebih saat samar aroma parfum lelaki itu menyentuh indera penciumannya. “Untuk tim perencanaan, bisa tolong jelaskan isi dari proposal proyek ini?” Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Dua detik, singkat namun mampu menembus relung hati Kenanga. Damar mengalihkan pandangannya lebih dulu dan kembali duduk ke posisinya yang semula. Kenanga berdiri dengan gugup sambil membuka map di tangannya. Ia menarik napas perlahan dan mulai menjelaskan isi proposal itu dengan rinci. “Baik, saya akan tampilkan konsep perencanaannya terlebih dahulu,” ucap Kenanga pelan. Kenanga melangkah menuju meja di dekat layar infocus, lalu menyerahkan flashdisk miliknya ke salah satu petugas yang mengoperasikan presentasi. Ia menghela napasnya, mengatur perasaannya agar tenang sebelum memulai presentasi. Dahi Damar berkerut pelan saat mendengarkan penjelasan Kenanga. Ujung jarinya mengetuk meja perlahan, sebuah kebiasaan kecil saat ia berpikir. Matanya yang tajam memperhatikan layar di depannya. Suasana ruang rapat terasa hening, beberapa anggota tim mengangguk pelan memahami penjelasan Kenanga. “Oke cukup,” jawab Damar singkat. Kenanga kembali duduk dengan perasaan tak menentu. Cara bicara Damar terasa begitu asing, seolah lelaki itu benar-benar telah berubah. Nama, suara, dan tatapan Damar perlahan menarik Kenanga kembali pada masa lalu, masa yang belum benar-benar selesai dalam hidupnya. Tentang hari itu, hari di mana Kenanga mulai mempertanyakan segalanya. Tentang persahabatan, tentang perasaannya dan tentang Damar. Hari di mana gemuruh di hatinya menjelma menjadi luka dan kecewa. Saat itu, tangisan pun nampak tak berarti lagi. Pertemuan yang datang setelah sekian purnama… Akhirnya datang menemui rindu yang sulit mereda… Ada kehangatan dalam sukmaku Namun seketika kehangatan itu perlahan sirna Oleh dinginnya tatapanmu Kala itu… Aku membeku bersama pandanganku yang nanar Apakah, aku kehilanganmu lagi?“Dam, kamu … kenapa ambil HPku?” tanya Kenanga.“Jangan hubungi Arga,” ucapnya.“Kenapa?” Kenanga menatap Damar.Hening. Hanya ada tatapan antara Kenanga dan Damar yang dalam dan saling menyiratkan sesuatu. Damar masih menahan tubuh Kenanga yang hampir terjatuh.“Kenapa?” tanya Kenanga sekali lagi.Damar melepaskan Kenanga dan mengalihkan pandangannya. Ia menghela napasnya dan kembali menoleh ke arah Kenanga.“Kalau kamu menghubungi Arga, perjalanan kita akan semakin tertunda. Lagi pula, kita harus melanjutkan perjalanan ini.” Damar melangkah menuju parkiran, tempat kendaraannya berada.Ucapannya kembali dingin, namun satu debar di hatinya kembali hadir. Damar menggeleng pelan, ia nyaris tak percaya pada apa yang ia lakukan tadi. Kenapa rasanya ia seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri?Sesaat, Kenanga mematung. Ia memegang kedua pipinya yang terasa hangat. Bayangan ketika Damar secara refleks menangkap
“Dam, boleh kita … eh, maksudku, Pak Damar, boleh kita istirahat dulu di taman kota?” tanya Kenanga.Damar melirik ke arah Kenanga dan terdiam beberapa saat. Perlahan, ia membelokkan kemudinya dan memarkirkan kendaraannya di parkiran samping taman kota.“Baik juga,” gumam Kenanga pelan.“Apa kamu bilang?” tanya Damar datar.“Aku gak bilang apa-apa.” Kenanga menggelengkan kepalanya.Kenanga menghela napas panjang dan tersenyum lebar. Ia merenggangkan tubuhnya seraya memejamkan kedua matanya. Udara Kota Bandung yang sejuk, ternyata cukup ia rindukan.Sementara Damar hanya terdiam dan memperhatikan Kenanga sekilas. Di matanya, Kenanga masih sama seperti yang dulu.“Sebentar lagi, pasti beli telur gulung,” batin Damar.Kenanga berlari ke arah pedagang kaki lima yang berjejer dengan rapi. Aroma jajanan khas begitu menggugah seleranya. Tak salah lagi, tujuannya adalah telur gulung favoritnya.“Benar saja duga
Damar semakin kehilangan kendalinya. Napasnya kian tercekat dan pandangannya semakin kabur dan ia menginjak pedal rem sekaligus.Ckiiiiiiit. Mobil hitam Damar berhenti seketika, Damar dan Kenanga terantuk, dengan panik Damar mencari obat penenang yang ia simpan di laci dashboard mobil.“Dam, kamu kenapa? Jangan buat aku takut,” ucap Kenanga panik.“O … obat,” gumam Damar pelan.Kenanga tak bisa mendengar ucapan Damar dengan jelas, sedangkan Damar semakin kesulitan untuk bernapas. Keringat dingin semakin mengalir di kening Damar, wajahnya kian pucat.“O … bat … ku,” gumam Damar sekali lagi.“Obat?” tanya Kenanga memastikan.“Ya,” jawab Damar semakin parau.Kenanga mencari obat di dalam laci dashboard, ia menemukan satu botol putih yang ia yakini obat milik Damar. Ia baca sekilas obat itu.“Sejak kapan Damdam mengkonsumsi obat penenang?” batin Kenanga.Meski diliputi berbagai pertanyaan yang meng
Kenanga menoleh ke arah Damar. Tak ada kata yang terucap, melainkan hanya keheningan yang hadir di antara mereka.Damar menatap layar ponselnya sesaat, sebelum akhirnya ia meletakkan ponsel tersebut di sisi kursi. Namun, benda itu justru jatuh dan tergelincir.Kenanga yang melihatnya refleks membungkukkan badannya dan mencoba meraih ponsel milik Damar, dan di saat yang sama, Damar juga mengulurkan tangannya. Tangan keduanya bertemu, mereka terdiam ketika jemari mereka secara tak sengaja saling bersentuhan.“Mau sampai kapan kamu memegang tanganku?” tanya Damar kemudian. Wajahnya datar, tak ada ekspresi apa pun, namun tidak dengan hatinya.“Hah?” ucap Kenanga.“Tanganku.” Damar mengangkat tangannya, di mana jemari Kenanga tengah bertaut di tangan Damar.Kenanga yang baru saja menyadarinya segera menarik tangannya dan menatap ke arah lain. Tetapi, ada hal yang mulai menelusup secara diam-diam dalam hatinya. Hal yang selalu ia sangk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan