LOGINDemi melindungi bayi dari mendiang putra sulung Werner Group yang tewas dalam kecelakaan misterius, Naura menyembunyikan bayi tersebut ke Pasuruan. Namun, pelariannya terusik ketika Toni, adik korban, datang melacak mereka hingga akhirnya keduanya harus bekerja sama membongkar konspirasi keluarga setelah terungkap bahwa Lucas, mantan suami Naura yang diduga tewas ternyata masih hidup dan menjadi dalang di balik tragedi tersebut.
View MoreAsap mengepul ke udara membuat langit malam semakin gelap hingga menghalangi pandangan siapa pun yang ada di sana untuk menyaksikan mobil yang mengguling, menabrak pembatas jalan tol dan terbakar.
Suara sirene mobil ambulans beradu dengan sirene mobil pemadam kebakaran juga kepolisian berusaha menyelamatkan korban serta mengatur lalu lintas jalanan yang cukup ramai. Hati dan pikiran Naura terbelah menjadi berkeping-keping melihat asap tebal dari mobil sedan yang terguling menembus pembatas jalan.
Tubuh langsing Naura gemetar hebat melihat api mobil yang ditumpang oleh suami dan sahabatnya. Kaki jenjangnya lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya hingga terjatuh duduk di atas aspal yang dingin.
Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Naura yang terduduk lesu, “Sebaiknya Anda ke rumah sakit karena korban sudah di evakuasi.”
“Apa?”
“Petugas kepolisian sempat menyelamatkan dua korban di dalam mobil sebelum terjadi ledakan.”
“Dua? Bukan tiga?”
“Saat kami akan kembali menyelamatkan pengemudi setelah mengevakuasi korban yang ada di bangku penumpang, mobil meledak dan terbakar.”
“Ah …” raung Naura. Air mata tidak lagi terbendung membasahi pipi mulus Naura. Tangisnya pecah membayangkan pengemudi yang tidak lain adalah suaminya dilalap oleh api.
“Kami akan mengantar Anda ke rumah sakit tempat korban di rawat.”
Tangan kokoh petugas kepolisian tersebut membantu Naura berdiri dan menopang tubuh lemahnya untuk berjalan menuju mobil polisi yang telah menunggu. Ditemani oleh dua petugas kepolisian, ia menembus kepadatan lalu lintas dengan suara sirene yang keras memecah kepadatan jalanan.
“Aku harus tetap sadar,” gumam Naura. Yang mereka miliki saat ini hanya dirinya seorang, jika ia berlarut-larut dalam keterpurukkan semua hanya akan berjalan ke arah yang lebih buruk.
“Astagfirullah hal adzim …” ucap Naura berulang kali sambil menarik nafas panjang hingga ia mendapatkan ketenangan.
Saat pikirannya mulai tenang, ia pun teringat dengan mobil lain yang mengawal pasangan Werner bersama suaminya.
“Bagaimana dengan mobil yang lain?” tanya Naura ke petugas kepolisian.
“Satu mobil yang melaju paling depan aman, untuk mobil yang ada di belakan mobil korban menabrak pembatas jalan yang cukup jauh dari TKP dan hanya mengalami luka benturan.”
“Jadi, hanya mobil itu yang mengalami kecelakaan hebat?”
“Ya.”
Bingung, itulah yang Naura pikirkan saat mendengar penjelasan dari petugas kepolisian. Jika hanya mobil yang ditumpangi oleh pasangan Werner yang mengalami kecelakaan hebat maka bisa dibilang mereka memiliki jarak yang cukup jauh dari mobil di belakang mereka. Jarak tersebut cukup untuk membuat mobil yang ada di belakang melakukan pengereman mendadak tanpa harus menabrak mobil mereka dan ikut menerobos pembatas jalan.
“Kita sudah sampai.”
Naura membuka pintu mobil dan melihat orang-orang yang mengawal pasangan Werner sudah berada di UGD rumah sakit. Dua dari mereka berada di dalam UGD mengawasi perawatan yang diberikan oleh perawan ke pasangan Werner, dan satu penjaga lainnya berdiri di luar UGD seolah sedang menunggu seseorang.
“Akhirnya Anda datang juga,” kata pengawal yang berdiri di luar UGD.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Naura yang telah mendapatkan ketenangannya kembali.
“Para pengawal hanya mengalami luka memar akibat benturan tanpa ada risiko patah maupun gagar otak.”
“Lalu, bagaimana dengan Arvin dan Shanaz?”
Hening, pengawal tersebut hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun yang keluar untuk menjelaskan kondisi pasangan Werner. Naura memperlebar serta mempercepat langkahnya menuju UGD tempat pasangan Werner tersebut di rawat.
“Astagfirullah hal adzim,” ucap Naura saat melihat kondisi Arvin
Tubuh pria itu dipenuhi oleh darah yang mengucur dari kepala, telinga serta hidungnya. Tampak darah juga membasahi celana kain Arvin yang sudah dirobek oleh petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Pak Arvin ditemukan dalam keadaan memeluk Bu Shanaz saat petugas kepolisian melakukan penyelamatan.”
Dengan kaki gemetar, Naura mendekati ranjang tempat pasangan Werner sedang dilakukan perawatan oleh para dokter jaga juga perawat. Alat monitor pasien terpasang di kedua korban dan menunjukkan tanda-tanda vital yang tidak stabil terutama Arvin.
Dua dokter jaga memberikan CPR secara bergantian untuk mendapatkan denyut jantung yang semakin melemah. Dengan nafas tersengal, salah seorang dokter melihat Naura berdiri mematung melihat keadaan pasien yang masih dibantu CPR.
“Apa Anda wali dari korban?” tanya dokter muda tersebut.
“Ya. Bagaimana keadaan mereka?”
“Seperti yang Anda lihat, untuk keadaan saudara Arvin cukup parah. Dari hasil CT Scan dan USG …” Dokter tersebut hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk permintaan maaf.
“Apa banyak tulang yang patah?”
“Bukan hanya hanya itu, benturan yang terlalu kuat juga membuat beberapa organ dalam seperti lever mengalami pendarahan yang cukup para dan harus segera di operasi. Masalahnya adalah ….”
Jeda yang terjadi membuat Naura melihat ke arah Arvin yang masih mendapatkan bantuan CPR untuk mendapatkan denyut nadinya kembali.
“Selain itu, dari hasil CT Scan, pendarahan yang terjadi di otak juga cukup parah dan kalaupun kami berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi di lever, ada kemungkinan pasien akan mengalami mati otak.”
“Ya Allah,” gumam Naura.
“200 joule …” teriak dokter yang tengah menangani Arvin.
“Ya Allah,” ucap Naura.
“Permisi,” ucap dokter, lalu meninggalkan Naura.
Para perawat berlarian melaksanakan perintah dokter untuk mempertahankan hidup Arvin yang berada di ambang kematian. Angka-angka di monitor semakin menurun dan berbunyi keras membuat Naura harus berusaha keras menghirup oksigen. Dadanya terasa sesak membuat ia harus berpegang ke meja perawat untuk menopang tubuhnya yang lemas dan pandangannya yang mulai menggelap.
“Anda baik-baik saja?” tanya pengawal yang terus berada di sisi Naura.
Naura mengangkat sebelah tangan memberi isyarat agar diberi ruang untuk dan menenangkan diri dan menstabilkan nafas. Teriakan dokter dan suster tidak lagi mampu ia dengar, ia hanya bisa melihat kesibukan serta kepanikan petugas kesehatan dengan kondisi monitor yang semakin menurun.
Angka-angka di monitor semakin menurun begitu pula dengan grafik yang semakin tidak lagi terlihat bergelombang. Naura cemas dan takut namun ia berusaha untuk tetap tegak dan tegar demi mengatasi situasi yang masih membuatnya bingung.
Tit …
Bunyi keras monitor membuat dokter juga perawat akhirnya menyerah. Denyut jantung Arvin tidak kunjung kembali setelah hampir tiga puluh menit dilakukan CPR. Semua angka di monitor menunjukkan angka nol yang berarti sudah tidak ada lagi denyut jantung.
Setelah menyatakan kematian Arvin di hadapan petugas kesehatan, dokter menghampiri Naura untuk memberitahukan kematian Arvinyang diakibatkan oleh pendarahan otak juga gagal jantung.
“Dokter!” Teriakan dari ranjang sebelah membuat mereka beralih ke Shanaz.
Denyut jantung Shanaz yang stabil tiba-tiba menurun.
“Tidak …” ucap Naura ikut berlari menghampiri Shanaz.
Dengan cekatan dokter memberikan CPR untuk membuat denyut jantung Shanaz kembali. Mereka memberi ruang ke Naura untuk mendekat dan membiarkan menggenggam tangan Sahana yang terkulai lemas.
“Kau harus bertahan demi bayi yang ada dalam kandunganmu,” ucap Naura.
Enam Tahun Kemudian …Udara panas Indonesia menjadi hal yang sangat dirindukan oleh Toni Werner selama perantauan dirinya di negeri empat musim yang tidak memiliki sinar matahari sebaik di Indonesia. Musim panas yang menyengat tidak ada apa-apa dibandingkan dengan panas terik matahari siang di Indonesia, begitu pula musim semi yang hangat tetap tidak mampu kehangatan cuaca di negeri yang ia sangat rindukan.“Apa kau sudah siap untuk menetap?” tanya Hans ke putar bungsunya.“Tentu saja,” jawab Toni tanpa ragu.Kematian Arvin membuat Toni harus mengambil alih seorang diri semua tanggung jawab sebagai putra Hans Werner, pendiri serta pemegang saham terbesar Werner Group. Enam tahun bukan waktu yang mudah baginya untuk bertahan dalam kesabaran atas kecelakaan yang merenggut nyawa kakak serta istrinya bahkan bayi mereka.“Apa itu dapat ayah artikan jika kau sudah siap dengan semua tugas dan tanggung jawab yang harus kau pikul?”“Apa aku punya pilihan lain.”“Bagaimana dengan wanita, apa ka
“Bawalah anak itu bersamamu!” kata Hans antara perintah dan permohonan.“Tapi …” Naura menatap bayi itu dengan lembut dan juga iba.“Kau adalah wanita yang sudah menikah, jadi tidak aka nada yang curiga dengan keberadaan dia dalam hidupmu.”Hans terpaksa membuat keputusan tersebut demi keselamatan cucu pertamanya, juga demi Naura yang tampak hancur lebur. Keberadaan Lucas yang masih belum jelas, juga orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan yang membuat ia kehilangan putra sulungnya jelas memiliki motif yang kuat dan tidak akan berhenti sampai mereka mencapai tujuan mereka.“Tetap saja … mana mungkin saya memisahkan dia dari keluarga kandungnya,” ujar Naura.“Om yakin, meski saat ini kau sedang dilanda kekalutan tapi kau pasti tahu kemungkinan yang terjadi andai mereka mengetahui Arvin memiliki putra,” tukas Hans meyakinkan Naura.Naura tampak ragu namun ia juga memahami situasi yang kemungkina akan terjadi saat mereka mengetahui putra dari Arvin masih hidup. Jika tujuan utama merek
Dengan pakaian serba hitam juga putih, para pelayat yang terdiri dari pengusaha, politisi dan pejabat juga masyarakat sekitar memenuhi rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pasangan muda Werner Group. Duka tidak hanya menyelimuti dua keluarga tetapi juga relasi dan sahabat almarhum yang dikenal dengan kebaikan serta keramahannya.Naura duduk di sudut rumah tersembunyi dari keramaian para pelayat yang terus berdatangan sebelum pemakaman. Dengan tatapan kosong ia meratapi kehidupan pernikahan yang baru ia rajut bersama pria yang ia cintai harus berakhir tanpa satu kepastian yang jelas atas jasad suaminya. Penyelidikan internal masih menyimpulkan jika Lucas terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan pasangan Shanaz dan Arvin semakin meremukkan hatinya.“Hasil tes DNA dari darah yang menempel di jas serta beberapa potong rambut yang menempel dipastikan milik Lucas,” jelas tim forensik kepolisian. “Namun, kami tidak menemukan potongan tubuh saudara Lucas,” imbuhnya.
“Tidak … kau harus bertahan, Shanaz!” ucap Naura dengan putus asa.Dokter secara bergantian memberikan bantuan CPR untuk mengembalikan denyut jantung yang mulai melemah. Angka kehidupan di monitor naik secara perlahan setelah lima kali dilakukan CPR.“Apa sudah memanggil dokter kandungan?”“Sudah. Dokter bilang akan sampai dalam lima belas menit, namun sepertinya ada kemacetan lalu lintas yang membuat sedikit terlambat.”“Apa ada masalah dengan kandungannya?” tanya Naura yang masih menggenggam tangan Shanaz.“Denyut jantung sedikit melemah, jadi harus segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa bayi.”“Bagaimana dengan sekarang? Apa masih baik-baik saja, mengingat ini sudah lebih dari lima belas menit dari sejak dia masuk rumah sakit?” Naura menggenggam erat tangan Shanaz yang mulai terasa dingin.Dokter meletakkan stetoskop ke perut Shanaz untuk mendengarkan denyut jantung janin.“Apa dokter kandungan masih lama?” tanya dokter jaga ke perawat.“Kenapa? Apa denyut jantung jani






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.