LOGINSultan baru saja tiba di rumah sakit dengan langkah tenang, meski raut wajahnya terlihat serius.
Di tangannya terdapat paper bag besar berisi pakaian baru yang sempat ia beli di butik dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ratu dirawat. Lorong VIP malam itu begitu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki beberapa perawat yang sesekali terdengar. “Mas,” panggil Sultan pelan saat menemukan Radja duduk seorang diri di depan ruang rawaTengah malam itu, Radja belum juga memejamkan mata. Pria itu masih duduk di samping brankar putrinya dengan tubuh tegak dan kedua tangan bertaut di depan wajahnya. Tatapannya tak pernah lepas dari Ratu. Dari wajah kecil yang kini tampak pucat. Dari kepala mungil yang dibalut perban putih. Dan dari tangan kecil yang kini dipenuhi selang infus. Kaki putrinya juga diperban, membuat dada Radja terasa seperti diremas kuat. Ruangan VIP itu begitu sunyi. Hanya suara detak monitor jantung yang terdengar pelan di tengah malam. Harusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan. Makan malam perayaan kenaikan kelas ketiga anaknya. Malam di mana Ratu akan tertawa heboh melihat hadiah alpaca yang sudah susah payah dia cari. Namun semuanya justru berubah menjadi mimpi buruk. Radja perlahan mengusap punggung tangan kecil putrinya. Hangat. Namun terlalu lemah. “Harusnya Daddy tidak menunda maka
Sultan baru saja tiba di rumah sakit dengan langkah tenang, meski raut wajahnya terlihat serius. Di tangannya terdapat paper bag besar berisi pakaian baru yang sempat ia beli di butik dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ratu dirawat. Lorong VIP malam itu begitu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki beberapa perawat yang sesekali terdengar. “Mas,” panggil Sultan pelan saat menemukan Radja duduk seorang diri di depan ruang rawat inap VIP. Sang kakak menoleh sekilas. Tatapannya dingin dan lelah. Namun beberapa detik kemudian, Radja kembali mengalihkan pandangannya ke pintu ruangan di depannya. “Tempatnya cukup jauh,” ucap Sultan seraya mendekat. “Maaf kalau saya datang lama.” Ia meletakkan paper bag di kursi kosong samping Radja. Tak ada jawaban, hanya anggukan kecil dari pria itu. Sultan menghembuskan napas ringan sebelum akhirny
“Mas, kamu di mana?” suara Fairish terdengar dari ujung telepon saat Sultan menyetir mobilnya membelah jalanan malam. “Saya lagi di perjalanan,” jawab Sultan singkat, tatapannya tetap lurus ke depan. “Mau pulang?” Sultan menggeleng pelan, meski tahu sang istri tak bisa melihatnya. “Tidak. Saya sedang menuju tempat Mas Radja dan Kaisar.” Kening Fairish langsung berkerut di seberang sana. “Ada apa lagi, Mas?” Sultan menghembuskan napas berat sebelum menjawab. “Kaisar membawa anak-anak Mas Radja pergi tanpa izin. Dari pagi sampai sore mereka tidak bisa dihubungi.” “Apa?” suara Fairish melemah. “Terus sekarang anak-anaknya di mana?” “Saya belum tahu pasti,” jawab Sultan jujur. “Saya baru dengar kabarnya dari Mami.” “Astaga ....” “Saya akan coba hubungi Mas Radja atau Djiwa dulu,” lanjut Sultan tenang meski rahangnya tampak mengeras. “Nanti
“Ada apa, Mi? Kenapa minta saya datang?” tanya Sultan begitu tiba di mansion Reinard. Langkahnya terhenti di ruang tengah saat menemukan sang ibu sudah menunggu di kursi roda, ditemani perawat pribadi di sampingnya. Sorot mata Sekar tampak gelisah. “Ra ... dja,” ucap wanita paruh baya itu terbata-bata. Kening Sultan langsung berkerut. “Kenapa dengan Mas Radja?” “Kai ... sar ....” Sultan menatap ibunya lekat. “Lalu?” Dengan napas memburu, Sekar menggeleng pelan. Tangannya gemetar di atas sandaran kursi roda. “Ja-ngan ... sam-pai ... Ra ... dja ... pu-kul K-Kai,” ucapnya susah payah. Perkataan itu membuat rahang Sultan perlahan mengeras. Tatapannya langsung beralih pada perawat di samping sang ibu. Perawat itu tampak ragu sesaat, sebelum akhirnya mengangguk kecil dan mulai menjelaskan. “Jadi begini, Tuan Sul
“Halo, Kai?” desis Radja dengan suara rendah begitu panggilan tersambung. Mobil yang melaju kencang itu mendadak berhenti di tepi jalan, membuat tubuh Djiwa sedikit terdorong ke depan. Wanita itu menahan napas saat melihat raut wajah suaminya berubah semakin dingin. Ponsel di tangan Radja menempel erat di telinganya. Namun suara yang terdengar di seberang sana bukan Kaisar. “Halo, Daddy ... ini Regan.” Seketika sorot mata Radja berubah. “Regan?” ulangnya pelan. “Kamu di mana sekarang, Nak? Adik-adik kamu di mana?” tanyanya setenang mungkin. “We’re okay, Dad,” jawab Regan polos. “Kita lagi di rumah Om Kai sama Tante Karin.” Dada Djiwa yang sejak tadi terasa sesak sedikit mengendur mendengar suara putranya. “Daddy sekarang udah di mana?” lanjut Regan. “Katanya mau nyamperin kita.” Belum sempat Radja menjawab, suara Ratu langsung menyela
Mendengar pertanyaan kakak laki-lakinya, Ratu yang sejak tadi sibuk memeluk boneka alpaca langsung menoleh cepat. Bocah itu buru-buru mendekati Kaisar tanpa melepaskan boneka dari pelukannya. “Iya, Om ... kapan kita ketemu Daddy?” tanyanya polos. “Ratu udah kangen banget.” Tatapan Kaisar sempat berubah samar sesaat. Namun pria itu segera menyamarkannya dengan senyum tipis. Ia meletakkan remote control mobil di tangannya ke atas meja, lalu mengusap pelan puncak kepala Ratu. “Sebentar lagi, ya,” ucapnya tenang. “Om mau mandi dulu.” Setelah mengatakan itu, Kaisar langsung bangkit dan berjalan meninggalkan ruang tengah tanpa memberi penjelasan lain. Ketiga bocah itu tak bertanya lagi. Mereka mempercayai pamannya sepenuhnya. Bahwa cepat atau lambat, Kaisar pasti akan membawa mereka bertemu kembali dengan sang ayah. Dan untuk sekarang, yang bisa mereka lakukan hanyalah m
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”







