LOGINShelia Rosental, seorang ilmuwan jenius yang dibunuh organisasi misterius karena tuduhan sederet pembunuhan kejam. Namun, alih-alih mati, ia terbangun dalam diri Evelyn Laurent—wanita lemah dan sakit-sakitan yang tak pernah mendapat kasih sayang dari keluarga angkatnya. Dengan otak jenius dan mental baja milik Shelia, Evelyn bangkit membalas semua penghinaan. Ia merebut Ashran, tunangan saudarinya, sebagai langkah awal balas dendam. Tanpa disangka, Ashran ternyata terhubung dengan organisasi yang dulu membunuh Shelia. Apakah ia ancaman baru? Atau justru kunci menuju kebenaran yang selama ini dicari?
View More"Serahkan hasil penelitianmu atau kau akan mati, Shelia," ucap salah satu pria berjubah hitam dengan pedang tajam di tangannya.
Wanita berjas putih itu bahkan tidak menoleh. Tatapan Shelia tetap terpaku pada koran di tangannya, seolah puluhan pria berjubah hitam yang mengepungnya hanyalah bayangan.
Aroma alkohol memenuhi ruangan. Cairan bening mengkilap tipis di sela-sela lantai dan meja penelitian.
"Kukira pasukan kerajaan yang akan datang," gumam Shelia sambil melipat koran itu. "Ternyata hanya organisasi kroco."
Di halaman depan koran terpampang wajah Shelia serta berita tentangnya. Ilmuwan jenius Shelia Rosental resmi menjadi buronan kerajaan, diduga melakukan eksperimen ilegal dan pembunuhan.
Pandangan Shelia perlahan menyapu seluruh laboratorium. Deretan tabung reaksi, buku penelitian serta formula yang ia habiskan bertahun-tahun untuk menyusunnya.
"Jadi semua pengorbananku hanya berakhir seperti ini," katanya dengan suara pelan dan bergetar.
Shelia akhirnya berdiri tegak dan berbalik. Satu tangan di belakang, wajahnya tenang namun terpancar amarah serta kebencian. Dia menatap lambang ular melingkar di jubah orang-orang yang mengepungnya.
"Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan semua hasil penelitianku."
Jari Shelia bergerak pelan di balik punggungnya. Sebuah pemantik kecil terlepas dari genggamannya.
Saat tersadar, mata pria berjubah itu membelalak.
"Hentikan dia!"
Tapi terlambat, pemantik itu menyentuh lantai.
Wuussh!
Api langsung menyambar seluruh ruangan, melahap alkohol yang telah disebarkan sebelum mereka datang.
"Sial!"
Orang-orang berjubah hitam berhamburan. Sebagian menerobos kobaran api demi menangkap Shelia.
Wanita itu tetap berdiri. Rambutnya mulai terbakar, kulitnya melepuh. Namun ekspresinya tidak berubah.
Seorang pria berhasil menerobos api dan langsung menyerang Shelia.
Shelia tidak berteriak. Bukan karena dia tegar, tapi karena apinya mulai membakar tenggorokannya. Tubuhnya jatuh ke lantai yang panas, tapi dia hanya memejamkan mata.
Tusukan pedang di dadanya datang kemudian, menembus jantungnya. Darah merembes dari sela-sela luka.
'Bangsawan-bangsawan keparat. Lihat saja, akan kuhantui kalian semua dan akan kuseret kalian sampai ke neraka.' Shelia bertekad dalam hati.
Setelah menghembuskan nafas terakhir, bukannya pergi ke neraka atau alam lain setelah kematian, Shelia mengerjap. Rasa terbakar di kulitnya hilang.
Shelia meraba dada kirinya. Luka yang sedetik lalu masih terasa, kini tak berbekas. Yang ada hanya bau amis menyengat dan dingin yang merambat di sekujur tubuh.
'Ini, bukan api,' pikirnya kacau. 'Ini air. Tapi di mana? Apa aku sudah di neraka?'
Shelia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Tapi semua terasa asing, seperti memakai baju orang lain.
Kemudian terdengar suara tawa serta ejekan. Shelia tersadar di tempat yang baru, di tengah-tengah gerombolan gadis muda dengan pakaian yang terlihat aneh baginya. Semua gadis-gadis itu menatap sinis sekaligus menertawakannya.
"Apa-apaan ini?" gumam Shelia. Kepalanya masih berdenyut, pandangannya sedikit buram.
Shelia menunduk dan mendapati kondisi tubuhnya basah kuyup, dari situlah bau amis itu berasal. Dan saat memperhatikan sekitar, dia semakin kebingungan dengan ruangan ini. Terdapat kursi-kursi yang menempel dengan meja kecil.
Salah satu gadis berkacamata yang menertawakan Shelia mendekat, lalu dengan kasar menjambak rambutnya hingga mendongak.
"Jangan kira punya nama keluarga yang sama dengan Monica, statusmu sama. Kau itu cuma anak angkat. Harusnya kau turuti perintah kami," desisnya penuh ejekan. Tak lama, terdengar suara dari belakangnya.
"Jangan terlalu kasar dengan kakakku, Vina. Dia kan lemah dan mudah sakit," ucap Monica, terdengar dermawan namun senyuman liciknya menunjukkan kepuasan.
Monica mendekat dengan rok di atas lutut, serta tas bermerek tersampir di pundaknya.
Gadis yang dipanggil Vina itu akhirnya melepaskan cengkeramannya di rambut Shelia. Tawa di sekitar mulai memudar namun tatapan teman-temannya pada Shelia masih jelas menghina.
Monica menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sinis.
"Maaf ya, Kak Eve. Mereka hanya bercanda." Sudut bibir Monica terangkat perlahan. "Oh ya, tugas kuliahku jangan lupa selesaikan. Aku tidak mau mendengar alasan lagi."
Setelah mengatakan itu, Monica melempar tisu yang ia pegang ke wajah Shelia.
'Apa maksud bocah menyebalkan ini? Siapa yang dia panggil Eve?' pikir Shelia masih mencerna apa yang terjadi.
"Kau siapa? Bagaimana bisa gadis muda berpakaian tidak senonoh seperti ini?" tanya Shelia dengan tatapan penuh penilaian terhadap penampilan Monica yang menurutnya terlalu seksi.
Mendengar hal itu, Monica menutup mulut dan tertawa keras.
"Haha!"
Tak hanya Monica, Vina dan teman-teman di belakangnya pun demikian. Saat tawa Monica perlahan berhenti, dia menunjuk satu jari ke kepala Shelia.
"Terserah aku mau bagaimana penampilanku. Memangnya kau siapa, hah? Beraninya mengaturku!" ujar Monica dengan nada jengkel sambil menekan-nekan kepala Shelia.
Tapi bukan hanya Monica yang jengkel, Shelia pun demikian. Dia sudah tak tahan mendengar ocehan sok gadis-gadis muda ini.
'Kau memang harus diberi pelajaran,' geramnya dalam hati.
Di tengah Monica masih menekan-nekan kepala Shelia, Shelia menepis dengan kasar.
Monica mengerjap, kaget. "Apa? Apa maksud—"
Namun belum sempat mengutarakan kekesalannya, tangan Shelia sudah lebih dulu melayang tepat di pipi kanan Monica.
Plak!
Monica membeku dengan di wajahnya yang mulai memerah. Vina, bahkan teman-temannya pun terdiam saking terkejutnya.
Sementara Shelia, dia dengan santai mengibaskan tangannya.
"Dasar bocah-bocah ini. Hanya karena punya status, kalian pikir bisa menindasku?" ucapnya dengan dagu terangkat, seolah menantang.
Shelia berdiri tepat di hadapan seorang pria. Tubuh pria itu diikat kuat dan tergeletak begitu saja di lantai, seperti seekor ulat.Kedua tangannya tidak dapat bergerak. Mulutnya juga dibungkam dengan kain yang diikat erat. Beberapa memar terlihat di wajah dan tubuhnya."Hmp! Hmp!"W-46 meronta. Namun, ikatan tersebut tidak memberinya kesempatan untuk bergerak bebas.Shelia memandangnya dengan tenang. Kemudian ia menggeleng perlahan."Garry benar-benar kejam."Tatapannya tertuju pada luka-luka pria itu. Namun, Shelia sama sekali tidak merasa iba. Dia mendekat, lalu melepaskan kain yang membungkam mulut pria itu.W-46 langsung menarik napas panjang. "Kau..."Shelia menatapnya."Aku akan bertanya. Dan kau hanya perlu menjawab jujur."Pria itu tertawa remeh. "Kalau aku tidak mau?"Shelia hanya tersenyum, namun niat membunuh terpancar darinya."Kalau begitu, kau akan bertemu rekanmu saat ini juga."W-46 menatapnya beberapa saat. Ia terus berusaha menghindari tatapan Shelia. Dia sadar diri
Mobil merah Ashran akhirnya berhenti tepat di depan gerbang kampus. Begitu mesin dimatikan, Ashran langsung membuka pintu dan turun. Garry yang duduk di sebelahnya juga segera mengikuti.Mereka berjalan melewati gerbang utama. Seorang satpam yang berjaga langsung menyapa ketika melihat Ashran."Selamat malam, Tuan Ashran. Tumben sekali, ada urusan apa kemari?"Ashran mengangguk singkat. "Pak, aku ingin menanyakan sesuatu."Satpam tersebut tampak sedikit bingung."Apakah kau pernah melihat hal-hal aneh di sekitar kampus ini?"Pak Suroso menggaruk kepalanya. "Hal-hal aneh? Seperti hantu?"Ashran menggeleng pelan."Bukan. Orang-orang yang mencurigakan.""Oh..." Pak Suroso berpikir sejenak. "Kalau begitu, sepertinya beberapa kali saya pernah melihat sesuatu.""Apa yang kau lihat?" tanya Garry."Beberapa kali saya melihat bayangan seseorang masuk ke kamar mandi terbengkalai di gedung dosen," jelas Suroso.Ashran mengerutkan kening. "Kau yakin?""Entahlah, Tuan. Saya hanya melihat bayangann
Ashran dan Garry langsung mengarahkan pandangan ke sumber suara."Arah suaranya dari sana!"Garry menunjuk ke area taman dekat rumah kaca. Tanpa membuang waktu, Ashran segera berjalan cepat ke arah tersebut. Garry ikut menyusul di belakangnya.Begitu mereka mendekati area rumah kaca, kerumunan orang sudah berkumpul.Beberapa petugas rumah sakit bahkan keluar dari gedung untuk memeriksa apa yang terjadi."Apa yang terjadi?""Katanya ada pencuri.""Siapa yang menangkapnya?"Suara orang-orang terdengar saling bersahutan.Ashran menerobos kerumunan. Namun, begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi, langkahnya berhenti.Seorang gadis berdiri di tengah taman. Sandy. Gadis itu sedang menahan seorang pria bertubuh jauh lebih besar darinya di atas tanah.Pria tersebut mencoba bergerak, tetapi Sandy dengan mudah menahannya.Ashran mengembuskan napas lega. Untuk sesaat, ia mengira orang yang membuat keributan tadi adalah anggota Dark Mind."Sandy?"Mendengar namanya dipanggil, Sandy mendongak.
"Maaf..."Suara Laurel terdengar lirih. Gadis itu menundukkan kepalanya. Kedua tangannya saling menggenggam erat, sementara air mata masih menggenang di sudut matanya."Ini salahku sampai Louis dibawa oleh mereka."Shelia yang berdiri di sampingnya menatap Laurel dengan prihatin. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Alfred lebih dahulu membuka suara."Tidak, Nak."Suara lelaki tua itu terdengar tenang meskipun wajahnya masih terlihat pucat."Aku yang diincar oleh mereka. Hanya saja, mereka mengambil Louis sebagai gantinya." Alfred menghela napas panjang. "Jika aku menyerahkan diri sejak awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi."Laurel menggeleng kuat. "Tapi, Kakek—""Ini bukan salah kalian berdua." Suara Ashran terdengar berat.Pria itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan yang sejak tadi ditahannya akhirnya terlihat jelas dari sorot matanya."Para bajingan itu yang sudah kelewatan."Laurel terdiam. Ashran benar. Tidak ada seorang pun di ruangan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews