로그인Liora Vallerine harus mengambil peran yang bukan miliknya. Saat kakaknya kabur tepat di hari pernikahan, ia terpaksa menggantikannya berdiri di samping Damian Alexander Hale, pewaris paling berkuasa yang tak pernah tersenyum pada siapapun. Damian tahu betul, wanita yang seharusnya menjadi istrinya adalah Clarissa Vallerine. Namun saat hari itu tiba, yang datang berdiri dihadapannya bukanlah wanita itu, melainkan adik kandungnya. Ia menerima pergantian itu demi menjaga kesepakatan yang sudah terjalin, menganggap pernikahan ini hanya urusan kewajiban belaka. Namun takdir berkata lain Diantara sandiwara dan kesepakatan itu, perasaan yang tak diharapkan mulai tumbuh perlahan. Apakah ikatan yang dimulai itu, mampu berubah menjadi cinta yang Damian pertahankan seumur hidup?
더 보기Masih dalam posisi berjongkok dengan tangan bergetar, Liora perlahan membalikkan layar ponselnya, menyembunyikan pesan ancaman pertama itu dari Rina. Ia memilih memendamnya sendiri, membiarkan kegelisahan itu menetap di dalam hati tanpa membiarkannya mengambil alih kendali. Ia menarik napas panjang, lalu memandangi sisa kekacauan di setiap sudut ruangan yang harus mereka hadapi hari ini, sebelum akhirnya bangkit berdiri tegak. Sesaat kemudian, Liora kembali menatap asistennya dengan pandangan tenang. Rina yang berdiri tak jauh darinya masih menatap dengan ragu, matanya masih berkaca-kaca. "Bu Liora, jadi apa yang harus kita lakukan? Semua rancangan hancur begitu saja. Waktu kita tidak banyak jika harus mulai dari awal." Liora berjalan perlahan lalu duduk tegak di kursi kerjanya, menatap sisa-sisa kekacauan di hadapannya. Suaranya terdengar tenang, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kita tidak berhenti di sini, Rina. Menangis tidak akan mendesain ulang kain-k
Langkah kaki Liora meninggalkan gedung pusat perusahaan Hale terasa berat namun tak pernah goyah. Di dadanya kini tersimpan kesepakatan yang diambilnya dengan berani. Ia tahu perjalanan menuju panggung itu tak akan mudah. Ada banyak hal yang ingin menjatuhkannya sebelum ia sempat menunjukkan kemampuannya.Sesampainya di rumah ia tak langsung beristirahat. Pikirannya terus berputar menyusun rencana meski semua jalan pasokan tertutup rapat oleh satu kekuatan yang sama.Keesokan paginya Liora tiba di butik lebih awal dari biasanya. Rina sudah menunggu di sana dengan wajah penuh kekhawatiran.Rina berkata. "Bu Liora apakah ada kabar baik dari Tuan Damian?"Liora menggeleng pelan sambil meletakkan tas kerjanya."Tak ada bantuan yang datang Rina. Namun aku diberi kesempatan untuk berjuang dengan caraku sendiri tanpa campur tangan siapa pun."Rina berkata dengan nada cemas. "Tapi Bu semua pemasok menolak mengambil pesanan kita. Bagaimana kita bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu untuk pam
Tekad yang tumbuh kuat di hati Liora semalam belum sempat tenang. Saat fajar menyingsing, satu per satu rintangan baru justru datang menghadang. Ia belum tahu, bahwa keputusan Damian kemarin hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Pagi itu Liora bangun lebih awal. Cahaya matahari baru menyelinap lewat celah tirai. Udara masih sejuk. Ia duduk di tepi tempat tidur. Mengingat kembali tekadnya semalam. Tak ada rasa takut, hanya keteguhan. Di sebelahnya, Damian masih berbaring memunggunginya. Tak ada sapaan. Liora segera bersiap dan keluar kamar. Pak Bimo sudah menunggu di halaman. "Selamat pagi, Bu Liora," sapa Pak Bimo. "Selamat pagi, Pak Bimo. Tolong antar ke butik ya," jawab Liora. "Baik, silakan masuk." Sesampainya di butik, suasana tenang tak bertahan lama. Rina berlari mendekat dengan napas terengah. Wajahnya tampak pucat. "Bu Liora! Ada berita buruk sekali!" seru Rina. "Apa yang terjadi?" tanya Liora tenang. "Semua pemasok kain menolak mengirim pesanan kita, Bu!Bahk
Panggilan itu memotong niat Damian yang belum sempat terucap. Ia menutup kembali laci kecil itu perlahan, menyembunyikan surat yang tadi sempat ia baca. Lalu berjalan membuka pintu kamar tanpa menoleh sedikit pun. Liora masih terpaku sejenak, bertanya-tanya apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kertas itu, sebelum akhirnya menyusul langkahnya menuju ruang makan.Lorong kediaman itu terasa sejuk dan sunyi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan di atas karpet tebal. Sesampainya di ambang pintu ruang makan yang luas itu, terlihat Papa Arlan dan Mama Elena sudah duduk menunggu di meja yang tertata sangat rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji di sana, memancarkan aroma yang menggugah selera namun tak sepenuhnya mencairkan suasana yang masih kaku."Duduklah, Nak," sapa Mama Elena lembut."Kita makan malam bersama." Damian mendekati meja, menarikkan kursi untuk Liora dengan gerakan kaku, lalu duduk di sebelahnya.Papa Arlan memperhatikan mereka bergantian. Ia sadar ad












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.