LOGINLiora Vallerine harus mengambil peran yang bukan miliknya. Saat kakaknya kabur tepat di hari pernikahan, ia terpaksa menggantikannya berdiri di samping Damian Alexander Hale, pewaris paling berkuasa yang tak pernah tersenyum pada siapapun. Damian tahu betul, wanita yang seharusnya menjadi istrinya adalah Clarissa Vallerine. Namun saat hari itu tiba, yang datang berdiri dihadapannya bukanlah wanita itu, melainkan adik kandungnya. Ia menerima pergantian itu demi menjaga kesepakatan yang sudah terjalin, menganggap pernikahan ini hanya urusan kewajiban belaka. Namun takdir berkata lain Diantara sandiwara dan kesepakatan itu, perasaan yang tak diharapkan mulai tumbuh perlahan. Apakah ikatan yang dimulai itu, mampu berubah menjadi cinta yang Damian pertahankan seumur hidup?
View MoreSuasana seketika hening. Liora menahan napas. Matanya meneliti setiap sudut ruangan yang gelap."Siapa?" suaranya bergetar pelan.Damian mengangkat telunjuk ke bibirnya."Diam. Jangan bersuara terlalu keras. Dia mendengar kita."Clarissa menatap pintu belakang."Reynald sendirian di ruang bawah bersama Rina."Damian meraih tongkat kayu di sudut ruangan."Tetap di sini. Jangan kemana-mana.""Jangan pergi sendirian," cegah Liora."Kalau dia benar-benar di sini, salah satu dari kita harus bergerak duluan. Tunggu aku." Damian melangkah pelan menuju lorong.Belum lama berlalu, teriakan Damian terdengar."Keluar sekarang! Aku tahu kau di sana!"Liora dan Clarissa berlari menyusul. Di sudut ruangan dekat jendela berdiri sosok bertopeng, memegang pisau kecil."Siapa kau?" tanya Damian dingin, berdiri di depan mereka.Pria itu tertawa pelan."Kau tidak perlu tahu namaku. Aku cuma menjalankan tugas. Tinggalkan semua ini. Berhenti mencari tahu. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali.""
Seseorang masuk...Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora."Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang."Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan."Rina?" Liora terkejut. "Kau yang tadi masuk?""Maaf Bu, aku tidak bermaksud mengagetkan," Rina tersenyum canggung. "Pintunya ternyata tidak tertutup rapat. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman.""Dan listrik tiba-tiba mati begitu saja tepat saat kau datang?" Damian menatapnya tajam. Dia tidak bergerak dari posisinya berdiri di depan Liora."Sepertinya ada gangguan listrik, Tuan. Di luar juga gelap sekali. Hujannya deras sekali malam ini." Rina m
Damian menatapnya dengan dahi berkerut. "Cucuku? Apa maksudmu?"Pria tua itu tersenyum tipis. "Kau akan mengerti nanti. Dan aku tidak datang sendirian." Dia menggeser tubuhnya ke samping. Dari belakangnya, Fiona melangkah keluar.Liora terkejut mundur selangkah. "Fiona? Kau? Kenapa kau ada di sini?"Fiona menatapnya tajam. Matanya penuh kebencian."Kira kau pikir kau sudah menang? Aku tidak akan pergi begitu saja dan membiarkanmu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku.""Apa maksudmu milikmu? Semua yang ada di sini bukan untuk diperebutkan," ucap Liora."Bukan diperebutkan? Kau berdiri di posisiku. Kau tidur di tempatku seharusnya. Kau ada di sampingnya saat seharusnya aku yang ada di sana!" Fiona menunjuk Damian dengan tangan gemetar. "Kau mengambil semuanya dariku. Dan kau berani bertanya kenapa aku ada di sini?""Aku tidak mengambil apa pun. Bahkan milikmu sekalipun. Damian memilih sendiri siapa yang ingin ada disisinya" jawab Liora tenang."Memilih? Kau pikir kalau kaka
Damian melangkah ke depan, tangannya menggenggam gagang pintu. Bahunya tegak, tapi napasnya terlihat berat."Jangan mendekat, Liora. Tetap di belakangku.""Aku bukan anak kecil, Damian. Aku ingin melihat kakakku sendiri.""Lihat saja. Tapi biarkan aku yang berbicara duluan."Pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri wanita yang selama ini menghantui pikiran Liora. Clarissa. Senyumnya tipis, matanya tajam menatap Damian sebelum beralih ke Liora. Di sebelahnya, Arkan berdiri diam, wajahnya datar tanpa ekspresi."Selamat malam," ucap Clarissa tenang, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. "Kalian berdua terlihat seolah baru saja membicarakanku.""Kenapa kau datang?" tanya Damian langsung, suaranya dingin dan tegas. "Dan kenapa bersamanya?""Pertanyaan yang bagus. Tapi sepertinya bukan aku yang harus menjelaskan dulu, bukan?" Clarissa meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Kau terlihat sehat, adikku. Senang melihatmu masih hidup di rumah yang penuh kebohong
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews