แชร์

BAB 627

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-21 00:01:33

“Mas jangan bercanda kayak gitu,” ucap Karin cepat, matanya mulai berkaca-kaca.

“Saya serius.”

“Kamu gila?!” suara Karin bergetar. “Kalau kamu masuk penjara, aku gimana? Anak kita gimana?”

Kaisar memejamkan matanya sejenak. “Dan kalau Ratu kenapa-kenapa ... saya juga gak akan bisa hidup tenang, Karin.”

Karin menggigit bibirnya kuat-kuat, air matanya mulai jatuh satu per satu.

“Kamu bilang ini semua gak disengaja,” liri
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 628

    Seketika Djiwa dan Naren menoleh bersamaan ke arah Regan. “Apa?” tanya Djiwa cepat. “Tangan Ratu gerak, Mom,” ucap Regan dengan napas tertahan. “Beneran.” Djiwa buru-buru mendekat ke sisi brankar. Dan benar saja, jemari kecil putrinya bergerak pelan di sela genggaman tangan Regan. “Nak ...?” suara Djiwa langsung bergetar. Ia membungkuk, mengusap lembut pipi pucat putrinya. “Ratu ... sayang?” Kelopak mata bocah itu bergerak pelan, cukup membuat jantung Djiwa berdetak begitu cepat hingga hampir sesak. “Mas Regan! Pencet tombol dokter, cepat!” ucap Djiwa panik bercampur bahagia. Regan langsung bangkit dan menekan tombol darurat di atas kepala brankar. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar ruangan. Sementara itu Djiwa buru-buru meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencari nomor suaminya untuk dihubungi. Pa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 627

    “Mas jangan bercanda kayak gitu,” ucap Karin cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Saya serius.” “Kamu gila?!” suara Karin bergetar. “Kalau kamu masuk penjara, aku gimana? Anak kita gimana?” Kaisar memejamkan matanya sejenak. “Dan kalau Ratu kenapa-kenapa ... saya juga gak akan bisa hidup tenang, Karin.” Karin menggigit bibirnya kuat-kuat, air matanya mulai jatuh satu per satu. “Kamu bilang ini semua gak disengaja,” lirihnya. “Kamu bilang cuma mau bikin Mas Radja berhenti ngejar aku.” “Saya tahu.” “Terus kenapa sekarang malah mau nyerahin diri?” Kaisar mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah. “Karena saya baru sadar ... saya hampir mengambil anak perempuan satu-satunya dari kakak saya.” “Bagaimana jika Ratu tidak selamat? Sedangkan Djiwa sudah tidak bisa hamil lagi,” lanjut Kaisar lirih. “Bayangkan jika itu posisi saya sebagai ayah?”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 626

    Suasana ruang rawat inap VIP terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara alat monitor jantung yang berdetak stabil, mengisi keheningan di dalam ruangan. Ratu masih terbaring lemah di atas brankar. Wajah kecilnya pucat, kepalanya diperban, begitu pula salah satu kakinya yang membuat dada siapa pun terasa nyeri saat melihatnya. Radja duduk di kursi samping brankar sejak tadi. Kemeja hitam yang dia kenakan tampak kusut karena semalaman tak berganti posisi terlalu banyak. Matanya merah. Bukan hanya karena tidak tidur, tapi juga karena terlalu lama menahan rasa takut dan bersalah. Tangan besarnya menggenggam tangan kecil putrinya erat, seolah takut kehilangan. “Kita sarapan dulu ya, Mas,” ucap Djiwa lirih sambil masuk membawa nampan makanan. Di belakangnya, Regan dan Naren ikut masuk dengan langkah pelan. Kedua bocah itu tampak murung sejak semalam. Radja menoleh sekilas pada sang istr

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 625

    Tengah malam itu, Radja belum juga memejamkan mata. Pria itu masih duduk di samping brankar putrinya dengan tubuh tegak dan kedua tangan bertaut di depan wajahnya. Tatapannya tak pernah lepas dari Ratu. Dari wajah kecil yang kini tampak pucat. Dari kepala mungil yang dibalut perban putih. Dan dari tangan kecil yang kini dipenuhi selang infus. Kaki putrinya juga diperban, membuat dada Radja terasa seperti diremas kuat. Ruangan VIP itu begitu sunyi. Hanya suara detak monitor jantung yang terdengar pelan di tengah malam. Harusnya malam ini menjadi malam yang membahagiakan. Makan malam perayaan kenaikan kelas ketiga anaknya. Malam di mana Ratu akan tertawa heboh melihat hadiah alpaca yang sudah susah payah dia cari. Namun semuanya justru berubah menjadi mimpi buruk. Radja perlahan mengusap punggung tangan kecil putrinya. Hangat. Namun terlalu lemah. “Harusnya Daddy tidak menunda maka

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 624

    Sultan baru saja tiba di rumah sakit dengan langkah tenang, meski raut wajahnya terlihat serius. Di tangannya terdapat paper bag besar berisi pakaian baru yang sempat ia beli di butik dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Ratu dirawat. Lorong VIP malam itu begitu sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki beberapa perawat yang sesekali terdengar. “Mas,” panggil Sultan pelan saat menemukan Radja duduk seorang diri di depan ruang rawat inap VIP. Sang kakak menoleh sekilas. Tatapannya dingin dan lelah. Namun beberapa detik kemudian, Radja kembali mengalihkan pandangannya ke pintu ruangan di depannya. “Tempatnya cukup jauh,” ucap Sultan seraya mendekat. “Maaf kalau saya datang lama.” Ia meletakkan paper bag di kursi kosong samping Radja. Tak ada jawaban, hanya anggukan kecil dari pria itu. Sultan menghembuskan napas ringan sebelum akhirny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 623

    “Mas, kamu di mana?” suara Fairish terdengar dari ujung telepon saat Sultan menyetir mobilnya membelah jalanan malam. “Saya lagi di perjalanan,” jawab Sultan singkat, tatapannya tetap lurus ke depan. “Mau pulang?” Sultan menggeleng pelan, meski tahu sang istri tak bisa melihatnya. “Tidak. Saya sedang menuju tempat Mas Radja dan Kaisar.” Kening Fairish langsung berkerut di seberang sana. “Ada apa lagi, Mas?” Sultan menghembuskan napas berat sebelum menjawab. “Kaisar membawa anak-anak Mas Radja pergi tanpa izin. Dari pagi sampai sore mereka tidak bisa dihubungi.” “Apa?” suara Fairish melemah. “Terus sekarang anak-anaknya di mana?” “Saya belum tahu pasti,” jawab Sultan jujur. “Saya baru dengar kabarnya dari Mami.” “Astaga ....” “Saya akan coba hubungi Mas Radja atau Djiwa dulu,” lanjut Sultan tenang meski rahangnya tampak mengeras. “Nanti

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 341

    “Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-05
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status