LOGINKehilangan sosok ayah sejak kecil membuat Lily Anastasya, 20 tahun tumbuh dengan luka bernama Daddy Issues. Ia hanya bisa jatuh cinta pada pria yang seusia dengan ayahnya. Sialnya, pria itu adalah Dr. Jonathan Alvaro, 40 tahun. Pria matang yang menolongnya dari amukan para pemuda mabuk. Pria yang berwajah Daddy tapi berstatus Suami Orang. Jonathan sudah menikah lebih dari 10 tahun lamanya dengan Diandra Maharani, 35 tahun. Seorang Model yang menganut Childfree. Karier di atas segalanya. Anak? Tidak akan pernah. Jonathan ingin setia. Tapi Lily tidak akan melepasnya. Terpojok oleh cinta, Lily yang akhirnya mengajukan syarat; Izinkan aku tetap di sisimu, Paman. Jadikan aku wanitamu... dan aku akan memberimu anak yang tak bisa Istrimu beri. Tapi... seberapa jauh Lily akan pergi demi cinta seorang Paman? Akankah rahasia ini aman... atau hancur di tangan Istri Sahnya?
View MoreKehadiran seorang buah hati di tengah keluarga merupakan sebuah anugerah terindah dari Tuhan. Meski begitu, nyatanya tak semua pasangan menginginkan datangnya sosok Sang pelita jiwa. Entah karena belum ada kesiapan, atau memang tidak berniat memiliki keturunan.
Diandra Maharani Adiwijaya adalah salah satu orang yang menganut Childfree. Ia dan suaminya, dr. Jonathan Alvaro memutuskan untuk tidak menghadirkan seorang anak pun di dalam pernikahan mereka. Menjadi seorang pesohor di negara maju menuntut Diandra untuk selalu menjaga penampilan dan bentuk tubuhnya. Ia takut bahwa tubuhnya akan berubah jika dirinya hamil atau bahkan melahirkan seorang bayi. Bayi mungil itu masih merah, baru beberapa hari yang lalu dilahirkan ke dunia. Dengan kain bedong biru membalut tubuhnya yang mungil, ia sangat nyaman terlelap di dalam gendongan salah seorang wanita yang sedang mengunjunginya. "Astaga, dia sangat lucu! Pipinya merah, tampan sekali!" pekik pujian teralun diiringi cubitan main-main pada pipi tembam Si bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Melani, wanita bermata sipit khas keturunan Tiongkok itu begitu gemas pada putra dari temannya, Elizabeth Marthadinata. "Kau benar-benar beruntung, Liz, putramu begitu mirip denganmu." Nancy Ayudia, Si wanita berambut lebat bergelombang yang menggendong Si bayi menimpali. Ia sedikit mengayunkan gendongannya, membuat bayi laki-laki itu semakin terlelap dalam buaiannya. Diandra, wanita yang memiliki postur tubuh nyaris sempurna bak gitar Spanyol, rambutnya dicat cukup cerah; ash brown, dan bermata hazel memikat itu hanya tersenyum dari tempat duduknya. Sedangkan Sang suami yang duduk di sisinya terus saja memperhatikan buntalan kain berisi Si bayi mungil dalam diam. Entah apa yang ada dalam kepala tampannya saat ini. Dilihat dari sisi mana pun sepasang suami-istri itu tampak begitu serasi. Diandra adalah wanita yang cantik paripurna, sedangkan suaminya merupakan seorang pria blasteran berdarah Indonesia-Jerman yang tampan rupawan. Pria itu bertubuh tinggi menjulang, berambut pirang dengan kedua mata biru terang. Rahangnya yang tegas membuatnya terlihat bak pria bangsawan. Andai mereka berencana untuk memiliki keturunan, tak terbayang akan sesempurna apa anak mereka. "Jika kelak ia akan mengikuti jejakmu menjadi seorang model, aku yakin ia akan lebih bersinar daripada ibunya." Melani kembali berucap, sesuatu yang berhasil membuat Si ibu bayi tersenyum simpul. Elizabeth, wanita yang baru beberapa hari lalu melahirkan melalui operasi caesar itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada tumpukan bantal di belakang punggungnya. Gurat lelah tampak di wajahnya yang sayu, namun tetap terlihat cantik menawan. Rambut lembut nan terawatnya diikat ke belakang. Untuk saat ini wanita yang berprofesi sebagai model itu abai terhadap penampilan. "Yah, aku merasa bahwa karierku akan terancam olehnya. Tapi, aku memang berharap demikian. Terima kasih atas doa baik kalian." Samuel Marthadinata, suami Elizabeth kedapatan membelai rambut istrinya setelah wanita itu selesai berbicara. Meski tak terkata, pria keturunan Korea Selatan sekaligus pemilik sebuah label rekaman yang cukup ternama di ibu kota itu terlihat begitu mencintai Sang istri. Tak berbeda dengan Diandra Maharani, Elizabeth Marthadinata pun seorang model yang cukup ternama. Pergelaran busana Jakarta Fashion Week tidak pernah absen dirinya meriahkan. Namun, ia memilih untuk mematikan egonya demi melahirkan seorang putra untuk suaminya. "Kau ingin menggendongnya, Diandra?" Nancy pada akhirnya menatap ke arah Diandra yang hanya diam dan memperhatikan, ia menawarkan bayi yang berada dalam buaiannya. "Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik." Bibir tipis berwarna merah jambu itu tersenyum canggung, namun di detik selanjutnya wanita itu bangkit berdiri menuju kedua rekannya. "Kau hanya perlu rileks. Biarkan dia nyaman berada dalam dekapanmu." Elizabeth yang masih merasakan nyeri pada bekas jahitan di perutnya berucap tanpa berpindah posisi, tetap duduk bersandar pada sofa. Dengan menekan rasa ragu, Diandra mengambil alih bayi newborn itu dari gendongan Nancy, meletakkannya dengan begitu hati-hati pada lengan kiri. "Begini?" "Ya, seperti itu." Si ibu bayi mengangguk, lengkap dengan senyum manis. Yang tak Diandra sangka, bayi dalam gendongannya tiba-tiba membuka mata, menampakkan mata polos yang mengerjap-ngerjap menatap wanita cantik itu. "Wah, dia bangun!" Diandra berseru riang. Dia berjalan menuju suaminya demi menunjukkan wajah bayi yang ia gendong. "Sayang, lihatlah! Dia membuka mata!" "Dia sangat menggemaskan." Jonathan berkomentar setelah melihat Si bayi, dan ia tersenyum tulus. Pria yang tahun ini akan genap berusia kepala empat yang berprofesi sebagai dokter keluarga itu menatap antusias. Dadanya menghangat saat melihat Sang istri terlihat begitu pantas menggendong seorang bayi. "Omong-omong, kau tidak ingin memiliki satu yang seperti itu? Kalian sudah menikah lebih dari satu dekade, bukan? Sepertinya suamimu sudah sangat ingin memilikinya." Elizabeth menggoda Diandra, hanya sekedar bercanda. Tentu mereka berempat sudah mengetahui bahwa temannya yang satu itu tidak ingin memiliki anak. Mereka bekerja di bidang yang sama, yang hampir setiap hari bertemu muka. "Kurasa kau salah, Liz. Suamiku tidak pernah mempermasalahkan perihal keturunan. Memiliki anak bukanlah prioritas kami, atau mungkin tidak akan pernah menjadi prioritas?" Diandra terkekeh merdu sebelum kembali meneruskan kalimatnya. "Untuk saat ini kami nyaman hanya dengan berdua saja. Bukan begitu, Sayang?" dan berakhir dirinya menatap wajah tampan suaminya, meminta pembenaran. "Jangan selalu menunda-nunda, Diandra. Wanita memiliki batasan usia yang ideal untuk hamil dan melahirkan. Usiamu genap tiga puluh lima tahun ini, bukan? Jangan sampai kau menyesal di masa tua nanti." Melani menyahut. Wanita yang sudah memiliki seorang anak balita itu mendudukkan diri pada kursi yang sebelumnya ia duduki seraya menyesap secangkir teh yang disajikan untuknya. "Terima kasih karena sudah mencemaskanku. Tapi, kami benar-benar baik-baik saja dengan kehidupan kami." Meski sedikit merasa tak nyaman mendengar ucapan Melani, Diandra masih mampu tersenyum manis. "Setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing, bukan? Dan untuk tidak memiliki keturunan sudah menjadi kesepakatan kami, bahkan sebelum janji suci pernikahan terucap. Kami bahagia dengan pernikahan kami. Dan orang luar hanya perlu melihatnya saja, tanpa perlu menghakimi." Seketika itu pula, atmosfer di ruang keluarga itu berubah kaku. *** Tbc...Lily belum pernah merasa sebegitu frustrasinya hanya karena pesan yang tak mendapatkan balasan. Tapi, tidak untuk kali ini. Gadis itu selalu memikirkannya, bahkan hingga membuatnya sedikit uring-uringan, pun cukup mengganggu pekerjaannya. Yang namanya hutang tentu saja harus dibayar, begitu pula dengan ucapan. Karena ia sudah berjanji untuk mentraktir pria yang sudah menyelamatkan hidupnya, tentu ia ingin segera menebus hutang janji itu secepatnya, supaya hatinya merasa tenang. Terlebih ... Lily selalu terbayang wajah tampan pria itu, khususnya pada matanya yang biru. Gadis itu ingin sekali kembali bertemu dengannya, entah mengapa. [Tuan, ini nomor saya. Sekali lagi terima kasih karena sudah menolong saya.] [Jika Anda memiliki waktu luang, tolong segera kabari saya.] Desah napas panjang terlepas setelah Lily kembali membaca pesan yang ia kirimkan ke nomor Si pria dewasa. Wajah cantiknya semakin tertekuk, sebab sampai detik ini pesannya tidak juga terbalas meski centang dua berwa
"Kau tidak makan?" adalah satu pertanyaan dari Jonathan di tengah suapannya ketika melihat Sang istri hanya duduk diam menatapnya sembari melipat lengan di atas meja.Diandra hanya menggeleng dengan senyuman yang semakin membuatnya tampak menawan. "Makan tengah malam bisa membuatku gemuk. Aku hanya akan menemanimu.""Kau bisa sakit jika melewatkan makan malam, Diandra," tegur pria itu.Sedangkan Diandra masih tetap mempertahankan senyumannya. "Aku sudah makan malam setelah selesai pemotretan. Jangan khawatir, Sayang." Ia tahu, Sang suami begitu perhatian padanya."Baguslah." Setelah merasa lega, Jonathan kembali menyuap mie buatan istrinya. "Besok kau jadi pergi ke Seoul?""Ya, aku akan terbang pukul 2 siang. Kenapa, Sayang?" Diandra bertopang dagu. Entah kenapa ia tak pernah jemu ketika memandang wajah suaminya."Berapa hari?""Mungkin hanya 3 atau 4 hari. Karena jika lebih dari itu, aku pasti akan sangat merindukanmu," aku wanita itu.Dan saat itulah Jonathan berhenti mengunyah maka
Mobil berjenis Hatchback warna putih berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah besar berhalaman luas. Ketika pintu penumpang bagian depan terbuka, salah satu kaki berhak tinggi dengan paha mulus itu perlahan mejejak paving, disusul munculnya seorang wanita cantik dari dalam kabin mobil.Diandra Maharani adalah namanya, seorang model papan atas yang kariernya selalu terang benderang, profesi yang ia geluti semenjak masih berusia belia. Bukan hanya cantik, bahkan visualnya nyaris sempurna. Tinggi badannya semampai, ditunjang dengan kulit putih bersih yang terawat. Tentu dirinya memiliki wajah yang menjual; begitu rupawan dilengkapi sepasang mata hazel menawan, bertulang hidung tinggi, bibir tipis pink alami, serta setitik tahi lalat di bawah mata kiri.Wanita itu baru saja sampai di rumahnya ketika waktu hampir menunjukkan pukul tengah malam setelah menyelesaikan sebuah sesi pemotretan. Meski penat, Wanita cantik itu tampak memberikan senyuman pada pria yang masih duduk di balik kemu
Jonathan berakhir membawa Lily ke minimarket yang buka 24 jam, tentu saja setelah mengambil jaket parka yang ia simpan di dalam mobil untuk ia kenakan. Ia mengajak gadis itu duduk di kursi depan bangunan toko seraya memberikannya minuman cup hangat, mencoba membuat Si gadis merasa tenang.Udara malam yang terasa dingin menyengat kulit sudah tak lagi Lily rasakan, sebab kemeja milik Si pria yang membungkus tubuhnya berhasil membuat dirinya nyaman. Bahannya yang lembut dan hangat membuat Si gadis mengira-ngira betapa mahalnya harga baju yang ia kenakan. Meski kebesaran bahkan hingga dirinya nyaris tenggelam, namun Lily merasa begitu senang memakainya. Apalagi ketika samar-samar ia mampu mencium aroma parfum Si pria yang masih tertinggal di sana."Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah merasa lebih baik?" tanya pria itu setelah meneguk kopi cup miliknya, memecah hening.Gadis itu mengangguk, menyentuh permukaan gelas berbahan kertas dengan kedua telapak tangan demi merasakan hangatnya. "T






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.