Ranjang kedua dr. Jonathan

Ranjang kedua dr. Jonathan

last updateLast Updated : 2026-08-11
By:  Riri riyanti Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kehilangan sosok ayah sejak kecil membuat Lily Anastasya, 20 tahun tumbuh dengan luka bernama Daddy Issues. Ia hanya bisa jatuh cinta pada pria yang seusia dengan ayahnya. Sialnya, pria itu adalah Dr. Jonathan Alvaro, 40 tahun. Pria matang yang menolongnya dari amukan para pemuda mabuk. Pria yang berwajah Daddy tapi berstatus Suami Orang. Jonathan sudah menikah lebih dari 10 tahun lamanya dengan Diandra Maharani, 35 tahun. Seorang Model yang menganut Childfree. Karier di atas segalanya. Anak? Tidak akan pernah. Jonathan ingin setia. Tapi Lily tidak akan melepasnya. Terpojok oleh cinta, Lily yang akhirnya mengajukan syarat; Izinkan aku tetap di sisimu, Paman. Jadikan aku wanitamu... dan aku akan memberimu anak yang tak bisa Istrimu beri. Tapi... seberapa jauh Lily akan pergi demi cinta seorang Paman? Akankah rahasia ini aman... atau hancur di tangan Istri Sahnya?

View More

Chapter 1

1. Buntalan kain biru

Kehadiran seorang buah hati di tengah keluarga merupakan sebuah anugerah terindah dari Tuhan. Meski begitu, nyatanya tak semua pasangan menginginkan datangnya sosok Sang pelita jiwa. Entah karena belum ada kesiapan, atau memang tidak berniat memiliki keturunan.

Diandra Maharani Adiwijaya adalah salah satu orang yang menganut Childfree. Ia dan suaminya, dr. Jonathan Alvaro memutuskan untuk tidak menghadirkan seorang anak pun di dalam pernikahan mereka. Menjadi seorang pesohor di negara maju menuntut Diandra untuk selalu menjaga penampilan dan bentuk tubuhnya. Ia takut bahwa tubuhnya akan berubah jika dirinya hamil atau bahkan melahirkan seorang bayi.

Bayi mungil itu masih merah, baru beberapa hari yang lalu dilahirkan ke dunia. Dengan kain bedong biru membalut tubuhnya yang mungil, ia sangat nyaman terlelap di dalam gendongan salah seorang wanita yang sedang mengunjunginya.

"Astaga, dia sangat lucu! Pipinya merah, tampan sekali!" pekik pujian teralun diiringi cubitan main-main pada pipi tembam Si bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Melani, wanita bermata sipit khas keturunan Tiongkok itu begitu gemas pada putra dari temannya, Elizabeth Marthadinata.

"Kau benar-benar beruntung, Liz, putramu begitu mirip denganmu." Nancy Ayudia, Si wanita berambut lebat bergelombang yang menggendong Si bayi menimpali. Ia sedikit mengayunkan gendongannya, membuat bayi laki-laki itu semakin terlelap dalam buaiannya.

Diandra, wanita yang memiliki postur tubuh nyaris sempurna bak gitar Spanyol, rambutnya dicat cukup cerah; ash brown, dan bermata hazel memikat itu hanya tersenyum dari tempat duduknya. Sedangkan Sang suami yang duduk di sisinya terus saja memperhatikan buntalan kain berisi Si bayi mungil dalam diam. Entah apa yang ada dalam kepala tampannya saat ini.

Dilihat dari sisi mana pun sepasang suami-istri itu tampak begitu serasi. Diandra adalah wanita yang cantik paripurna, sedangkan suaminya merupakan seorang pria blasteran berdarah Indonesia-Jerman yang tampan rupawan. Pria itu bertubuh tinggi menjulang, berambut pirang dengan kedua mata biru terang. Rahangnya yang tegas membuatnya terlihat bak pria bangsawan. Andai mereka berencana untuk memiliki keturunan, tak terbayang akan sesempurna apa anak mereka.

"Jika kelak ia akan mengikuti jejakmu menjadi seorang model, aku yakin ia akan lebih bersinar daripada ibunya." Melani kembali berucap, sesuatu yang berhasil membuat Si ibu bayi tersenyum simpul.

Elizabeth, wanita yang baru beberapa hari lalu melahirkan melalui operasi caesar itu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada tumpukan bantal di belakang punggungnya. Gurat lelah tampak di wajahnya yang sayu, namun tetap terlihat cantik menawan. Rambut lembut nan terawatnya diikat ke belakang. Untuk saat ini wanita yang berprofesi sebagai model itu abai terhadap penampilan.

"Yah, aku merasa bahwa karierku akan terancam olehnya. Tapi, aku memang berharap demikian. Terima kasih atas doa baik kalian."

Samuel Marthadinata, suami Elizabeth kedapatan membelai rambut istrinya setelah wanita itu selesai berbicara. Meski tak terkata, pria keturunan Korea Selatan sekaligus pemilik sebuah label rekaman yang cukup ternama di ibu kota itu terlihat begitu mencintai Sang istri.

Tak berbeda dengan Diandra Maharani, Elizabeth Marthadinata pun seorang model yang cukup ternama. Pergelaran busana Jakarta Fashion Week tidak pernah absen dirinya meriahkan. Namun, ia memilih untuk mematikan egonya demi melahirkan seorang putra untuk suaminya.

"Kau ingin menggendongnya, Diandra?" Nancy pada akhirnya menatap ke arah Diandra yang hanya diam dan memperhatikan, ia menawarkan bayi yang berada dalam buaiannya.

"Aku tidak yakin bisa melakukannya dengan baik." Bibir tipis berwarna merah jambu itu tersenyum canggung, namun di detik selanjutnya wanita itu bangkit berdiri menuju kedua rekannya.

"Kau hanya perlu rileks. Biarkan dia nyaman berada dalam dekapanmu." Elizabeth yang masih merasakan nyeri pada bekas jahitan di perutnya berucap tanpa berpindah posisi, tetap duduk bersandar pada sofa.

Dengan menekan rasa ragu, Diandra mengambil alih bayi newborn itu dari gendongan Nancy, meletakkannya dengan begitu hati-hati pada lengan kiri. "Begini?"

"Ya, seperti itu." Si ibu bayi mengangguk, lengkap dengan senyum manis.

Yang tak Diandra sangka, bayi dalam gendongannya tiba-tiba membuka mata, menampakkan mata polos yang mengerjap-ngerjap menatap wanita cantik itu.

"Wah, dia bangun!" Diandra berseru riang. Dia berjalan menuju suaminya demi menunjukkan wajah bayi yang ia gendong. "Sayang, lihatlah! Dia membuka mata!"

"Dia sangat menggemaskan." Jonathan berkomentar setelah melihat Si bayi, dan ia tersenyum tulus. Pria yang tahun ini akan genap berusia kepala empat yang berprofesi sebagai dokter keluarga itu menatap antusias. Dadanya menghangat saat melihat Sang istri terlihat begitu pantas menggendong seorang bayi.

"Omong-omong, kau tidak ingin memiliki satu yang seperti itu? Kalian sudah menikah lebih dari satu dekade, bukan? Sepertinya suamimu sudah sangat ingin memilikinya." Elizabeth menggoda Diandra, hanya sekedar bercanda. Tentu mereka berempat sudah mengetahui bahwa temannya yang satu itu tidak ingin memiliki anak. Mereka bekerja di bidang yang sama, yang hampir setiap hari bertemu muka.

"Kurasa kau salah, Liz. Suamiku tidak pernah mempermasalahkan perihal keturunan. Memiliki anak bukanlah prioritas kami, atau mungkin tidak akan pernah menjadi prioritas?" Diandra terkekeh merdu sebelum kembali meneruskan kalimatnya. "Untuk saat ini kami nyaman hanya dengan berdua saja. Bukan begitu, Sayang?" dan berakhir dirinya menatap wajah tampan suaminya, meminta pembenaran.

"Jangan selalu menunda-nunda, Diandra. Wanita memiliki batasan usia yang ideal untuk hamil dan melahirkan. Usiamu genap tiga puluh lima tahun ini, bukan? Jangan sampai kau menyesal di masa tua nanti." Melani menyahut. Wanita yang sudah memiliki seorang anak balita itu mendudukkan diri pada kursi yang sebelumnya ia duduki seraya menyesap secangkir teh yang disajikan untuknya.

"Terima kasih karena sudah mencemaskanku. Tapi, kami benar-benar baik-baik saja dengan kehidupan kami." Meski sedikit merasa tak nyaman mendengar ucapan Melani, Diandra masih mampu tersenyum manis. "Setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing, bukan? Dan untuk tidak memiliki keturunan sudah menjadi kesepakatan kami, bahkan sebelum janji suci pernikahan terucap. Kami bahagia dengan pernikahan kami. Dan orang luar hanya perlu melihatnya saja, tanpa perlu menghakimi."

Seketika itu pula, atmosfer di ruang keluarga itu berubah kaku.

***

Tbc...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status