FAZER LOGINEleanor Goodway is a girl living a perfect life with her parents. She has the perfect boyfriend, Lucas, and is well-liked at school due to her excellent grades, beauty and kind personality. But all of a sudden, her lover, promising to tell her something, disappeared without her being told where he was going. Confused and worried, Eleanor waited for him for months, but suddenly, she was dragged into an unknown world. A world where everything she thought didn’t exist, existed. A world that is too challenging for her, encountering different kinds of problems and revelations. A world that made her feel emotions that she had never felt before. But how will she adapt to living in a strange world while missing her normal life in the mortal world?
Ver maisJari-jemari Kanya dengan cekatan mengetuk setiap tombol pada keyboard sebuah laptop berwarna hitam. Rangkaian paragraf terus mengalir di layar laptop berukuran 14" tersebut.
Kanya Arundhati saat ini, sedang menggarap novel keduanya setelah sukses dengan novel pertamanya berjudul 'A Mysterious Man' yang mendapatkan popularitas hingga ratusan juta pada salah satu aplikasi menulis. Di sanalah dia mendapatkan penghasilan dan terus menulis.
Novel keduanya berjudul 'Kill Me' masih dengan genre yang sama seperti novel pertamanya yakni, genre horor-thriller, misteri dan dibumbui romantisme.
Kanya tetap fokus mengetik paragraf demi paragraf karena idenya tidak akan putus setelah dia menggebrak drafnya. Namun, jemarinya berhenti sampai pada adegan yang membuatnya bermimpi buruk yaitu, adegan pembunuhan. Adegan yang cukup Kanya sukai dan mendeskripsikan adegan itu tidaklah sulit baginya, meskipun demikian Kanya akan berpikir ulang ketika merangkai adegan tersebut.
"Kanya, lo nggak lagi bikin adegan pembunuhan kan malam-malam begini?" Samuel Wijaya bertanya.
Pria berambut coklat terang—sahabat Kanya yang selalu mendukungnya selama setahun belakangan sejak dia menulis novel. Pria itu semakin akrab dengannya dan menjadi teman juga sahabat satu-satunya.
"Nggak malam, nggak siang sama aja, Sam. Gue harus selesaikan adegan ini. Malam ini juga! Karena ini part terakhir dari chapter." Kanya berujar ngotot.
Meskipun dia tahu dirinya akan bermimpi buruk ketika tidur nanti dan bangun dengan sakit kepala besok pagi. Dia akan tetap menuntaskan part terakhir dari chapter tersebut.
"Kay ...,"
Kay merupakan sapaan akrab dari Kanya Arundhati—lebih tepatnya adalah nama pena yang digunakannya di sebuah platform menulis yang sangat terkenal belakang ini. Platform itulah yang menjadi pundi-pundi penghasilan baginya dan novel perdananya benar-benar booming, meskipun memiliki genre yang sebenarnya kurang diminati lantaran banyaknya adegan seram dan mencekam seperti adegan psikopat sadis yang membunuh targetnya, sehingga membuat pembaca cukup bergidik ngeri, apalagi dengan cara penuturan dan gaya Kanya ketika mendeskripsikan sebuah adegan.
Kanya melirik pada sahabatnya. "Sam, lo pulang aja. Nggak usah nungguin gue! Lagian udah malam ngapain masih di apartemen gue?"
Samuel menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan. "Ya sudah, gue pulang sekarang. Kalau lo mimpi buruk, nggak usah nelpon gue tengah malam nanti." Samuel mendengus sembari membereskan barang-barangnya.
"Tenang aja, gue udah terbiasa dengan mimpi itu. Udah buruan pulang sana! Malam-malam begini masih di apartemen anak gadis." Ledek Kanya.
Samuel Wijaya memasang wajah datar ketika melihat wajah Kanya. "Oke." Balasnya singkat.
Dirinya terkekeh ketika Samuel Wijaya mengambil langkah dan meletakkan tangannya pada gagang pintu. Sebelum membuka pintu Samuel kembali melirik Kanya.
"Kay, gue beneran pulang."
"Hati-hati di jalan jangan sampai ketemu kuntilanak." Ucapnya dengan nada bercanda. Dia masih melihat ke arah Samuel Wijaya dari duduknya. Namun tidak ada keinginan untuk bangkit dan mengantar pria itu keluar dari apartemennya.
Sekali lagi Samuel menggeleng pelan. "Astaga! Lo nyumpahin gue biar ketemu kunti? Teman macam apa lo?! Mentang-mentang penulis novel horor, nggak ada takut-takutnya."
"Horor-Thriller, Bro." Tukas Kanya.
"Iya, tahu! Gue pulang." Samuel Wijaya lantas membuka pintu dan keluar dari apartemen Kanya.
Kini, tinggal Kanya sendiri di dalam apartemen tipe 21 tersebut. Dia duduk lurus di kursinya sambil menatap kosong pada layar laptop di depannya. "Huh!" Kanya mengerutkan kening dan menghela napas pelan karena memikirkan adegan yang akan dia tulis. "Apa harus gue tulis adegan itu malam ini?!" kedua siku bertumpu di atas meja, sedang kesepuluh jarinya menggaruk lembut pada pucuk kepalanya.
Melirik pada jam dinding yang menunjukkan pukul 23:35 PM, dan sebentar lagi tengah malam tiba.
"Sebentar lagi tengah malam dan gue harus update chapter baru."
Wajahnya berubah lesu ketika sampai pada part yang membuat kepalanya berat seperti dipukul benda keras, namun tak meninggalkan bekas.
Kanya adalah tipe penulis yang berprinsip dan konsisten akan apa yang telah dia kerjakan. Jika update chapter novelnya pada tengah malam, maka dia harus menyelesaikan chapter tersebut dan tentunya dia harus update pada tengah malam pula tidak bisa ditunda.
"25 menit lagi dan ini merupakan part terakhir di dalam chapter 11. Gue harus selesaikan. Semangat, Kanya!" mata berapi-api serta kesepuluh jemari siap mengetik setiap rangkaian kata dalam fantasinya.
Part terakhir yang Kanya tulis dalam chapter-nya telah dia rampungkan kurang dari 25 menit. Setelah melakukan pengecekan ulang selama beberapa menit, dia memposting chapter tersebut. Terlalu lelah, mata Kanya mulai terpejam setelah mematikan laptop dan tertidur di sana.
Dalam suasana berkabut, di mana Kanya berada di sebuah gudang tua. Gudang tempat dia menusuk dada kiri seorang pria berbusana hitam. Dirinya telah masuk ke dalam dunia—entah mimpi seperti nyata ataukah nyata bagaikan halusinasi. Dia sendiri kurang paham akan hal yang disebutnya mimpi buruk berulang.
Berteriak. Kanya terus berteriak ingin lari dari sana, atau bangun secara paksa. Dia memegang kepalanya, rasa getir telah menelusup ke dalam rongga jiwanya.
"Nggak! Nggak! Nggak lagi!"
Ingin berlari, namun cahaya pun tak ada lantaran kabut gelap menguasai tempat itu. Matanya tak melihat satu pun jalan keluar, seperti biasanya Kanya menjadi sosok yang kebingungan dan kehilangan arah.
"Kanya ..., hei, kamu datang lagi?"
Nada halus dari seorang pria yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Selama setahun sejak menulis novel perdananya. Setiap kali part pembunuhan di tulis olehnya, pria ini akan datang dalam kabut gelap pada mimpinya.
Hentakan pelan suara langkah kaki berasal dari pria yang menyapanya barusan. Sesosok pria tinggi nan tampan dengan garis rahang sempurna bak model internasional—pria ini hanya ada dalam mimpi Kanya. Ya, saat ini hanya ada dalam mimpinya.
Selangkah demi selangkah pria dengan senyum memikat itu mendekat ke arah Kanya dan perlahan kabut hitam yang menyelimuti gudang itu—memudar ketika pria itu muncul.
"E, Eros." Lirih Kanya kala menyebut nama pria yang jaraknya beberapa meter darinya. Eros selalu terbunuh dalam mimpi Kanya. "Jangan mendekat!" Kanya mundur beberapa langkah, rasa getir telah menyeruak dalam sanubarinya. Takut untuk membunuh pria itu, takut setiap kali dia harus membunuh pria itu tanpa rasa belas kasih. Air mata Kanya telah membasahi pipi, dia gemetar tatkala senyum hangat Eros menyapanya.
"Kenapa Kanya? Bukankah kamu datang karena merindukanku?"
Setiap langkah Eros semakin mendekat ke arahnya. Dari tangan pria tinggi itu menaburkan kelopak bunga mawar merah di setiap langkah yang diambilnya. Kanya memperhatikan hal sama berulang kali, dan sebentar lagi hal yang ditakutinya akan terjadi.
"Gue bilang jangan mendekat!" pekiknya dengan suara lantang.
Eros sengaja menggelengkan kepala tanda ketidaksetujuannya. "Make a wish, Kanya."
Jantung Kanya seperti merosot ke lambungnya kala kalimat yang ditakutinya meluncur dari bibir Eros.
Kelopak bunga mawar di tangan Eros telah berubah menjadi belati tajam berwarna merah kepekatan. Eros tanpa ragu mengulurkan belati itu pada Kanya. Dia sangat takut melihat belati yang biasa digunakannya, ketika berkali-kali menembus dada pria itu.
"Nggak! Nggak lagi! Gue mohon."
"Ambil, Kanya." Nada tegas Eros ketika memerintah Kanya.
Dengan perlahan tanpa perlawan, tangan kanannya mengambil belati tersebut dari tangan Eros. Iris mata Kanya beralih merah saat belati tergenggam sempurna di tangannya. Dalam relung terdalam, mencoba melawan dirinya sendiri, akan tetapi belati di tangan kanannya siap meluncur ke dada kiri Eros.
"Make a wish, Kanya." Desis Eros. "Make a wish." Sekali lagi Eros mendesis di dekat Kanya.
"Matilah!"
Belati tersebut lantas menancap pada dada kiri Eros. Rasa dingin dan tak berperasaan itu telah menembus tulang pria itu. Darah mulai menetes dari sana. Rasa sakit dari Eros nampak oleh mata Kanya. Namun, tak ada belas kasih yang dia rasakan saat ini.
"Uhuk!"
Darah langsung mengucur tatkala belati ditarik dengan sengaja oleh Kanya. Dia mulai tersenyum sadis melihat mata penuh kesakitan dari pria tampan di hadapannya. Sayang sekali Eros harus mati berkali-kali di tangan Kanya.
"Hahaha~" tawa Kanya menggema di seluruh gudang.
Eros tak lagi berucap dan Kanya tanpa segan menikam dada kiri Eros sekali lagi, dua kali, tiga kali, hingga kali yang tak terhitung olehnya. Hingga akhirnya Eros tumbang lantaran ujung belati itu telah menembus jantungnya.
Bersambung
Meski mati berkali-kali di tanganmu adalah takdirku, aku akan menerimanya dengan senang hati. — Apple Leaf
There was a loud bolt of lightning that rattled the trees on the forest's hood. Eleanor stood there, baffled, watching everything that was going on. She turned around when she noticed a shadow by her side and happened to notice Lucas, who didn't seem to notice her and continued walking. She followed him and was led to Beasurys Lake, which was breathtaking even though it was already dark. He finally stopped and turned around to face her. Lucas smiled and extended his hands for her to take. Eleanor raised her arm slowly to reach for his hand, but she felt as if something had passed right through her. She couldn't figure out who or what it was until she was pulled into another dream. A dream in which she sees herself as a person walking through an empty hallway with another person by her side. "Your royal highness, you should be sleeping right now. Walking around these large halls is bad for your health." A girl's familiar voice spoke up. Eleanor was about to turn to the left when sh
It had already been days since Eleanor was brought to the mysterious world of Ceastrerion, and she had been relying entirely on Asmia's information and knowledge. Eleanor began to have doubts about everything. Her heart wouldn't stop racing every night. She felt as if she was being suffocated. When she wakes up in the morning, she often breaks down in tears as she remembers her family and her life in the world she was accustomed to. It didn’t matter how beautiful the world was, it was too different from her life, living with her own family and friends. Every time she remembers that she’s alone in a strange place with an old woman she barely knew, she feels lonely. Making Ceastrerion her home wasn’t enough for her because she knows she doesn’t belong there. Eleanor's mind was wandering somewhere else, not absorbing what the old lady was telling her, as she stared at a stack of various types of leaves on the kitchen table. Eleanor's mood had suddenly changed, and Asmia
Eleanor opened her eyes to find the sun already up, the warmth of the sun gently touching her skin. Instead of a white concrete ceiling, she saw the wood ceiling of the cabin. She had thought that it was all a dream and that once she woke up, she would wake up in her bedroom again. Her gaze was concentrated on the nearby window as she crawled on the floor. It took her some time to adjust to the direct sunlight hitting her eyes. Despite the serene green scenery in front of her, her eyes started to tear up as she gazed outside. It's beautiful here, but I cannot stay here for long. My father and mother are surely worried about me. What if this is just a dream that I can’t wake up from? Eleanor sat there, staring out the window, thinking about everything that had happened. "Now that you're awake, get yourself together and come down." From behind her, a pleasant voice spoke. She shifted her gaze to the elderly woman, who was searching through one
When Eleanor opened her eyes, she saw enormous tall trees in front of her. Her eyes widenedas she sat on the wet ground, realizing that all the lights she had followed had vanished and the place she was in was entirely different.Eleanor took a look around and noticed that the dark sky was gradually brightening, illuminating the forest. The smell of the plants, trees and damp ground flooded her nostrils. She tried to stand up several times as the shadow of the large trees fell over the area where she was seated, but her knees were trembling uncontrollably.Her cream-colored gown was smeared by the dirt when she successfully stood up, and some leaves stuck to the hem of her gown as well. Eleanor walked carefully to lean against a tree and gain balance, unable to brush the dirt off.All she wanted was to find her way back home, but how could she do that if the lights that she had been following had vanished?Fear crept into her chest as she thought a
There was a teenage girl with long chestnut waved hair, staring at a window with a moist concealing the view from the outside. Waiting for her lover to come, a cold breeze of air suddenly swept right through her as she went to the wide-open door of their house.She hugged her arms tightly
"Do you have anything planned today, Eli?" As they walked home from school, Sheila asked Eleanor.Another week has passed, and Lucas has yet to be found. Eleanor was becoming increasingly concerned, but she remained confident that Lucas will return. She was constantly reminding herse
Lucas felt light-headed when he awoke. When he looked around, all he saw was pure darkness. The sky had already darkened, and all he could see were the shadow of the trees and feel the moist earth that he was lying on.He felt cold and trembled at the thought that he was alone there, not h


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
avaliações