Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 213 : EKSEPSI YANG DITOLAK

Share

BAB 213 : EKSEPSI YANG DITOLAK

Author: Yoongina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-26 14:29:30

Deru mesin SUV hitam itu memecah kesunyian dini hari Griya Zadewa. Jam di ruang tengah baru saja berdenting menunjuk pukul dua pagi ketika Dewa, Bima, dan Dika melangkah masuk. Kemeja hitam Dewa basah terkena air hujan, namun matanya terbuka lebar, memancarkan kemenangan yang sekian lama tertahan.

​Tanpa membuang waktu untuk mengganti pakaian, Dewa langsung menuju ruang kerja pribadinya.

​"Kunci pintunya, Dika. Bima, siapkan laptop yang tidak terhubung ke internet. Kita tidak tahu apakah ha
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
udah donkkk wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Yoongina
Kakk yociii udah aku upload tauu di ig hehehhee cuzzz ahh di tengok ♡♡♡
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
dan sayapun sudah tidak sabar utk update besok. wkwkwkwk terima kasih kak gin syng... selamat malam Minggu kak gin...nikmati istirahatnya ya kak, jalan2, kulineran, biar update besok lebih grengg... plis foto dewa pake baju advokat di IG y kak. hihihi
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Chemistry Chapter   BAB 218 : KEBEBASAN HASAN

    Dua hari setelah persidangan yang menggemparkan itu, sebuah konferensi pers besar-besaran digelar di aula utama lantai dasar Mahesa Tower. Ratusan jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik, dan online memadati ruangan, menanti pernyataan resmi dari perusahaan besar yang tengah terguncang badai skandal tersebut. ​Di atas podium, Sagara Mahesa berdiri dengan setelan jas hitam formal. Kilatan cahaya dari puluhan kamera menyambar wajahnya tanpa henti. Rahang pewaris Mahesa Group itu terkatup rapat. Di balik ketenangannya yang elegan, ego dan harga dirinya sedang dicabik-cabik. Meminta maaf secara terbuka kepada Sadewa Adiraja adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini, namun desakan ayahnya dan anjloknya nilai saham perusahaan memaksanya menelan ludah pahit sebuah kekalahan. ​Sagara mendekat ke mikrofon, menarik napas panjang. ​"Selamat pagi, rekan-rekan media," suara Sagara menggema di seluruh penjuru aula, terdengar berat dan lugas. "Hari ini, mewakili Dewan Direk

  • Chemistry Chapter   BAB 217 : KEKALAHAN SAGARA DAN TIARA

    Sore itu, langit Jakarta yang semula mendung kelabu perlahan mulai menampakkan semburat jingga di ufuk barat. Sisa-sisa hujan meninggalkan aroma tanah yang menguar dari jalanan, membawa hawa sejuk yang menyapu kepenatan ibukota. ​Mobil Alphard hitam milik Sadewa Adiraja meluncur mulus memasuki pekarangan depan Griya Zadewa. Sebelum roda mobil itu benar-benar berhenti sempurna di pelataran depan, pintu utama rumah megah itu sudah terbuka lebar. ​Zea berdiri di ambang pintu, mengabaikan perutnya yang sudah sangat besar. Dress hamilnya berkibar tertiup angin sore. Wajahnya sembab oleh air mata, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan tangis kebahagiaan yang meluap-luap setelah menyaksikan siaran langsung persidangan di televisi. Di belakang Zea, Lenny, Baskara dan Oma Dyah berdiri mendampingi dengan senyum penuh haru. ​Pintu penumpang terbuka. Dewa turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Hasan Kurniawan melangkah keluar. Pria paruh baya itu masih m

  • Chemistry Chapter   BAB 216 : AIR MATA HASAN

    Keriuhan di Ruang Sidang Utama Prof. Oemar Seno Adji mengalahkan gemuruh orang-orang yang berada di luar gedung. Suara jepretan kamera dari bangku wartawan bersahut-sahutan bagai senapan mesin, mengabadikan detik-detik runtuhnya kredibilitas sang Direktur Utama Mahesa Group. Para pengunjung sidang berdiri, berbisik keras, dan menunjuk-nunjuk ke arah layar proyektor raksasa yang menampilkan deretan kode digital sebagai fakta yang sebenarnya. ​TOK! TOK! TOK! TOK! ​"Pengunjung harap tenang! Petugas keamanan, tertibkan barisan belakang atau saya perintahkan sidang ini dinyatakan tertutup!" bentak Hakim Ketua dengan wajah memerah, memukulkan palu berkali-kali hingga suaranya serak. ​Beberapa petugas kepolisian dan keamanan pengadilan segera bergerak, memaksa para wartawan dan pengunjung untuk kembali duduk. Butuh waktu hampir dua menit penuh ketegangan sebelum ruangan itu kembali bisa dikendalikan. ​Di tengah keheningan yang menegangkan itu, Sadewa Adiraja tetap berdiri tak bergemi

  • Chemistry Chapter   BAB 215 : MEMBALIK KEADAAN

    Langkah kaki Sadewa Adiraja berhenti tepat satu setengah meter dari kursi saksi, menciptakan jarak diantara mereka. Sorot matanya sedingin es, menembus langsung ke dalam kedua bola mata Hendra Sadikin yang duduk berhadapan dengannya. ​Di kursi pengunjung, Sagara Mahesa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit, berusaha membaca apa yang sedang direncanakan oleh musuh bebuyutannya itu. Sementara di rumah, Zea duduk terpaku di depan layar televisi, meremas bantal sofa dengan jantung berdebar kencang menantikan eksekusi dari sang suami. ​"Saudara Saksi, Bapak Hendra Sadikin," Dewa memulai, suaranya mengalun tenang tanpa emosi, namun mengikat perhatian seluruh hadirin. "Tadi Anda menyatakan bahwa klien saya, Bapak Hasan Kurniawan, menyusupkan dokumen transaksi fiktif tersebut ke dalam tumpukan draf pencairan bonus karyawan. Apakah saya mengutip kesaksian Anda dengan benar?" ​Hendra berdeham pelan, memperbaiki posisi duduknya. "Benar, Pak Pengacara. Ia memanfaatkan kelengah

  • Chemistry Chapter   BAB 214 : SAKSI HENDRA SADIKIN

    Berita penolakan Eksepsi Sadewa Adiraja meledak di seluruh penjuru media massa sesaat setelah palu hakim diketuk. Judul-judul portal berita seolah berlomba memvonis karier sang pengacara kondang. 'Kekalahan Perdana Sadewa Adiraja', 'Bukti Sempurna Kejaksaan Tak Terbantahkan', hingga 'Langkah Mundur Sang Legenda di Kasus Mertuanya Sendiri'. ​Namun, di balik hiruk-pikuk sorak sorai kemenangan publik yang pro terhadap Mahesa Group, ada satu orang yang justru merasa seolah nyawanya sedang di ujung tanduk. ​Di dalam mobil sedan mewahnya yang melaju menjauhi gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Hendra Sadikin duduk dengan tubuh kaku. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, membasahi kerah kemejanya. Suara bariton Dewa yang berbisik di lobi pengadilan terus terngiang di telinganya, berputar bagai kaset rusak yang meneror akal sehatnya. ​"Pastikan server di lantai lima belas Anda selalu dalam keadaan bersih, Pak Hendra. Anda tidak pernah tahu siapa yang menyimpan kuncinya." ​Ta

  • Chemistry Chapter   BAB 213 : EKSEPSI YANG DITOLAK

    Deru mesin SUV hitam itu memecah kesunyian dini hari Griya Zadewa. Jam di ruang tengah baru saja berdenting menunjuk pukul dua pagi ketika Dewa, Bima, dan Dika melangkah masuk. Kemeja hitam Dewa basah terkena air hujan, namun matanya terbuka lebar, memancarkan kemenangan yang sekian lama tertahan. ​Tanpa membuang waktu untuk mengganti pakaian, Dewa langsung menuju ruang kerja pribadinya. ​"Kunci pintunya, Dika. Bima, siapkan laptop yang tidak terhubung ke internet. Kita tidak tahu apakah hardisk ini memiliki sistem pelacak atau tidak," perintah Dewa cepat, melepas kemeja basahnya dan meraih kaos bersih dari atas sofa. ​Bima bergerak sigap. Ia menyalakan sebuah laptop lalu menyambungkan hardisk hitam pemberian Dimas Aryo. ​Di tengah kesibukan itu, pintu ruang kerja berderit pelan. Zea berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun tidur panjang berbahan satin, mengusap matanya yang masih mengantuk sambil memegangi perut buncitnya. ​"Kak Dewa...? Baru pulang?" tegur Zea dengan suara

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status