MasukDi tahun ketiga pernikahannya dengan Adrian Pranadipa, Shanaya Wirajaya akhirnya mengetahui siapa wanita yang sebenarnya dia cintai. Wanita itu adalah kakak iparnya. Di malam kematian sang kakak, Adrian sama sekali tidak peduli pada Shanaya yang berdiri di sampingnya, dan malah menjadi tameng hidup untuk kakak iparnya menerima tamparan telak. Shanaya sadar, alasan Adrian menikahinya hanyalah karena dia cukup penurut dan tahu diri. Dan kenyataannya, dia memang sangat tahu diri. Tahu diri sampai-sampai urusan perceraian pun tidak sampai mengusik Adrian sedikit pun. Adrian tidak tahu bahwa dia sudah memegang surat cerai. Adrian tidak tahu bahwa dia hampir menikah dengan pria lain. Di hari ketika Shanaya berhasil mengembangkan obat mujarab untuk kanker, seluruh dunia bersorak memujinya. Hanya Adrian yang berlutut dengan satu kaki, mata memerah penuh penyesalan memohon, "Shanaya, aku salah... bisakah kamu menoleh sekali saja kepadaku?" Dia dulunya adalah pria sempurna, lembut dan terhormat, mana mungkin dia bisa salah? Shanaya melangkah mundur. Di saat yang sama, pria yang dikenal sebagai sosok paling berkuasa, dingin, tak tersentuh, dan sulit didekati, menarik pinggangnya dengan mantap. Suara beratnya menggema, tegas dan penuh otoritas. "Maaf, dia sudah mau menikah. Dengan aku."
Lihat lebih banyakPada waktu seperti ini dia menelepon, kemungkinan besar urusannya sudah ada hasilnya, jadi Lucien juga tidak berniat lagi menyembunyikan apa pun dari Shanaya.Baik atau buruk, Shanaya berhak tahu.Saat melihat nama Aurelia, tubuh Shanaya tanpa sadar menegang.Walaupun Lucien tidak mengatakannya, dia bisa menebak maksud dari panggilan Aurelia itu.Yoyo di sampingnya tampaknya menyadari kegugupannya. Kepalanya menggesek pelan ke paha Shanaya, seperti memberi ketenangan tanpa kata.Shanaya mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, lalu menatap Lucien tanpa ragu sedikit pun. "Kamu angkat saja."Lucien tahu dia sudah menyiapkan diri. Sambil menggandengnya ke samping untuk duduk, pria itu menekan tombol pengeras suara dan menjawab, "Halo, Kak Aurelia.""Shanaya ada bersamamu?"Di ujung telepon, suara Aurelia seperti biasa terdengar tenang dan dingin, tetapi terselip sedikit kelelahan yang sulit disadari.Shanaya makin yakin tebakannya tidak salah. Tanpa menunggu Lucien berbicara, dia langs
Dia memang sudah gelisah sejak awal. Jika saat ini diberi tahu bahwa kejadian tahun itu mungkin benar-benar ada kaitannya dengan Keluarga Wirantara, emosinya hanya akan makin buruk.Daripada begitu, lebih baik menunggu sampai semuanya benar-benar jelas.Di pihak Keluarga Wirantara, ada dorongan dari Rivaldi, dan Aurelia juga pasti tidak akan bertele-tele dalam menangani masalah ini.Kemungkinan besar, paling lambat malam ini sudah akan ada hasilnya.Shanaya tidak tahu seluk-beluk di balik semua itu. Melihat ekspresinya tetap seperti biasa, Lucien tidak curiga. "Baiklah."Dia menunduk, melihat masih banyak dokumen di atas meja yang harus ditangani. Dengan bantuan tangan Lucien, dia pun berdiri. "Kamu lanjut kerja saja, ya. Aku mau menemani Yoyo bermain, sekalian berjemur di bawah matahari."Beberapa waktu lalu, dia tanpa sengaja menyadari bahwa alasan Yoyo bersikap sangat hati-hati saat bermain dengannya adalah karena sejak lama sudah tahu bahwa dia sedang hamil.Saat itu, Bi Rina ingin
Baru setelah Pak Rangga selesai mengucapkan itu, Aurelia akhirnya menghela napas panjang lega. Hatinya yang sempat terasa tercekat di tenggorokan, kini benar-benar kembali tenang.Memang seperti yang dikatakan Pak Rangga, Zafran meskipun ceroboh dan sering bertindak tanpa pikir panjang, tetap takut membuat Pak Rangga marah, apalagi sampai masalah ini dibawa ke hadapan Tuan Haryo.Aurelia berdiri, lalu membungkuk hormat kepada Pak Rangga untuk mengucapkan terima kasih. "Pak Rangga, terima kasih banyak."Dia tidak bisa mengatakan lebih dari itu.Namun, Pak Rangga tentu sudah mengerti semuanya.Aurelia sebenarnya hanya berterima kasih karena dia telah mencegah Zafran terlibat secara ceroboh dalam sebuah kasus besar, dan juga karena dia bisa memberikan penjelasan yang layak kepada adiknya.Keluarga Wirantara tidak ikut terlibat dalam hal itu.Neira yang menunggu di luar, melihat ekspresi Aurelia saat keluar, ikut merasa lega."Tuan tidak ikut terlibat, 'kan?""Tadinya hampir."Setelah kete
Mendengar itu, Pak Rangga terkejut dan bertanya dengan tidak percaya, "Apa kamu bilang?"Hubungan Pak Rangga dan Tuan Haryo cukup dekat. Dulu, saat Winona hilang, Tuan Haryo bahkan pernah meminta bantuan Pak Rangga untuk mencarinya.Tidak disangka, setelah dicari ke sana kemari, orangnya justru berada tepat di depan mata.Aurelia juga merasa takdir seperti mempermainkannya. "Anda tidak salah dengar. Gadis kecil yang dibawa pulang oleh pasangan polisi Wirajaya dari Asia Tenggara itu adalah Winona yang selama ini dicari oleh keluargaku."Pak Rangga sampai ingin menepuk pahanya. "Semua salahku.""Dulu aku memang tidak terpikir ke arah sana. Kalau tidak, setidaknya aku pasti sudah menemukan anak itu."Pak Rangga pernah melihat foto Winona.Kalau benar-benar bertemu langsung, pasti bisa dikenali.Namun, waktu itu kejadiannya terlalu mendesak, ditambah lagi dia adalah anak yang dibawa kembali dari Asia Tenggara. Semua orang hanya fokus memastikan keselamatannya, tidak ada yang memikirkan hal
Jadi, Mario tidak langsung menolak, dia masih ingin menanyakan untuk memastikan.Lucien merenung sejenak, lalu berkata, "Pergi."Musuh Shanaya tidak banyak.Mungkin dari Keluarga Wirantara bisa mendapat petunjuk.Adrian mendengar bahwa dia masih sempat memikirkan untuk menghadiri pesta itu, lalu men
Sekilas terdengar sangat tenang.Namun, hanya Mario yang telah mendampingi dirinya selama bertahun-tahun yang bisa menangkap kejanggalannya.Sejak kapan Tuan Muda mereka mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu tidak pasti?Di matanya, Lucien selalu sosok yang tegas dan mantap, bertindak cepat da
Seluruh ruang tamu seketika menjadi sunyi senyap, sampai suara jarum jatuh pun terdengar.Semua anggota Keluarga Wirantara melihat di mata satu sama lain rasa lega seolah beban terangkat, kegembiraan karena menemukan kembali yang hilang.Serta rasa perih di hati.Meskipun mereka sudah menduga bahwa
Setibanya di perusahaan, Adrian langsung menuju kantor di lantai teratas.Saat dia masuk, Lucien sedang berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan jalan di luar.Adrian hanya melangkah sampai ke sofa lalu berhenti. "Ada perlu apa mencariku?"Mendengar itu, barulah Lucien berbalik perlahan. Di bal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak