MasukAlana mati dengan kejam di tangan suaminya dan selingkuhannya demi merebut harta warisan miliknya. Alih-alih pergi ke alam baka, ia justru terbangun tepat satu tahun sebelum kematiannya. Tunggu, badannya terasa berbeda... Bayangan di cermin tidak memperlihatkan wajahnya sendiri, tapi wajah selingkuhan suaminya!
Lihat lebih banyakRasa dingin yang menusuk tulang adalah hal terakhir yang kuingat dari kehidupan laluku.
Bukan sekadar dinginnya udara malam musim gugur yang menembus jendela kaca paviliun, melainkan dinginnya racun yang merayap perlahan dari ujung kakiku, menyusuri pembuluh darah, hingga akhirnya mencekik organ jantungku secara paksa. Rasa tembaga dan amis darah yang pekat memenuhi kerongkonganku saat tubuhku kejang di atas lantai marmer Italia. Lantai dingin di ruang tamu rumah kami sendiri kini menjadi saksi bisu kebodohan dan kepolosanku. Gelasku yang sebelumnya berisi anggur merah kesukaanku, anggur yang dituangkan sendiri oleh suamiku saat kami merayakan hari jadi, kini pecah berserakan di dekat jemariku yang mulai membiru. Adrian, pria yang selama delapan tahun kubangun kariernya dari titik nol, pria yang rela kukasihani hingga aku menentang seluruh keluarga besarku, menatapku dari atas sana tanpa sedikit pun rasa penyesalan. Di sisinya, Serena berdiri angkuh, meremas lengan jas Adrian dengan kuku-kuku jarinya yang bercat merah menyala. "Maafkan aku, Alana," bisik Adrian. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu, terasa sedingin es dan setajam belati yang menghujam dada. "Tapi Serena sedang mengandung ahli warisku. Sesuatu yang tidak pernah bisa kau berikan padaku meskipun kita menikah seratus tahun lamanya. Perusahaan ini, rumah ini, seluruh aset keluargamu... semuanya akan jauh lebih aman di tanganku. Kau terlalu naif, terlalu polos, dan terlalu lemah untuk dunia korporat yang keras ini." Itu adalah kebohongan yang sangat kejam. Aku tahu persis Serena memalsukan seluruh catatan medisnya demi merebut posisiku dan merebut harta warisan ayahku. Tapi racun di dalam gelasku bekerja terlalu cepat. Aku tidak bisa berteriak. Paru-paruku terbakar seperti disiram cairan asam, dan pandanganku perlahan-lahan mengabur dari pinggir. Aku mati dengan mata terbuka lebar, menyaksikan dua pengkhianat itu berpelukan di atas penderitaanku. Aku mengutuk mereka dengan sisa napas terakhirku, membawa dendam membara yang rasanya cukup untuk membakar seluruh isi neraka. Lalu... kegelapan menelanku bulat-bulat. Hening. Tidak ada api neraka yang membakar, tidak pula ada cahaya terang yang menyambut dari surga. Hanya ada sensasi mengambang yang sangat aneh, seolah-olah jiwaku terombang-ambing di dalam lautan hitam yang tak berujung. Perlahan-lahan, kesadaranku merayap kembali secara bertahap. Bukan sebagai roh tanpa wujud, melainkan sebuah kesadaran fisik yang sangat nyata dan pekat. Denyut nadi yang berdetak di leher. Tarikan napas yang berat. Dan rasa pening yang luar biasa mendera tengkorakku. Aku tersentak bangun, meraup udara dengan napas memburu seolah-olah aku baru saja tenggelam di kedalaman samudra dan akhirnya berhasil mencapai permukaan. Dadaku naik turun dengan ritme yang menyakitkan. Keringat dingin membasahi pelipis, leher, dan punggungku. Tanganku secara refleks mencengkeram erat sesuatu di bawah tubuhku. Sesuatu yang sangat lembut, licin, dingin, dan terasa sangat mahal. Seprai sutra? Bukankah aku baru saja mati mengenaskan di atas lantai marmer yang dingin dan keras? Aku membelalakkan mata, mengerjap beberapa kali untuk mengusir sisa-sisa bayangan kematian, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ini bukan ruang tamu rumahku, bukan rumah sakit, dan jelas bukan alam baka. Ini adalah kamar tidur utama dari sebuah penthouse hotel mewah bernuansa warna emas dan hitam pekat. Lampu gantung kristal tergantung anggun di tengah ruangan, memancarkan cahaya temaram yang hangat. Udara kamar sarat akan aroma parfum mawar merah dan musk, aroma menyengat yang sangat kukenal karena selalu menempel di kerah kemeja Adrian setiap kali ia pulang larut malam belakangan ini. Dengan tubuh gemetar dan kaki yang terasa lemah seperti jeli, aku merangkak turun dari ranjang. Rasa pening yang luar biasa menghantam tengkorakku seperti pukulan palu godam, tetapi rasa penasaran dan ketakutan mengalahkan segalanya. Aku berjalan terhuyung-huyung, meraba dinding kayu yang mahal, menuju kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit dan memancarkan cahaya lampu terang. Aku mencengkeram tepi wastafel pualam, menunduk sejenak untuk mengatur napas, lalu mengumpulkan keberanian untuk mendongak menatap cermin besar di hadapanku. Prang! Sikuku tanpa sengaja menyenggol botol parfum kaca tebal di tepi wastafel hingga jatuh dan hancur berserakan di ubin marmer. Wewangian mawar merah yang pekat langsung menyeruak memenuhi udara kamar mandi. Namun, aku bahkan tidak berkedip. Jantungku serasa berhenti berdetak seketika. Darah di seluruh nadiku seolah membeku. Di dalam cermin itu, bukan wajah pucat, lelah, dan polos milik Alana yang menatap balik ke arahku. Yang kulihat adalah rambut hitam pekat bergelombang sempurna yang tergerai membingkai wajah mungil berbentuk V. Alisnya menukik tajam memberikan kesan angkuh, hidung mancung sempurna, serta sepasang mata rubah yang tajam, sensual, dan sangat menggoda. Dan bibir itu... bibir merah merona yang secara alami terlihat menantang, seolah diciptakan hanya untuk menyuarakan kebohongan dan merayu pria. Itu adalah wajah wanita yang merusak rumah tanggaku. Wajah wanita yang meracuniku dan tersenyum atas kematianku. Wajah Serena. "Ti-tidak mungkin..." Suaraku lolos dari bibir itu. Suara yang serak, dalam, dan mengalun dengan nada yang sensual—sama sekali bukan suaraku yang biasanya lembut dan tenang. Aku menyentuh pipiku dengan tangan yang bergetar hebat. Pantulan di cermin melakukan hal yang sama persis. Aku mencubit lenganku kuat-kuat, lalu menjambak rambut bergelombang itu dengan kasar. Rasa sakitnya nyata dan menyengat. Ini bukan mimpi buruk atau ilusi sebelum kematian. Ini adalah kenyataan yang gila dan tak masuk akal. Jiwaku... Alana sang istri sah yang dibuang seperti sampah... bereinkarnasi ke dalam tubuh musuh terbesarku. Tiba-tiba, layar ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas luar menyala terang, bergetar memecah keheningan kamar mandi yang menegangkan. Sebuah nama tertera jelas di layar, diikuti simbol hati yang membuat perutku mual seketika, Adrian Sayang. Mataku menangkap deretan angka kecil di sudut layar ponsel yang menunjukkan tanggal dan waktu, 12 Oktober 2025. Napasku tercekat. Tepat satu tahun sebelum malam kematianku! Satu tahun sebelum Adrian berhasil memanipulasi dewan direksi dan merebut seluruh hak waris perusahaanku secara legal. Saat ini, Serena masih berstatus sebagai sekretaris pribadi Adrian yang baru diangkat. Skandal perselingkuhan mereka belum terbongkar ke publik, dan rencana licik mereka untuk menjatuhkanku baru saja dimulai. Tanganku yang tadinya gemetar perlahan-lahan menjadi tenang. Kepanikan yang sempat menyumbat dadaku menguap tanpa sisa, tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap, panas, dan memabukkan. Sebuah euforia kegelapan menyala-nyala di dalam dadaku. Takdir rupanya memberikan senjata paling mematikan yang tidak pernah diantisipasi oleh Adrian: wanita simpanannya sendiri. Jika Adrian berpikir ia bisa mempermainkan Alana karena wanita itu terlalu lemah dan penurut, mari kita lihat bagaimana ia menghadapi Serena yang otaknya diisi oleh dendam kesumat dari neraka. Aku akan menjadi pelakor paling manipulatif dan paling beracun yang pernah ada. Aku akan memeluknya, membuainya dalam rasa aman palsu, menjadi orang kepercayaannya, lalu meracuni setiap rencana bisnisnya dari dalam hingga pria itu jatuh miskin, hancur, dan memohon kematiannya sendiri. Aku melangkah perlahan menghampiri nakas, lalu menggeser ikon hijau di layar ponsel. Kutempelkan benda dingin itu ke telingaku. Dari seberang telepon, suara bariton Adrian terdengar mengalun hangat, membawa pura-pura cinta yang dulu selalu berhasil memperdayaku. "Serena? Sayang, kau sudah bangun?" Senyum miring yang licik, tajam, dan dipenuhi aroma kematian terukir perlahan di bibir merah Serena. Tatapanku mengunci pantulanku di kaca, membayangkan leher Adrian kini berada tepat di dalam cengkeramanku. "Sudah, Sayang..." bisikku halus dengan nada manja yang mengayun memikat, menyembunyikan taring beracun di balik setiap silabelnya. Aku sudah bangun... dan aku siap membawamu ke neraka. Bersambung...Aroma cedarwood dan bergamot yang mahal dari tubuh Victor Brawijaya mendadak menginvasi udara kafe remang-remang ini, mengusir baunya yang apek oleh asap rokok basi.Kehadiran pria itu begitu dominan.Dalam setelan jas hitamnya yang dipotong sempurna, Victor duduk di hadapanku dengan postur santai tetapi memancarkan ancaman yang absolut.Sebelah tangannya bertumpu di meja kayu yang sedikit lengket, sementara sepasang mata elangnya yang berwarna obsidian menatapku seolah mampu menguliti seluruh rahasia di dalam jiwaku.Jantungku berdegup kencang oleh sengatan adrenalin.Di kehidupan laluku sebagai Alana, aku mungkin akan gemetar dan memalingkan wajah jika berada di bawah tekanan sosok seintimidatif ini.Namun hari ini, aku menyandarkan punggungku ke kursi kulit, menyilangkan kaki, dan balas menatap matanya tanpa berkedip sedetik pun."Tuan Victor," suaraku mengalun serak dan tenang, bibir merahku membentuk senyum miring yang menantang."Apakah seorang CEO Brawijaya Group tidak memiliki
Tiga ratus juta rupiah sebelum jam tiga sore.Angka itu terus menari-nari di kepala dan mataku, menyerupai vonis eksekusi mati yang kian mendekat.Ponsel prabayar burner phone berlayar retak itu terasa begitu dingin di genggamanku, seolah benda murah itu terbuat dari es batu yang siap membekukan jemariku.Begitu aku meretas dan memeriksa aplikasi perbankan pribadi milik Serena di ponsel utamanya, kenyataan pahit langsung menyambutku di layar.Saldo rekening utamanya hanya tersisa Rp 4.250.000.Semua uang bulanan jutaan rupiah yang diperas Serena dari Adrian habis tak berbekas.Wanita itu menghamburkannya untuk membeli barang-barang bermerek yang tidak berguna serta membayar bunga pinjaman yang mencekik dari para lintah darat.Serena hidup di atas gunung es yang perlahan mencair, dan kini akulah yang berdiri di atas puncaknya, bersiap ikut tenggelam jika tidak mengambil langkah cepat.Meminta uang pada Adrian adalah tindakan bunuh diri.Bajingan narsis itu sangat sensitif dan paranoik
Pelukan Adrian melepaskan lilitannya yang menyesakkan dan penuh kepalsuan.Begitu melangkah keluar dari ruangan eksekutif Direktur Utama, aku menarik napas panjang-panjang, membiarkan udara sejuk dari pendingin ruangan mengisi paru-paruku untuk mengusir sisa-sisa rasa mual akibat aroma parfum Adrian yang menyengat.Aku berjalan menuju meja kerja sekretaris eksekutif yang terletak di lorong utama lantai 50.Meja marmer hitam bernuansa emas itu tampak sangat berantakan.Di atas permukaannya berserakan majalah mode ternama, katalog perhiasan berlian, beberapa botol kuteks berwarna merah darah, cermin rias berbingkai kristal, dan cangkir kopi yang ditinggalkan begitu saja.Meja ini adalah cerminan sempurna dari seorang wanita simpanan pamer harta yang sama sekali tidak peduli pada etika maupun profesionalisme kantor.Tanpa ragu sedikit pun, aku menyapu seluruh barang tak berguna itu ke dalam tempat sampah di samping meja dengan satu kibasan tangan yang tegas.Prang!Bunyi benturan botol k
Keheningan di ruang eksekutif itu terasa semakin mencekik.Tatapan Victor Brawijaya mengunciku tanpa emosi, seolah-olah mata obsidian itu sedang membedah jiwaku hingga ke bagian terdalam. Pria itu menatapku bukan dengan hasrat vulgar, melainkan dengan ketertarikan seorang predator yang menemukan anomali berbahaya di wilayah berburunya.Aku menolak untuk memalingkan wajah atau menundukkan kepala. Aku justru menyunggingkan senyum miring yang menantang, membiarkan ketegangan di antara kami berderak liar di udara bagai arus listrik.Adrian berdeham canggung, wajahnya memerah karena merasa diabaikan di perusahaannya sendiri. Ia melangkah cepat memotong garis pandang kami."Tuan Victor, sebuah kehormatan yang luar biasa Anda berkenan datang langsung. Mari silakan duduk di sofa tamu, saya sudah menyiapkan proposal proyek Mandala Estate yang sangat menjanjikan."Victor melangkah ke arah sofa tanpa membalas jabatan tangan Adrian secara penuh. Ia melepaskan pegangannya seolah baru menyentuh deb






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.