Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 230 : PIN INISIAL "S" DAN "A"

Share

BAB 230 : PIN INISIAL "S" DAN "A"

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-10-02 08:46:17

​"Kamu yakin, Sayang? Benar-benar sudah nggak mual buat datang ke pernikahannya Manda dan Coky besok?" tanya Dewa hati-hati, sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil rasa vanila ke hadapan Zea yang sedang bersandar di kepala ranjang.

​"Iya dong," sahut Zea cepat, menerima gelas itu. "Usia kandunganku kan sudah masuk bulan kelima. Masa-masa morning sickness itu udah lewat, Kak." Ibu hamil itu kemudian menenggak separuh isi gelasnya dengan nikmat lalu meletakkan gelasnya di atas nakas.

"Tapi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yoongina
\(^^)/\(^^)/\(^^)/
goodnovel comment avatar
Yoongina
hahahha ga mungkin tdk aku bongkar kak, wlpn hny 1 bab minimal muncul hehehee
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yaa Allah, jodohnya Manda gak jauh-jauh ya...bebeb Coky yg skrg udah LAKIK Alhamdulillah...semoga segera menyusul zea n dewa punya momongan ya Manda-Coky
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 233 : ZIVANNA ADIRAJA

    Empat bulan berlalu bagai badai yang berlari kencang. Di usia yang baru menginjak lima belas bulan, Anggara Adiraja atau yang akrab dipanggil Angga, sedang berada di puncak masa aktifnya. Balita montok berambut lebat itu baru saja lancar berjalan, membuat seluruh penghuni Griya Zadewa harus ekstra waspada mengejarnya ke setiap sudut rumah. ​Namun, bukan tingkah laku Angga yang membuat kepanikan meledak siang itu, melainkan sang ibu yang tengah hamil tua. Sementara di gedung kantor Adiraja & Associates, suasana ruang rapat terasa sedingin kutub utara. Dewa duduk di kursi utama, menatap tajam ke arah tiga CEO perusahaan multinasional yang tengah gemetar di seberang meja. Dewa baru saja melemparkan berkas bernilai triliunan rupiah ke tengah meja dengan raut wajah tanpa kompromi. ​"Kalian menyebut ini draf kesepakatan?" Suara bariton Dewa memecah keheningan. "Ini bukan merger. Ini perampokan berkedok akuisisi. Kalau kalian tidak merevisi pasal tujuh dalam waktu—" ​BRAK! ​Pintu ru

  • Chemistry Chapter   BAB 232 : PERTENGKARAN DARURAT

    Sepanjang perjalanan pulang Zea tidak melepaskan tatapan tajam nya kearah Dewa. Kedua tangannya terlipat kuat di depan dada di atas perutnya yang buncit. Laki-laki itu sedang mengambil sikap diam seribu bahasa. Karena bagaimanapun, ia sedang berada di posisi yang salah. "Mas..." panggil Zea menirukan suara Gladys memanggil suaminya dengan lembut. "Jangan ngebut dong, pelan-pelan aja, mau ke mana sih?" Dewa melirik patah-patah kearah samping. Menatap senyum manis Zea yang kini terlihat seperti boneka Anabele. "L—loh, kan kamu yang tadi minta pulang buru-buru, sayang." Tanpa aba-aba, jemari Zea terangkat dan menarik keras daun telinga Dewa. "KENAPA KAMU BOHONGIN AKU SIH KAK!NGGAK ADA KAPOK-KAPOKNYA UDAH MAU PUNYA ANAK DUA!" Jeritan melengking itu membahana membuat Dewa meringis kesakitan. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan karena situasi sudah dalam kondisi darurat. "Ampun, sayang.... iya maaf, aku nggak bermaksud membohongi kamu!" "Kak Dewa kan sering membongkar kebohonga

  • Chemistry Chapter   BAB 231 : KETAUAN

    Dewa menelan ludah, berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap setenang air telaga. "Oh... itu. Itu sudah lama sekali ada di situ, Sayang." ​"Emas murni dan black diamond, kan? Inisial nama Kak Dewa lagi. Mahal banget pasti," Zea memutar pin itu, mengagumi detailnya. "Kakak bikin custom sendiri?" ​Dewa memutar tubuhnya, tersenyum tipis untuk menutupi kepanikannya. "Bukan, Ze. Itu... warisan keluarga," bohong Dewa lancar, menggunakan nada bicaranya yang paling meyakinkan. "Itu peninggalan mendiang kakek buyutku, yang diberikan kepadaku. Aku jarang memakainya karena terlalu mencolok untuk dibawa ke pengadilan." ​"Sayang banget kalau disimpan terus," ucap Zea dengan senyum sumringah. Tanpa meminta persetujuan, wanita hamil itu melangkah mendekati Dewa dan menempelkan pin tersebut tepat di bagian dada jas suaminya. "Hari ini Kak Dewa harus pakai ini. Jas abu-abu Kakak jadi kelihatan jauh lebih berkarisma dan elegan. Sempurna!" ​Dewa menatap pin yang kini tersemat gagah di dadanya,

  • Chemistry Chapter   BAB 230 : PIN INISIAL "S" DAN "A"

    ​"Kamu yakin, Sayang? Benar-benar sudah nggak mual buat datang ke pernikahannya Manda dan Coky besok?" tanya Dewa hati-hati, sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil rasa vanila ke hadapan Zea yang sedang bersandar di kepala ranjang. ​"Iya dong," sahut Zea cepat, menerima gelas itu. "Usia kandunganku kan sudah masuk bulan kelima. Masa-masa morning sickness itu udah lewat, Kak." Ibu hamil itu kemudian menenggak separuh isi gelasnya dengan nikmat lalu meletakkan gelasnya di atas nakas. "Tapi aku masih nggak nyangka loh, Manda mutusin buat nikah muda. Padahal aku pikir dia mau fokus merintis karier dulu habis wisuda lima bulan lalu. Belum lagi... yah, mengingat transformasi Coky yang cukup mengagetkan itu." Ujar Dewa, teringat pada sosok Coky yang dulu gemulai namun kini menjelma menjadi pria berotot layaknya pengusaha muda, sambil menyusul naik ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutupi kaki istrinya. ​"Buat apa capek-capek merintis karier?" balas Zea santai, "Calon suamin

  • Chemistry Chapter   BAB 229 : NGAPEL

    Tembok Cina mungkin adalah salah satu keajaiban dunia yang pembangunannya membutuhkan waktu berabad-abad. Namun bagi Dewa, keajaiban dunia yang paling menyebalkan baru saja dibangun di atas ranjang king size miliknya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.​Dua buah guling dijejerkan secara vertikal tepat di tengah-tengah kasur, membelah wilayah kekuasaan menjadi dua bagian yang tak bisa diganggu gugat.​Di sebelah kiri, Zea tidur dengan posisi sangat nyaman. Ia memeluk selimut tebal, membelakangi sang suami, sementara napasnya terdengar teratur.​Di sebelah kanan, Dewa menatap langit-langit kamar dengan mata membelalak lebar. Jam di nakas sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan ia belum bisa memejamkan mata sedetik pun.​Udara dari pendingin ruangan terasa lebih menusuk tulang dari biasanya. Dewa merapatkan selimutnya, menghela napas panjang, lalu melirik ke arah dua guling pembatas itu. Perlahan, dengan gerakan mengendap-endap seperti maling, Dewa menjulurkan tangan kirinya, b

  • Chemistry Chapter   BAB 228 : HUKUMAN OMA DYAH

    Ruang keluarga kediaman utama keluarga besar Adiraja malam itu tidak lagi terasa seperti tempat berkumpul yang hangat. Bagi Dewa, ruangan berlapis karpet Turki dan dihiasi lampu kristal mewah itu mendadak berubah fungsi menjadi Ruang Sidang Pengadilan.​Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup sang pengacara tak terkalahkan itu, Dewa duduk di kursi Terdakwa Utama.​Di sofa seberang, duduklah Majelis Hakim yang paling ditakuti Dewa di dunia ini, Oma Dyah sebagai Hakim Ketua, dan Lenny, sebagai Hakim Anggota. Keduanya duduk dengan postur tegak, tangan bersedekap, dan tatapan mata yang lebih tajam daripada silet.​Sementara itu, sang ‘korban’ alias Zea, tampak bersandar nyaman di atas chaise lounge empuk yang dipenuhi bantal-bantal beludru. Zea sedang menikmati perannya, memakan buah anggur hijau tanpa biji, sambil memangku Angga yang sedang sibuk mengemut mainan jerapahnya.​Hening yang mencekam memenuhi ruangan. Dewa berdeham pelan, mencoba memecah keheningan dengan senyum canggun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status