LOGIN"To be the object of someone's obsession is horrible." -Tippi Hidren Christmas Antebellum found her way out to the man who is obsessed on her. She found herself at Florida and start over her life, working as laundry girl at her aunt Lorie's Laundry Shop. There she met Duke Grey, a business man o
View More"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.[Carlos] I drive the van fast to reach him and I am now here on his left. I bumped his car going to the right that is why he doesn't have any choice to change route. The path is taking us away from the city and this seems going from a working place.“Give up, Duke!” I bumped his car going on the side.“No! I won't let you win this!” Duke replied and bumped me also on my side, “You'll kill me first!” he drives the car fast and I left behind because the van is not capable on that kind acceleration.“He is now on his way in the abandoned warehouse,” Vincent said and they still following him with the lights of the helicopter. I changed the magazine of my gun and goes down as I arrived on this abandoned warehouse. Duke's car is parked messy and the door of the trunk left open. He might have her inside that's why I followed. There is no lights coming from the inside
[Carlos] When the cars in front of us gone, Vincent and the others came back. They goes out in the elevator not far away from where we are and they are running towards us. They start looking for them as they come to us but they are already too late.“Where are they now?” Vincent asked pertaining to Master Yorkshire.“They just gone,” Vick answered.“We just came here for nothing,” I said in disappointment, “Now that Master Yorkshire convinced not to help Duke, the asshole were gone. They are gone! Where are we going to look for them again? Are we going to travel again in other country to find that asshole and my wife?!”“Calm down, Bro,” Luis said, “I know this is frustrating but you need to put yourself all together.”“The question here is, how Grey found out that we are coming here?” Vincent suddenly asked.“Maybe someone told him before we ar
[Carlos] I woke when someone shake my body and it was Luis who is already awake. I looked at him in my forehead knotted and quickly sit properly on my seat. I don't know how much long I had been sleeping but I guess we are going to land now in Tokyo.“Are we going to land now?” I asked.“Not yet it's 10:00 now in the morning and we have still more hours to go,” Luis replied.“I thought we already going to land.”“I just wake you up because we are going to have our breakfast,” he said.“Hmm, okay,” I replied and glimpsed a second outside the window. Luis and I get off on our seat and walk towards the table where the others are now. The flight attendants start serving our foods in the table and we take our time eating silently. The flight attendants also served a breakfast for the two pilots inside. After we eat, they took off a
[Carlos]“So, the reason why they didn't caught here in London because they were in Japan?” I asked while looking what is in the inside of the folder.“Yes, and my nephew, Benjie just call me this earlier and he found out that the airport they used to go there is the private sector of Yorkshire,” Vincent answered.“Yorkshire?” Luis suddenly said.“What? Do you know what is it?” I asked him.“Not that I know but it's just familiar to me,” Luis replied, “If I'm not mistaken, Lisa told me about that Yorkshire family. She were once invited on a party with them and they are the most powerful mafia in Japan,” he explained.“Yea, Luis is right,” Vincent agreed, “But how does your wife knew about them?” he asked.Luis laughed. “My wife is closely related to the Yorkshire, his grandfather rather. She is a half japanese.” He replied.“Oh, I see.” Vincent nodd
[Christmas]The shop is already closed but Duke isn't yet coming back. I am here outside, standing with my bike together his laundry basket. It's already 10:00 p.m. and I'm already thinking he forgot to get his clothes or he is on his way? I don't know which of the two but I'm st
[Duke] I’m wearing my smile while driving towards the condominium where my fiancée is currently living. She didn’t answer my calls since last night and I’m starting to feel worried what is the reason. I admit that I’d been busy this past
[Christmas]One year later...(Phone ringing)I was in the middle of my sleep when the phone beside me suddenly ring. I took it under my pillow and answer the call without opening my drowsy eyes."Hello. Christmas speaking,
[Christmas]“Hmm,” I groaned as I felt someone is carrying me. As I opened my eyes, it was Carlos who is carrying me heading upstairs. “P-put me down asshole.” I said, groaning in so much pain of my body.“No, not until we get in your room,” he replied.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews