Home / Romansa / Cinta Jatuh Tempo / Trust Our Gut Feeling

Share

Trust Our Gut Feeling

Author: Kalla Lunara
last update publish date: 2026-10-03 23:59:56
Bagi seorang Raia, menghadapi rekan kerja yang ambisius sekaligus hobi cari panggung adalah keahlian yang sudah terlatih sejak lama.

Sekalipun ini analisa dini, but she always trusts her gut feeling.

Perempuan itu menatap Vika lempeng, lalu sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

"Alamat rumah?" ulang Raia dengan nada ringan.

"Untuk urusan operasional kantor, nomor ponsel dan surel korporat sudah lebih dari cukup, Vik. Lagian, gue lagi baru pindah apartemen, jadi al
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Jatuh Tempo   Si Mulut Lantam Yang Hobi Menginap

    Tumpul katanya? Eh–excuse me, mulutnya pak bos ini memang seringnya mengesalkan lawan bicara. Even, Raia—lawan bicaranya yang satu ini, pernah satu ranjang menggeliat-geliat gemas. Gila aja!Se-sompral itu pria berkacamata di depan Raia ini berani menuduh otaknya melambat, padahal belum dua puluh empat jam pria ini hampir kehilangan akal sehat karena keenakkan. ‘Masa pemilik IQ 135 disebut otak melambat! We’re openness to experience loh, Pak. And willing to fight di mana pun kami berada, baik itu di kantor or di ranjang sekalipun. Intinya, masa iya aku lemot!’Raia menarik napas panjang, meredam gejolak dongkol di dadanya dengan senyum profesional yang luar biasa tipis. Dia menegakkan punggungnya, menolak untuk terlihat ciut di bawah tatapan elang Aksenna."By the way, seperti yang sudah saya bilang, saya meloloskan ide Vika saat meeting dengan logistik karena saya menghargai inisiatifnya yang mau bergerak cepat sesuai preferensi Bapak," ujar Raia, suaranya tetap tenang dan teruku

  • Cinta Jatuh Tempo   Trust Our Gut Feeling

    Bagi seorang Raia, menghadapi rekan kerja yang ambisius sekaligus hobi cari panggung adalah keahlian yang sudah terlatih sejak lama.Sekalipun ini analisa dini, but she always trusts her gut feeling.Perempuan itu menatap Vika lempeng, lalu sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Alamat rumah?" ulang Raia dengan nada ringan. "Untuk urusan operasional kantor, nomor ponsel dan surel korporat sudah lebih dari cukup, Vik. Lagian, gue lagi baru pindah apartemen, jadi alamatnya masih berantakan. Untuk saat ini, komunikasi lewat surel atau grup chat kantor saja yang paling efektif."Vika menatap Raia tajam. Mencari celah. "Oh, gitu. Oke deh, maksudnya sih biar gampang kalau ada dokumen fisik yang harus dikirim kilat," balas Vika, nada suaranya terdengar kecewa. "Kalo ada apa-apa, just call or chat me anytime,," sought Raia santai. “ Lagian kan kita ketemu tiap hari di kantor,” lanjutnya lagi lalu berbalik badan dan melangkah tegap meninggalkan Vika. Begitu pi

  • Cinta Jatuh Tempo   Mantan Anak Buah Bos Memang Beda

    Pukul dua siang, ruang rapat utama lantai dua belas sudah beraroma kopi basi dan ketegangan yang pekat.Di ujung meja panjang berlapis kaca hitam, aku duduk dengan map dokumen terbuka dan pena di tangan. Di sekelilingku, kepala divisi logistik, manajer supply chain, serta tiga orang staf operasional menatap layar proyektor dengan ekspresi masam. Perintah Aksenna untuk memangkas timeline peluncuran Kronos menjadi H-7 dari jadwal semula benar-benar sukses membuat tekanan darah satu ruangan melonjak."Kalau deadline ditarik seminggu lebih cepat, Ra, itu artinya buffer time buat bongkar muat di gudang Distrik Selatan kepangkas habis," protes Hardi, kepala divisi logistik, sambil melipat tangan di dada. Wajahnya mengeras. "Kita taruhan risiko bottleneck parah di inbound. Belum lagi armada truk vendor yang belum tentu ready dadakan."Aku mengangguk, memahami betul validitas argumen Hardi. Sebagai penanggung jawab utama, aku tahu angka-angka di atas kertas itu tidak semudah membalik telapak

  • Cinta Jatuh Tempo   Api Kecil di Balik Meja

    “I told you, don’t get involved with any man!” aku memperingatkan diri sendiri.Tapi teguran itu terdengar sia-sia. Aku tahu betapa rapuhnya pertahanan yang kubangun setiap kali manik mata kelam Aksenna menatapku. Semudah itu aku terbuai, larut ke dasar timbunan gairah yang lama tak terusik. Meladeni pria yang memiliki api sekobar itu.Aku menarik napas panjang. Merapikan kerah blazer. Memastikan topeng profesionalismeku terpasang sempurna. Lalu aku mendorong pintu toilet dan melangkah keluar.Pukul sembilan lewat empat puluh. Lantai dua belas sudah sibuk dengan bunyi ketukan kibor dan suara mesin printer. Di sudut meja pantri mini dekat jendela besar, Nevan—anak divisi Kreatif yang entah kenapa sejak pagi sudah nyangkut di lantai ini demi memantau visual campaign Kronos—tampak sedang bersandar sambil memegang cangkir kertas."Sumpah ya, kalau brief dari divisi merchant soal brand Kronos ini masih minta revisi visual tiga kali lagi, gue bakal resign jadi manusia dan milih jadi cicak

  • Cinta Jatuh Tempo   Here I Am, On a Normal Day

    Aku tertegun, kehilangan kata-kata untuk membalas klaim sepihak yang mendadak terasa seperti rantai baru di leherku.Jantungku berdegup liar, tatapannya selalu begitu—menelanjangiku, bahkan di tengah kemacetan pagi ini.Lampu lalu lintas di depan berubah hijau. Aksenna menarik kembali tubuhnya ke posisi semula, menginjak pedal gas, dan melajukan kendaraan membelah sisa jalan menuju gedung perkantoran Distrik Utama. Sepanjang sisa perjalanan yang singkat itu, keheningan kembali menguasai kabin mobil, namun kali ini atmosfernya terasa berbeda—lebih panas dan sarat akan riak emosi yang tertahan.Begitu mobil memasuki area parkir VIP dan mesin mati, kami tahu bahwa waktu privat kami telah habis. Di luar kaca mobil yang gelap ini, Nusabuy menuntut profesionalisme.'Back to reality.'Aksenna melepaskan sabuk pengamannya. "Draf kontrak dari Gavin kemarin sudah saya pelajari. Kamu bisa minta tim admin cetak revisinya, lalu bawa ke ruangan saya jam sepuluh nanti, Raia."Aku cuma mengangguk

  • Cinta Jatuh Tempo   It Sounds You're Jealous

    Raia memalingkan wajah, mendengus pelan mendengar kalimatku. Alih-alih mereda, dia justru menatapku dengan sudut bibir terangkat sinis—sebuah senyuman sarkas yang sangat khas dirinya saat mencoba membangun kembali dinding pertahanan."Yakin, aku gak masuk kantor, bisa istirahat tenang di sini? Sama kamu? I'm not sure," sindirnya telak.Matanya turun sekilas, melirik lenganku yang masih mengunci pinggangnya, lalu kembali menatapku dengan binar menantang yang sialnya selalu berhasil menyulut sesuatu di dalam dadaku. Dia sedang mengingatkanku tentang apa yang terjadi semalam, dan bagaimana "istirahat" bukanlah agenda utama jika aku berada di dekatnya.Aku terkekeh rendah, sebuah dengusan geli yang tidak bisa kutahan. Aku memajukan wajah, sengaja mengikis jarak hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan, membiarkannya merasakan embusan napas pagiku."Kamu meragukan kontrol diri saya, hm?" bisikku, sengaja merendahkan suara hingga menjadi geraman halus di dekat telinganya. Ibu jariku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status