Share

Bab. 27 Siap-siap Mendapat Hukuman

"Aaarghh…," teriak Natasha. 

Para siswi pun berteriak histeris. Sedangkan hampir semua Guru menutup matanya dengan takut.

Hanya ada satu orang yang berani berlari. Lalu segera menangkap tubuh Natasha sebelum terjatuh ke lantai.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak Guru itu dengan suara bass-nya yang sangat khas. 

Merasa badannya tidak jadi jatuh ke atas tatanan paving  yang keras. Natasha pun perlahan membuka matanya satu per satu. Matanya pun langsung terpaku menatap sosok laki-laki berwajah tampan dengan hiasan alis tebal, hidung mancung, lesung pipi, rahang tegas serta jambang halus yang membuatnya semakin terlihat maskulin.

"Kamu tidak apa-apa?" ulang lelaki itu yang langsung membuat Natasha tersadar.

"Oh, iya. Iya. Saya tidak apa-apa," balas Natasha sambil turun dari gendongan lelaki itu. "Terima kasih Pak…." Natasha menggantung kalimatnya. Karena ia memang belum mengetahui siapa nama lelaki itu.

"Eriko. Panggil saja saya Eriko. Saya Guru Olahraga di sekolahan ini," ucap lelaki sambil mengulurkan tangannya.

"Natasha. Nama saya Natasha. Guru BK baru di sekolah ini. Senang berkenalan dengan anda," balas Natasha cepat. Sambil menyambut tangan Eriko. Melihat hal itu Jo pun mendengus dengan sebal.

"Udah nggak asyik nih. Yuk! Kita balik aja ke kelas," ajak Jo pada teman-temannya. Sedang yang lain sudah mulai membubarkan diri dari tempat itu.

"Tunggu!" kata Natasha dengan tegas dan membuat Jo dan teman-temannya menghentikan langkah mereka. "Dua hal yang perlu saya luruskan disini," lanjut Natasha sambil berjalan mendekati anak-anak bandel itu. "Pertama, saya tidak butuh bantuan kalian dalam mendapatkan surat izin di sekolahan ini. Sebab, surat izin itu saya yang buat. Jadi, dimana pun saya berada. Saya tetap bisa mendapatkannya," ujar Natasha sambil berjalan mengelilingi mereka. "Dan yang kedua, asal kamu tau ya. Saya sampai sini tepat disaat bel berbunyi. Dan bel berbunyi tepat pukul enam lebih lima puluh delapan menit. Itu berarti, saya masih punya waktu dua menit lagi untuk dikatakan terlambat," tambahnya dengan berdiri tepat di depan Jo. Mata mereka pun saling menatap dengan tajam. "Jadi, bersiaplah mendapat hukuman yang setimpal," pungkas Natasha dengan nada penuh penekanan. Kemudian ia pun tersenyum penuh kemenangan sambil berjalan menjauh. Natasha terus saja berjalan. Sampai-sampai, ia pun tak lagi menghiraukan kakinya yang tidak memakai sepatu.

Di tempatnya berdiri Eriko menatap kepergian Natasha dengan kagum. Entah mengapa ia merasa tertarik dengan wanita tangguh itu meskipun mereka baru saja bertemu.

"Hei. Ngapain bengong? Sudah sana pergi ke lapangan," kata Jo dengan tidak sopan. Eriko pun tak membalas. Namun, kini ia berani melirik tajam Jo sambil melewatinya.

"Wah, Jo. Sepertinya Guru baru itu beneran bikin perubahan besar deh di sekolahan ini. Tapi, gue akui sih kalau dia memang keren. Cantik lagi," kata Bagas. Sambil senyam-senyum tak jelas. 

"Iya. Siapa lagi yang berani menghukum Jo kalau bukan dia. Oh, iya. Ngomong-ngomong soal hukuman. Kira-kira kita mau dihukum apa ya? Jadi, serem deh gue bayangin wajah sangar ibu itu," timpal Soni.

"Hust…. Bisa nggak sih kalian diem. Bikin kepala gue tambah pusing tau nggak?!" bentak Jo sambil mengacak rambutnya sendiri. Kemudian ia pun berjalan mendahului kedua temannya.

"Eh, Jo. Tunggu!" teriak Soni sambil mengejar Jo. Bagas tak mau ketinggalan, ia segera menyusul kedua sahabatnya pergi.

Waktu pun terus berlalu. Bel istirahat pun akhirnya berbunyi juga. Sebagian besar anak-anak di kelas XI IPA 2 sudah berhamburan keluar. Ada yang ke kantin, ke perpustakaan, ke toilet ataupun menemui pacar di kelas sebelah. Namun, berbeda dengan Jo. Ia masih duduk dengan tenang di kursi kekuasaannya sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Sementara tangannya sibuk menggambar abstrak seorang anak perempuan yang terlihat tengah berenang sambil mengulurkan tangannya ke depan.

"Tumben loe nggak buru-buru ke kantin?" sindir Bagas seraya mendekati meja sahabatnya.

"Gue lagi males," balas Jo tanpa mengalihkan perhatiannya. Matanya masih fokus menatap pulpen yang sedang menari-nari di atas lembar bukunya yang masih kosong.

Bagas pun melirik Sano yang ikutan mendekat. Mereka tau sikap Jo jadi begini karena memikirkan guru baru itu yang ternyata tak selemah yang ia kira, tapi mereka memilih diam daripada membuat mood Jo semakin buruk.

"Ya, udah. Kalau gitu kita ke kantin duluan ya. Loe mau dibawain makanan?" tawar Bagas dengan nada iba. Ia merasa kasihan juga pada Jo yang biasanya terlihat riang. Belum sempat menjawab tawaran Bagas, terdengar sebuah bunyi sirine yang terdengar semakin mendekat.

Jo pun segera mengangkat badannya karena penasaran. Dan tak butuh waktu lama, ia bisa menatap sosok Natasha masuk ke dalam ruang kelas itu.

"SELAMAT PAGI MENJELANG SIANG ANAK BANDEL," ujar Natasha lewat sebuah TOA. 

Jo pun langsung membuang wajahnya ke samping. Sambil menggenggam erat pulpen tadi.

"GIMANA? SUDAH SIAP MENJALANKAN HUKUMAN?" tanya Natasha dengan seringainya yang membuat Jo semakin kesal.

"Ish. Sialan! Bener-bener pengen ngajak perang nih orang," gumam Jo.

"JONATHAN ALFAREZI. BAGASKARA SAPUTRA DAN SONI ADI WIJAYA. SILAHKAN TINGGALKAN KELAS DAN BERGEGAS MENUJU LAPANGAN SEKOLAH!" perintah Natasha. Tentu saja anak-anak yang lain sudah berkumpul di depan kelas itu. Karena mereka pun merasa sangat penasaran sekarang.

"Kita juga?" gumam Bagas.

"YA. TENTU SAJA KALIAN DIHUKUM. KALIAN KAN IKUT MENIKMATI LELUCON TADI," balas Natasha masih menggunakan TOA.  "JADI CEPAT KELUAR ATAU SAYA TAMBAH HUKUMAN KALIAN MENJADI LEBIH BERAT LAGI."

"Aduh gimana nih, Jo?" rengek Soni.

"Udahlah. Mau tidak mau kita lakuin aja," sahut Bagas sambil berjalan mendahului Jo dan Soni. Namun, baru satu langkah  Jo langsung meraih tangannya.

"Tunggu! Biar gue yang urus." 

Jo beranjak dari duduknya. Lalu ia pun berjalan tegap mendekati Natasha ya berdiri di depan kelas. 

"Apa yang loe mau dari gue?" tanya Jo mantap. Kakinya pun terus melangkah, melangkah dan melangkah. Sampai Natasha pun mundur beberapa kali untuk menghindarinya. Namun sayangnya, tembok berada tidak jauh di belakang Natasha. Sehingga, ia pun merasa terdesak. Mata elang Jo pun menatap tajam sosok Natasha. Seakan ingin mengurung tubuh Natasha bulat-bulat.

"Apa-apaan ini?" gumam Natasha. Lalu ia pun mengangkat TOA itu untuk menggertak Jo dengan suaranya yang lantang, tapi siapa sangka. Jo malah meraih pergelangan tangan kanan Natasha dengan cukup kuat. Sehingga TOA yang sedari tadi digenggamnya terlepas lalu terjatuh tak berdaya ke lantai. Tak hanya itu, Jo juga menarik tangan Natasha hingga sampai di atas kepala wanita itu dan menguncinya di tembok. Kemudian Jo menurunkan kepalanya hingga Natasha pun semakin memepetkan badannya ke tembok dengan mata yang tertutup rapat.

Tak hanya para siswa dan siswi yang syok melihat pemandangan itu. Sebagai wanita biasa. Apalagi, dia pernah merasakan hangatnya belaian lelaki. Tentu saja badan Natasha langsung bereaksi diperlakukan seperti itu. Dengarkan saja detak jantungnya yang berdebar-debar, darahnya yang berdesir hebat, serta nafasnya yang terasa semakin sesak. Pikirannya pun traveling kemana-mana. 

"Apa yang elo mau dari gue?" ulang Jo dengan nada penuh penekanan. Matanya pun menatap lekat-lekat Natasha yang langsung membuka matanya lebar-lebar. Lalu membalas tatapannya yang terlihat teduh.

"Mak… maksud loe?" tanya Natasha tergagap.

"Kenapa loe terus gangguin hidup gue? Sebenarnya apa yang elo mau?" tanya Jo diperjelas. Wajahnya yang berada sangat dekat dengan Natasha pun dapat mencium aroma wangi dari tubuhnya. Dan yang membuat Jo sempat terpaku beberapa saat. Bibir Natasha yang terlihat ranum dengan warna merah menyala. Sungguh, terlihat sangat menggoda hasrat laki-lakinya. Dengan susah payah Jo menelan ludahnya sambil menahan keinginannya.

"Gue cuma pengen loe menjadi orang yang lebih baik, Jo," jawab Natasha tulus. Jo pun mendengus. 

"Apa dengan melakukan semua yang loe mau gue bisa menjadi lebih baik?" tanya Jo dengan tatapan mengintimidasi.

"Iya," jawab Natasha mantap. Ia pun membalas tatapan Jo dengan pandangan menantang. Kedua insan itu pun terdiam sesaat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Oke. Gue kasih loe satu tantangan. Kalau loe menang tanding basket sama gue. Gue bakal menuruti semua keinginan elo. Tapi, kalau gue yang menang. Loe yang harus segera enyah dari kehidupan gue. Gimana?" ujar Jo dengan seringai khasnya.

"Oke. Gue terima tantangan loe," timpal Natasha mantap. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status