LOGINNadia tidak lagi menjadi wanita yang memohon penjelasan atau mempertahankan cinta yang tak pernah dimilikinya. Ia memilih berpisah dengan damai demi harga dirinya, demi kebebasan dari hubungan yang hanya membuatnya terluka. Ketika Davin datang membawa Selina, Nadia memilih pergi tanpa menoleh. Menutup pintu masa lalu yang selama empat tahun merenggut ketenangannya. Di balik kepasrahannya, Davin justru mulai merasakan kehilangan. Ketenangan Nadia menjadi hantaman yang tidak pernah ia bayangkan. Bahwa wanita yang dulu selalu memilih diam demi mempertahankan rumah tangga, kini justru yang paling siap melawan dan melepaskan. Lantas bagaimana Nadia menghadapi kenyataan kalau tidak ada perusahaan mana pun yang sudi menerimanya bekerja? Bahkan toko kecil pun menolaknya. Bagaimana ia akan menghidupi diri dan anaknya? Tampaknya ada yang salah. Siapa yang sengaja membuatnya seperti ini?
View MoreNADIA
- 1 Talak 100 "Punya suami gini amat. Awas kalau pulang nanti kujatuhi talak 100 kamu, Mas." Nadia mengomel sambil memandang jam dinding kamar. Kalimat yang sebenarnya hanya sebagai penghibur diri. Padahal hatinya terasa perih. Ia tahu suaminya pergi ke mana dan dengan siapa. Dengan wanita itu. Seseorang yang disembunyikan dan begitu dilindungi oleh Davin. "Pulanglah. Mari kita bicara baik-baik. Aku sudah ikhlas melepasmu." Dan ketika Davin pulang jam sebelas malam, Nadia hanya diam. Talak 100 tidak jadi diucapkan. Hatinya terlampau sakit. Sebelumnya ia pasti bertanya ini itu. Kenapa pulang telat? Ada masalah apa? Apa yang bisa kubantu? Kalau ada sesuatu ceritakan dan aku akan mendengarmu. Namun sekarang Nadia diam. Karena semua pertanyaan tidak pernah dijawab. Davin paling hanya bilang, "Itu urusanku." Ya, memang benar. Itu urusannya. Selina hanya urusan Davin. Nadia mengambil baju kotor suaminya yang diletakkan di sofa kamar sebelum pria itu masuk kamar mandi. Kemeja biru di tangannya, menguar aroma parfum perempuan. Ketika diperhatikan, ada noda lipstik di bagian dada, dekat dengan saku. Dada Nadia sesak. "Aku ada meeting tadi," ucap Davin tiba-tiba saat keluar dari kamar mandi. Ketika itu Nadia sudah berbaring miring menghadap dinding. Ia tersenyum getir. Disangka suaminya, Nadia tidak tahu apa-apa. "Ada relasi datang dari luar kota," lanjut Davin. "Kamu mendengarku, kan?" "Aku nggak nanya, Mas. Bukankah aku nggak perlu tahu urusanmu. Itu yang kamu bilang padaku." Nadia tidak bisa menahan diri. Davin terkejut sambil memandang istrinya. Nadia tidak pernah bicara kasar padanya. Bahkan setelah dirinya berhari-hari tidak pulang. Padahal dulu Nadia suka sekali bercanda. Walaupun itu tidak menarik perhatian suaminya. Davin tetap kaku. Memandangnya dengan datar. Dan Nadia berlalu dengan candaan yang tidak lucu. "Lain kali, lebih rapi lagi kalau sedang bermain-main. Nggak usah ninggalin jejak. Tanpa jejak yang tertinggal pun, aku sudah tahu semuanya. Kamu berusaha menyembunyikan dia dariku." "Apa maksudmu?" Nadia turun dari pembaringan. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan semua bukti kencan suaminya dengan wanita itu. Jelas saja Davin terkejut. Dari mana Nadia mendapatkan semua fotonya. Tidak mungkin mengikutinya ke mana pun ia janjian dengan Selina. Mereka punya bayi yang baru berusia dua tahun. Tentu saja Nadia tidak akan mengajaknya keluar berjam-jam dalam pengintaian. "Aku dan Selina ada urusan kerja." Davin mengelak. "Pekerjaan apa sampai parfum dan lipstik pun menempel di bajumu?" Dahi Davin mengernyit. Nadia mengambil kemeja suaminya dari keranjang cucian. Lalu meletakkan dengan paksa ke tangan suaminya. Davin diam beberapa saat memperhatikan noda itu. "Ya. Kamu benar, Nad. Aku memang bersamanya." Davin bicara lirih. Namun pengakuan itu menghantam dada Nadia. Dan malam itu dimulainya perang dingin di antara mereka. Hingga pengakuan Davin yang bilang mencintai Selina, membuat Nadia sadar. Dia kalah. Dia tidak pernah memenangkan hati suaminya. Meski sudah empat tahun membersamainya. Padahal dengan Selina tidak ada hubungan apa-apa. Tapi pertemanan mereka ternyata istimewa. "Kami sudah pernah terlanjur bersama," ujarnya lirih. Dan membuat hati Nadia semakin hancur dengan tubuh gemetar. "Baiklah. Kita bercerai saja," ucapnya singkat. Jiwa Nadia remuk sudah. 🖤LS🖤 Dua bulan kemudian .... "Cepat sembuh. Seminggu lagi sidang ikrar talak kita. Pengacara Mas yang tadi ngabari aku." Begitu tenangnya Nadia bicara di samping brankar lelaki yang sebentar lagi akan bergelar mantan suami. Seolah kehancuran dua bulan yang lalu sudah terlupakan. "Lagian Mas nggak mungkin nikah dengan Selina dalam keadaan babak belur begini, kan," lanjut Nadia sambil tersenyum. Mengajak pria itu bercanda. Namun terasa garing. Karena sama sekali tidak lucu. Davin hanya menatapnya lekat. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Satu perasaan hampa yang baru ia sadari. Nadia tetap bersikap biasa saja. Meski kalimat itu terasa menyengat di dadanya. Ia harus tegar meski hatinya hancur. Seolah luka itu tenggelam di dalam senyum dan raut wajahnya yang tenang. Bukankah ia sudah terbiasa. Biasa pura-pura tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Antara Davin dan Selina. Biasa memaafkan atas semua kesalahan suaminya. Tapi sekarang, ia sudah tidak seperti dulu lagi. "Makasih kamu sudah datang," jawab Davin dengan suara serak. "Tadi aku dikabari Mama Septa. Oh, ponselmu bunyi, Mas." Nadia mengambilkan ponsel Davin yang berpendar di atas nakas. Sambil menunggu pria itu menerima telepon, Nadia memperhatikan tangan kanan Davin yang diperban, wajahnya pucat. Sosok yang dulu membuat Nadia jatuh cinta setengah mati, bahkan sebelum mereka menikah karena perjodohan. Namun setelah papa pria itu meninggal setahun yang lalu, Davin memutuskan menceraikan Nadia. Meski mamanya sendiri mati-matian menentang. Nadia akur. Empat tahun sudah ia berusaha merebut hati suaminya, tapi nyatanya cinta lelaki itu hanya untuk wanita lain. Sekarang Nadia sadar. Untuk apa mencintai seseorang yang tidak membuat dirinya dicintai kembali. Dan perpisahan ini biarlah berjalan damai. Demi ibunya, demi calon mantan mertua yang begitu sayang padanya, juga demi Adam. Anak yang sebenarnya tidak diharapkan kehadirannya oleh papanya sendiri. "Jangan hamil dulu. Kita butuh proses untuk adaptasi dan kita nggak tahu bagaimana hubungan pernikahan ini nanti." Begitulah Davin bicara setelah mereka menikah. Namun setahun kemudian Nadia hamil. Davin kecewa. Dia tidak pulang malam itu dan entah tidur di mana. Besok sorenya pulang dan bersikap seperti biasa. Meminta haknya seperti biasa. Ironis sekali bukan. "Bagaimana keadaan Adam?" tanya Davin setelah selesai menelepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Dia baik-baik saja." Davin mengangguk samar. Ada sesuatu yang menegang di kepalanya. Sebuah rasa bersalah. Mungkin juga rasa kehilangan yang ia sendiri tidak berani mengakui. Meski ia memilih Selina, tapi tak bisa menghapus fakta bahwa ada darahnya yang mengalir dalam diri bayi berusia dua tahun itu. Dan Nadia, sosok yang mendampinginya empat tahun ini. "Aku minta maaf." "Aku selalu memaafkanmu. Mulai sekarang jangan minta maaf lagi. Kita sudah sepakat mengakhiri semuanya." Nadia tersenyum sambil memandang Davin. Ketenangan itu, dari mana datangnya. Davin melihat Nadia bicara tanpa beban. Keheningan menggantung. Sampai akhirnya pintu diketuk dari luar. Lalu terkuak perlahan dan muncul wanita berambut sebahu. Wajah cantiknya terlihat khawatir. Selina. Wanita yang selama empat tahun menunggu Davin menceraikan Nadia. Wanita yang selama empat tahun menjadi bayangan kelam dalam rumah tangganya. Wanita yang sangat dicintai Davin, meski katanya mereka hanya sahabat. "Nadia, kamu di sini?" sapa Selina sambil tersenyum ramah. Seolah tidak ada masalah apapun di antara mereka. "Mama yang ngabari tadi. Sekarang beliau masih sholat asar di Mushola." Nadia menaruh tali tas di bahunya lantas berdiri. Ia memandang Davin. "Mas, aku pulang dulu. Semoga lekas sembuh. Jangan lupa, datang di sidang ikrar talak kita." Davin menelan saliva. Nadia memandang Selina yang sedang menaruh barang bawaan di meja. "Sel, aku pamit. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Setelah itu Nadia keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Entah kenapa dada Davin terasa seperti tertusuk sesuatu. Ketenangan Nadia mengoyak pertahanannya. Wanita itu begitu siap menghadapi perceraiannya. Padahal dulu ia selalu menutup mata dengan kesalahan-kesalahan suaminya. "Aku akan mendampingi saat ikrar talakmu nanti, Mas." Selina tersenyum sambil duduk di kursi bekasnya Nadia tadi. Next .... - Hai, teman-teman pembaca semuanya. Ketemu lagi dengan cerbung baruku ya. Selamat membaca 🫰🏻🫰🏻"Mbak kaget, Na. Pangling banget. Kapan Pak Bos potong rambut?""Sabtu kemarin, waktu kami mengantar Adam potong rambut. Mas Dewa sekalian potong, Mbak," jawab Nadia santai, meski ia sendiri masih terpesona melihat penampilan baru suaminya."Tambah keren. Kamu memang membawa perubahan besar dalam hidup Bos, Na," ujar Mbak Ayi seraya memandang Nadia.Di meja belakang, terdengar bisik-bisik para staf."Gila, makin ganteng ya Pak Bos," bisik seseorang di meja belakang dengan suara tertahan. "Baru kali ini aku melihat Pak Dewa dengan potongan pendeknya."Sejak mereka bekerja di GUC, penampilan Dewa selalu identik dengan rambut gondrong yang diikat rapi. Jadi perubahan pagi itu benar-benar membuat mereka memandang si bos dengan tatapan berbeda."Bos tambah keren," bisik yang lain."Ssst, pelan-pelan. Ada Nyonya Bos di sana," sahut temannya sambil pura-pura sibuk dengan tumpukan dokumen. "Tapi beneran, gagahnya naik seribu persen. Terlihat lebih segar dan berwibawa," sahut yang lain.Keter
Bu Terry melihat otot-otot di lengan pria itu yang mengeras. Ketakutan mulai merayap di hatinya. Ia tahu tidak akan menang melawan dua orang ini. Dengan geraman penuh kebencian, ia tergesa melangkah pergi.Setelah Bu Terry keluar pagar, dua lelaki mengangguk hormat pada Bu Isti lantas meninggalkan rumah itu. Deru mesin mobil Bu Terry yang menjauh meninggalkan debu yang berterbangan di depan rumah. Diikuti oleh dua orang yang naik motor. Bu Isti masih berdiri bengong di teras. Saking kagetnya, ia tidak sempat menanyakan siapa mereka.Dua lelaki suruhan Dewa pun langsung pergi karena sudah dipesan sama bosnya, kalau jangan sampai bilang kalau mereka suruhan Dewa. Nanti membuat ibu mertuanya merasa tidak nyaman.Bu Isti melanjutkan menyapu. Menghapus sisa-sisa debu di teras, seolah ingin membersihkan setiap jejak negatif yang baru saja ditinggalkan oleh Bu Terry. Mantan temannya itu ternyata bukannya sadar, tapi kian menggila. Walaupun Terry tidak memberitahunya, tapi Bu Isti sudah tah
NADIA- 58 Surprise Bu Terry mencengkeram kemudi begitu kuat sehingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas menatap pintu utama rumah itu yang tertutup rapat. Halaman rumah tampak sepi. Namun pintu pagar terlihat tidak dikunci. Apa Istiana di rumah? Hari Sabtu, bisa saja dia libur mengajar.Ada rasa gengsi yang membakar dadanya. Jika ia turun dan melabrak wanita di dalam sana, rahasia kehancuran rumah tangganya akan ketahuan. Bahwa Terry, sang nyonya besar Adi Karya, baru saja didepak oleh suaminya sendiri. Lelaki yang dulu ia rebut dengan segala cara dari wanita di balik pagar itu.Cukup lama ia terdiam. Antara gengsi dan amarah. Karena sekian lama bersama, Pak Haris menceraikannya setelah pria itu tahu kalau ternyata Bu Isti melahirkan anaknya.Bu Terry terkejut saat pintu rumah terbuka. Muncul wanita cantik yang mengenakan gamis dan jilbab instan warna milo. Ia membawa sapu dan mulai membersihkan teras rumah.Dada Bu Terry berdebar. Bu Isti sempat memandang ke arah mobil m
Dan malam itu, Nadia menyusun buku-buku milik sang suami di rak yang ada di ruang kerja lantai atas. Mumpung Adam sudah tidur. Jika tidak, bisa kacau diganggu olehnya.Dari sela buku-buku lama, Nadia menemukan dua lembar foto sang suami waktu masih muda. Sepertinya Dewa memang sudah terbiasa rambut gondrong semenjak kuliah. Pesonanya tidak tanggung-tanggung. Tinggi, gagah, dan tampan."Sayang, ada satu kabar. Sebenarnya hal ini sudah terjadi sewaktu kita masih di Jepang." Dewa menghampiri istrinya."Kabar apa, Mas?""Pak Haris sedang dalam proses cerai dengan Bu Terry."Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Nadia terdiam sejenak tapi wajahnya terlihat biasa saja.Berita itu seharusnya menjadi kejutan besar, tapi anehnya, Nadia tak merasakan getaran apa pun di dadanya. Tidak ada rasa puas karena mereka akhirnya merasakan kehancuran yang pernah dirasakan oleh ibunya dulu, pun tidak ada rasa kasihan."Biar saja, Mas," jawab Nadia singkat. "Hal itu nggak akan mempengaruhi apa pun pad
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore