Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat

Kamu Pura-Pura Amnesia dan Tolak Nikah, Aku Nikahi Sang Konglomerat

By:  Maya PertiwiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Empat tahun menjalani hubungan rahasia, akhirnya tiba di hari yang Ziana nantikan. Hari di mana Farel akan mengumumkan hubungan mereka. Namun, Farel justru mengabaikan nyawa Ziana demi wanita lain. Pria itu sengaja membuat kecelakaan mobil dan berpura-pura amnesia. Saat Ziana terbaring terluka di rumah sakit, Farel justru merangkul kekasih barunya. Dia juga bertaruh dengan teman-temannya bahwa Ziana akan tetap mengejar cintanya meski sudah disakiti. Farel tidak tahu, sejak Ziana menyadari bahwa amnesia itu palsu, wanita itu sudah memutuskan untuk pergi selamanya. Farel tidak tahu, saat dia memamerkan kemesraan dengan orang lain, Ziana telah membuang barang kenangan mereka. Farel tidak tahu, saat dia mendorong Ziana ke pelukan orang lain, wanita itu sedang dipojokkan dengan penuh godaan oleh pria lain. Farel tidak tahu, saat dia menunggu Ziana merendahkan diri untuk memohon padanya, wanita itu justru sedang memilih gaun pengantin. Ketika Ziana mencapai puncak kariernya dan menjadi miliarder wanita termuda di daftar orang terkaya, Farel dengan penuh percaya diri berlutut dengan satu kaki untuk melamarnya. "Ziana, ingatanku sudah pulih. Menikahlah denganku." Ziana membelai cincin berlian sepuluh karat di jarinya. Sebelum dia sempat menjawab, seorang pria dari belakang merangkul pinggangnya dengan sangat posesif. "Pergi! Kakak Iparmu nggak sudi melihat barang kotor sepertimu!"

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah kecelakaan itu, pacarku, Farel Anggara, hilang ingatan.

Kabar baiknya adalah itu tidak benar. Kabar buruknya, Farel sengaja melakukannya.

"Ziana Syardan, aku sudah lupa semua hal tentang kita. Hal-hal yang bisa dilupakan, berarti semua itu nggak penting."

"Apa kamu mengerti?"

Farel duduk tegak di ranjang rumah sakit. Fitur wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya penuh dengan ketidaksabaran.

Seolah takut penjelasannya kurang jelas, sehingga Ziana akan terus mengganggunya.

Angin berembus masuk ke dalam kamar, membelai wajah pucat Ziana dan menyengat setiap sarafnya.

"Ya. Aku mengerti," jawab wanita itu dengan sangat tenang.

Ziana Syardan sangat tenang, karena dia tahu Farel sedang bersandiwara.

Lima belas menit yang lalu.

Begitu Ziana siuman, dokter memberitahunya bahwa Farel terluka parah dan menderita amnesia.

Tanpa memedulikan tubuhnya yang lemah, dia bergegas menuju kamar rawat pria itu.

Namun, setibanya di depan pintu, Ziana melihat Farel, yang seharusnya terluka parah, sedang bersandar santai di ambang jendela.

Sambil merokok, pria itu menelepon seseorang.

Suaranya terdengar begitu lembut dan penuh kasih, sesuatu yang belum pernah Ziana dengar sebelumnya.

"Masih berani pergi kencan buta? Kalau nggak begitu, mana mungkin aku akan mengumumkan hubungan dengan Ziana untuk membuatmu cemburu?"

"Aku salah, oke?"

Seorang wanita merajuk di seberang telepon, suaranya terdengar sangat menggoda.

Jakun Farel naik-turun, dia bertanya dengan suara rendah dan serak, "Begitu saja?"

"Malam ini terserah kamu mau apa ...."

Suara wanita itu merendah, semakin ambigu.

Sisanya tidak terdengar lagi oleh Ziana.

Namun, dari tatapan mata Farel yang membara, Ziana tidak perlu menebak lagi untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Tiba-tiba suara wanita itu meninggi saat berkata, "Tuan Farel, bagaimana dengan Ziana? Aku nggak mau jadi selingkuhan. Kalau sampai tersebar, bagaimana aku harus menghadapi orang-orang nantinya?"

Farel menjentikkan abu rokoknya dengan acuh tak acuh, matanya penuh tatapan percaya diri.

"Tenang saja, aku sudah menyuruh dokter memalsukan rekam medis amnesiaku. Selama aku nggak mengakui hubunganku dengannya, siapa yang akan percaya pada Ziana?"

Wanita itu terdiam sejenak, sepertinya masih belum puas.

"Bagaimana kalau dia terus menempel padamu? Kalau aku jadi dia, aku juga pasti nggak akan rela melepaskanmu."

"Aku nggak akan memberinya kesempatan untuk menggangguku."

Farel tersenyum, seolah dialah penguasa dalam permainan ini.

Ziana bersandar di dinding, kedua tangannya mengepal erat hingga ujung kuku menancap ke telapak tangannya. Namun, dia tidak merasakan sakit sedikit pun.

Dalam benaknya, kilasan ingatan berkelebat.

Ziana dan Farel adalah teman masa kecil.

Karena Keluarga Anggara tidak menyukainya, mereka terpaksa menjalani hubungan rahasia selama empat tahun.

Semalam, Farel akhirnya setuju untuk berterus terang kepada Keluarga Anggara tentang hubungan mereka.

Namun, dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Anggara hari ini, mereka mengalami kecelakaan.

Mereka berdua terluka dan pingsan.

Ziana tidak menyangka, pengakuan yang dia nantikan selama empat tahun hanya alat bagi Farel untuk memicu kecemburuan wanita lain.

Pria itu sudah lama mencintai orang lain.

Pantas saja saat mengemudi tadi, Farel tidak fokus menyetir dan terus-menerus melihat ponselnya.

Saat Ziana mengingatkannya, pria itu hanya berdalih sedang menunggu pesan pekerjaan.

Ternyata, dia sedang menunggu pesan cemburu dari wanita itu.

Lamunan Ziana terputus oleh suara langkah kaki dokter. Dia berpura-pura baru sampai dan masuk ke kamar bersama dokter.

Saat itu, Farel sudah berbaring kembali di ranjang.

Pria itu bahkan tidak melirik Ziana, sibuk memerankan drama amnesianya di depan dokter.

Akhirnya, dia mengusir Ziana dengan nada dingin, "Kalau sudah mengerti, pergi sana."

Ziana merasa ingin bertepuk tangan untuk akting Farel.

Demi menendang Ziana keluar dari hidupnya, Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara itu benar-benar mengerahkan segalanya.

Beberapa kali Ziana ingin bicara, tetapi rasa pahit menyumbat tenggorokannya. Pada akhirnya, yang terpancar di wajahnya hanyalah rasa malu.

Benar-benar memalukan.

Selama empat tahun berpacaran, cintanya pada Farel begitu dalam.

Pria itu tahu, teman-teman mereka pun tahu.

Tanpa menuntut status, dia merawat pria itu seperti seorang pelayan.

Asal pria itu marah, Ziana akan membujuknya hingga tenang meski harus mengorbankan waktu tidurnya.

Seluruh dunianya adalah Farel.

Namun sekarang, pria itu menggunakan cara yang begitu ekstrem untuk memaksanya menyerah.

Haha.

Sungguh ironis.

Ziana merasa mati rasa sekaligus sadar sepenuhnya. Dia hanya mengangguk dan berkata, "Oke, aku pergi."

Turuti saja kemauannya.

Cinta yang didapat dengan mengemis memang tidak akan bertahan lama.

Dia juga sudah lelah.

Ziana menundukkan kepala dan keluar dari ruangan.

Farel melirik punggung Ziana, alisnya sedikit terangkat. Dia tidak menyangka wanita itu akan menerimanya dengan begitu mudah.

Dia segera memanggil asistennya.

"Suruh seseorang mengawasi Ziana. Jangan sampai sekarang dia berlagak tegar, tapi sebentar lagi berbalik memohon padaku agar ingatanku pulih. Ada banyak orang di rumah sakit, nggak enak kalau sampai dilihat orang."

Sambil mengatakan hal itu, Farel mengerutkan kening, seolah sudah bisa membayangkan adegan Ziana mengemis padanya.

Asistennya mengangguk, lalu berbalik pergi.

....

Ziana lupa bagaimana dia kembali ke kamar rawatnya sendiri.

Dia duduk termangu di tepi ranjang, seperti anak kecil yang ditelantarkan.

Matanya terasa panas, tetapi air matanya tidak kunjung jatuh.

Perasaan cinta selama empat tahun, tidak mungkin dilepaskan seketika.

Akhirnya, dia merebahkan diri di ranjang dengan lelah. Tangannya menyentuh ponsel di samping tubuhnya.

Tekstur retakan yang kasar, membuat hatinya seakan melompat keluar.

Saat kecelakaan, ponsel itu ada di dalam tasnya dan tidak terbentur sama sekali.

Bagaimana mungkin ada retakan seperti itu?

Seolah menyadari sesuatu, Ziana mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar.

Ponsel itu memiliki bekas tekanan yang jelas. Layarnya hancur berkeping-keping dan sama sekali tidak bisa dinyalakan.

Bukti cinta antara dirinya dan Farel di dalam ponsel itu, pasti sudah lenyap.

Siapa pelakunya, Ziana sudah bisa menebak.

Demi mencegahnya mengganggu, Farel benar-benar mempertimbangkan segalanya dengan matang.

Ziana tertawa getir. Dia melihat gambar di case ponselnya, karakter kartun yang digambar berdasarkan dirinya dan Farel.

Kebahagiaan saat itu nyata, tetapi kekejaman saat ini juga nyata.

Dia juga tidak ingin hal sudah tidak diinginkan pria itu.

Tak!

Ziana membuang ponsel itu ke tempat sampah, lalu memanggil perawat untuk mengurus kepulangan.

Saat hendak pergi, perawat memanggilnya sambil menunjuk tumpukan barang di sudut kamar.

"Nona Ziana, ini masih ada barang-barang Anda. Anda nggak mau membawanya?"

Ziana menoleh sejenak. Itu semua adalah hadiah yang dia siapkan untuk kunjungan ke Keluarga Anggara.

Dia boleh membuang Farel, tapi hadiah itu tetap harus dibawa pulang.

Lagi pula, itu semua dibeli dengan uangnya. Dijual di aplikasi barang bekas pun masih bisa menghasilkan uang.

Dia memilah barang-barang yang bisa dijual. Sisa makanan ringan yang tidak bisa dijual, dia berikan kepada para perawat di sana.

"Untuk kalian saja, silakan kalian makan. Terima kasih atas bantuannya."

Setelah itu, dia meninggalkan rumah sakit.

....

Setelah Ziana pergi, Farel sempat tidur sejenak.

Saat terbangun, dia melihat semangkuk bubur dari Kedai Selera Rasa di atas nakas.

Pria itu memijat pangkal hidungnya dan mendecakkan lidah.

Dia sudah menduga, menyingkirkan 'benalu' seperti Ziana tidak akan semudah itu.

Ziana tidak bosan melakukan taktik pura-pura tenang, padahal diam-diam mencoba mengambil hati seperti ini. Namun, dia yang bosan.

Farel bangkit, lalu berkata, "Bubur ini ...." Buang.

"Tuan Farel, Anda sudah bangun? Mau makan bubur? Biar saya ambilkan sendoknya, saya sengaja menyuruh orang membelinya secepat mungkin."

Asistennya menyodorkan sendok dengan penuh semangat.

Farel mengernyit. "Kamu yang beli?"

"Benar, saya yang beli." Asisten itu tersadar, lalu menambahkan, "Dokter bilang, Nona Ziana langsung keluar dari rumah sakit setelah kembali ke kamar. Sepertinya, dia sudah menerima kenyataan bahwa Anda amnesia dan putus dengannya."

Farel memakan bubur itu dengan tenang, lalu mencibir.

"Menerima? Ziana bukan orang seperti itu. Kalau dia tipe yang mudah menerima kenyataan, aku nggak akan menggunakan cara ini untuk memaksanya putus. Mungkin dia melihat ponselnya sudah kurusak, jadi dia merasa malu dan hanya bisa marah."

"Lalu, apa saya masih perlu menyuruh orang mengawasi Nona Ziana?" tanya asisten itu.

"Nggak perlu. Sebentar lagi, dia pasti akan datang mencariku dengan membawa berbagai alasan. Urus kepulanganku sekarang."

"Baik."

....

Ziana tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menuju vila milik Farel.

Jika ingin berakhir, maka harus berakhir dengan bersih.

Berdiri di depan pintu, dia menekan bel.

Selama empat tahun berhubungan, dia telah datang ke vila ini ratusan kali dan memasak untuk pria itu ratusan kali pula.

Meski setiap kali Farel akan merangkulnya sambil berbisik, "Ziana, saat kita menikah nanti, aku pasti akan menjadi pria paling bahagia di dunia!"

Namun, pria yang berjanji akan menikahinya itu, tidak pernah memberinya kunci vila ini.

Bahkan ketika kunci pintu diganti dengan sistem sidik jari, semua pelayan sudah didaftarkan, tetapi dia tetap diperlakukan seperti orang asing.

Tak lama kemudian, Bibi Winda membukakan pintu.

"Nona Silvia, apa sidik jarinya nggak terbaca lagi ...?"

Nona Silvia?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status