LOGINEmpat tahun menjalani hubungan rahasia, akhirnya tiba di hari yang Ziana nantikan. Hari di mana Farel akan mengumumkan hubungan mereka. Namun, Farel justru mengabaikan nyawa Ziana demi wanita lain. Pria itu sengaja membuat kecelakaan mobil dan berpura-pura amnesia. Saat Ziana terbaring terluka di rumah sakit, Farel justru merangkul kekasih barunya. Dia juga bertaruh dengan teman-temannya bahwa Ziana akan tetap mengejar cintanya meski sudah disakiti. Farel tidak tahu, sejak Ziana menyadari bahwa amnesia itu palsu, wanita itu sudah memutuskan untuk pergi selamanya. Farel tidak tahu, saat dia memamerkan kemesraan dengan orang lain, Ziana telah membuang barang kenangan mereka. Farel tidak tahu, saat dia mendorong Ziana ke pelukan orang lain, wanita itu sedang dipojokkan dengan penuh godaan oleh pria lain. Farel tidak tahu, saat dia menunggu Ziana merendahkan diri untuk memohon padanya, wanita itu justru sedang memilih gaun pengantin. Ketika Ziana mencapai puncak kariernya dan menjadi miliarder wanita termuda di daftar orang terkaya, Farel dengan penuh percaya diri berlutut dengan satu kaki untuk melamarnya. "Ziana, ingatanku sudah pulih. Menikahlah denganku." Ziana membelai cincin berlian sepuluh karat di jarinya. Sebelum dia sempat menjawab, seorang pria dari belakang merangkul pinggangnya dengan sangat posesif. "Pergi! Kakak Iparmu nggak sudi melihat barang kotor sepertimu!"
View MoreZiana melihat Vihan bercakap-cakap dengan tenang, jelas tidak memedulikan situasi di sini. Dia menarik napas lega. Namun kemudian berpikir, kenapa dia harus lega? Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tertangkap basah selingkuh?Saat sedang melamun, punggung tangan Ziana yang berada di atas meja terasa hangat. Dia mendongak dan menyadari Farel telah mencengkeram tangannya tanpa memedulikan orang lain. "Apa yang kamu lihat? Vihan?" "Kamu benar-benar pikir, dia akan memedulikan video pengakuan cinta yang nggak jelas itu?""Matanya hanya berisi keuntungan. Dia hanya mesin pencari uang yang dilatih Keluarga Anggara."Ziana merasa geli tanpa alasan. Bagaimanapun juga, Vihan jauh lebih baik daripada pria brengsek hasil didikan Keluarga Anggara ini. Seingatnya, Paman Firman, ayah Farel, adalah pria yang sangat lembut dan berwibawa! Dia menyindir, "Soal video pengakuan itu, apa Tuan Farel benar-benar nggak tahu apa-apa?" "Ziana, berhenti membuat keributan. Video itu sudah berlalu.
Melihat hal itu, Farel tersenyum tipis dan menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, di piring Ziana sudah menumpuk tujuh atau delapan ekor udang. Farel menggerakkan sendoknya untuk mengambil, tetapi tepat saat akan menyentuh udang itu, Ziana menghindar.Suara Ziana terdengar tenang saat berkata, "Kalau Tuan Farel mau makan, Anda bisa memanggil pelayan. Tadi saya lupa mencuci tangan." Setelah berkata demikian, dia memindahkan udang yang sempat tersentuh sumpit Farel ke samping, lalu melahap sisanya dengan nikmat. Ternyata mengupas untuk diri sendiri rasanya lebih enak.Melihat udang yang dibuang ke samping seperti sampah, Farel seketika tersulut emosi. Dia mengentakkan sendoknya dengan keras ke meja. "Ziana, apa maksudmu?" Ziana bahkan tidak mendongak. "Nggak higienis. Apa Tuan Farel mau memakan sesuatu yang sudah terkena air liur orang lain?" Farel terbungkam.Dia tidak bisa membantah kalimat itu karena sedang pura-pura hilang ingatan. Namun, memikirkan Ziana yang terus-mene
Kehadiran Farel membuat Ziana sedikit terkejut. Meskipun dia merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka, tetapi pria itu tetap atasannya saat ini. Baik secara profesional maupun pribadi, dia harus menghormati Farel. Ziana mengangguk tipis pada Tio dan berjalan menuju Farel.Tindakan ini membuat Tio terpana. Dia tadinya khawatir Ziana akan bicara macam-macam dan sedang berpikir bagaimana cara memperingatinya. Tak disangka, wanita itu justru menunjukkan sikap tidak peduli. Sikap yang membuat Tio sama sekali tidak bisa menghubungkannya, dengan sosok Ziana yang dulu selalu memuja Farel dalam segala hal.Ziana sampai di sisi meja. Sosoknya tampak ramping tapi tegak, ekspresinya datar tapi tetap dihiasi senyum standar profesional. "Tuan Farel, ada urusan apa mencari saya?" Suaranya lembut dan patuh, tetapi tanpa emosi sedikit pun.Gerakan tangan Farel yang membalik menu terhenti sejenak, tetapi dia tidak terlalu ambil pusing. "Duduklah. Soal kejadian kemarin, aku
Ziana mengabaikan tatapan peringatan dari Silvia dan melanjutkan, "Kalau begitu wanita itu malang sekali. Pria bekas, gelang bekas.""Malang apanya? Pria brengsek seperti itu sengaja mengeluarkan modal besar hanya untuk memancing wanita yang haus kemewahan dan tamak. Setelah dipakai, lalu dibuang. Wanita yang mau memakan umpan seperti itu, mana mungkin orang baik-baik?" kata Hilda mencibir.Dia bermaksud menyindir Ziana, tanpa menyadari bahwa dia juga sedang memaki Silvia. Wajah Silvia berubah dari gelap menjadi semakin kelam, hingga dia tidak bisa menahan diri lagi."Cukup!" Hilda dan yang lainnya tersentak, menatap Silvia dengan bingung. Silvia segera memulihkan ekspresi lembutnya. "Waktunya sudah hampir tiba, Bu Aryani akan segera datang. Mari kita kembali bekerja." "Baik," sahut Hilda dengan enggan sebelum bubar.Ziana berbalik masuk ke ruang pantry, berniat membuat kopi karena sebentar lagi dia harus menjamu klien lain untuk meninjau lokasi pertemuan. Baru saja dia menyalakan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.