LOGINShen Liu Zi hanya menginginkan jenderal Shang! Dicampakkan dan diacuhkan sepanjang hari oleh jenderal Shang Que tak membuat perasaan cinta Shen Liu Zi padanya memudar. Hingga di hari perburuan tiba .... Jenderal bertanya, “Di mana istriku?” “Jenderal! Istrimu hilang di tengah hutan!” Satu tragedi mengubah segalanya!
View MoreBesi yang telah memerah itu diangkat dari bara. Pijarnya redup tapi menyala, memancarkan panas yang membuat udara di sekitarnya bergetar halus. Salah satu asisten mengambilnya menggunakan penjepit besi, lalu menoleh sekilas ke arah Tabib Xiong. Tabib Xiong memberi isyarat satu anggukan singkat. Lantas, asisten medis mendekatkan ujung besi panas itu perlahan ke luka tusukan di dada jenderal Shang. Beberapa tetes darahnya masih jatuh kemudian— Cesss! Suara daging terbakar terdengar jelas. Asap tipis langsung mengepul dari luka yang disentuh besi panas itu. Bau menyengat menyebar cepat, menusuk hidung siapa pun yang berada di dalam tenda. Tubuh jenderal Shang menegang seketika, napasnya terhenti. Otot-otot di rahangnya mengeras, urat di lehernya tampak menonjol. Keningnya langsung dipenuhi keringat besar yang mengalir turun mengikuti garis wajahnya. Namun, kali ini mata pria itu tetap terbuka. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari surat yang masih dia genggam sekaligus sya
Di antara hamparan mayat yang membeku bersama tanah yang telah berubah menjadi lumpur merah, jenderal Shang berlutut satu kaki dengan pedang panjang sebagai penopang. Bilahnya berlumuran merah pekat, tetesan darah masih jatuh perlahan ke tanah di bawahnya. Napas Jenderal Shang terdengar berat; tidak tergesa, tetapi jelas lebih dalam dari biasanya. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali dia menghembuskan napas, bercampur bersama bau besi sekaligus asap yang belum hilang dari udara. Angin dingin berembus melewati medan perang. Mengibaskan jubah hitamnya yang robek di beberapa bagian, meniup helaian rambut yang menempel di pelipis. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang aneh—seolah seluruh medan perang ikut menahan napas. Beberapa waktu berselang, jari-jarinya yang masih berlumuran darah perlahan bergerak. Tangan kirinya terangkat dari samping tubuh. Menggapai seikat rambut yang masih basah oleh darah. Dan saat lengannya terangkat lebih tinggi— Potongan kepala Koman
Perintah itu jatuh tajam seperti kilat di tengah udara musim dingin. Hampir dalam detik yang sama—dari belakang barisan pasukan negara Wan, dua pelontar besar didorong maju. Rangka kayunya berderit, roda besinya menggiling tanah beku dengan suara berat yang membuat dada bergetar. Para prajurit yang mengoperasikannya bergerak cepat, seolah sudah berkali-kali melakukan hal yang sama. Jerami kering yang sudah dililit kain minyak disulut api. Nyala merah langsung berkobar. Api itu membesar dalam sekejap, berdesis tertiup angin dingin, lalu— “Lepas!” Tali pelontar ditarik. Dua bola api melesat tinggi ke udara, meninggalkan jejak asap hitam yang melengkung panjang di langit pucat. Di atas tembok, beberapa prajurit Raja Changi tanpa sadar menahan napas. Bola api itu jatuh tepat ke arah formasi depan mereka. Dua ledakan keras mengguncang tanah. Boom! Boom! Jerami terbakar pecah ke segala arah, api menyambar perisai kayu, ujung tombak, bahkan pakaian para prajurit yang sudah berdiri
Di dalam kota Xudu, keadaan pasukan Raja Changi sudah benar-benar kacau. Beberapa prajurit masih bergantian muntah sambil berlutut di tanah. Di sisi lain, antrean panjang terbentuk di depan jamban darurat, sementara sebagian lagi tidak sanggup menunggu dan hanya bisa berjongkok di balik pagar kayu dengan wajah pucat kehijauan. Udara dipenuhi bau asam, keringat, serta asap dapur yang bercampur menjadi satu. Pokoknya tidak ada lagi ketertiban seperti biasanya! Di atas menara penjagaan, seorang prajurit pemantau berdiri sambil menahan perutnya sendiri. Wajahnya juga pucat, napasnya tidak stabil, tetapi dia tetap memaksakan diri melihat ke arah dataran luar kota. Kabut tipis masih belum sepenuhnya hilang. Namun, dari kejauhan ada yang bergerak cepat. Awalnya hanya titik-titik kecil, lalu perlahan tapi pasti menjadi sangat jelas. Hitam, banyak, padat bagai kawanan semut yang merayap di tanah beku. Prajurit itu menyipitkan mata supaya penglihatannya lebih jelas, bahkan juga menc
Cekalan itu membuat Shen Liu Zi membeku. “...” Tangan wanita itu tertahan, pergelangan yang ramping terkurung dalam genggaman panas yang tidak terkontrol. Jantung Shen Liu Zi berdegup keras, kepalanya kosong sesaat. Dia menunduk, menatap wajah jenderal Shang dengan napas tertahan khawatir. Ti
Lampu lentera di pondok halaman samping bergoyang pelan, memantulkan cahaya kekuningan ke permukaan meja kayu yang sudah termakan usia. Shen Liu Zi duduk dengan punggung tegak, kedua lengannya bersedekap. Posturnya tenang, tapi bukan santai—lebih seperti seseorang yang siap menyergap balik kapan
Tubuh kuda terhuyung keras. Tapak depannya tergelincir di tanah basah, dan dalam sekejap, keseimbangan lenyap. “Ah—!” Shen Liu Zi dan Yu Li terlempar dari punggung kuda. Punggung mereka menghantam tanah berlumpur, lalu tubuh keduanya berguling tak terkendali. Sekali, dua kali hingga akhirnya ter
Semua prajurit beserta komandan Miao Feng dan komandan Hutong Bai berhasil menyebrangi jembatan. Satu-satunya yang belum lewat adalah jenderal Shang! Dia berdiri di tepi sungai, memegang kendali kuda hitamnya yang besar, tinggi selayaknya kuda perang. Nafas hewan it
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore