بيت / Thriller / Cinta di Balik Palu Hukum / Bab 55 – Operation Mirrorfall

مشاركة

Bab 55 – Operation Mirrorfall

مؤلف: Sania Larisa
last update تاريخ النشر: 2025-10-09 16:20:34
Malam dua hari kemudian terasa seperti napas yang tertahan. Kota tidur gelisah; lampu jalan memercik di genangan air. Di ruang bawah tanah Nayla, tiga orang itu berkumpul lagi — mata merah, tangan gemetar, tapi kepala tetap dingin. Jam dinding berdetak; jeda waktu hampir habis.

“Waktu kita mulai sekarang,” bisik Nayla, matanya menatap layar. Di depan mereka, dua jurnalis independen yang sudah setuju ikut dalam pengalih perhatian berada di jalur aman, menunggu kata sandi untuk unggah headline p
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 110 — Serangan Pertama

    Langit malam terlihat seperti beludru hitam tanpa bintang.Rumah itu sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan.Lebih seperti keheningan yang menahan napas…menunggu sesuatu pecah.Raisa bergetar dalam pelukan Revan, sementara pesan terakhir di ponselnya masih terpampang jelas:“Pilih siapa yang akan menjadi korban pertama, Raisa.”Revan meremas rahangnya, marah dan takut bercampur jadi satu.“Ini permainan apa…?” gumamnya.Risyad, yang sejak tadi memandang paket bermelati kering itu, akhirnya bersuara.“Kita tidak boleh buka kotak itu. Itu jelas bom. Atau… trigger.”Raisa mengusap air matanya, mencoba berdiri. “Kita harus pergi dari sini. Sekarang.”Revan mengangguk cepat, tapi sebelum mereka sempat bergerak, ponsel Raisa kembali bergetar.TRING.Pesan masuk.Revan langsung meraihnya terlebih dulu.Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi ngeri.Raisa panik. “Apa? Apa itu?!”Revan menunjukkan layar.Foto.Seseorang diikat.Mulutnya ditutup lakban.Matanya terbuka lebar ketakutan.Itu

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 109 — Bayangan Pertama yang Menuntut Nyawa

    Raisa mematung menatap catatan itu—huruf tegas, rapi, dan dingin yang ia kenal betul meski sudah bertahun-tahun tak melihatnya.Nama itu saja sudah cukup membuat tengkuknya merinding.Astra.Revan menatap Raisa dengan campuran marah dan bingung. “Sayang… siapa dia sebenarnya? Kenapa dia sampai memata-matai kita sampai sejauh ini?”Raisa tak langsung menjawab. Tenggorokannya mengering. Kilasan masa lalu berkelebat seperti kilat yang menyambar tiba-tiba: ruangan bawah tanah, monitor gelap, arsip lama, dan adrenalin penyelidikan Meridian Gate.Astra Danendra.Sosok yang selalu bekerja di balik layar.Sosok yang bahkan aparat hukum tak berani sebut namanya secara terbuka.Sosok yang Raisa kira sudah menghilang di balik kehancuran unit bayangan itu.Revan meraih bahunya. “Ra? Kamu dengar aku?”Raisa menarik napas panjang, namun suaranya masih bergetar.“Dia… orang paling berbahaya yang pernah aku hadapi. Seseorang yang tahu bagaimana sistem bekerja… karena dialah yang membentuk kebanyakan

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 108 — Jejak di Pintu Gelap

    Raisa masih menatap foto pintu rumahnya dengan tangan gemetar. Kata-kata Nadira di catatan itu terus berputar di kepalanya, seperti mantra yang menekan napasnya.“Waktumu tinggal sedikit.”Dulu, tulisan itu berarti dukungan. Dorongan.Sekarang… ancaman.Revan memeluk bahunya, namun Raisa bukannya merasa aman — justru semakin sadar bahwa ia baru saja menyeret suaminya ke pusaran masa lalu yang belum sepenuhnya ia ceritakan.“Ra, kita harus jalan,” ucap Revan tenang tapi tegas.Risyad sudah menarik jaket kulitnya, memasukkan beberapa peralatan kecil ke tas hitamnya. “Kita butuh dua mobil. Kita tidak tahu apakah mereka mengawasi pintu keluar gedung ini.”Raisa mengangguk, namun pikirannya berputar—tentang Nadira, tentang Ronaldo, tentang pesan itu, tentang pintu depan rumah yang terbuka.Kenapa Nadira? Kenapa sekarang? Kenapa dengan cara ini…?Ia menahan isak yang hampir lolos dari tenggorokan.— Di Mobil, Perjalanan PulangMalam itu gelap, lebih gelap daripada biasanya. Awan tebal menut

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 107 — Pengkhianatan yang Tidak Pernah Dibayangkan

    Raisa menatap nama Nadira Putri di layar tablet itu seperti menatap bayangan masa lalu yang kembali dari kubur.Ruang rapat kecil itu terasa mengecil. Napasnya memburu, dada mengetat, dan sensasi dingin menjalari tulang belakangnya. Nadira bukan sembarang kenalan. Bukan rekan biasa.Dia pernah menjadi seseorang yang Raisa percaya… sepenuhnya.Seseorang yang dulu ia ceritakan rahasia pribadi. Seseorang yang dulu berjuang bersamanya saat membongkar sistem keadilan busuk di era Meridian Gate.Seseorang yang hilang setelah runtuhnya kasus itu tanpa sepatah kata.Revan dan Risyad menunggu jawaban Raisa. Namun Raisa tak langsung mampu bicara.“Ra,” Revan akhirnya memanggil lembut, namun penuh kekhawatiran. “Nadira… dia siapa bagimu sebenarnya?”Raisa menelan ludah.“…Dia dulu sahabatku,” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.“Kami bekerja sama selama investigasi Meridian Gate. Dia pendamping analisis data. Sangat cerdas. Kita semua pikir dia korban sistem yang sama.”Revan mendekatinya. “

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 106 — Jejak yang Mengarah ke Masa Lalu

    Hujan turun tipis di luar jendela, menyapu kota dengan kabut abu-abu. Malam itu, Raisa, Revan, dan Risyad duduk di sebuah ruang kerja kecil di kantor Risyad—ruang yang hanya dipercayakan untuk kasus-kasus sensitif. Lampu redup, papan investigasi telah mereka bawa ke sana, dan semua dokumen bertebaran di atas meja.Tak ada siapa pun yang tahu rapat itu berlangsung, bahkan rekan terdekat Risyad.Ini operasi diam-diam pertama mereka.“Baik,” Risyad membuka pembicaraan sambil meletakkan tablet. “Kita punya tiga target utama: Saskia, laki-laki ‘07’, dan… kemungkinan sosok ketiga yang menarik tali dari belakang.”Raisa mengangguk tegang. “Kita mulai dari yang paling mudah dilacak: identitas laki-laki itu.”Revan mencondongkan badan. “Kamu bilang tadi kamu punya cara?”Risyad mengangguk. “Aku berhasil memperjelas frame videonya. Tatonya bukan hanya angka ‘07’.”Ia menyentuh layar.Gambar diperbesar.Perlahan, bentuk itu semakin tampak jelas.Di bawah angka 07, ada simbol kecil—hampir seperti

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 105 — Musuh yang Tidak Terlihat

    Setelah video terakhir di flashdisk merah itu berhenti, ruangan seolah kehilangan udara. Tidak ada yang berbicara selama hampir satu menit. Hanya napas Raisa yang terdengar cepat, tersengal. Revan akhirnya menutup laptop perlahan, seolah menutup pintu menuju dunia gelap yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan.“Ra…” suara Revan terdengar serak, “kita harus tetap tenang. Ada bukti besar di sini. Ini bisa jadi kartu truf.”Raisa menggeleng. “Kita bukan sedang berurusan dengan Saskia saja, Van. Ada orang lain dalam video itu—dan dia lebih… terlatih.”Revan mengerutkan kening. “Kamu merasa dia… apa? Profesional?”“Bukan hanya profesional.” Raisa menatap Revan lurus-lurus. “Gerakannya. Cara dia menghindari kamera. Caranya memegang koper. Itu bukan orang biasa. Itu orang yang tahu bahwa dia sedang direkam… dan sengaja tidak menunjukkan identitas.”Revan diam.Dan itu membuat Raisa semakin takut.Karena kalau Revan—seorang mantan korban fitnah kasus publik dan pria yang selalu mencoba rasi

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 61 – Akhir dari Permasalahan

    Tapi kata-kata itu sudah menyebar. Dalam hitungan detik, potongan video singkat wajah Raisa dengan suara lantangnya berputar di ribuan layar: kafe, terminal, kantor berita, bahkan di ruang-ruang sidang yang terhubung dengan jaringan Mirror Court. Sebuah kalimat sederhana, tapi menghantam lebih k

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 60 – Ketika Hukum Menatap Balik

    Asap dari knalpot bercampur dengan embusan udara pagi yang lembap. Di kejauhan, suara sirene berlapis—tiga nada berbeda dari tiga lembaga keamanan—menyatu seperti simfoni yang mengabarkan perburuan. Raisa menoleh ke kaca spion, matanya menatap bayangan lampu biru yang berpendar di sudut jalan. “Di

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 59 – Menyusup ke Cermin

    Matahari pagi hampir tak mampu menyingkap kabut kota. Di balik deretan toko yang masih tutup, kios tempat mereka bersembunyi kini berubah menjadi pos operasi kecil: antena, baterai, dua laptop, dan tiga gelas kopi basi. Ruangan itu bergetar halus dari suara kipas generator. Wajah mereka bertiga memb

  • Cinta di Balik Palu Hukum   Bab 58 – Gerbang Bayangan

    Langit dini hari di atas kota tampak seperti lembar abu, kosong dan sunyi. Hujan sudah berhenti, tapi bau asap dan oli masih menggantung di udara. Di sudut pasar tua yang sudah lama ditinggalkan, dua bayangan berjalan cepat melewati deretan kios besi berkarat. Raisa membuka kunci gembok tua di sal

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status