MasukTak lama bel pulang sekolah telah berbunyi, lagi-lagi para siswa bersorak dengan riang karena mendengar suara bel pulang seolah. Sore ini awan mendung tidak segelap kemarin, rintik air hujan pun belum ingin turun menghujam bumi. Para siswa bisa pulang dengan leluasa tanpa harus basah diguyur air hujan.
Feli dengan cepat melangkah menuju tempat ia memarkirkan sepedanya, namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang nenek-nenek yang kesulitan membawa sampah plastik di dalam kantong yang sangat besar. Karena iba, Feli mendekati nenek itu dan berencana untuk membantunya. “Tidak perlu, Nak. Aku bisa membawanya sendiri.” Nenek itu meraih tangan Feli yang hendak membantunya memasukkan sampah plastik ke dalam kantung. “Tidak apa, Nek. Sebentar lagi hujan turun, Nenek bisa kehujanan jika tidak bergegas.” Feli menarik tangannya dan kembali memilah sampah plastik dan memasukkan ke dalam kantong. “Maafkan aku yang sudah tidak bisa bergerak dengan cepat ini, Nak. Selain kulit dan wajahku yang semakin keriput, tubuhku pun semakin lamban.” Feli tersenyum simpul mendengarkan ucapan sang nenek. “Terima kasih sudah membantu, Nak. Terimalah buah apel ini sebagai balasan atas kebaikanmu,” ucap nenek itu mengulurkan sebuah apel merah yang masih terlihat segar. “Tidak perlu, Nek. Aku tidak menginginkan imbalan.” “Ayo ambillah, maafkan aku yang sudah tua ini tidak bisa memberimu balasan yang baik. Aku hanya tidak ingin berhutang budi kepada siapapun semasa hidup. Aku hanya ingin mati dengan damai,” ucap Nenek itu. Feli memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap mata Nenek yang berdiri di hadapannya ini, tak lama setelah itu senyum mengembang terbit di wajah cantik Feli. “Tenanglah, Nek. Nenek akan mati dengan damai di pelukan anak cucumu, tidak ada penyesalan apapun di dalam kehidupan Nenek dan Nenek meninggal dalam keadaan tersenyum bahagia kelak,” ucap Feli. Seketiga Nenek itu ikut tersenyum mendengar ucapan Feli, ia merasa lega dan bahagia karena Feli mengatakan hal demikian. “Terima kasih, Nak. Cepatlah pulang, hujan sebentar lagi akan turun.” Feli mengangguk dan bergegas menuju ke parkiran sepedanya. “Dari mana kamu tahu?” Feli terperanjat kaget saat tiba-tiba suara seorang laki-laki terdengar di samping telinganya, gadis itu reflek menjauh dan langsung menundukkan kepala saat menyadari orang itu adalah Aland. “Apa maksudmu?” ucap Feli balik tanya. “Bagaimana kamu tahu jika Nenek itu akan mati dalam keadaan damai bahagia di dalam pelukan anak cucunya?” Feli membelalakan mata, ternyata laki-laki itu sejak tadi menguntitnya dan mendengar semua yang ia katakan terhadap Nenek tadi. “Aland, jangan menguntitku!” teriak Feli kesal. “Ceritakan dulu, bagaimana kamu bisa tahu?” “Aku tidak tahu dan aku hanya mendoakan Nenek itu semoga ia meninggal dalam keadaan damai dan bahagia di pelukan anak cucunya, kenapa memang? Apa salahnya jika aku berdoa untuk Nenek itu?” jelas Feli. Gadis itu merasa telah menemukan alasan yang tepat untuk menjawab kecurigaan Aland terhadapnya. “Aku tidak yakin kamu mendoakan Nenek itu,” jawab Aland membuat Feli menghela napas kasar. “Terserah kamu mau percaya atau tidak bukan urusanku!” teriak Feli. Gadis itu segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya pergi meninggalkan Aland yang masih berdiri mematung di tempat. Hujan deras mengguyur saat Feli baru saja masuk ke rumahnya, gadis itu merasa lega karena merasa menang dari air hujan. “Anak Papa sudah pulang?” suara laki-laki paruh baya menghentikan langkah Feli yang hendak menuju ke kamarnya. “Papa sudah pulang kerja jam segini?” tanya Feli kepada Farhan—Papanya. “Kantor sedang tidak ada pekerjaan, jadi Papa bisa pulang cepat,” jawab Farhan. Papa Feli adalah salah satu pegawai di bank, tepatnya ia berada di dalam kantornya. Sementara Mama Feli telah meninggal dua tahun lalu meninggalkan suami dan anak semata wayangnya. “Baguslah jika begitu, Papa jadi bisa banyak beristirahat.” Feli tersenyum menatap Papanya yang duduk di kursi dengan selembar koran di tangannya. “Cepat bersihkan dirimu dan segera makan! Papa membeli masakan padang, ayo kita makan bersama!” ajak Farhan yang diangguki Feli. Gadis itu segera pergi menuju kamarnya dan melempar tasnya sembarangan ke atas kasur. Feli segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, gadis itu berharap rasa lelahnya bisa ikut hanyut bersama guyuran air di tubuhnya. Tak lama setelah itu, Feli keluar dari kamar mandi dengan pakaian kasual. “Feli, ayo makan! Kamu sudah selesai belum?” teriak Farhan dari depan pintu kamar gadis itu. “Sudah, Pa. Sebentar lagi Feli keluar,” jawab Feli. Gadis itu segera bergegas keluar dari kamar dan ikut bergabung di meja maka bersama Farhan yang sudah mulai mengambil nasi ke atas piringnya. “Bagaimana dengan sekolahmu? Apakah lancar?” tanya Farhan terhadap putrinya. Feli mengangguk sebagai jawaban. “Apakah kamu sudah memiliki seorang teman?” Gadis itu terdiam saat mendengar pertanyaan dari Papanya, Feli tidak bisa menjawab karena ia tidak memiliki teman satupun di kelas. Gadis itu bukannya tidak mau berteman, akan tetapi karena ia tidak mau melihat peristiwa kematian dari tatapan matanya mereka yang membuat mood Feli seringkali memburuk jika melihat peristiwa kematian tragis. “Papa sudah tahu jawabannya, kamu pasti tidak memiliki teman,’kan?” ucap Farhan tahu akan kondisi putrinya itu. Dulunya ia juga kaget saat mengetahui Mama Feli bisa melihat kematian seseorang hanya dengan menatap matanya, dan kemampuan itu saat ini menurun kepada Feli. “Tetapi sekali-kali kamu juga harus punya teman, Fel. Jangan terus-terusan menyembunyikan diri seperti ini, nikmati masa mudamu!” ucap Farhan yang diangguki oleh anaknya. "Iya, Pa." "Karena hujan sudah reda, kita pergi yuk habis ini," ajak Farhan kepada anak semata wayangnya. "Kemana, Pa?" tanya Feli penasaran. "Mumpung Papa ada waktu, ayo kita ke makam Mama." "Ayo!" teriak Feli antusias. Sudah lama sekali rasanya ia tidak pergi ke makam Mamanya itu, terakhir ke sana saat Feli hendak melaksanakan ujian nasional di kelas tiga sekolah menengah pertama. Tandanya ia sudah sebulan lebih tidak datang ke makam ibunya. “Kita berangkat kapan?” tanya Farhan setelah ia menyingkirkan piringnya yang sudah tidak lagi terisi. “Sekarang!” teriak Feli. “Pa, tunggu sebentar ya! Feli mau siap-siap dulu!” ucap gadis itu sambil berlari menuju kamarnya. Feli mengganti kaos lengan pendeknya dengan kaos lengan panjang berwarna abu-abu, sementara bawahannya ia mengenakan rok plisket berwarna hitam. Gadis itu semakin dewasa semakin mirip dengan ibunya. Kedua mata Farhan berkaca-kaca saat melihat Feli karena teringat istrinya dulu, dadanyapun semakin sesak saat mengingat pengorbanan istrinya agar ia dan Feli bisa hidup bahagia seperti ini.Hari ini Feli berangkat dengan berjalan kaki, meskipun Aland ngeyel untuk menjemputnya, ia tetap bersikeras untuk berangkat sendiri.Sebenarnya ia ingin memastikan sesuatu, kaki pendeknya berjalan menuju sebuah rumah kosong yang dulu sering kali Aron kunjungi.Feli menengok ke sana kemari hanya keheningan yang ia dapatkan.“Syukurlah, Aron sudah tidak berkunjung ke sini lagi,” gumannya seorang diri.Gadis itu pun menghela napas lega, ia berharap kondisi Aron bisa membaik. Meskipun Feli tidak yakin dengan hal itu, anak mana yang semakin membaik jika ayahnya saja harus ditahan di tempat rehabilitasi.Paling tidak Aron dan Ibunya sudah tidak lagi diperlakukan kasar, rumor di sekolahpun sudah meredup perbincangan mereka digantikan dengan Via yang sempat bunuh diri dan sekarang justru gadis itu hilang entah kemana. Hal ini menjadi topik hangat di sekolah.“Pagi, Dek Feli, kamu jalan kaki lagi?” sapa seorang penjaga gerbang.Satpam itu sudah hafal dengan Feli karena sering berjalan kaki saa
Mendung sore ini semakin mencekam, beberapa kali petir menyambar pertanda butiran air akan segera jatuh. Aland dan Feli mengendarai motor membelah padatnya jalan raya, mereka tidak peduli dengan wajah langit yang semakin suram.Tujuan mereka bukan ke rumah Feli untuk pulang, bukan juga ke rumah sakit untuk ikut mencari Via, akan tetapi mengikuti sebuah mobil yang dikendarai oleh guru matematika mereka.Pak Heri keluar dari gudang sekolah dengan menggendong tas yang sangat besar, itu adalah tas camping. Biasanya orang-orang menggunakannya untuk mendaki karena muat banyak sekali barang, bahkan tendapun bisa masuk ke tas tersebut.Untuk apa Pak Heri membawa tas sebesar itu ke sekolah? Pertanyaan itu yang menbuat Aland dan Feli mengikuti Guru Matematika mereka.Sejak kejadian mereka mendobrak pintu gudang, Feli menceritakan apa yang ia lihat dari peristiwa kematian guru matematika mereka. Pada waktu itu Pak Heri sedang menyeret seorang gadis, Feli tidak melihat wajah gadis itu dengan jel
Seorang laki-laki seang berdiri dibalik batang pohon besar disebuah taman, ia melihat jauh kedepan. Seorang pria paruh baya sedang duduk dengan kepala tertunduk, meskipun jauh laki-laki yang besembunyi dibalik pohon mengetahui jika Ayahnya, pria paruh baya itu berkali-kali menghapus air matanya yang kadang kala menetes.Tatapannya kosong, namun di dalam lubuk hatinya tersimpan banyak sekali penyesalan. Penyesalan yang telah ia perbuat terhadap keluarga kecilnya.“Waktu jalan-jalannya sudah habis, Pak. Mari saya antar ke kamar Bapak!” Ajak seorang petugas perempuan.Pria paruh baya itu berdiri dan berjalan mengikuti petugas itu. Aron, ikut berjalan di belakang mereka namun jauh. Jauh sekali jarak mereka. OIa tidak mau jika ayahnya tau kalau ia mengunjunginya.Apa yang harus Aron katakan kepada Ayahnya jika mereka bertemu? Ia sebenarnya sangat membenci Ayahnya namun sekaligus Aron sangat menyayangi pula Ayahnya.Perlakuan Ayahnya yang beberapa tahun terakhir berubah menjadi kasar, pemar
“AKKHHHH, TOLOOONG!” Setelah Feli dan Aland sampai, mereka dibuat syok saat melihat Amanda dan Via berada di dalam gudang sekolah. Via terduduk dengan pergelangan tangannya yang berlumuran darah. Sementara Amanda panik melihat sahabatnya yang ingin bunuh diri. “Cepat bawa dia ke UKS dulu, Aland!” perintah Feli. Sementara Guru UKS segera menelepon ambulan, Guru UKS membalut tangan Via yang berlumuran darah dengan kain kasa seadanya agar darah segar berhenti mengalir. Aland, Feli dan Amanda dipanggil ke ruang guru untuk menjelaskan kejadian tersebut. “Apa yang terjadi pada Via?” Tanya guru wali kelas. Amanda dengan wajahnya yang sembab mulai bercerita. “Beberapa hari ini Via bertingkah aneh, Pak. Biasanya dia selalu ceria tetapi beberapa hari ini dia selalu murung. Bahkan aku mendengar dia menangis di kamar mandi.” Guru wali kelas mendenngar cerita Amanda dengan seksama, begitu juga dengan Aland dan Feli yang tidak tahu menahu entang kondisi Via. “Lalu?” perintah Guru Wali kelas
BRAAKKK “Ma-maaf,” ucap Feli saat ia tidak sengaja menabrak seseorang. “Feli? Tidak apa-apa, maafkan aku.” Gadis berambut coklat ikut meminta maaf, setelah mendengar suara gadis yang ia tabrak. Feli tahu siapa gadis itu namun ia tidak mau mencari keributan, akhirnya ia hanya mengangguk dan segera melanjutkan langkah kakinya. “Feli, tunggu!” ucap gadis berambut coklat itu mengejar Feli. “Aku mau bicara dulu sama kamu.” “Ta-tapi, a-aku—” “Hanya sebentar saja,” jawab gadis itu memotong keraguan Feli. Mereka berdua berjalan dan berhenti di tengah lorong yang sepi membuat Feli merasa was-was. Ia tidak mau hal yang dulu pernah terjadi padanya terulang lagi. Rasanya sangat tidak enak saat dirinya dibully. “Sebelumnya, aku ingin mengatakan banyak sekali terima kasih karena sudah menyelamatkan aku saat kecelakaan kemarin.” Feli terkejut dengan apa yang dikatakan gadis di hadapannya, Feli kira dirinya akan dibully lagi seperti dulu. “Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak ada
“BERHENTI! ANGKAT TANGAN!” Suara Polisi yang datang membuat Ayah Aron tergagap. Dengan sigap tiga orang polisi masuk dan memborgol kedua tangan Ayah Aron.“Kamu baik-baik saja?” tanya seorang laki-laki yang mendekati Feli.“A-Aland,” ucap Feli hampir tidak percaya dengan siapa yang baru saja menghampirinya.“Aland, terima kasih dan maafkan aku.” Feli langsung memeluk tubuh Aland yang berada di dekatnya. Isak tangis yang sudah tidak bisa lagi ia tahan, saat ini sudah ia tumpahkan di dada bidang seorang laki-laki yang setiap saat dan setiap waktu selalu ada disaat Feli membutuhkannya.“Tenanglah, kamu tidak salah apa-apa,” jawab Aland mengelus lembut punggung Feli mencoba menenangkannya.Akan tetapi isak tangis itu tiba-tiba berhenti dan disusul tubuh Feli yang semakin tidak bertenaga. Feli terjatuh dalam pelukan Aland membuat laki-laki itu terkejut.“Feli, kamu baik-baik saja?” tanya Aland mencoba membangunkan Feli.“Feli!” teriak Aland mulai khawatir karena gadis itu terlihat lemas.A







