Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku

Pak Dosen Tak Bisa Melepaskanku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-21
Oleh:  MakairaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pengkhianatan kekasih membuat Senja Kahlani bertemu Arion Wiratama—pria misterius yang ternyata dosennya. Arion menawarkan kesepakatan: bantu skripsi, balas dendam mantan, dan pulihkan nama ayah Senja. Tapi di balik kebaikan Arion, tersembunyi rahasia yang bisa merusak semua rencana. Bisakah mereka mencapai tujuan tanpa terseret oleh perasaan yang tumbuh di antara keduanya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Harmoni Jahat di Sudut Kafe

Harusnya hari ini adalah hari spesial, di mana Senja merayakan ulang tahun Gavi.

Langkahnya masih riang saat mendekati kafe tempat mereka janjian bertemu. Tapi, suara kecipak dari dalam kafe menghentikannya.

Semakin mendekat, desahan mengalun seperti melodi yang menjatuhkannya ke neraka.

Dari depan sana, Senja bisa melihat dua orang terdekatnya: pacarnya, Gavi, dan sahabatnya, Tara.

Bibir mereka bertautan dengan hasrat. Gavi memegang pinggang Tara kuat, tak mau melepaskan. Tara menutup mata, penuh kepuasan. 

Tara mendorong tubuh Gavi melepas ciumannya, "Nanti ketahuan Senja."

"Aman, dia kirim pesan katanya telat," Gavi sambil menunjukkan layar ponselnya dengan senyum sombong. 

"Tapi gimana kalo dia marah?" Tara menggoda dengan memainkan jemarinya di dada Gavi.

"Bodo amat," acuh Gavi yang menelusupkan jemarinya ke dalam blus Tara. "Aku sudah punya firma sendiri dan beberapa klien tetap, jadi aku gak butuh si rambut Einstein lagi,"

Seperti ada peluru yang menembus hati Senja berkali-kali.

"Sejak kapan?" gumam Senja menggigit bibirnya.

Semua ingatan bersama Gavi terbangun: hari bantu dia mengurus izin firma sampai larut malam, hari dia meminjamkan uang tabungannya, hari dia menangis karena terlambat hadir di ulang tahunnya dan Senja memaafkannya dengan cepat. 

Semua itu sia-sia.

Air mata menggenang dan langsung menetes ke pipinya. Tangannya yang memegang kue mulai gemetar, sampai kue itu tergelincir ke tanah.

Tara tertawa kecil, "Jadi kamu gak cinta dia?" tanyanya.

Gavi mendengus, "Cinta?" Ia seolah jijik akan pertanyaan Tara.

"Kalau bukan karena mendiang ayahnya, mana mau aku deket-deket modelan kayak gitu," tambahnya.

"Kalo aku, gimana?" manja Tara.

Gavi memijit hidung Tara gemas, "Cintalah," jawabnya.

Suara dering telepon terdengar memecah tautan bibir keduanya, Gavi mengambil ponselnya.

Mengetahui itu Senja, Tara melengos pergi, tapi Gavi mendekapnya, "Sstt... jangan berisik," bisiknya.

Tara menggigit bibirnya saat Gavi mencumbu mesra sekaligus mengangkat teleponnya, "Halo," sapanya.

Senja berdeham mengatur suaranya, "Sayang, aku gak bisa datang, besok aja kita rayakan di kantormu ya."

Di tempatnya berdiri, ia bisa melihat lengkungan di bibir kekasihnya yang penuh sindiran.

Terdengar kecupan kecil di telepon, ia memandang Tara mengecup di sudut bibir Gavi.

"Kamu dimana?" tanyanya, mencoba memberi kesempatan akan kejujuran sang kekasih.

Gavi measih sibuk mengelus wajah Tara mesra. "Ah iya, gak apa-apa, toh aku juga masih sibuk di kantor," bohongnya begitu lugas. 

"Oh... Besok aku kabarin lagi ya, bye, love you," ucap Senja.

Tanpa menjawabnya, Gavi mematikan ponselnya lebih dulu, "Kita bebas hari ini." Ia memeluk Tara, "Boleh kan aku buka hadiahnya?" godanya.

Kurang ajar! Kelakuanmu menjijikan, Gavi Alaric! batin Senja.

Senja memasukkan ponsel ke tas. Tidak sudi melihat lagi, ia berjalan menjauh.

Di hari ultah Gavi, ia sudah mengubah penampilan: gaun kuning bunga, rambut dirapihkan, kacamata diganti lensa kontak, make-up tipis, sneaker jadi high heels. 

Ironinya, usaha berjam-jam di salon di bayar pengkhiatan, kini kakinya berdenyut sakit di trotoar.

"Bodohnya, cuma dikasih perhatian dikit aja luluh."

Melihat pantulan di etalase, "Aku juga cantik, meski tak punya body goals," katanya dengan kekehan sedih.

***

Lampu redup menyelimuti bar, musik blues lembut, suara tawa sesekali terdengar. Bau bir dan wine bercampur.

Senja duduk di meja bartender, di depannya tersaji 10 shot dengan warna yang menggugah selera.

Tanpa ragu ia minum, rasa pedas meledak di tenggorokan, langsung membuat kepala ringan. Beberapa menit kemudian, dunia melayang, langkah goyah.

"Pertama kali ke bar?"

Senja menoleh, pria berjaket kulit dengan wajah tampan mengamatinya lekat. Ia balik memandangi, meneliti wajahnya. 

Apa dia tertarik padanya?

"Ya, kamu?"

"Aku? Lumayan lah," kekehnya. "Putus cinta?"

"Diselingkuhin," koreksi Senja.

"Oh," dia melepaskan pandangan.

Entah mengapa, Senja merasa pernah mengenalnya, "Aku Senja, kamu?"

Pria itu menatapnya dengan pandangan menyirat, "Arion."

"Arion," ulangnya, mencoba mengukir nama itu di kepala yang mau pecah. "Kita bersenang-senang, peduli setan dengan Gavi atau Tara!" jeritnya.

Ia ambil gelas cairan biru, "Cheers!" Mendetingkan ke gelas Arion, lalu mengernyit — rasanya pahit dan segar sekaligus, seketika meluncur ke tenggorokannya. 

Ia tertawa riang mengobrol sampai alkohol menguasai pikiran. "Toilet," gumamnya, perut mulai terasa gejolak.

"Aku bantu," Arion sigap memegangnya.

Tatapan Senja sedingin es, "Hush, sana! Aku tak butuh bantuanmu, dasar tukang selingkuh!"

Seruan itu langsung membuat para pengunjung bar menatap Arion. "Kamu ngomong apa?" bisiknya dengan wajah kesal.

"Aku tahu aku jelek, tapi kalian tak beradab — selingkuh sama temanku di hari ultahmu!" terisak Senja.

Khawatir kerumunan memojokkan, Arion menariknya ke tempat sepi dengan kasar, "Cewek gila!"

Guncangan itu bikin Senja memuntahkan isi perut di baju Arion. "Huekk!"

Arion menegang, menyadari apa yang terjadi. Belum beres, Senja jatuh ke pelukannya tak sadarkan diri.

"Hei… Bangun," Arion mengguncangnya, tapi cuma terdengar erangan pelan. Lalu terpaksa memopongnya karena pandangan pengunjung.

Di mobil, Arion memandangnya lama. Mata Senja yang terpejam, air matanya yang menggenang di sudut mata.

Perempuan ini tampaknya sangat rapuh. Tak tahu kemana harus membawanya, Arion menyetir sampai menemukan motel.

Setelah membayar untuk sebuah kamar, pria itu menjatuhkan Senja ke kasur. Ia hendak berbalik dan meninggalkan perempuan itu, tapi tangan Senja menggapai-gapai, menarik lengannya.

"Jangan tinggalin aku …" isaknya sendu. "Aku dikhianati … karena nggak menarik!"

Mata Senja terbuka, berkaca-kaca oleh air mata.

"Kamu juga begitu ya? Kamu akan membuangku?"

Saat menatap wanita yang rapuh itu, sesuatu di dalam tubuh Arion berdenyut. Dan seolah mengikuti nalurinya tanpa sadar, ia membawa Senja ke dalam pelukannya.

Merebah di kasur, bibir mereka bertaut dalam ciuman yang penuh gairah.

***

Pagi harinya, Senja membuka mata.

Dering alarm ponselnya meledak nyaring, mengguncang seluruh ruangan yang semula sunyi.

Ini dimana ya?

Pikiran Senja mulai terjaga. Ia cepat membuka matanya dan terlonjak kaget.

Ia menoleh ke badan sendiri yang setengah telanjang, baju gaun kemarin berceceran seperti peta di lantai. 

Kilas balik ingatan semalam muncul dengan cepat: perselingkuhan Gavi, malam di bar, minuman yang berlebihan, teriaknya menyebut Arion "tukang selingkuh", lalu... tidak ada lagi yang jelas.

"Arion! Sial!" jeritnya dengan suara marah, menendang bantal ke dinding. 

Apa yang dia lakukan pada Senja semalam?

Ia cepat memungut potongan-potongan baju, mencoba mengenakannya dengan tergesa-gesa.

Aku harus cari dia dan minta penjelasan!

HP-nya ditemukan di laci meja ada pesan dari Tara: "Senja, cepet dateng! Dosen pembimbing baru udah dateng, kita yang pertama dapet bimbingan!"

Oh tidak, lupa ada bimbingan skripsi hari ini!

Senja berlari ke halte, hati berdebar kencang. Sampai di kampus, ia langsung ke ruang bimbingan, sudah ada beberapa teman menunggu di luar.

"Kamu dari mana! Dosennya keren banget loh, namanya Pak Arion," ucap Tara dengan senyum ceria. Ia memandanginya dan menangkap ada yang tidak biasa dengannya. 

Senja membeku. Arion? Bukan dia kan...

Pintu kelas terbuka. Seorang pria berjas hitam, rambut sedikit kusut, dan wajah yang sangat familiar keluar. 

Ia menoleh ke arah Senja, mata keduanya bertemu, dan Arion mengerutkan alis dengan ekspresi yang sama kagetnya.

"Kita mulai kelasnya," ucap Arion kaku dengan wajah dingin. 

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status