Cinta di Gerbang Kematian

Cinta di Gerbang Kematian

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-12-13
Oleh:  Ria Rahma Ongoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
37Bab
257Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Bisa melihat peristiwa kematian seseorang adalah sebuah keistimewaan dan juga bencana bagi seorang gadis bernama Feli. Di saat ia ingin menyembunyikan kemampuannya rapat-rapat, seorang laki-laki bernama Aland justru mengetahui rahasia Feli. Antara percaya dan tidak percaya, Aland semakin sering mengikuti kemanapun Feli pergi untuk membuktikan kebenaran yang gadis itu lihat, dan untuk pertama kalinya Feli memiliki seorang teman yang dekat dengannya. Aland adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya nyaman karena Feli tidak bisa melihat peristiwa kematian pada mata laki-laki itu. Karena rasa simpati di dalam hati, tanpa disadari mereka diam-diam menyimpan rasa. Rasa takut kehilangan dan rasa kekhawatiran berubah menjadi cinta yang semakin kuat mengikat mereka berdua. Di saat cinta mereka semakin kuat mengikat, Feli bisa melihat kematian di mata Aland membuatnya sangat terpukul. Akankah Feli dapat merubah takdir? Ataukah rasa cinta di hati mereka harus terpendam oleh kematian?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Ada Mayat Di Sekolah

BRAKKK

"Ma-maaf, Kak. Saya tidak sengaja," ucap Feli pada seorang gadis yang tak sengaja ia tabrak. Selama berjalan gadis itu selalu menunduk membuatnya tak fokus pada jalanan dan menabrak seorang siswa lain di lorong sekolah.

"Hmt," gumam gadis itu yang Feli yakini sebagai kakak kelasnya

"Saya bantu, Kak."

Gadis itu menerima uluran tangan Feli yang ingin membantunya berdiri dari posisi jatuhnya. Pada saat itu pula Feli tak sengaja menatap mata gadis berambut sebahu itu.

Sejenak Feli mematung, dirinya seolah ditarik ke dalam sebuah ruang tiga dimensi yang di sana ia bisa melihat sebuah kejadian. Seorang gadis sedang berusaha menarik sebuah kursi mendekati jendela, Feli tak mengerti apa yang sedang gadis dengan rambut sebahu itu lakukan.

Feli rasa ia sedang berada di sebuah kamar mandi, akan tetapi ia tidak tahu di mana itu. Manik biru laut Feli terbelalak kaget saat gadis berambut sebahu itu telah berdiri di atas kursi dan mengeluarkan sebuah tali tambang dari dalam tasnya.

Gadis itu mengikat tali tambang dengan jendela, dan ujung lainnya ia membuat tali simpul berbentuk lingkaran besar. Feli berlari mendekati gadis itu saat ia memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali itu.

Feli berusaha untuk berteriak dan menggapai gadis berambut sebahu itu, meski ia tahu jika gadis itu tak akan bisa melihat dan mendengarnya.

"Aakhhh."

Reflek Feli menarik tangannya dari kakak kelas yang ia tabrak tadi, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya menatap Feli heran.

Kesadaran Feli telah kembali, ia masih berada di lorong sekolah yang sepi.

"Ma-maaf, Kak. Saya pergi duluan!"

Feli segera melangkah meninggalkan gadis itu yang berdiri mematung menatap punggungnya.

"Lupakan! Lupakan Feli! Lupakan!" gumam Feli seorang diri. Saat ini ia melangkahkan kakinya menuju kelas pertamanya di sekolah menengah atas.

Bukan kali pertama Feli melihat hal seperti itu, gadis bermanik biru laut ini memiliki keistimewaan yaitu bisa melihat moment kematian seseorang hanya dengan menatap matanya.

Hal ini telah terjadi berulang kali, sebagian dari mereka meninggal dengan akhir hidup yang bahagia, namun tak sedikit pula Feli melihat peristiwa kematian yang mengenaskan. Bahkan dulu ia pernah berhari-hari menangis dan tak tega menelan sesuap nasi karena melihat kematian tragis dari seorang bocah laki-laki.

Saat ini Feli telah memasuki kelas pertamanya, seperti kebiasaan di sekolah menengah pertama, gadis itu akan berjalan dan mencari bangku paling belakang dan duduk menunduk di sana.

"Hai, namaku Pinkan, siapa namamu?" sapa seorang gadis yang duduk di hadapan Feli.

"Ha-hai, na-namaku Feli," jawab Feli kikuk. Gadis itu tetap menundukkan kepala tak berani menatap mata gadis di hadapannya.

Ia tidak ingin melihat moment kematian teman sekelasnya ini.

"Senang bertemu denganmu, Feli."

Feli hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara Pinkan kembali menatap ke depan karena guru telah masuk ke kelas.

Setelah semua siswa duduk manis menatap guru yang sedang berbicara di depan kelas, baru Feli berani mengangkat wajahnya. Gadis itu ikut menatap ke depan kelas dengan telinga yang ia pasang dengan seksama mendengarkan penjelasan guru paruh baya itu yang sedang menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui oleh siswa baru.

"Saatnya kalian maju ke depan dan memperkenalkan diri!" ucap guru yang berjalan menuju mejanya, ia sengaja menyingkir dari depan kelas karena siswa mulai maju satu persatu memperkenalkan diri.

Feli mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, ia sangat takut jika harus memperkenalkan diri di depan kelas. Bukan takut kepada Bapak Guru atau teman-temannya, akan tetapi gadis itu tak sanggup jika harus bersitatap dengan puluhan orang di dalam kelas.

Bayangan kematian mereka, Feli tak sanggup melihat itu. Hal ini membuat gadis itu takut berteman dengan siapapun, karena itu Feli lebih suka duduk di bangku paling belakang agar tidak terlalu mencolok di antara siswa di kelas.

"Felicia Angeline."

"I-iya, Pak."

Gadis itu langsung berjalan ke depan kelas setelah mendengar namanya dipanggil. Feli tidak bisa menolak, akhirnya ia terpaksa berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.

"Na-nama saya, Felicia. Sa-salam kenal teman-teman semua!" ucap Feli memperkenalkan diri.

Tidak ada tanggapan dari teman-teman sekelasnya, kelas sangat hening tak ada yang bersuara.

"Feli, angkat wajahmu biar teman-temanmu bisa melihat wajahmu!" ucap guru paruh baya itu.

Akan tetapi Feli justru semakin menundukkan kepalanya.

"Ma-maaf, Pak!" ucap Feli.

"Baiklah, kamu boleh mundur!"

Gadis itu berjalan kembali ke meja paling belakang dengan wajah yang masih tertunduk.

"Sepertinya teman kalian Feli adalah gadis pemalu, jangan lupa kalian harus sering-sering mengajaknya mengobrol!" ucap guru laki-laki paruh baya itu yang dijawab anggukan kepala oleh para murid.

Selama pelajaran berlangsung, Feli selalu menundukkan kepalanya.

Waktu berjalan dengan cepat, saat ini bel pulang telah berbunyi bersamaan dengan rintik hujan yang semakin padat menimpa atap membuat suara bergemuruh memenuhi lorong sekolah.

Feli menghela napas malas, di hari pertamanya masuk sekolah ia justru lupa tidak membawa payung ataupun jas hujan.

Gadis itu menatap langit yang gelap tertutup awan hitam, sementara banyak siswa lain yang menerobos hujan dan basah kuyup di perjalanan. Namun tak sedikit pula yang lebih memilih menunggu hujan reda karena tak ingin bersentuhan dengan air hujan yang dingin.

"Feli, kamu tidak membawa jas hujan, ya?" Suara seorang gadis membuat Feli menoleh sejenak. Gadis itu menatap kancing baju Pinkan yang baru saja berdiri di hadapannya, ia tak berani menatap mata gadis berambut ikal itu.

"I-iya, aku lupa tidak bawa," jawab Feli.

"Kamu pulang naik apa?"

"A-aku membawa sepeda."

"Wah, rumahmu dekat, ya? Kalau aku dijemput, itu papaku sudah datang. Kamu mau ikut sekalian aku antar ke rumahmu!" ajak Pinkan yang disambut gelengan kepala oleh Feli.

"Terima kasih untuk tawarannya, tetapi aku akan menunggu hujan reda saja," ucap Feli menolak dengan halus.

Akhirnya Pinkan masuk ke mobil orang tuanya yang telah terparkir di halaman sekolah. Gadis berambut ikal itu telah pergi, saat ini Feli tinggal sendirian bersama beberapa siswa lain yang masih menunggu hujan reda. Namun Feli tidak mengenal mereka dan tidak ingin berkenalan dengan mereka.

Gadis itu merasa kedinginan membuatnya ingin pergi ke kamar mandi, Feli berjalan perlahan menuju kamar mandi di ujung koridor ini.

Awan mendung membuat koridor panjang ini terlihat gelap ditambah hujan deras membuat suasana koridor sedikit menakutkan bagi Feli.

Ceklek

GRUSAKK

"Aakhhhh," teriak Feli saat melihat peristiwa di depan matanya.

"Ada apa?" seorang laki-laki yang mendengar teriakan Feli berlari ke arahnya.

"Mayat!"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
37 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status