Compartir

Bab 4

Autor: Wulan
Bayangan pemuda yang dulu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku melintas di benakku. Air mata pun menitik dari sudut mataku.

Ponselku tiba-tiba menerima pesan dari Ayah.

[ Thalia, aku sudah suruh anak dari Keluarga Syarief itu menjemputmu. ]

Aku mematikan layar, lalu tersenyum tipis. "Baiklah."

Warren mencium pipiku dengan penuh semangat. "Tenang saja, nanti aku pasti akan mengadakan pernikahan besar untukmu."

Aku tersenyum pahit. Tidak ada lagi "nanti" bagi kita, Warren. Aku membiarkan dia menyeretku di tengah hujan, mengantarku ke ruang pengambilan darah.

Setiap kali Cheryl mengeluh sakit, dia malah memaksa dokter mengambil satu tabung darah lagi dariku. Sampai tabung ke-10, akhirnya aku tidak kuat lagi, pandanganku menjadi gelap.

Saat terbangun, ternyata Warren berjaga di samping tempat tidurku. "Thalia, kamu akhirnya sadar!"

Aku merasakan nyeri menusuk di perut bagian bawah, lalu refleks mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, Warren justru menangkap tanganku, tidak berani menatapku.

Entah kenapa, hatiku tiba-tiba diliputi kegelisahan. Dengan suara serak, aku bertanya, "Ada apa?"

Dia terus menunduk, berkata dengan suara tertahan, "Maaf, Thalia. Rahim Cheryl mengalami nekrosis, dia ingin punya anak."

Duar! Gendang telingaku seolah-olah meledak. "Kamu ... memberikan rahimku kepadanya?"

Warren terdiam. Aku menampar wajahnya, lalu tiba-tiba muntah darah. Warren ingin mendekat untuk menopangku, tetapi aku menghindar.

Matanya memerah. "Thalia, aku akan selalu berada di sisimu kok. Aku nggak akan membencimu karena kamu nggak bisa punya anak."

Aku menatapnya tajam. "Warren, aku juga hamil anakmu ...."

Sebelum kalimatku selesai, Cheryl tiba-tiba berlari masuk, lalu berlutut di depanku. "Maaf, aku nggak nyangka Kak Warren mengambil rahimmu demi menyelamatkanku! Aku akan mengembalikannya kepadamu!"

Sambil berkata begitu, entah dari mana dia mengeluarkan belati, lalu menusuk perutnya sendiri.

Dia jatuh menimpaku, lalu berbisik di telingaku dengan nada puas, "Kakakku yang baik, terima kasih ya untuk rahimmu. Ibuku benar, kamu benar-benar bodoh. Pantas saja dia nggak menginginkanmu."

Aku terpaku, teringat malam yang hujan itu.

Ayahku menghilang, tidak diketahui hidup atau mati. Wanita itu meninggalkanku, aku mati-matian mengejar mobil hitam itu.

Di belakangku, kilat menyambar dan petir menggelegar, aku terus berteriak "ibu". Namun, mobil itu melaju kencang, dia bahkan tidak menoleh padaku.

Seluruh tubuhku gemetar. "Dia yang menyuruhmu melakukan ini?"

Cheryl tertawa pelan. "Ya. Dia bilang kita sama-sama punya golongan darah langka, jadi rahimmu bisa kupakai sesuka hati. Kamu kasihan sekali. Ibu dan kekasihmu nggak mencintaimu."

Warren berlari menghampirinya dan memeluknya, bahkan mendorongku menjauh. Cheryl bersandar di bahu Warren, tersenyum menantang ke arahku.

Tiba-tiba, dia menjatuhkan botol alkohol di samping, membuat kaca pecah berserakan. Kemudian, dia mengeluarkan pemantik, lalu menyulut tirai dan melemparkan pemantik yang menyala itu ke atas selimut.

Dalam sekejap, api menyambar, membuat ruang rawat dipenuhi asap tebal. Warren langsung menggendong Cheryl. Dalam kepanikan, dia bahkan menginjak pergelangan kakiku yang terkilir.

Seolah-olah tidak mendengar apa-apa, dia terus memanggil nama Cheryl. Aku melihat punggungnya dengan tatapan kosong, air mata mengalir tanpa suara. Dengan suara serak, aku memanggilnya, "Warren ...."

Langkahnya sempat terhenti. Aku merangkak sekuat tenaga di belakangnya, meninggalkan jejak darah yang panjang. "Kali ini ... tolong jangan tinggalkan aku."

Namun, dia hanya berhenti sesaat karena Cheryl mengeluh pelan, "Kak Warren ... panas ...."

Dia lalu mengunci pintu, membujuknya dengan lembut, "Jangan takut, aku akan membawamu pergi."

Saat api melahapku, aku menutup mata dengan putus asa. Sebelum benar-benar pingsan, aku melihat sosok yang familier menembus lautan api dan berlari ke arahku ....

....

Sebulan kemudian, Warren menatap ruang obrolan kami dengan tatapan suram. Masih belum ada balasan. Akhirnya, dia tidak tahan lagi dan menelepon asistennya. "Pesankan aku tiket paling cepat. Aku mau pulang menemui istriku."

Sekretarisnya tertegun. "Pemakaman Bu Thalia sudah selesai. Bu Cheryl nggak bilang?"

Detik berikutnya, muncul pesan dari rumah sakit ibu dan anak.

[ Pak Warren, jadwal pemeriksaan kehamilan yang dipesan istri Anda di rumah sakit kami sudah dekat, mohon diingatkan agar datang tepat waktu. ]
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 8

    Aku tidak pernah menyangka seumur hidupku akan bertemu dengannya lagi. Bahkan lebih tidak pernah menyangka, setelah lebih dari 20 tahun, saat kami bertemu lagi, kalimat pertama yang dia ucapkan padaku justru adalah tuduhan.Aku mengangkat kepala, menahan air mata yang hampir menitik. Dengan wajah tanpa ekspresi, aku menatapnya. "Ayahku cuma punya satu anak perempuan, dari mana datangnya adik?""Aku hanya mengambil kembali milikku sendiri. Kamu tiba-tiba masuk dan memaki tanpa alasan, apa maksudnya?"Dia langsung menunjukku dan memaki, "Perempuan jalang! Kamu lahir dari perutku! Semua yang ada padamu, aku yang berikan! Kalau kamu ambil rahim adikmu, gimana nasibnya kelak?"Aku tidak bisa menahan tawa. "Gimana nasibnya? Kalau sesayang itu sama anakmu, kenapa nggak kamu saja yang jadi donor? Kenapa harus mengincar milik orang lain?"Tak lama kemudian, para pengawal di luar akhirnya bereaksi dan menyeretnya pergi.Aku menutup mata dengan tenang, menunggu operasi. Setelah semua ini, sisa ke

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 7

    "Thalia, masih sakit ya?""Daging yang sudah busuk itu harus dikorek bersih dulu baru bisa benar-benar sembuh. Luka di sini begitu, luka di hati juga begitu.""Aku nggak mempermasalahkan masa lalumu, tapi aku nggak bisa terima kalau di hatimu selalu ada sepotong daging busuk yang terus disiksa berulang kali."Mataku dipenuhi air mata, aku menggigit bibir tanpa berkata apa-apa. Bryan menghela napas, lalu memelukku, menepuk punggungku dengan lembut tanpa suara.Beberapa saat kemudian, aku mengangkat kepala dan berkata dengan tegas, "Aku sudah nggak cinta dia lagi."Di hari pernikahan itu, saat Bryan menggandeng tanganku dan muncul di hadapan semua orang, Warren yang duduk di kursi tamu langsung membelalakkan mata."Thalia!" Dia sontak berdiri, ingin berlari ke atas panggung.Namun, dia langsung dihentikan oleh asistennya. "Pak Warren, bisnis utama perusahaan kita punya kerja sama dengan Keluarga Syarief. Kita nggak bisa menyinggung Pak Bryan."Mata Warren langsung memerah. Dia hanya bisa

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 6

    "Sampai pencuri bisa masuk ke rumahku!"Manajer properti buru-buru meminta maaf, "Pak Warren, berapa pun kerugian di rumah Anda, kami akan menggantinya dengan uang tunai terlebih dahulu. Tenang saja, kami akan segera melapor ke polisi dan ke depan juga akan memperketat keamanan."Namun, setelah berkeliling memeriksa bersama, semua barang di rumah masih ada, hanya beberapa foto pernikahan yang hilang. Seolah-olah terpikir sesuatu, Warren segera membuka laci kamarnya dengan panik.Kotak yang selama ini kusimpan dengan hati-hati sudah tidak ada. Wajahnya langsung pucat. Dia berjalan terhuyung ke kamar mandi.Di sudut yang tidak mencolok, tergeletak selembar kertas yang belum terbakar habis. Hanya satu kata samar, "hamil", tetapi itu sudah cukup membuat Warren runtuh.Baru saat itu dia teringat, di tahun mereka kehilangan anak pertama, nomor yang terdaftar di rumah sakit adalah miliknya.Saat itu, telepon dari asistennya masuk. Warren segera mengangkatnya. "Sudah ketemu?"Suara sekretaris

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 5

    Ponsel terlepas dari tangan Warren. Dia menatap pesan itu lama sekali sebelum akhirnya bertanya, "Apa katamu?"Asisten di sana mengulang dengan suara keras, "Apinya terlalu besar, Bu Thalia nggak berhasil diselamatkan.""Keluarga sudah mengurus jenazah Bu Thalia, bahkan sudah mengadakan pemakaman. Sebelumnya aku telepon Bapak, tapi selalu diangkat oleh Bu Cheryl. Dia bilang akan menyampaikan pada Bapak.""Dia bilang Bapak sangat sibuk, urusan pekerjaan bisa dikirim lewat email, sementara untuk hal lain yang nggak penting, tunggu Bapak pulang saja."Telinga Warren tiba-tiba berdengung, dia tidak percaya. Dengan suara lirih, dia bergumam, "Gimana mungkin .... Waktu itu aku jelas-jelas sudah menyuruh orang langsung melapor ke polisi ...."Saat itu, melihat kondisi Cheryl tidak baik, dia langsung pergi ke luar negeri dalam keadaan panik. Dia menatap pesan itu dengan tajam, tiba-tiba merasa gelisah.Dengan tergesa-gesa, dia memberi instruksi kepada asistennya, "Aku nggak percaya dia sudah m

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 4

    Bayangan pemuda yang dulu mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku melintas di benakku. Air mata pun menitik dari sudut mataku.Ponselku tiba-tiba menerima pesan dari Ayah.[ Thalia, aku sudah suruh anak dari Keluarga Syarief itu menjemputmu. ]Aku mematikan layar, lalu tersenyum tipis. "Baiklah."Warren mencium pipiku dengan penuh semangat. "Tenang saja, nanti aku pasti akan mengadakan pernikahan besar untukmu."Aku tersenyum pahit. Tidak ada lagi "nanti" bagi kita, Warren. Aku membiarkan dia menyeretku di tengah hujan, mengantarku ke ruang pengambilan darah.Setiap kali Cheryl mengeluh sakit, dia malah memaksa dokter mengambil satu tabung darah lagi dariku. Sampai tabung ke-10, akhirnya aku tidak kuat lagi, pandanganku menjadi gelap.Saat terbangun, ternyata Warren berjaga di samping tempat tidurku. "Thalia, kamu akhirnya sadar!"Aku merasakan nyeri menusuk di perut bagian bawah, lalu refleks mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, Warren justru menangkap tanganku, tidak bera

  • Cintanya Berlabuh Pada Penggantiku   Bab 3

    Kini, orang yang dia sayangi sepenuh hati sudah berganti menjadi wanita lain. Dia makan sangat cepat, pikirannya berada di tempat lain.Di hadapannya, aku mengenang satu per satu kenangan kami selama sepuluh tahun."Warren, dulu saat kamu menyelamatkanku dari para preman itu, aku sudah bersumpah akan selalu bersamamu seumur hidup. Masih ingat cincin yang kamu berikan saat aku masih 20 tahun?"Aku menunjukkannya padanya, cincin yang sudah kupakai selama sepuluh tahun. Lapisan tembaganya sudah terkelupas, menampakkan karat yang belang.Akhirnya dia mau mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu tersenyum seadanya. "Kenapa masih pakai cincin jelek begitu?"Hatiku terasa tercabik sedikit demi sedikit. Aku diam, lalu melepas cincin itu. Sepuluh tahun menjaga sesuatu ... ternyata seperti lelucon.Tahun itu, seorang pemuda menyatakan cintanya padaku dengan tulus, memasangkan cincin dengan keras kepala. "Thalia, nggak boleh dilepas ya."Petir menggelegar, aku mengambilkan lauk untuknya. Namun,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status