MasukDi tengah jamuan makan malam keluarga, aku baru mengetahui fakta pahit bahwa sahabat masa kecilku, lelaki yang seharusnya tumbuh besar bersamaku, telah melepaskan peluang emas untuk naik pangkat di Distrik Militer Utara demi sepupuku, Ajeng Hidayat. "Nilai ujian Ajeng hanya cukup untuk masuk universitas lokal. Kebetulan kondisi kesehatan Bibi juga sedang menurun, jadi aku sudah membantu mengubah data pendaftaranmu. Kita semua akan tetap tinggal di sini," ucapnya santai. Ibuku pun menimpali dengan nada yang sama mendesaknya, "Benar, Nak. Ibu sudah berjanji pada pamanmu untuk menjaga Ajeng, jadi kamu juga harus membantu Ibu merawatnya. Lupakan saja soal kampus papan atas itu, nggak ada gunanya. Toh, nanti setelah menikah dengan Rangga, kamu juga akan ikut dia bertugas." Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata pun, mata Ajeng mulai berkaca-kaca. Air matanya jatuh dengan begitu dramatis. "Semua ini salahku yang nggak berguna. Ayah dan Ibu sudah tiada, sekarang aku malah membebani Kakak sampai dia nggak bisa kuliah di universitas impiannya. Sebaiknya kalian pergi saja, aku bisa menjaga diriku sendiri." Begitu air mata itu jatuh, Rangga dan ibuku langsung panik. Mereka sibuk menghibur dan menenangkannya seolah dialah pusat semesta. Tanpa suara, aku bangkit dan kembali ke kamar. Di detik terakhir sebelum batas waktu pendaftaran ditutup, aku mengubah kembali pilihan Universitas Adiwangsa. Sejujurnya, keinginanku ke sana bukan hanya agar bisa dekat dengan Rangga. Dulu, aku hanya ingin melewati setiap hal bersamanya. Berjalan beriringan di bawah satu payung hingga rintiknya membasahi rambut kami yang memutih oleh usia, sebuah janji untuk menua bersama. Akan tetapi, sekarang, siapa pun yang berdiri di sampingku saat hujan turun tak lagi jadi masalah. Hanya tempat itu yang tetap harus kudatangi.
Lihat lebih banyakRangga menoleh ke arah ibuku dengan nada bicara yang sangat keras. "Bibi! Apa yang sudah Bibi janjikan padaku sebelumnya?"Ibuku sempat menciut ketakutan, tetapi sedetik kemudian dia kembali menangis histeris. "Ibu benar-benar nggak punya pilihan lain. Lintang, berikan sedikit uang pada Ibu, ya? Ibu benar-benar nggak bisa bertahan hidup lagi.""Aku nggak punya uang."Aku menolaknya mentah-mentah."Mana mungkin nggak punya!" teriak ibuku melengking. "Kamu sudah kuliah, kamu juga bisa bekerja sampingan, mana mungkin kamu nggak punya uang?"Aku mencibir dan langsung membongkar kedoknya. "Bu, Ibu nggak benar-benar sadar kalau Ibu salah. Ibu cuma sudah kehilangan jalan dan ingin memeras manfaat terakhir dariku.""Lagi pula, selama ini aku selalu bertanya-tanya. Aku ini anak kandung Ibu, tapi kenapa Ibu begitu jahat padaku? Kenapa Ibu jauh lebih menyayangi Ajeng daripada aku?"Tatapan matanya tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Sambil menggertakkan gigi, dia berkata, "Itu semua karena kamu
Seketika, sebuah aliran hangat mengalir di lubuk hatiku.Ternyata, setelah berhasil keluar dari penjara itu, dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh kehangatan di mana-mana.Berkat adanya Kakek dan Nenek, aku akhirnya benar-benar memiliki rumah di Kota Banger.Setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mereka.Nenek akan memasak satu meja penuh dengan hidangan lezat, sementara Kakek akan menanyakan perkembangan kuliahku dengan antusias."Lintang, apa uang sakumu cukup? Kakek dan Nenek punya uang pensiun yang cukup banyak, kamu nggak perlu bekerja terlalu keras sampai kelelahan," ucap Nenek yang selalu merasa khawatir padaku."Cukup, Nek," jawabku sambil tersenyum. "Sekarang penghasilanku dari kerja sampingan sudah lumayan, bahkan aku sudah bisa membelikan hadiah untuk Kakek dan Nenek."Proyek kewirausahaan yang kurintis bersama Rian benar-benar mulai membuahkan hasil.Kami sudah membentuk tim kecil di kampus dan jangkauan bisnis kami makin meluas dari hari ke hari.Has
"Lintang, aku tahu posisi mana di perpustakaan yang paling tenang, sini kuberi tahu.""Lintang, akhir pekan ini ada kerja sampingan, mau ikut nggak? Aku sudah memesankan satu tempat untukmu."Perlahan-lahan, hatiku yang hancur mulai terobati di tengah kehangatan dan kebaikan hati Rian serta teman-teman sekelasku yang lain.Hidupku tidak lagi terasa hambar dan membosankan, melainkan mulai dipenuhi dengan warna-warna baru.Selama masa itu, sesekali ibuku masih menelepon.Kalimat yang diucapkannya selalu sama. "Lintang, sejak kamu nggak ada di rumah, hidup Ibu jadi jauh lebih bahagia. Ajeng setiap hari menemaniku jalan-jalan, Rangga juga sering datang berkunjung. Hubungan mereka berdua sekarang makin lengket, lho! Rasakan itu, kamu pasti menyesal sekarang!"Setiap kali mendengarnya, aku hanya mendengarkan dengan tenang sampai selesai, lalu menutup teleponnya.Sebenarnya aku tahu semua yang dikatakannya itu bohong, tetapi aku terlalu malas untuk membongkarnya.Karena kenyataannya, Rangga j
"Rangga!" pekikku tertahan, nyaris tak percaya.Dia mendongak menatapku. Wajahnya dipenuhi amarah, tetapi tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang luar biasa.Dia melepaskan Rian yang terkapar di tanah, mengibaskan pergelangan tangannya, lalu melangkah tegap ke hadapanku."Lintang, kita perlu bicara.""Kamu siapa? Lepaskan dia!" Rian yang melihat gelagat itu kembali mencoba menerjang untuk menghalanginya.Aku segera menariknya ke belakang punggungku. "Nggak apa-apa, aku mengenalnya."Barulah Rian mengurungkan niatnya.Aku menatap Rangga, lalu berucap datar, "Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan di sini."…"Aku mencarimu di Kota Banger selama tiga hari." Suaranya terdengar serak. "Aku menanyakan semua orang yang bisa kutanyai, memeriksa setiap hotel dan penginapan. Lintang, kamu benar-benar kejam."Aku mendengus sinis, tidak menyahut.Seketika itu juga, nada bicaranya menjadi lembut.Dia menghela napas panjang dan berkata, "Lintang, aku tahu seberapa besar kamu mencintaiku.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.