LOGINAt midnight, the ER receives a pregnant patient with an extremely pale face, and she's convulsing violently at the same time. I lift her shirt on the spot so that I can diagnose her symptoms better. But my wife, Selena Carson, who also works as the head nurse, suddenly berates me angrily. "Do you have any idea that what you're doing is sexual harassment? Can't you spare the patient her pride? "Don't use your treatment as an excuse! I refuse to believe that there aren't any female doctors in the ER at all!" The patient's family members streamed the whole thing live. Soon, everyone was blasting me on the Internet. The hospital forces me to apologize to the pregnant patient. But I decide to tender my resignation the very next day. After all, the patient's disease has a frighteningly high chance of getting misdiagnosed, not to mention it's incredibly difficult to cure. In fact, no one but I can cure her once and for all.
View More"Kau yakin ingin melakukannya denganku?" suara husky seorang pria terdengar berat di telinga sang gadis.
Gadis itu menengadah dengan bibir sedikit terbuka saat kecupan lembut menyentuh tubuh bagian atasnya. Pakaian kantornya telah lama lolos meninggalkan tubuhnya. Kini ia tengah berada di bawah kungkungan seorang pria bermanik abu, nyaris tenggelam di balik tubuh kokohnya. "Sentuh aku, bukankah kau sudah lama ingin melakukan ini?" tanya lirih wanita cantik itu dengan mata terpejam menikmati setiap sentuhan lelaki itu. Tubuhnya meremang seperti ada sengatan listrik yang membuat aliran darahnya semakin deras. Bibir sang lelaki tersenyum samar, hampir tak terlihat. Telunjuk besar pria itu menyentuh lembut di bagian bawah, membangkitkan desiran halus dalam tubuh sang wanita. "Pelan-pelan, ini pertama kalinya bagiku... " Perempuan itu merintih kesakitan. Namun entah kenapa tak ada sedikitpun keinginan untuk menghentikan aksi itu. "Apa kau masih suci?" Kedua mata pria itu membelalak tak percaya. Ini sungguh di luar dugaannya. Detik berikutnya keduanya tenggelam dalam permainan yang lebih panas lagi. *** Cahaya pagi menembus tirai tipis, membelai wajah Lilyan yang masih tertidur lelap. Suara detak jam dinding menjadi satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang asing. Ini bukan kamarnya. Bukan juga apartemen miliknya. Hatinya mencelos. Saat ia menoleh ke samping, tubuhnya membeku. Di sisi ranjang yang lain, seorang pria tengah terlelap dengan dada terbuka, napasnya berat tapi teratur. Rega Angkasa. Nama itu langsung membuat darahnya berdesir hebat, wajahnya pucat seketika. Jadi, tadi malam dia tidak bercinta dengan Vano? Tapi dengan Rega? Bosnya. CEO perusahaannya yang selama ini selalu bersikap tak acuh padanya, dingin, tegas, dan tak tersentuh, sekaligus saudara tiri Vano, tunangannya. Pria tampan itu bekerja sebagai pemimpin Angkasa Mining Corporation. Sebuah perusahaan kontruksi besar yang memiliki banyak cabang di negeri ini. “Ya Tuhan… kenapa aku bisa ada di sini?” bisiknya nyaris tanpa suara. Ia buru-buru menarik selimut, menutupi tubuh polosnya. Kepalanya berdenyut, pusing, dan potongan kenangan semalam mulai menyeruak dalam ingatan. Tadi malam ia mabuk setelah menghabiskan 4 gelas wine saat mereka duduk bersama klien dari Jepang, membahas kontrak kerjasama dengan perusahaan milik Rega. Lilyan terpaksa menerima tawaran untuk bersulang dan entah 4 gelas wine yang ia habiskan. Yang jelas kesadaran Lilyan mulai hilang setelah itu. "Tidak mungkin aku dan Pak Rega..." Bibir Lilyan bergetar menahan tangis. Ia yakin sesuatu telah terjadi padanya dan Rega. Namun belum sempat Lilyan berpikir lebih jauh, suara berat yang familiar itu membuatnya terlonjak. “Sudah bangun?” Lilyan menoleh, terlihat Rega menatap lurus ke arahnya dengan ekspresi datar. Tidak ada keterkejutan di matanya, seolah ia sudah tahu sejak awal bagaimana pagi ini akan berjalan. Lilyan menelan ludah, jari-jarinya meremas ujung selimut. “P—Pak Rega, kenapa kita...” Lilyan terlihat bingung. "Semalam kau yang memintanya sendiri. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab,” potongnya datar. Kedua mata Lilyan membola, bulu matanya yang lentik bergetar. Tidak mungkin dia yang meminta Rega untuk menyentuhnya. Pria berdarah campuran itu bangun dari ranjang, mengambil kemejanyq yang tergeletak di lantai lalu memakainya tanpa mengancingkannya. Dia membiarkan dada bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos dan membuat Lilyan menelan ludah. "Aku tahu kau tidak akan percaya dengan ucapanku. Aku punya buktinya kalau kau sendiri yang meminta." Rega meraih ponselnya dan memutar video tadi malam saat Lilyan merengek meminta Rega menyentuhnya. "Astaga..." Lilyan langsung membuang muka dengan pipi yang merona merah. Tak percaya kalau ia akan serendah itu meminta Rega menyentuhnya. "Sekarang kau percaya?" Alis pria tampan itu terangkat tipis. "Tapi meskipun begitu, aku bukan lelaki yang akan lari dari tanggung jawab. Aku akan menikahimu jika kau mau," cetus Rega dengan penuh keyakinan. Kalimat itu menampar keras. Sesuatu di dada Lilyan terasa sesak, bagaimana ia bisa menikah dengan Rega jika dia adalah tunangan dari Vano, saudara Rega sendiri. Itu tidak mungkin terjadi. Lilyan menghela napasnya. Dunia serasa gelap rasanya. "Lupakan saja Pak. Anggap saja tadi malam tidak terjadi apapun di antara kita." Lilyan berusaha tenang meskipun hatinya bergejolak dan jauh dari kata tenang. "Apa maksudmu?" Rega menyipitkan matanya. "Saya tidak mungkin menikah dengan Bapak. Saya sudah bertunangan dengan Vano." Lilyan bangun dari tempat tidur. Ia gunakan selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya. "Bagaimana kau akan menikah dengan Vano jika kau telah kehilangan kesucianmu?" Rega berdecak dan tersenyum miring. "Itu akan jadi urusan saya." Lilyan tak ingin banyak bicara. Dia memungut bajunya yang berserakan di lantai dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. "Lilyan, aku yakin Vano tidak akan mau menerima perempuan yang telah tidur denganku. Pikirkan lagi keputusanmu itu!" Kata-kata Rega membuat langkah Lilyan terhenti sejenak. Ia menghela napas berat. Tapi keputusan untuk menerima tawaran Rega pun bukan keputusan mudah. "Saya tidak akan memberitahu Vano tentang hal ini. Dan saya harap Pak Rega juga mau merahasiakan hal ini darinya," tegas Lilyan dengan yakin. Rega berdecak tak percaya kalau Lilyan telah menolaknya mentah-mentah. Tak lama Lilyan keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih. Ia bergegas pergi dari hadapan Rega. Jalannya pelan karena bagian bawah tubuhnya terasa sakit. Air mata mengalir dari sudut matanya. Ini semua masih seperti mimpi baginya. Kehilangan kesucian tanpa ia rencanakan sama sekali. Melakukannya dengan seseorang yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. *** Pagi itu, Lilyan Pramesti melangkah ke kantor dengan langkah berat, berusaha menenangkan diri. Pikirannya masih bergelayut pada malam yang tak mungkin ia lupakan. "Selamat Pagi Bu!" sapa beberapa karyawan dengan sopan. Kedudukan Lilyan yang menjadi tunangan Vano sekaligus asisten pribadinya membuatnya disegani banyak orang di perusahaan itu. "Pagi!" jawab Lilyan dengan senyum tipis di bibirnya. Langkahnya tergesa menuju ruangannya. Di ujung koridor matanya membentur sosok Rega yang sudah berpenampilan rapih dan gagah khas eksekutif muda. Pandangannya sempat terhenti sejenak saat beradu tatap dengan Lilyan. Namun lelaki itu bergegas masuk ke dalam ruangannya tanpa mengindahkan Lilyan. Lilyan menghela napas berat. Apakah ia sanggup melewati semuanya tanpa rasa canggung setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Rega tadi malam? "Kau pasti bisa Lilyan." Gadis itu memberi semangat pada dirinya sendiri. "Lilyan!" Baru saja dia akan duduk, tiba-tiba suara berat seseorang memanggilnya. Vano muncul dengan senyum canggung. "Aku minta maaf Ly, aku terpaksa mengutusmu menghadiri rapat yang seharusnya aku datangi bersama Rega tadi malam.” Lilyan menghela napas panjang, menatap Vano dengan mata sedikit kesal. “Jadi, sebenarnya hal apa yang membuatmu tidak bisa menghadiri rapat tadi malam. Kenapa aku yang harus pergi?” tanyanya, mencoba terdengar tegas meski jantungnya berdebar. Vano tampak gugup. Ia menggaruk kepala, menunduk sebentar sebelum menjawab, “Ada… ada urusan mendadak, Ly..." "Urusan apa?" cecar Lilyan. “Ibuku… minta tolong aku untuk mengantarnya ke rumah sakit, jadi semalam aku menemani dia.” Lilyan sejenak terdiam. Ia percaya pada jawaban Vano. Namun jauh di lubuk hatinya ada hal penting yang ia sesalkan dari keputusan Vano tersebut. Seandainya Vano yang pergi tadi malam, tentu one night stand itu tidak akan pernah terjadi. Tok tok tok! Suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Seseorang masuk ke dalam ruangan membawa satu buah amplop. "Ini surat dari Pak Rega untuk Bu Lilyan," ucap orang itu dengan sopan. Alis Lilyan berkerut dan mengambil amplop berisi surat tersebut. Lalu membukanya dengan tangan bergetar. "Apa isinya?" Vano ikut penasaran. Lilyan membacanya sejenak sebelum kedua matanya membesar.Selena, who had initially hoped to escape, now found herself with no way out.Faced with the disdainful stares of those around her, she impatiently pulled her hand away from Adam's and glared at him. "I told you not to do this! What happened to the oath you took when you entered medicine?"I regret helping you cover up the evidence! I won't help you anymore. Face the consequences yourself!"With that, she turned and walked out of the office.The investigation into the medical malpractice was finally concluded. It was revealed that Adam's education abroad was far from impressive, and he had shown a blatant disregard for patients' lives. In an attempt to prove his own skill, he would often hastily make diagnoses.This shocking revelation brought the media flocking to the hospital, eager for interviews with the State Health Department.Anthony made sure they included me. He repeatedly praised my key role in the investigation in front of the cameras.Before a national audience, Anth
Sure enough, my words made Adam flinch for a moment, and his lips trembled.Selena quickly grabbed his hand and stepped forward to defend him. "Stop slandering Adam! He didn't do anything like that! You can't just throw accusations around!"Reed also jumped in. "You had us beg you to come back, only to turn out to be utterly useless! How dare you act like someone important back then?"Good thing we only brought you back as a temporary hire. Don't even think about that full-time position you were promised. Pack your things and leave! You won't get paid!"He even muttered under his breath, "You should be the one compensating the hospital."As I looked at the shameless looks on all three of their faces, my frustration turned into a burning sense of defiance.After all the anger, I found myself calming down and sitting down in the chair. "There's no need to rush me out. This needs to be addressed properly. Let's take a moment and clear this all up today."Selena frowned, a flicker o
I scoffed and asked disdainfully, "So you think I came back just to wait for you to give me a chance and get back together with you?"Selena's eyes widened as she asked in shock, "Isn't that what you want? Dr. Walsh called you a dozen times, and you didn't pick up once, yet you answered the second I called. Weren't you just waiting for me to make the first move?"Look, I'm giving you a chance now, but it's a one-time offer. If I change my mind later, you're out of luck."Her tone was so presumptuous, as if I were the one who had messed up in the relationship and should be begging her to reconcile.I fixed my gaze on her. "There's one thing I've never understood.""What is it?""Do you think I have no self-respect, that I'd ever want to be with you again?"Selena grabbed my arm. "What do you mean? You don't love me anymore? That's not funny! Stop throwing a tantrum! Saying things like that will just erode our bond!"I shook her hand off with force and spoke coldly. "I'm not thro
But Selena had worked hard to get me back, so at this point, she dared not support Adam.Instead, she pulled him aside and whispered some words of persuasion.I had no interest in their quarrel. I put on my mask and was about to head to the ward when Adam suddenly stopped me.He lowered his voice intentionally. "She just told me everything. Once she gets all the information she needs from you, you're out of here."I raised an eyebrow, deliberately striking a dramatic pose as if about to leave. "Isn't that a little underhanded? You invite me back, only to kick me out when you're done with me? Sorry, but I won't agree to that. You'd better find someone else."Reed panicked when he saw I was about to leave.He grabbed my arm with a forced smile. "I promised you, didn't I? I'll definitely keep my word."He then glared at Adam. "Apologize to George now!"Selena remained silent.The two of them were clearly frustrated and resentful, but they had no choice but to appease me.Looking
Before I boarded the plane, I turned off my phone. After arriving in Sionara, I finally caught up on the sleep I'd been missing for years.It wasn't until the fourth day that I charged my phone. As soon as it powered up, missed calls and messages flooded in.The majority of them were from Selena.
Adam smirked, adding fuel to the fire.Cody, who had been holding onto my sleeve, begging me to save his daughter, now glared at me with fury."So it's you! And you had the nerve to stand there putting on an act, pretending you could save my daughter? Were you planning to get your hands on her too
Selena stood beside Adam. They looked like the perfect couple."Mr. Crane, Adam is not the kind of man with a questionable character. His integrity is recognized throughout the industry," she said, her voice warm and affectionate.And there I was, the so-called husband, dressed in caregiver scrubs
"George Stewart, you're ruining the hospital's reputation! The patient's family is blocking the outpatient building, demanding an explanation!"Reed Crane, the hospital director, was ashen-faced as he repeatedly rapped his knuckles on the desk.Outside the ER, the area was packed with protesters h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.