LOGINBLURB Drasa Rurik, a hybrid with silver hair and Onyx eyes, has always lived with the pain of her parents’ mysterious deaths. Now, as she begins her first year at Nightshade School, her life takes an unexpected turn when she agrees to a fake relationship with Cassian Devereux, the heir to the ruthless Umbrafang Pack. What begins as protection against the relentless bullying soon turns into something neither of them anticipated. Drasa begins her pursuit to uncover the truth behind her parents' death, a truth she believes lies with Cassian’s father, Lucien. Drasa finds herself in a dangerous game of power and secrets with the threat of Elara’s jealousy and Lucien’s unyielding control, Drasa must decide whether to embrace her feelings for Cassian or use her powers to destroy the very family that has haunted her for years.
View MoreSetelah tersesat tiga hari dua malam, Aizar masih belum juga sampai ke tepi hutan. Ia memutuskan untuk beristirahat di dekat sebatang kayu besar yang sudah tumbang karena dimakan usia.
Saat tengah malam Aizar terbangun mendengar suara-suara berisik yang berada tidak jauh darinya. Dilingkupi rasa penasaran, ia berjalan mengendap-endap mencari sumber suara itu.
Setelah berjalan beberapa langkah mendekati semak-semak yang lebat, lalu menyibaknya, Aizar tercengang melihat di depannya ada sebuah bangunan besar nan megah, bak sebuah istana kerajaan. Dari sana lah sumber suara musik dan suara-suara orang yang sedang berkumpul itu berasal…
“Hei, Aryo... apa yang kau buat di sini?” tiba-tiba seorang pemuda menepuk tubuh Aizar yang terbalut kaos hitam berlengan panjang. Saat Aizar menoleh ke belakang, tampaklah seorang lelaki yang sebaya dengannya tersenyum penuh persahabatan.
“Rambut kamu sekarang ikal dan gondrong begini, Yo? Apa kamu sudah malas merawat diri, ya?” tambah pemuda itu keheranan, Aizar malah mengerutkan kening.
“Ayolah, kita ikut pesta di rumah ketua kampung, rugi kalau tidak ikut, banyak gadis-gadis cantik di sana...” tambah lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya itu.
“Maaf…, aku tidak bisa ikut ke sana,” jelas Aizar merasa sangat aneh berbicara dengan orang asing di tengah hutan.
“Walaupun sudah bertahun-tahun aku tidak pulang, aku tahu kok kamu punya masalah dengan seorang gadis yang menolakmu, menyebabkan kamu selalu menyendiri dan enggan bergaul dengan siapa pun, apalagi sama perempuan,” ujar pemuda itu sambil mengembangkan senyum.
“Mulai hari ini kamu tidak perlu menyendiri lagi Yo, aku bisa jadi kawan mainmu, seperti waktu kita kecil dulu. Ayolah… pergi bersamaku ke rumah kepala kampung,” ajak pemuda itu sambil meraih lengan kanan Aizar. Aizar pun akhirnya tak kuasa menolak, bahkan dalam dirinya mulai tumbuh rasa penasaran akan pesta yang dimaksud pemuda itu.
“Tunggu sebentar, Yo…” ucap pemuda itu tiba-tiba. Lalu, ia mengeluarkan sebuah kalung berwarna hitam dan memiliki liontin berwarna kehijauan, semacam batu giok.
“Ini kalung pemberian orang tua angkatku di perantauan, katanya kalau aku memakai kalung ini semua wanita akan tertarik padaku,” jelas pemuda itu sambil mengenakan kalung itu di lehernya. “Kapan-kapan kamu boleh mencobanya, Yo, tapi hari ini aku ingin membuktikannya terlebih dahulu,” tambahnya. Aizar hanya mengiyakan tanpa sedikitpun percaya dengan ucapan pemuda itu.
Saat Aizar dan pemuda itu sudah mendekati rumah ketua kampung, rupanya perhatian orang-orang yang semuanya berpakaian dominan warna hitam serta memakai udeng hanya tertuju pada si pemuda itu. Sepertinya benar yang dikatakan pemuda itu kalau ia baru saja pulang dari merantau. Hampir semua orang menyalami dan menanyakan kabarnya. Namun, sebaliknya pada Aizar orang-orang memandang sebelah mata dan sama sekali tak ada seorang pun yang menyapa.
Saat melewati kerumunan para wanita pun, pandangan mereka hanya tertuju pada pemuda itu, kehadiran Aizar seperti tidak dianggap, bahkan ada wanita yang menghinanya...
“Berani-beraninya kamu muncul di keramaian dengan pakaian lusuh begini, Aryo!” cibir seorang wanita yang memakai kemben sehingga memperlihatkan bagian dadanya.
“Iya nih, dia gak tahu apa, pesta ini hanya untuk orang-orang berkelas. Kamu itu cuma anak kampung yang miskin!” tambah wanita berpakaian serupa di sampingnya sambil menatap sinis ke arah Aizar.
Detik itu Aizar merasa kehadirannya tak diinginkan. sehingga ia mulai berpikir untuk tidak mau terlalu larut bersama orang-orang yang menggelar pesta di halaman rumah ketua kampung. Sebaliknya pemuda itu mulai dikerumuni wanita-wanita cantik. Bahkan saat tangannya dengan nakal mulai menyentuhi tubuh wanita-wanita itu di balik keremangan cahaya di sudut-sudut ruangan, mereka sama sekali tak marah ataupun menolak bahkan membalasnya dengan manja. Melihat itu semua kelaki-lakian Aizar seketika terusik…
“Rupanya benar yang dikatakan pemuda itu, kalung yang dimilikinya adalah kalung pemikat wanita. Pasti senang kalau bisa memiliki kalung sakti itu,” pikir Aizar sambil merenung.
Di tengah-tengah pesta untuk orang dewasa itu, tiba-tiba datang seorang pemuda berwajah mirip dengan Aizar. “Itukah pemuda yang bernama Aryo? Seperti melihat diriku di dalam cermin. Pantas saja semua orang tadi menganggap aku Aryo,” pikir Aizar seketika.
“Lho, Aryo? Ini kamu...? terus, lelaki yang bersamaku tadi siapa?” ucap pemuda itu merasa terkejut bercampur heran saat bertemu dengan lelaki yang sesungguhnya bernama Aryo. Memang sulit dibedakan kemiripannya dengan Aizar, hanya bedanya pada bola mata lelaki itu tampak sipit dan berambut lurus, sedangkan rambut Aizar ikal dan sedikit gondrong.
Menyadari hal itu, Aizar segera pergi meninggalkan tempat itu karena tidak ingin terjadi masalah karena dirinya bukan bagian dari kelompok mereka.
Dalam beberapa saat, Aizar sudah menjauh meninggalkan tempat tadi ia beristirahat di dekat pohon kayu besar yang tumbang. Ia terpaksa berjalan lumayan jauh untuk mendapatkan tempat peristirahatan baru yang aman dan tidak akan diketahui oleh orang-orang misterius yang ditemuinya sedang mengadakan pesta.
“Lebih baik, aku melanjutkan tidur, karena perjalananku masih jauh, aku butuh istirahat agar besok tubuhku menjadi segar dan bertenaga,” gumam Aizar saat sudah bersandar di bawah sebuah pohon di samping api unggun yang dibuatnya kembali.
Saat mulai memejamkan mata, Aizar termenung mengingat kalung sakti yang dimiliki pemuda itu, sambil berandai-andai dia bisa memilikinya.
Jika aku bisa memiliki liontin sakti itu, maka yang kuimpikan selama ini akan menjadi kenyataan. Siapa yang tidak mau dikelilingi banyak wanita cantik? gumam Aizar dengan khayalan melanglang buana, membayangkan dirinya berada pada posisi pemuda itu, dengan leluasa menyentuhi tubuh wanita-wanita cantik dan berakhir dengan mencumbuinya satu per satu di atas ranjang dengan sepuas hati.
“Akhhh…” desah Aizar saat menyadari bagian bawahnya telah menegang karena khayalannya itu. Tangan kanannya pun refleks perlahan menyelusup masuk ke dalam celana dan merasakan kehangatan benda di dalamnya, “Kalau aku sudah bertemu dengan keluargaku yang kaya raya di kota nanti, kamu pasti akan kugunakan untuk memuaskan wanita-wanita cantik di luar sana,” gumam Aizar sambil terus berkhayal hingga ia terlelap sendiri di tengah belantara hutan dalam pencarian keluarganya...
EPILOGUE Drasa’s POV.After some days, I woke up early in the morning to see Cassain sitting close to me in the bed with breakfast in bed.“Good morning sunshine," he greeted me, smiling at me.“Good morning, my love,” I replied, blushing as we kissed.Cassain took a slice of the toasted bread and fed me as we ate together happily.Since the war ended, Cassain has been treating me with so much respect and love.Our love blossomed in each passing day as we accepted our fate that we were truly meant for each other.The whole kingdom has been cleared and cleaned thoroughly.Everyone was living in harmony and peace.There was this feeling of fulfilment within us, knowing fully well that we have both achieved what we have been fighting for.I feel fulfilled that I was able to avenge the death of my parents, and Cassain also feels fulfilled for avenging the death of his mother and also helping me out.The Council of Elders of the great umbranfang pack called and declared a grand ball for t
Author's POV Cassian knew from the onset that his Dad was pretending to be remorseful with his act, but he did not envision him trying to strangle Drasa to death.Immediately, his Dad held the throat of Drasa, and he started dragging her out before everyone could know what was happening.The grand ball exploded in chaos as everyone started running. Guards and loyalists rushed into the room filled with screams. “Let her go,” Cassain shouted, enraged by the state Drasa was in.“Get him,” He shouted, pointing at Maya and the rest to go after Lucien as she tried to fight.War immediately broke out as Lucien's armies fought with Cassian's armies.As Cassain wanted to go after Lucien, he was knocked down by one of the Alpha, piercing deeply into his body with his strikes.Cassain groaned in pain as he was taken over with rage.For the first time, Cassain's life, his wolf ability was fully awakened as his spirit fought with the curse placed on him.He felt a sharp, strange being taking ove
Author's POVHere comes the big day, the day everyone has been waiting for. The day of the fake great ball, where Cassain will celebrate Drasa and try to unite the pack.Cassain has put in place everything necessary for the war, as he knew things would go wrong the moment Lucien noticed that he had deceived him.Drasa sat quietly as she got ready. Her hands shook a little while she wore her beautiful gown.She looks just like a queen, very beautiful in her dress. The one meant to show her as Luna beside Cassian.“You look so beautiful,” Maya complimented.Drasa smiled and murmured “thank you.”But deep inside her, she knew tonight wasn't going to be easy, but she had to be strong.“You have to be strong. No matter what will happen, don't lose trust in me,” these were the words of Cassain to her before he left.Drasa stood in front of the mirror and looked at herself. She whispered to her reflection, "I'm not afraid anymore.” “Even if death came tonight, I would not run, but I would s
Author's POV The once united Umbrafang Pack was no longer united as division had taken over the majority of the elders.The council that once made decisions together had now split into two sides. Lucien has called for a general meeting, trying to get back those he felt were falling astray from his control, but it looks as if it is no longer possible to unite the council.“The boy is a traitor,” one of the elders stated. “He needs to be dealt with.”“The people are tired of Lucien's leadership; they're crying for change, and you can't blame the boy for that,” another elder said without fear.“He needs to be banished from this kingdom; if not, he will be our downfall,” another suggested.“He's the heir to the throne, and it won't be accepted for him to be banished.” “We will turn into a laughing stock when our neighbors find out,” another disagreed.The rebellion that Cassain is leading has grown to a full-fledged body, and people are ready to fight for their destiny.Many now see Cas






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.